Ditulis oleh : Dr. Hun Pinatik S.Th M.Si
Orang Kristen adalah orang yang percaya kepada Kristus, hidup dalam persekutuan jemaat, dan mampu mengimplementasikan kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Tidaklah mudah menjadi Kristen, jika tidak memiliki komitmen iman yang kuat, karena ada begitu banyak tantangan yang dihadapi oleh orang percaya untuk mempertahankan imannya. Apalagi era kontemporer (masa kini) menawarkan begitu banyak pilihan yang berada di luar kepentingan gerejawi dan berdampak mendegradasi nilai persekutuan Kristen. Salah satu fenomena yang menunjukkan adanya degradasi nilai persekutuan adalah sakularisasi (proses dimana seseorang tidak lagi hidup menurut ajaran agama).
Sekularisasi menjadi salah satu tantangan gereja masa kini. Seperti halnya yang dihadapi oleh gereja-gereja di Barat. Sekularisasi sangat ambisius mempengaruhi pemahaman masyarakat Barat, sehingga ajaran agama Kristen dan aktivitas ke gereja tidak lagi menjadi penting. Bahkan ilmu pengetahuan, karir, pekerjaan, bisnis, dan hiburan menjadi lebih berharga dari pada beribadah. Kesetiaan masyarakat Barat yang dahulunya mayoritas beragama Kristen telah mengalami pergeseran yang begitu jauh, dari awalnya percaya kepada Tuhan, kini tidak lagi.
Berdasarkan laporan berita New York Times, terdapat banyak masalah menimpa lembaga keagamaan, seperti gereja-gereja Barat, dimana para jemaat yang taat dan setia beribadah telah menua dan jumlah kehadiran di gereja telah menurun dalam beberapa dekade terakhir. Seringkali jemaat menjual bangunan gereja untuk beralih fungsi. Beberapa bangun tersebut diantaranya dirobohkan atau menjadi kondominium yang mahal.
Berdasarkan laporan berita VOA, mendeskripsikan bahwa di seluruh Eropa, gereja-gereja dan bangunan keagamaan Kristen lainnya semakin kosong. Gereja-gereja kosong tersebut sedang dialihfungsikan menjadi tempat bisnis. Artinya, gereja-gereja tersebut diubah menjadi tempat lain seperti hotel, bisnis, dan bahkan tempat tari. Peralihan fungsi bangunan gereja dapat dilihat sebagai fenomena sekularisasi yang sedang merusak persekutuan orang percaya dan hal itu dimulai dari menurunnya kehadiran ruang-ruang peribadahan.
Dalam konteks sosiologis, sekularisasi ditandai oleh fenomena menurunnya pengaruh agama di ruang publik. Agama tidak lagi menjadi ukuran utama seseorang untuk mengambil keputusan (legitimasinya berkurang). Fenomena sekularisasi yang menyebabkan berkurangnya pengaruh agama di ruang publik mendorong banyak denominasi Kristen untuk beradaptasi, dengan menata ulang pengalaman beribadah agar lebih relevan dan menarik bagi generasi muda, seperti melalui penggabungan musik kontemporer dan layanan yang lebih fleksibel dan inklusif.
Dalam konteks teologi, sekularisasi (proses) dan sekularisme (paham) merupakan bahaya yang sangat serius bagi para anggota Gereja, karena menciptakan keterasingan bagi anggota Gereja dari semangat Gereja yang sejati untuk memahami dan melakukan Firman Tuhan.
Apakah gereja kita mengalami pengurangan anggota jemaat untuk datang beribadah?
Ini adalah pertanyaan penting untuk melandasi pemahaman eklesiologi tentang eksistensi warga gereja di masa kini. Jangan sampai warga gereja selaku orang Kristen yang percaya kepada Kristus lebih mengutamakan kepentingan duniawi dari pada beribadah sebagai panggilan persekutuan memuliakan Tuhan.
Setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk bekerja, tetapi bukan berarti bekerja menjadi alasan utama sehingga seseorang tidak beribadah.
II Tesalonika 3:1-5 berisi pengajaran tentang pentingnya “berdoa dan bekerja.” Isi kitab tersebut tidak hanya menjelaskan bahwa seseorang harus terus berdoa atau harus terus bekerja. Baik doa dan kerja adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan orang percaya. Kisah Para Rasul 2:42 juga mengajarkan tentang pentingnya persekutuan orang percaya untuk beribadah, menerima sakramen, memuliakan Tuhan, dan berdoa. Artinya, persekutuan yang beribadah memiliki dasar Alkitabiah untuk harus diimplementasikan dalam kehidupan orang percaya, sehingga tidak boleh dinegasikan makna dan prakteknya karena alasan pekerjaan atau karena hal-hal lainnya. (dodokugmim/sara)


























