ALASAN PEMILIHAN TEMA
Dusta adalah ucapan mulut yang tidak benar atau perkataan untuk menutupi kebenaran atau berdalih/ memungkiri yang benar. Mengapa orang berdusta atau berkata dusta? Tentu sangat variatif alasannya, karena situasi dan kondisi tertentu sehingga orang harus berdusta, walau sebenarnya ia sendiri mungkin tidak menginginkannya. Kata dusta menurut KBBI berarti berbohong atau berkata tidak benar. Dalam bahasa lokal Manado, kata dusta ada beberapa ucapan ialah ba towo, ba leo, ba konti, dll. Paskah baru sebulan berselang, orang berdusta atau tidak percaya tentang kebangkitan itu urusan mereka, tetapi yang benar, Yesus Kristus bangkit dan penampakan-Nya membuat dusta dan kasak-kusuk tentang-Nya terhapus. Dusta merupakan kata yang harus dihindari dalam berinteraksi baik secara internal, komunal maupun sosial, sebab dengan berdusta, kredibilitas, integritas dan spiritualitas kita direndahkan/disepelekan. Mungkin saja ada orang berpikir: demi sahabat supaya tidak konflik atau terjadi perselisihan, saya boleh berdusta. Hal seperti ini sering dipertahankan supaya tidak dimusuhi, tetapi substansinya adalah dia telah berdusta.
Secara realistis dan objektif, kata dusta atau berdusta masih terlalu sulit untuk dihilangkan dalam hidup manusia, di berbagai kalangan, bahkan bagi beberapa orang tertentu hal itu sudah menjadi kebiasaan. Pada pokoknya, dusta adalah dusta, jangan ada dusta di antara kita dan dusta itu sangat jauh dari kebenaran. Dusta itu hanyalah sebuah pikiran toleransi ambiguitas, namun tetap negatif dan melemahkan kredibilitas seseorang. Karena itu di minggu pertama bulan Mei ini, kita akan dibimbing untuk belajar memahami dan mengaktualisasikan tema: TIDAK ADA DUSTA YANG BERASAL DARI KEBENARAN.
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)
Nama Yohanes dalam Alkitab termasuk familiar dan tentu banyak juga yang memakai nama ini. 1 Yohanes disebut surat sesuai karakteristiknya, walau agak jauh berbeda dengan surat-surat yang ditulis oleh Rasul Paulus dan yang memiliki alamat yang jelas. Hingga kini tidak ada kesatuan pendapat di antara para ahli Perjanjian Baru tentang siapa penulis surat ini, namun penulisan surat ini jauh sesudah Tuhan Yesus naik ke sorga. Surat ini masuk dalam kategori surat pastoral karena sifatnya yang universal dan ditujukan kepada komunitas yang beragam latar sosial, budaya, ekonomi. Surat 1 Yohanes mengedepankan berbagai nasihat terkait problematika yang berkembang lebih khusus dan fokus pada kelompok/komunitas antikristus dalam jemaat, yang telah memengaruhi atau mengganggu persekutuan dan yang dengan sangat transparan menentang otoritas atau ke-Ilahi-an Yesus Kristus. Antikristus, menurut teks ini, berarti tidak suka, menolak, benci, marah dan ganas melawan, menyangkal, tidak mau diajak kompromi, malahan menyerang orang yang percaya pada Yesus Kristus. Secara sosial geografis, surat ini disampaikan kepada orang-orang di wilayah Makedonia yang sudah menerima Yesus Kristus. Namun kelompok antikristus yang tampil sudah lebih banyak, sehingga disebutlah dengan ungkapan hari terakhir yang merujuk pada hari kedatangan Tuhan Yesus. Pada masa itu juga muncul banyak pengajar sesat (Yun: Heraisis, yang ada kaitan dengan Gnostisisme doketik, lihat 2Yoh 1:7). Perikop ini hendak kita telusuri dari tiga Paragraf sesuai pembagian ayat dari Lembaga Alkitab Indonesia.
Paragraf pertama yakni ayat 18-21, penulis menyapa dengan sapaan anak-anakku (Yun: paidia dari paidion; Ing: infant, undeveloped understanding; God’s children). Kata ini bisa merujuk pada orang percaya dan juga pada mereka yang kurang paham/percaya. Jadi pengajaran penulis ini selain mengedukasi tapi juga untuk memberi atensi penuh pada penyampaian itu. Sapaan rasul menunjuk pada hubungan akrab, intim, dekat dan erat seperti orang tua dengan anak yakni hubungan biologis, psikologis, empatik dan penuh kelembutan. Ternyata di antara jemaat sudah ada kelompok antikristus yang memang berasal dari lingkungan persekutuan jemaat tetapi mereka tidak sungguh-sungguh percaya dan karena itu mudah dipengaruhi oleh ajaran baru yang justru menyesatkan. Jemaat yang telah mendapat pengurapan dari Yang Kudus (Yun: khrisma dari kata khrio: mengurapi) juga telah mengetahui tentang kebenaran (Yun: aletheia: keaslian, kebenaran absolut dan pengungkapan yang sebenarnya). Mereka bahkan sangat mengenal atau mengetahui eksistensi mereka. Teks menegaskan kamu juga sangat paham bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran. Penulis menegaskan agar mereka berhati-hati karena dusta itu berbeda jauh dari kebenaran. Kata dusta dalam bahasa Yun pseudos: berkata dan bertindak tidak benar, berlawanan dengan kebenaran (Yun: aletheia). Kitab Amsal banyak mencantumkan kata dusta seperti mulut, bibir, dan lidah (Amsal 12:6, 17-19, 22). Yakobus juga menuliskan dosa karena lidah, bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menjinakkan lidah (Yak 3:8).
Paragraf kedua ayat 22-25 menyebutkan siapa itu pendusta (Yun: pseustos). Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus (Kristos: Yang Diurapi). Dia itulah antikristus yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Menyangkal (Yun: aparneomai: menyangkal, menolak, melupakan diri sendiri) Allah Bapa dan Ke-Tuhan-an Kristus sebagai Juruselamat. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa, dan akan tetap tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa (lihat 4:3, band. Yoh 14:11, 15:7). Tentang apa yang disampaikan dan telah didengar dari mulanya yaitu Firman tentang Tuhan Yesus, tetaplah itu tinggal di dalam kamu sebagai patokan/dasar kebenaran karena itulah janji yang telah dijanjikan-Nya, yaitu menikmati hidup yang kekal. Jadi, pendusta ialah iblis, bapa dari segala dusta, menurut Yoh 8:44, dan dialah si ular tua yaitu Iblis dan Satan menurut Wahyu 20:2. Karena itu, kita dipagari dengan hukum kesembilan: Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu (Kel 20:16, Ul 5:20).
Paragraf ketiga ayat 26-28. Penulis dengan tegas mengatakan bahwa apa yang ia tuliskan adalah benar dengan tujuan mengingatkan bahwa ada orang-orang yang berusaha menyesatkan jemaat. Kamu yang telah memperoleh pengurapan, tidak perlu diajar oleh orang lain dengan ajaran yang berseberangan, berarti harus ditolak. Esensi Pengurapan-Nya ialah mengajar kamu tentang yang benar bukan dusta, karena itu hendaknya kamu tinggal di dalam Dia, karena Dialah kebenaran/aletheia itu (lihat ayat 29, dan 3:7). Tuhan Yesus sudah mengingatkan melalui khotbah-Nya di bukit tentang pengajaran sesat dan harus hati-hati/waspada (Mat 7:15-23, 18:6-11). Paulus juga acapkali mengingatkan Timotius dan Titus tentang ajaran sesat/Heraisis dan bagaimana menghadapinya (1Tim 4, 2Tim 2, Titus 3:9-11).
Makna dan Implikasi Firman
Karakteristik penulis dalam surat ini ialah melakukan tugas pastoral dengan efektif dan efisien, guna menguatkan dan meneguhkan iman jemaat dalam menghadapi pergumulan dan tantangan. Beberapa poin konkrit sebagai implikasi firman dari teks ini yaitu:
- Pengajaran gereja di era digital sekarang ini, harus lebih ditingkatkan atau dimaksimalkan, berhubung ada pengajar dan ajaran-ajaran sesat berkembang pesat dimana-mana dalam berbagai bentuk.
- Pelsus harus jujur dan transparan dalam pelayanan, jangan ja ba dusta tentang soal manajemen administrasi atau finansial, jangan ada dusta (pseudos) di antara kita.
- Gereja harus konsisten dengan ajaran Tritunggal. Yesus Kristus yang bangkit adalah kebenaran absolut, bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat.
- Orang tua harus tetap mendorong agar anak cucu harus loyal bergereja, agar mereka tidak mudah terpengaruh dengan ajaran sesat.
- Ingat! Antikristus itu ada, bukan dongeng/cerita burung, pribadi mereka tidak pernah merasa takut meskipun diancam, malah sebaliknya mereka mengancam dan melawan.
- Ajaran-ajaran sesat sekarang ini bukan hanya soal doktrin yang menentang gereja tapi sudah masuk ke ranah penipuan dengan modus yang sangat mulus, sehingga orang-orang tulus terpengaruh dan akibatnya loyalitas mereka kepada Tuhan, tergilas.
- Gereja: Pelsus, BPMJ, Orangtua, BIPRA, perangkat pelayanan, kostor, pegawai jemaat, harus bersinergi dan berkolaborasi karena ada anak-anak yang minta ijin ke gereja ternyata pergi ke tempat lain dan sudah terpengaruh dengan ajaran sesat.
- Pelsus GMIM harus melawan ajaran antikristus yang masuk ke dalam jemaat dengan alasan yang tidak benar. Pelsus memperlengkapi, mengajar, mendampingi seluruh warga jemaat agar tidak terpengaruh dengan ajaran-ajaran tersebut.
- Kita harus mengajarkan dan memberikan contoh kepada anak-anak dan cucu-cucu kita untuk tidak berbohong, berdusta.
- Pelsus dan Panitia Pemilihan harus transparan dan jangan berdusta dalam menjalankan tugas supaya prosesnya dapat berjalan dengan benar.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:
- Apa pemahaman saudara tentang Tidak ada dusta yang berasal dari Kebenaran dalam perikop ini?
- Bagaimana caranya supaya tidak ada dusta di antara Pelsus dan sesama jemaat?
- Seandainya ada ajaran sesat di jemaat bagaimana cara menghadapinya? Dan apa program-program yang dapat diusulkan untuk menjaga dan meningkatkan persekutuan jemaat?
NAS PEMBIMBING: Amsal 12:19
POKOK-POKOK DOA:
- Doakan anggota jemaat agar tidak berdusta dan terpengaruh dengan ajaran sesat.
- Doakan anggota jemaat agar mereka rajin beribadah di jemaat, kolom dan BIPRA, termasuk yang sudah malas.
- Doakan semua perangkat pelayanan agar tidak berdusta baik untuk program pelayanan, keuangan dan antar pribadi.
- Doakan BPMJ, Panitia Pemilihan dan anggota jemaat yang akan menghadapi pemetaan kolom, supaya dapat menyelenggarakannya dengan baik dan benar menurut kehendak firman Tuhan Allah.
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK I.
NYANYIAN YANG DIUSULKAN
Panggilan Beribadah: KJ No. 15 “Berhimpun Semua.”
Ses Nas Pembimbing: K.J.No.294 “Beribu Lidah Patutlah.”
Pengakuan Dosa: K.J. No. 467 “Tuhanku Bila Hati Kawanku.”
Pemberitaan Anugerah Allah: KJ. No. 39 “Ku Diberi Belas Kasihan.”
Pengakuan Iman: NNBT No. 19 “Allah Besar Agung Nama-Nya.”
Hukum Tuhan: KJ. No. 424 “Yesus Menginginkan Daku.”
Ses Pembacaan Alkitab: KJ No. 50a Sabda-Mu Abadi
Persembahan: NNBT No. 20 Kami Bersyukur Pada-Mu Tuhan.
Nyanyian Penutup: DSL. No. 184 Berjagalah dan Berdoalah.
ATRIBUT: Warna Dasar Putih dengan Lambang Bunga Bakung dengan Salib Berwarna Kuning





















