
Ada sebuah perahu nelayan kecil. Di dalamnya ada empat orang. Angin kencang datang tiba-tiba. Anehnya, bukan ombak yang membuat perahu hampir terbalik, tetapi karena keempat orang itu mendayung ke arah yang berbeda. Yang satu berkata, “Ikut arah saya!” Yang lain menjawab, “Tidak, cara saya lebih benar!” Akhirnya perahu itu berputar-putar di tempat dan hampir tenggelam—bukan karena badai, tetapi karena tidak seia sekata.
Begitulah gambaran jemaat Korintus. Bukan karena mereka miskin rohani. Bukan karena mereka tidak mengenal Kristus. Justru karena mereka terlalu merasa rohani, sehingga lupa bahwa tujuan iman bukan meninggikan diri atau tokoh tertentu, melainkan melayani Kristus dalam kesatuan.
Kota Korintus adalah kota pelabuhan besar, kosmopolitan, dan sangat dipengaruhi budaya Yunani-Romawi. Di sana, retorika, filsafat, dan tokoh-tokoh publik sangat dikagumi. Orang-orang terbiasa mengidolakan guru favoritnya.
Ketika Injil masuk ke Korintus, pola pikir dunia itu tidak langsung hilang. Jemaat mulai membawa budaya “pengidolaan tokoh” ke dalam gereja:
– Paulus dikenal sebagai pendiri jemaat
– Apolos terkenal fasih dan pintar berbicara
– Kefas (Petrus) dianggap figur rasuli
– Bahkan ada yang berkata: “Aku golongan Kristus” — terdengar rohani, tetapi sebenarnya eksklusif dan memisahkan diri.
Jemaat yang diberkati oleh Tuhan.
Secara historis, masalah utama jemaat Korintus bukan kurang iman, melainkan kesombongan rohani. Mereka menjadikan pelayan Tuhan sebagai pusat utama, bukan Kristus sebagai dasar utama.
Dalam ayat 10, suasana surat berubah drastis. Paulus tidak lagi hanya bersyukur, tetapi menasihati dengan sangat serius.
Ia berkata: “Aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus…”
Secara historis , frasa ini adalah legitimasi keras. Paulus tidak berbicara atas pendapat pribadi, bukan sekadar laporan dari keluarga Kloe, tetapi atas otoritas Kristus sendiri.
Artinya: perpecahan jemaat bukan masalah kecil, tetapi persoalan yang menyentuh jantung iman Kristen. Kristus Tergeser dari Pusat tujuan.
Paulus mengajukan tiga pertanyaan retoris yang sangat tajam: “Adakah Kristus terbagi-bagi?” “Adakah Paulus disalibkan karena kamu?”
“Adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?”
Ini bukan sekadar pertanyaan, melainkan tamparan rohani.
Secara teologis:
Kristus tidak bisa dibagi
Salib hanya satu
Baptisan hanya satu: dalam nama Yesus Kristus. Namun jemaat Korintus bertindak seolah-olah Kristus milik golongan tertentu.
Pusat pemberitaan bergeser:
Bukan lagi Injil yang menyelamatkan, tetapi siapa yang memberitakan Injil dan siapa yang memberikan Baptisan, Bukan lagi salib Kristus, tetapi popularitas pelayan Tuhan.
Makna “Seia Sekata”
Kata “seia sekata” dalam teks Yunani menunjuk pada: Keselarasan suara, Kesatuan arah Kesepakatan tujuan. Paulus tidak menuntut keseragaman pikiran atau karakter. Ia tidak berkata semua harus sama. Tetapi ia menegaskan: berbeda boleh, terpecah tidak. Kesatuan Kristen bukan berarti tanpa perbedaan, melainkan bersatu di dalam Kristus yang sama, dengan kasih yang sama, dan tujuan yang sama: melayani Tuhan.
Implikasi.
1. Melihat Perbedaan sebagai Anugerah, Bukan Ancaman
Perbedaan dalam gereja adalah keniscayaan:
Perbedaan usia
Latar belakang
Cara berpikir
Gaya pelayanan
Masalah muncul bukan karena perbedaan, tetapi karena perbedaan tidak dirawat dengan kasih.
Perbedaan yang tidak dirawat akan menjadi:
– Persaingan
– Kelompok-kelompok kecil
– Sindiran halus
– Merasa diri paling benar
2. Upaya Nyata Merawat Perbedaan Menjadi Kesatuan
Beberapa langkah praktis:
– Mengembalikan Kristus sebagai pusat, bukan figur manusia
– Belajar mendengar, bukan hanya berbicara
– Melayani bersama, bukan saling menjatuhkan
– Mengutamakan Injil, bukan kepentingan golongan
– Rendah hati, karena semua pelayan hanyalah alat
Kesatuan tidak terjadi dengan sendirinya. Ia harus dirawat, diperjuangkan, dan dijaga.
3. Yesus Memanggil Kita untuk Melayani, Bukan Diidolakan
Paulus sendiri berkata bahwa ia tidak diutus untuk membaptis atau membangun nama, tetapi: “memberitakan Injil, bukan hanya dengan kata-kata, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.”
Pelayan Tuhan bukan pusat iman. Gereja bukan panggung. Kristuslah satu-satunya yang layak ditinggikan.
Perbedaan itu indah. Kesatuan itu kuat. Gereja tidak dipanggil untuk menjadi seragam, tetapi seia sekata. Tidak dipanggil untuk berpikir sama, tetapi sehati sepikir dalam kasih. Tidak dipanggil untuk meninggikan tokoh, tetapi melayani Kristus bersama-sama.
Gereja yang berpusat pada Kristus akan hidup dalam kesatuan tetapi gereja yang berpusat pada manusia akan menimbulkan perpecahan.
Kiranya kita terus belajar merawat perbedaan menjadi kesatuan, agar dunia melihat bukan siapa yang kita ikuti, tetapi siapa Kristus yang kita layani. Tuhan Yesus Memberkati, Amin.























