-

Pdt. Rivenhard Runturambi, S.Th, M.Si
Pendeta Jemaat GMIM Setia Kudus Pondang Wilayah Amurang IIISebagai pengantar saya mau menceritakan dua bentuk cerita yang berbeda. Suatu Ketika seorang pelukis terkenal kehilangan lukisannya karena dicuri. Saat menghadiri pameran dia menemukan lukisannya sedang dipajang dengan tulisan harga untuk dijual. Demi memperolehnya kembali, mau tidak mau pelukis itu harus membayar lukisannya sendiri untuk mendapatkan kembali apa yang memang miliknya. Demikianlah cerita yang pertama.
Narasi yang kedua adalah suatu gambaran saat kita hendak membeli suatu barang. Beberapa barang tertentu biasanya memberikan hak garansi bagi pembelinya. Biasanya store menetapkan syarat dan ketentuan yang berlaku untuk melakukan claim garansi tersebut, mulai dari tingkat kerusakan, penyebab kerusakan, dan tahun penggunaan. Jika syarat dan ketentuan itu tidak terpenuhi maka Claim tidak dapat dilakukan.
Dari kedua cerita yang berbeda ini memperlihatkan bahwa ada nilai dan harga terhadap sesuatu yang dibeli, dan dalam hal ini uang menjadi alat transaksi sebagai tebusan untuk mendapatkannya. Hidup manusia bukanlah barang namun punya nilai yang sangat berharga dan tidak dapat disamakan dengan barang. Jika toko memberi kesempatan garansi dengan syarat dan ketentuan, Allah justru menjadi rumah untuk menanti setiap orang pulang. Rumah itu terbuka untuk mereka yang datang dalam keadaan apa pun, tanpa syarat dan ketentuan. Pada intinya selagi rumah itu masih terbuka, setiap orang diberi kesempatan untuk Kembali. Kenapa demikian? Karena manusia adalah milik kepunyaan-Nya.
Panggilan Allah kepada umatnya untuk Kembali adalah bukti bahwa Allah selalu menunggu umatnya. Syarat untuk kembali tidak ditentukan sudah berapa lama manusia jauh dari Tuhan, sudah sejauh mana ia pergi dan seperti apa kesalahan yang dilakukan. Inti dari dua bentuk cerita tadi sebenarnya bukan tentang pelukis, dan bukan tentang toko yang memberikan garansi, tapi tentang Allah yang empunya kehidupan. Manusia adalah kepunyaan-Nya, ciptaan-Nya.
Kisah ini muncul Ketika umat Israel sedang berada dalam pembuangan di Babel. Situasi ini membuat mereka kehilangan tanah, kehilangan kota Yerusalem, Kehilangan bait Allah yang dibuat hancur. Di tengah keadaan hidup yang sulit ini, umat Israel mulai meragukan kuasa Allah mereka terdistraksi dengan praktek-praktek bangsa-bangsa yang melakukan penyembahan berhala. Belum lagi pengaruh kuat yang menaruh kepercayaan terhadap ramalan, ilmu gaib, hikmat manusia dan sebagainya.
Nubuat dalam Yesaya pasal 44:21-28 dimulai dengan kata “Ingatlah”. Allah mengingatkan mereka menandakan kepedulian Allah supaya mereka tidak semakin jauh dan Kembali pulang. Sebab Allah yang telah membentuk mereka dan tidak mungkin bagi Allah untuk melupakan umat yang dibentuk oleh-Nya. Mereka pun tidak hanya disebut sebagai umat tetapi hamba-Nya. Ternyata ada identitas yang jelas yang melekat sebagai alasan kenapa mereka harus kembali. Saat Allah memprakarsai suatu kesempatan itu jelas bahwa Israel tidak kehilangan tempat di hati Allah dan tidak menyebut bahwa mereka bukan lagi umatnya. Justru Allah menyuruh mereka Kembali dengan jaminan kehidupan yang luar biasa di masa depan. Kembalinya umat pada Allah bukan hanya sekedar pulang tetapi ada pengampunan bagi umatnya. Dosa dan pemberontakan mereka dihapuskan, begitu cepat sirna digambarkan seperti kabut yang diterbangkan angin. Demikianlah Allah menebus dosa mereka. Kata ibrani yang dipakai untuk “menebus” dosa adalah ga’al. Dalam budaya ibrani Kuno, ga’al merujuk pada penebusan dalam rangka memulihkan hak keluarga yang hilang oleh seorang kerabat dekat. Dan orang yang akan melakukan penebusan disebut Go’el. Salah satu contoh seperti ini: jika seorang Israel jatuh miskin dan menjual dirinya mejadi budak, kerabatnya dapat menebusnya dengan membayar harga untuk membebaskannya dari perbudakan. Maka GO’el dalam hukum Israel bisa menjadi pembela darah dalam rangka menegakkan keadilan bagi keluarga. Saudara-saudara, luar biaasa di sini adalah, Allah adalah Go’el yang menebus mereka (ga’al), berarti Allah menganggap Israel sebagai umatnya tidak lain sebagai kerabat atau keluarganya.
Tapi kita juga perlu perhatikan makna saat Allah mengatakan “Kembalilah padaku” berdasarkan (ayat 22), umat tidak hanya sekadar kembali tetapi panggilan dan penebusan itu harus dijawab dengan pertobatan. Dalam penebusan ini, menunjukkan kemuliaan Allah secara universal bagi seluruh alam semesta. Kedaulatannya tidak hanya sebagai pencipta tetapi juga sebagai penebus. Tuhan yang menciptakan dunia adalah Tuhan yang sanggup menyelamatkan umat-Nya. Makanya,
Penebusan Allah yang direspon dengan pertobatan berbicara tentang jaminan masa depan. Israel mendapatkan gambaran demikian, bahwa Yerusalem akan dihuni kembali, kota-kota Yehuda akan dibangun. Dengan berani, tegas dan jelas, muncullah nama Koresh yang disebut sebagai gembala yang akan memimpin Israel dan memerintah pembangunan Yerusalem serta membangun Kembali bat suci. Nama Koresh pada teks ini jauh sebelum koresh hadir, tetapi sekali lagi membuktikan bahawa Allah telah mempersiapkan masa depan untuk mereka. Koresh muncul sebagai perwujudan nubuat Allah sekitar150 tahun kemudian sebagaimana firman-Nya.
Saudara mari kita hayati bersama, kehidupan manusia harus peka mendengar suara Tuhan. Adakalanya Tuhan memanggil kita kembali dengan cara yang lembut, adakalanya juga keras. Tapi alangkah baiknya, panggilan lembut itu akan membuat kita cepat berbalik arah dan memperbaiki jalur yang seharusnya.
Saudara minggu sengsara ke tiga ini mari kita berefleksi “Allah tidak sedang berhutang pada kita, tetapi justru IA yang menebus kita” bukan dengan uang tapi oleh tubuh dan darah-Nya. Dibalik hinanya hidup ini, ada Kristus yang datang sebagai penyelamat untuk kita.
Kisah Allah memanggil kembali umat-Nya jelas memberikan kekuatan iman dan refleksi bahwa Allah kaya akan Kasih, ada banyak cara yang dipakainya untuk menyadarkan kita bahwa betapa Allah mengingat kita. Allah memang menghendaki pengampunan, tetapi pengampunan bukan berarti Allah berkompromi terhadap dosa, bukan seperti itu konsepnya.
Pengampunan adalah penghargaan Allah terhadap manusia yang mau bertobat untuk melihat betapa berharganya kehidupan ini sehingga sekali lagi pengampunan adalah usaha Allah untuk menjaga relasi antara kita dengan-Nya. sudahkah kita mengusahakan hal yang sama untuk Allah? Dan sudahkah kita belajar dari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan sebelumnya?
Jika dipikir-pikir dalam konsep manusia, saat kita punya kesalahan terhadap orang lain, jangankan kembali, berpapasan saja pasti kita sungkan. Harusnya betapa malunya kita, sudah salahpun tapi masih disuruh kembali oleh Allah, tapi ini bukan tentang rasa malu, melainkan peluang dan kesempatan untuk menata kembali kehidupan bersama dengan Tuhan.
Kita punya identitas yang jelas sebagai kepunyaan-Nya, maka saat kita mulai merasa jauh melangkah, bergegaslah untuk kembali pada Tuhan selagi ruang pengampunan itu masih tersedia.
Mungkin hari ini kita merasakan kesulitan hidup, tetapi percayalah kesulitan itu bukan tanda bahwa Allah melupakan kita. Kesulitan dapat menjadi pintu masuk untuk mendapatkan pemulihan secara holistic dan kita akan merasakan bagaimana cara Tuhan bekerja.
Untuk itu jangan menjadikan kesulitan hidup sebagai alasan untuk menjauh dari Tuhan, meragukan kuasa-Nya, apalagi menduakan Tuhan.
Jika suatu waktu keinginan tidak terpuaskan maka jangan sampai kehadiran Tuhan dihidup kita mulai tergantikan.
Apa yang hilang Tuhan pasti ganti, apa yang rusak Tuhan pasti perbaiki. Itulah hebatnya Allah kita. Hati yang rusak, hidup yang hancur Tuhan terima dan sanggup memperbaiki. Torang boleh kase inga pa orang laeng kalo dorang salah tapi ingat jangan menghaikimi dosa orang lain karena belum tentu kita lebih baik dari orang lain.
Di minggu sengsara ke tiga ini, kiranya Firman-Nya menuntun kita untuk berbenah, untuk kembali, sebab Tuhan pasti sedang menanti. Amin




















