
Shalom, Damai di hati.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kita hidup di era yang berkembang dalam berbagai bidang, tetapi juga dipenuhi banyak tantangan dan persoalan. Di satu sisi, kita semakin maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Di sisi lain, kita masih menyaksikan kekerasan, konflik, kerusakan lingkungan, ketidakpedulian sosial, menurunnya penghargaan terhadap kehidupan : banyak orang berbicara tentang hak, tetapi melupakan kewajiban. Banyak orang hanya menikmati apa yang diberikan Tuhan dalam hidup, tetapi kurang menyadari panggilan untuk memelihara apa yang telah Tuhan percayakan.
Firman Tuhan dalam Kejadian 9:1-17 menceritakan Setelah air bah berakhir, Nuh dan keluarganya keluar dari bahtera untuk memulai kehidupan yang baru. Mereka berdiri di atas bumi yang pernah mengalami penghukuman karena dosa manusia. Hal pertama yang dilakukan Allah ialah Ia memberkati Nuh dan anak-anaknya. Kata “memberkati” berasal dari bahasa Ibrani bārakh yaitu Berkat yang Allah janjikan berjalan bersama tanggung jawab, Allah tidak sekadar memberikan kehidupan, tetapi memberikan kepercayaan kepada Nuh dan seisi keluarganya yaitu untuk merawat, memelihara alam ciptaan serta menjaga relasi sebagai sesama ciptaan. Kemudian Allah berfirman, “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.” Perintah ini menunjukkan bahwa Allah menghendaki suatu kehidupan agar berkembang. Bahkan disebutkan Allah menyerahkan segala binatang di bumi yaitu segala yang bergerak dan hidup serta tumbuh-tumbuhan hijau untuk menjadi makanan. Dalam ayat berikutnya, Allah berbicara mengenai daging yang masih ada nyawanya janganlah kamu makan yakni darahnya. kata Ibrani yang digunakan adalah dam, yang berarti darah sekaligus melambangkan kehidupan. Bagi orang Ibrani, darah bukan sekadar unsur tubuh, tetapi tanda bahwa kehidupan berasal dari Allah. Pada Ayat 6 dituliskan Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpa oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri. Karena itu manusia tidak boleh memperlakukan kehidupan secara sembarangan. Allah kemudian memberikan alasan yang sangat mendasar. Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dalam istilah Ibraninya adalah tselem Elohim. Artinya, setiap manusia memiliki martabat yang berasal dari Allah sendiri. Nilai manusia tidak ditentukan oleh jabatan, kekayaan, pendidikan, atau status sosialnya. Nilai manusia ditentukan bahwa ia adalah ciptaan Allah serta mampu untuk menjalin kehidupan yang harmonis antar sesama ciptaan.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.
Dalam realitas kehidupan orang percaya saat ini, berbicara tentang relasi antar sesama, ada yang rajin beribadah, tapi tidak mampu hidup berdampingan satu dengan yang lain. Seringkali yang menjadi tembok pemisah ialah Status sosial, jabatan dan pendidikan yang menjadi ukuran untuk memperlakukan orang lain, bahkan tidak sedikit yang aktif melayani, tetapi masih hidup dalam iri hati, kecemburuan menimbulkan persaingan dalam pelayanan sehingga menjadi ajang untuk menonjolkan diri sendiri. Selanjutnya berbicara tentang relasi manusia dengan alam semesta yaitu dengan adanya teknologi yang luar biasa, dengan kecerdasan intelektual manusia mampu membangun kota-kota besar dengan fasilitas-fasilitas yang bersaing, membuka lahan pertanian luas, sehingga tanpa sadar menggali sumber daya alam hingga ke perut bumi, akibatnya dengan kemajuan yang selalu di banggakan ada yang harus di korbankan : Hutan ditebang tanpa kendali, sungai dipenuhi sampah dan limbah, laut tercemar, polusi udara serta kerusakan alam lainnya. Bahkan dengan hal yang paling sederhana dengan kesadaran penuh manusia seringkali buang sampah sembarangan entah di tempat-tempat ibadah, tempat umum bahkan sampah dari kendaraan dibuang sembarangan di jalan raya. Dengan realitas yang demikian penyebabnya ialah manusia sering bertindak seolah-olah bumi adalah miliknya sendiri. Padahal Alkitab mengajarkan bahwa manusia bukan pemilik bumi. Manusia hanyalah Penatalayan atau Stewardship dan pemilik sesungguhnya adalah Allah. Karena itu keberadaan dan keberhasilan manusia tidak boleh diukur hanya dari keuntungan ekonomi, tetapi juga dari kesetiaannya menjaga ciptaan Allah.
Saudara-saudara yang kasihi Tuhan.
Dari peristiwa Air Bah serta bagaimana Allah kembali memulihkan bumi dan segala isinya tentu memberikan sebuah kesempatan bagi kita sebagai manusia untuk tidak hanya memanfaatkan Alam sekitar tapi penyataan iman kita lahir dari tindakan aktif untuk merawat dan memelihara bumi karena ada perjanjian yang Allah berikan. Perjanjian ini tidak hanya diberikan kepada Nuh dan keturunannya, tetapi juga kepada segala makhluk yang ada di bumi. Ini menunjukkan bahwa kasih dan pemeliharaan Allah mencakup seluruh ciptaan. Sebagai tanda perjanjian itu, Allah menaruh busur-Nya di awan (lih. Yehezkiel 1:28). Busur atau qeshet pada masa kuno merupakan simbol perang. Ketika Allah menaruh busur itu di awan, Allah sedang menyatakan komitmen-Nya untuk memelihara kehidupan. Busur itu yang kita tahu adalah Pelangi menjadi tanda bahwa Allah tetap setia kepada janji-Nya. Jika pelangi menjadi tanda perjanjian setelah air bah, maka bagi kita salib Kristus menjadi tanda kasih Allah yang menyelamatkan dunia. Melalui Kristus, Allah menunjukkan bahwa Ia tidak meninggalkan ciptaan-Nya, melainkan datang untuk memulihkan dan menyelamatkan.
Karena itu, sebagai orang yang percaya, marilah kita hidup sebagai umat yang menerima perjanjian dengan saling menghormati satu dengan yang lain sebagai gambar Allah dengan menerima kasih karunia di dalam Yesus Kristus sehingga tidak ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain entah dari status sosial, pendidikan dan lain sebagainya melainkan mari bergandengan tangan untuk merawat kebersamaan, mengelola alam semesta demi keutuhan semua ciptaan. Pelangi bukan hanya mengingatkan kita tentang kesetiaan Allah. Pelangi juga mengingatkan kita akan tanggung jawab. Sehingga Setiap kali melihat pelangi, mari bertanya “Apakah hidupku turut memelihara kehidupan atau justru merusaknya?”. Jika Allah tetap setia pada perjanjian-Nya, maka kita diajak untuk tetap setia dengan rajin beribadah dan melakukan hal yang berkenan kepada Allah yaitu menjadi penatalayan yang bertanggung jawab atas keutuhan sesama ciptaan. Amin
























