
Ketika burung bersenandung di pagi hari, ia tidak bernyanyi karena hidupnya sempurna. Ia bernyayi karena ia tahu matahari akan tetap terbit. Demikian pula orang percaya yang tidak bernyanyi karena hidupnya selalu mudah, melainkan karena hatinya mengenal siapa Allah yang layak di puji.
Saudara-saudaraku, Mazmur 33 membawa kita masuk ke dalam lagu yang tidak dilahirkan dari berkat yang melimpah, melainkan dari pengenalan mendalam akan Allah yang agung dan setia. Lagu ini merupakan ungkapan iman dan bukan sekedar perasaan. Pemazmur tidak memulai lagu ini dengan masalah manusia, tapi dengan keagungan Tuhan. Karena tentu sangat berbeda pujian orang benar dengan suara dunia. Bahwa yang satu lahir dari penyembahan, yang lain lahir dari kesenangan sesaat.
Bagian Mazmur pasal 33 ini, dimulai dengan seruan yang menggugah: “Bersorak-sorailah karena Tuhan, hai orang-orang benar!” Seruan ini berlaku bagi mereka yang telah dilayakan oleh kasih karunia. Menurut Pemazmur, hanya orang benar yang nyanyiannya berkenan di hadapan Tuhan. Sebab pujian dari hati yang tidak jujur adalah bunyian kosong. Orang benar memuji Tuhan dengan nyanyian baru bukan karena lagu lama tak layak. Tetapi karena setiap hari kasih setia Tuhan selalu baru, sehingga respons kita sebagai umat Tuhan harus terus diperbarui.
Saudara-saudaraku, Pemazmur mengajak kita untuk menyadari bahwa pujian sejati hanya bisa diberikan kepada Allah yang firman-Nya benar dan pekerjaan-Nya setia. Segala sesuatu yang keluar dari mulut-Nya tidak sia-sia. Firman-Nya bukan omong kosong seperti janji manusia. Apa yang Ia katakan, itu Ia genapi. Oleh sebab itu, kita tidak memuji Allah karena hidup kita tanpa luka. Kita memuji Dia karena dalam luka pun, kita menemukan Allah yang tidak berubah. Melalui Mazmur ini, kita diajak untuk menoleh ke langit dan melihat betapa dahsyatnya kuasa Tuhan. Dalam Ayat 6 dan 7 di gambarkan bagaimana alam semesta diciptakan melalui FimanNya. Bahkan lautan yang luas itu, dikumpulkan seperti dalam tempayan. Ketika Ia berfiman semuanya jadi, dan ketika Ia memberi perintah maka semuanya ada (ay 9).
Pemazmur menunjukan besarnya kuasa Tuhan, dan hendak menyadarkan manusia yang bersandar pada rencananya sendiri. Dalam ayat 10, Pemazmur dengan jelas mengatakan bahwa rencana bangsa-bangsa akan digagalkan Tuhan, tapi rencana-Nya tetap untuk selama-lamanya. Pemazmur membawa kita untuk merenung; Apa gunanya kekuatan, jika Allah tidak menyertainya? Apa artinya teknologi, jika Tuhan menarik tangan-Nya? Bahkan seekor kuda, alat perang paling canggih di zaman itu, tidak dapat menyelamatkan. Itu adalah harapan yang sia-sia.
Pemazmur mengajak kita untuk melihat betapa dalamnya perhatian Tuhan, sang pencipta. Ia tidak hanya melihat langit dan laut yang dijdaikanNya, tapi Ia juga memandang setiap hati manusia. Ia memperhatikan semua pekerjaan kita, satu per satu. Tuhan tidak seperti penguasa dunia yang hanya peduli pada angka dan statistik. Ia adalah Pencipta yang melihat setiap jiwa, yang membentuk setiap hati, yang tahu letih lelah kita dan air mata kita yang tak terlihat. Ia melihat, bukan hanya dari jauh, tapi dengan kasih yang mengerti dan kuasa yang sanggup menolong. Dan mata Tuhan tertuju pada mereka yang takut akan Dia. Kepada mereka yang berharap pada kasih setia-Nya. Bukan pada kekuatan sendiri, bukan pada pencapaian, tetapi pada rahmat-Nya semata.
Pada bagian akhir Mazmur ini, terdapat pengharapan. Dalam keteduhan jiwa, umat di ajak berseru: “Jiwa kami menanti-nantikan Tuhan; Dialah pertolongan dan perisai kami.” Hal ini tentunya bukan pengakuan orang yang sedang tertawa, tapi suara dari hati yang percaya. Ketika dunia menjadi gelap dan masa depan tidak menentu, orang benar tidak lari, tidak panik. Ia diam dan menanti. Ia diam bukan karena ia kuat, tapi karena ia tahu kepada siapa ia menanti. Kepada Allah yang kasih setia-Nya kekal.
Saudara-sauduaraku, dalam zaman di mana ibadah sering menjadi rutinitas, dan pujian menjadi hiburan, kita diundang untuk kembali kepada esensi firman Tuhan, yaitu memuji Tuhan karena kita tahu siapa Dia. Memuji Tuhan dengan kesadaran bahwa memang Dia yang layak untuk kita puji. Memuji Tuhan bukan karena apa yang telah kita peroleh sampai hari ini. Namun kita bersorak, bersyukur, dan bernyanyi karena kasih setia Tuhan yang Agung dan mulia.
Dunia ini bisa merebut banyak hal dari kita: uang, kesehatan, kedudukan, bahkan orang-orang yang kita cintai. Tapi satu hal yang tidak bisa direbut dari orang benar adalah kemuliaan Tuhan yang kekal dan kasih setia-Nya yang tidak berubah. Maka selama mulut ini bisa bersuara, selama hati ini bisa merespons, pujilah Tuhan. Nyanyikanlah lagu baru bagi-Nya. Bukan lagu yang sempurna nadanya, tetapi hati yang murni arahannya. Sehingga setiap pujian kita bukan hanya terdengar dari bibir, tapi memancar dari hidup. Mari biarkan setiap langkah kita menjadi nyanyian, setiap keputusan kita menjadi irama penyembahan. Sehingga dunia melihat bahwa umat Tuhan bukan bernyanyi karena hidup mudah, tapi karena Allah mereka hidup dan berdaulat selama-lamanya.
Akirnya, selamat berpengucapan syukur. Semoga hari ini kita mengucap syukur bukan sekedar punya panen melimpah, punya berkat melimpah, tapi kita bersorak, bersyukur dan bernyanyi karena keagungan Tuhan yang layak dikagumi. Amin




















