
Salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus!
Saudaraku dalam perjalanan hidup yang Tuhan anugerahkan terkadang kita menemui tantangan, kita mendapati diri merenung dan bertanya, “Mengapa semua ini harus terjadi? Tuhan, jika Engkau benar besertaku mengapa aku merasa begitu hancur dan sendiri? Apakah Tuhan masih peduli?” Mungkin kita juga pernah merasa seolah-olah doa-doa yang dipanjatkan hanya menggema kembali tanpa jawaban atau kita merasakan mengapa semakin kita berusaha setia kepada Tuhan, justru semakin berat beban yang harus kita tanggung?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah cerminan hati yang rindu akan kehadiran Tuhan di tengah penderitaan. Percayalah saudara justru di titik terendah itulah, Tuhan menyatakan kasih dan kuasa-Nya. Sebab Tuhan tidak pernah lalai. Ia hadir sebagai satu-satunya Allah, meski kadang tidak dengan cara yang kita harapkan.
Ada seorang perempuan Kristen asal Belanda bernama Corrie ten Boom yang hidup pada masa Perang Dunia II. Ia dan keluarganya menyembunyikan orang-orang Yahudi di rumah mereka untuk melindungi mereka dari Nazi. Karena tindakan itu, Corrie dan keluarganya ditangkap dan dikirim ke kamp Ravensbrück di Jerman. Di tengah penderitaan dan kekejaman yang tak terbayangkan, banyak orang kehilangan harapan. Mereka mulai berpikir, “Kalau Tuhan benar ada, mengapa kita ada di sini? Bukankah Dia seharusnya melindungi kita?” Corrie juga bergumul. Tapi ia memilih tetap percaya dan berseru kepada Tuhan. Bersama saudaranya Betsie, mereka diam-diam menyelenggarakan ibadah kamp bersama dengan tahanan lainnya. Tidak lama kemudian saudaranya Betsie meninggal, tetapi Corrie selamat.
Saudaraku apa yang sangat penting tentang Corrie Ten Boom adalah hidupnya setelah perang. Ia merasa bahwa hidupnya adalah suatu karunia Allah yang perlu dibagikannya dengan orang lain, yang ia dan saudarinya Betsie telah pelajari di kamp. Di salah satu ceramah, dia bertemu kembali dengan seorang penjaga Ravenbrück, seorang pria yang paling berperan dalam kematian tragis saudaranya. Pria itu meminta maaf atas tindakannya yang keji, Corriepun memaafkannya sambil berkata: “Tidak ada luka yang begitu dalam yang tidak dapat dijangkau oleh kasih Allah”. Ia bersaksi ke seluruh dunia bahwa hanya Tuhan yang hidup sanggup memberi harapan di tempat yang paling gelap.
Saudaraku di masa nabi Yesaya, umat Tuhan, seperti Corrie, mengalami hal serupa berada dalam situasi “pembuangan”. Mereka merasa terasing, jauh dari rumah, menderita, hilang harapan, dan merasa Tuhan telah meninggalkan mereka. Sehingga dalam hati mereka muncullah keraguan: “Apakah Tuhan masih memperhatikan kami? Apakah Tuhan cukup kuat untuk melindungi kami dari musuh dan ancaman yang nyata? Apakah Tuhan masih sanggup melindungi kami? Mungkin kita butuh allah lain, kekuatan lain, jalan lain…”
Di saat itulah Tuhan berbicara lewat nabi Yesaya yang mengingatkan mereka bahwa hanya Dia satu-satunya Allah yang benar, yang kekal dan berkuasa atas segala sesuatu. Tidak ada ilah lain yang mampu menyelamatkan, melindungi, atau memberi pengharapan sejati selain Dia. Tuhan menyatakan diri-Nya dengan tegas dan penuh kuasa: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.”
Firman Tuhan ini adalah penegasan kasih dan kuasa-Nya bahwa walau manusia berubah dan gagal, Tuhan tidak pernah berubah dan berhenti menjadi Allah yang sejati dan berkuasa. Dia tidak perlu dibantu oleh ilah lain. Sebab Dia cukup. Dia kekal dan Dia tetap setia pada umat-Nya dari dulu, sekarang dan sampai selamanya.
Saudaraku Kitab Yesaya merupakan salah satu kitab dari kumpulan kitab nabi-nabi besar dalam Perjanjian Lama. Kitab ini berisi penglihatan yang telah dilihat oleh Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem (1:1). Yesaya menegur umat Tuhan karena mereka mengganti kepercayaan kepada Allah yang sejati dengan kepercayaan kepada ilah buatan tangan mereka sendiri, yang tidak bisa menyelamatkan. Ini mencerminkan keraguan mereka terhadap kuasa Tuhan. Di tengah situasi itulah, Tuhan menegaskan kasih-Nya bahwa Dia yang telah menjadikan mereka oleh sebab itu janganlah mereka takut karena mereka tetap umat pilihan-Nya, mereka tidak pernah ditinggalkan-Nya, dan bahwa Ia akan mencurahkan Roh dan berkat-Nya atas keturunan mereka. Dialah satu-satunya Allah!
Saudaraku apa yang dapat kita pelajari dari bacaan ini?
1. Tuhan adalah Sumber Segala Sesuatu
“Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian”. Kita adalah manusia yang punya banyak keterbatasan memiliki Tuhan yang tidak terbatas oleh apapun. Ia ada sebelum segalanya dan tetap berdaulat sampai akhir. Di tengah ketidakpastian hidup, kita tidak perlu khawatir. Tuhan menguatkan umat-Nya untuk tidak takut, karena mereka adalah saksi-saksi-Nya, dan Ia adalah Gunung Batu mereka, tempat perlindungan yang teguh.
2. Tidak Ada Allah Selain Tuhan
“Tidak ada Allah selain dari pada-Ku.” Banyak hal bisa menjadi ‘allah’ dalam hidup kita. Ilah lain zaman sekarang bukan selalu berwujud patung, melainkan bisa seperti: uang, status, pekerjaan, bahkan orang terdekat. Tapi semua itu terbatas. Waspadai hal-hal yang perlahan mengambil posisi Tuhan dalam hati kita. Ingatlah untuk selalu mengarahkan kembali hati kita untuk menyembah Tuhan yang sejati.
Tuhan Allah sebagai yang terdahulu dan yang terkemudian memberi penegasan bahwa tidak ada Tuhan Allah yang sudah ada sebelum segala sesuatu ada dan yang masih akan tetap ada ketika segala sesuatu tidak ada lagi. Hanya Dia Tuhan satu-satunya Allah!
Saudaraku mari kita merenung:
• Apakah kita juga sedang mempertanyakan kuasa dan kehadiran Tuhan di tengah badai hidup?
• Apakah kita mulai mencari “allah lain” seperti kekuatan dunia, logika, atau harta untuk merasa aman?
Ingatlah Tuhan yang sama yang menyertai umat-Nya di masa pembuangan, adalah Tuhan yang sama hari ini. Dulu, sekarang dan sampai selamanya Dia tidak berubah, tidak tergeser, dan tidak perlu digantikan. Dia tetap satu-satunya Allah! Terpujilah Tuhan Allah sekarang dan sampai selamanya. AMIN.




















