
Syalom. Damai Dihati
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang percaya kepada sesuatu karena mendengar kesaksian orang lain. Kita membeli suatu barang karena mendengar rekomendasi teman. Kita mengunjungi suatu tempat karena mendengar cerita orang yang pernah ke sana. Namun, pengalaman yang paling berharga adalah ketika kita sendiri mengalami dan mengetahui kebenarannya.
Demikian juga dengan iman kepada Yesus Kristus. Ada saatnya kita percaya karena mendengar kesaksian orang lain, tetapi Tuhan menghendaki agar kita semakin mengenal-Nya secara pribadi sehingga kita dapat berkata: “Sekarang kami percaya, bukan lagi karena apa yang kami dengar dari orang lain, tetapi karena kami sendiri telah mengenal Dia.”
Inilah yang terjadi dalam Yohanes 4:27-42.
Perikop ini terjadi setelah percakapan Yesus dengan seorang perempuan Samaria di sumur Yakub. Pada masa itu, orang Yahudi dan Samaria hidup dalam permusuhan yang panjang. Mereka saling merendahkan dan menghindari satu sama lain.
Namun Yesus melampaui batas-batas sosial dan budaya. Ia berbicara dengan perempuan Samaria yang bahkan memiliki masa lalu yang kelam. Dalam perjumpaan itu, perempuan tersebut mengalami perubahan hidup karena Yesus mengenal seluruh kehidupannya namun tetap mengasihinya.
Ketika para murid kembali, mereka heran melihat Yesus berbicara dengan perempuan itu. Tetapi perempuan tersebut segera meninggalkan tempayannya dan berlari ke kota untuk menceritakan tentang Yesus kepada banyak orang.
Jemaat Tuhan, mari kita lihat beberapa bagian penting dari bacaan ini :
1. Kesaksian yang Menggerakkan Orang Datang kepada Kristus
Perempuan Samaria berkata:
“Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” (ay. 29)
Perempuan ini tidak memiliki pendidikan teologi yang tinggi. Ia tidak berkhotbah panjang lebar. Ia hanya menceritakan pengalamannya bersama Yesus.
Kesaksian yang sederhana tetapi tulus ternyata mampu menggerakkan banyak orang keluar dari kota dan datang menemui Yesus.
Sering kali kita berpikir bahwa untuk bersaksi kita harus pandai berbicara. Padahal yang Tuhan perlukan adalah hati yang telah mengalami kasih-Nya.
Orang lain mungkin tidak langsung membaca Alkitab, tetapi mereka dapat melihat perubahan hidup kita. Mereka dapat mendengar cerita tentang bagaimana Tuhan menolong, menguatkan, dan memulihkan kita.
Kesaksian yang lahir dari pengalaman bersama Tuhan memiliki kuasa untuk membawa orang kepada Kristus.
2. Ladang Tuhan Sudah Menguning untuk Dituai
Ketika orang-orang Samaria mulai berdatangan, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
“Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.” (ay. 35)
Para murid sedang memikirkan makanan jasmani, tetapi Yesus sedang memikirkan keselamatan manusia.
Tuhan melihat banyak jiwa yang membutuhkan kabar baik. Orang-orang yang selama ini dianggap rendah oleh masyarakat ternyata sedang mencari kebenaran.
Hari ini pun banyak orang di sekitar kita sedang haus akan kasih Tuhan. Mereka mungkin tersenyum di luar tetapi terluka di dalam. Mereka membutuhkan pengharapan, pengampunan, dan keselamatan.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil menjadi pekerja di ladang Tuhan. Kita dapat melayani melalui perkataan, tindakan kasih, doa, dan teladan hidup.
3. Percaya Karena Mendengar
Alkitab mengatakan:
“Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada Yesus karena perkataan perempuan itu.” (ay. 39)
Iman dimulai dari pendengaran.
Orang-orang Samaria pertama kali percaya karena mereka mendengar kesaksian perempuan tersebut.
Demikian juga banyak dari kita mengenal Yesus karena mendengar khotbah, pengajaran orang tua, guru sekolah minggu, pendeta, atau sahabat yang memperkenalkan Kristus kepada kita.
Tuhan memakai banyak orang untuk membawa kita kepada-Nya.
Karena itu jangan pernah meremehkan pelayanan yang sederhana. Satu kata penguatan, satu ajakan beribadah, satu doa bersama, bisa menjadi awal pertobatan seseorang.
4. Percaya Karena Mengenal Yesus Secara Pribadi
Setelah mendengar kesaksian perempuan itu, orang-orang Samaria datang dan tinggal bersama Yesus selama dua hari.
Lalu mereka berkata:
“Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.” (ay. 42)
Inilah puncak perjalanan iman.
Mereka tidak berhenti pada kesaksian orang lain. Mereka mengalami sendiri perjumpaan dengan Yesus.
Iman yang dewasa bukan hanya iman warisan, tetapi iman yang lahir dari hubungan pribadi dengan Kristus.
Tuhan ingin setiap orang percaya mengenal-Nya secara pribadi melalui doa, pembacaan firman, ibadah, dan ketaatan setiap hari.
Ketika kita mengalami Tuhan secara pribadi, keyakinan kita tidak mudah digoyahkan oleh masalah, pencobaan, maupun ajaran yang menyesatkan.
Jemaat yang diberkati Tuhan Yesus. Sekarang bagaimana dengan kehidupan kita saat ini. Mari renungkan sejenak beberapa hal sebagai bahan introspeksi dan juga motivasi untuk kita kedepan :
1. Jadilah saksi Kristus di mana pun berada
Ceritakan kebaikan Tuhan kepada keluarga, teman, rekan kerja, dan sesama jemaat. Kesaksian sederhana dapat menjadi alat Tuhan membawa seseorang kepada keselamatan.
2. Lihatlah orang lain dengan kasih Tuhan
Jangan menghakimi seseorang berdasarkan masa lalunya. Yesus menerima perempuan Samaria dan mengubah hidupnya. Tuhan juga ingin memakai kita untuk menjangkau mereka yang tersisih.
3. Bangun hubungan pribadi dengan Yesus
Jangan hanya mengandalkan iman orang tua, pasangan, atau pemimpin gereja. Ambillah waktu setiap hari untuk berdoa dan membaca Firman Tuhan sehingga kita mengenal Yesus secara pribadi.
4. Yakini bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia
Di tengah berbagai masalah hidup, tetaplah percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat yang memberikan pengampunan dosa, damai sejahtera, dan hidup yang kekal
Jemaat yang diberkati Tuhan.
Perempuan Samaria percaya karena berjumpa dengan Yesus. Orang-orang Samaria percaya karena mendengar kesaksiannya. Namun akhirnya mereka berkata, “Sekarang kami sendiri telah mendengar Dia dan tahu bahwa Dia adalah Juruselamat dunia.”
Kiranya perjalanan iman kita juga demikian. Dimulai dari mendengar, bertumbuh melalui perjumpaan pribadi dengan Kristus, dan akhirnya memiliki keyakinan yang teguh bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia.
Amin.
























