• Privacy Policy
  • Contact
  • DODOKU
  • KABAR GMIM
    • SINODE
    • WILAYAH / JEMAAT
    • KESEHATAN
    • PENDIDIKAN
    • WARTA
  • RENUNGAN
    • MTPJ
    • RHK
    • MANNA
  • ARTIKEL
    Tantangan Gereja di Masa Kini: Degradasi Nilai Persekutuan Kristen

    Tantangan Gereja di Masa Kini: Degradasi Nilai Persekutuan Kristen

    Gereja di Era Digital

    Gereja di Era Digital

    Pertukaran Pemuda GMIM-EKHN: Peliharah Kerjasama dan Alam

    Pertukaran Pemuda GMIM-EKHN: Peliharah Kerjasama dan Alam

    Habakuk Sang Nabi Profesional

    Habakuk Sang Nabi Profesional

    Beberapa Peristiwa Sejarah GMIM yang Penting Sejak Tahun 1934

    Beberapa Peristiwa Sejarah GMIM yang Penting Sejak Tahun 1934

    Garis Waktu Berdirinya GMIM

    Garis Waktu Berdirinya GMIM

    Mengenal Yerusalem, Kota Kunci Peristiwa Sejarah di Dalam Alkitab

    Mengenal Yerusalem, Kota Kunci Peristiwa Sejarah di Dalam Alkitab

    Mengenal Kota Korintus, Si Jembatan Yunani yang Pernah Melewati Masa Kelam

    Mengenal Kota Korintus, Si Jembatan Yunani yang Pernah Melewati Masa Kelam

    MENGENAL SURAT IBRANI

    MENGENAL SURAT IBRANI

  • KIDUNG
  • KABAR SULUT
    Gubernur Sulut Tekankan Pentingnya Peran Pelsus GMIM Dalam Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila

    Gubernur Sulut Tekankan Pentingnya Peran Pelsus GMIM Dalam Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila

    Peduli Korban Banjir di Likupang, GMIM Imanuel Maumbi Salurkan Sejumlah Bantuan

    Peduli Korban Banjir di Likupang, GMIM Imanuel Maumbi Salurkan Sejumlah Bantuan

    GMIM Bangun Kerjasama Dengan UNIMA

    GMIM Bangun Kerjasama Dengan UNIMA

    GMIM dan BNI Kolaborasi Tanam Pohon

    GMIM dan BNI Kolaborasi Tanam Pohon

    Kapolres Tomohon Sambangi Kantor Sinode GMIM

    Kapolres Tomohon Sambangi Kantor Sinode GMIM

    North Sulawesi GMIM Male Choir Ukir Sejarah di Prancis

    North Sulawesi GMIM Male Choir Ukir Sejarah di Prancis

    Gelar Festival dan Expo, PPA Cluster Manado 1 Suarakan Pentingnya Perlindungan Perempuan dan Anak

    Gelar Festival dan Expo, PPA Cluster Manado 1 Suarakan Pentingnya Perlindungan Perempuan dan Anak

    Peringati Kenaikan Tuhan Yesus, Ketua MPH SAG Sulutteng Ingatkan Tugas Kesaksian Gereja

    Peringati Kenaikan Tuhan Yesus, Ketua MPH SAG Sulutteng Ingatkan Tugas Kesaksian Gereja

    Sambut Karnaval, Panitia MPF 2022 Matangkan Persiapan

    Sambut Karnaval, Panitia MPF 2022 Matangkan Persiapan

No Result
View All Result
  • DODOKU
  • KABAR GMIM
    • SINODE
    • WILAYAH / JEMAAT
    • KESEHATAN
    • PENDIDIKAN
    • WARTA
  • RENUNGAN
    • MTPJ
    • RHK
    • MANNA
  • ARTIKEL
    Tantangan Gereja di Masa Kini: Degradasi Nilai Persekutuan Kristen

    Tantangan Gereja di Masa Kini: Degradasi Nilai Persekutuan Kristen

    Gereja di Era Digital

    Gereja di Era Digital

    Pertukaran Pemuda GMIM-EKHN: Peliharah Kerjasama dan Alam

    Pertukaran Pemuda GMIM-EKHN: Peliharah Kerjasama dan Alam

    Habakuk Sang Nabi Profesional

    Habakuk Sang Nabi Profesional

    Beberapa Peristiwa Sejarah GMIM yang Penting Sejak Tahun 1934

    Beberapa Peristiwa Sejarah GMIM yang Penting Sejak Tahun 1934

    Garis Waktu Berdirinya GMIM

    Garis Waktu Berdirinya GMIM

    Mengenal Yerusalem, Kota Kunci Peristiwa Sejarah di Dalam Alkitab

    Mengenal Yerusalem, Kota Kunci Peristiwa Sejarah di Dalam Alkitab

    Mengenal Kota Korintus, Si Jembatan Yunani yang Pernah Melewati Masa Kelam

    Mengenal Kota Korintus, Si Jembatan Yunani yang Pernah Melewati Masa Kelam

    MENGENAL SURAT IBRANI

    MENGENAL SURAT IBRANI

  • KIDUNG
  • KABAR SULUT
    Gubernur Sulut Tekankan Pentingnya Peran Pelsus GMIM Dalam Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila

    Gubernur Sulut Tekankan Pentingnya Peran Pelsus GMIM Dalam Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila

    Peduli Korban Banjir di Likupang, GMIM Imanuel Maumbi Salurkan Sejumlah Bantuan

    Peduli Korban Banjir di Likupang, GMIM Imanuel Maumbi Salurkan Sejumlah Bantuan

    GMIM Bangun Kerjasama Dengan UNIMA

    GMIM Bangun Kerjasama Dengan UNIMA

    GMIM dan BNI Kolaborasi Tanam Pohon

    GMIM dan BNI Kolaborasi Tanam Pohon

    Kapolres Tomohon Sambangi Kantor Sinode GMIM

    Kapolres Tomohon Sambangi Kantor Sinode GMIM

    North Sulawesi GMIM Male Choir Ukir Sejarah di Prancis

    North Sulawesi GMIM Male Choir Ukir Sejarah di Prancis

    Gelar Festival dan Expo, PPA Cluster Manado 1 Suarakan Pentingnya Perlindungan Perempuan dan Anak

    Gelar Festival dan Expo, PPA Cluster Manado 1 Suarakan Pentingnya Perlindungan Perempuan dan Anak

    Peringati Kenaikan Tuhan Yesus, Ketua MPH SAG Sulutteng Ingatkan Tugas Kesaksian Gereja

    Peringati Kenaikan Tuhan Yesus, Ketua MPH SAG Sulutteng Ingatkan Tugas Kesaksian Gereja

    Sambut Karnaval, Panitia MPF 2022 Matangkan Persiapan

    Sambut Karnaval, Panitia MPF 2022 Matangkan Persiapan

No Result
View All Result
Our Story, Your Habit
No Result
View All Result
Home RENUNGAN MANNA

“DIDIKLAH MEREKA DIDALAM AJARAN DAN NASIHAT TUHAN” – EFESUS 6:1-9

27 June 2026
Reading Time: 8 mins read
“DIDIKLAH MEREKA DIDALAM AJARAN DAN NASIHAT TUHAN” – EFESUS 6:1-9
0
SHARES
9.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on WhatsAppShare on Telegram
ADVERTISEMENT
Pdt. Cynthia Marcella Sondakh. S.Th – Pendeta Jemaat Imanuel Teep Wilayah Amurang IV

Saudara-saudara yang kekasih di dalam Tuhan,

Setiap orang tua tentu mendambakan yang terbaik bagi anak-anaknya. Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya hidup dalam kegagalan atau mengalami penderitaan. Karena itu, berbagai usaha dilakukan demi masa depan anak-anak. Namun dalam kenyataannya, cara orang tua mendidik anak tidak selalu sama. Ada orang tua yang mendidik dengan penuh kasih, perhatian, dan tanggung jawab, termasuk memperhatikan pertumbuhan iman anak. Tetapi ada pula orang tua yang kurang memberikan perhatian terhadap pendidikan iman anak. Bagi mereka, selama kebutuhan jasmani anak terpenuhi—anak diberi makan, pakaian, dan pendidikan formal—maka tugas sebagai orang tua dianggap sudah selesai. Padahal firman Tuhan mengingatkan bahwa kebutuhan rohani anak sama pentingnya dengan kebutuhan jasmani. Anak tidak hanya membutuhkan makanan untuk tubuhnya, tetapi juga membutuhkan tuntunan, teladan, kasih, dan pengajaran firman Tuhan agar mereka bertumbuh menjadi pribadi yang takut akan Tuhan. Sebab pada kenyataannya tidak sedikit orang tua yang memiliki harapan yang sangat besar terhadap anak-anak mereka. Harapan itu sebenarnya baik, namun persoalannya muncul ketika harapan itu berubah menjadi tekanan dan ambisi yang berlebihan. Sejak kecil anak terus didorong, bahkan dipaksa untuk belajar, mengikuti berbagai les, kursus, dan kegiatan demi meraih prestasi setinggi-tingginya. Tidak jarang, keberhasilan anak kemudian dijadikan sebagai kebanggaan di hadapan orang lain atau sebagai sarana untuk mewujudkan cita-cita orang tua yang dahulu tidak tercapai. Akibatnya, anak kehilangan kesempatan untuk bertumbuh secara sehat, mengenal dirinya, bermain, dan membangun relasi yang baik dengan orang lain. Ketika anak gagal memperoleh nilai yang memuaskan, sebagian orang tua memberikan hukuman, membatasi berbagai hal, atau bahkan membanding-bandingkan anak dengan orang lain. Tekanan yang terus-menerus seperti ini dapat meninggalkan luka batin yang mendalam. Ada anak yang ketika dewasa menjadi pribadi yang tertutup, sulit bergaul, kehilangan rasa percaya diri, bahkan membangun jarak dengan orang tuanya sendiri. Bukan karena mereka tidak mengasihi orang tuanya, tetapi karena sejak kecil mereka lebih banyak merasakan tuntutan daripada kasih, lebih banyak menerima tekanan daripada dukungan.

Karena itu, melalui bacaan dari Surat Efesus 6:1-9, Rasul Paulus memberikan petunjuk-petunjuk yang praktis mengenai kehidupan keluarga dan relasi dengan sesama. Nasihat-nasihat ini tidak hanya mengatur hubungan antara anak dan orang tua, tetapi juga hubungan antara hamba dan tuannya. Pada dasarnya, Paulus hendak mengingatkan bahwa orang-orang percaya dipanggil untuk menjalani hidup yang berbeda dari dunia, sebab mereka telah menerima hidup yang baru di dalam Kristus. Hidup baru di dalam Kristus harus nyata dalam sikap, perkataan, dan tindakan sehari-hari, terutama di dalam lingkungan keluarga. Ketaatan anak kepada orang tua, kasih dan tanggung jawab orang tua terhadap anak, serta sikap saling menghargai dalam setiap relasi merupakan wujud nyata dari kehidupan baru tersebut. Apalagi, orang-orang percaya di Efesus pada waktu itu hidup di tengah masyarakat yang masih sangat dipengaruhi oleh penyembahan kepada dewi Artemis. Masyarakat Efesus sangat mengagungkan dewi tersebut, sehingga nilai-nilai kehidupan mereka pun banyak dibentuk oleh budaya dan kepercayaan kafir. Dalam situasi seperti itulah, orang-orang percaya menghadapi tantangan yang besar untuk tetap setia kepada Kristus dan hidup sesuai dengan iman yang telah mereka terima. Karena itu, Rasul Paulus mengingatkan bahwa kehidupan baru di dalam Kristus harus diwujudkan pertama-tama di dalam lingkungan keluarga. Keluarga menjadi tempat pertama di mana iman kepada Kristus dinyatakan melalui sikap saling menghormati, mengasihi, dan melaksanakan tanggung jawab masing-masing.

Untuk itu, mari kita memperhatikan nasihat-nasihat yang diberikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, terlebih khusus yang ditujukan kepada setiap keluarga.

Pertama, ayat 1-3 berisi nasihat kepada anak-anak. Rasul Paulus menasihati anak-anak agar taat kepada orang tua di dalam Tuhan. Perintah ini bukanlah sesuatu yang baru, sebab sejak dalam Perjanjian Lama, Tuhan telah memerintahkan: ‘Hormatilah ayahmu dan ibumu’. Kata ‘taat’ yang digunakan oleh Paulus berasal dari bahasa Yunani hypakouō, yang secara harfiah berarti ‘mendengar dari bawah’. Ungkapan ini menggambarkan sikap seseorang yang mendengarkan dengan penuh perhatian dan tunduk kepada otoritas yang berada di atasnya, sehingga menghasilkan tindakan ketaatan. Dengan demikian, ketaatan yang dimaksudkan Paulus bukan sekadar mendengar perkataan orang tua atau melakukan perintah karena terpaksa. Ketaatan yang sejati adalah mendengar dengan penuh hormat, menerima nasihat dengan hati yang tunduk, dan melaksanakan apa yang diperintahkan dengan sukarela sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan.

Namun, Paulus menambahkan frasa yang sangat penting, yaitu ‘di dalam Tuhan’. Artinya, ketaatan anak kepada orang tua merupakan bagian dari ketaatan kepada Kristus. Ketika seorang anak menghormati dan menaati orang tuanya, sesungguhnya ia sedang menunjukkan ketaatannya kepada Tuhan. Akan tetapi, ketaatan itu tetap berada dalam batas kehendak Allah. Jika suatu saat perintah orang tua bertentangan dengan firman Tuhan, maka orang percaya harus lebih mengutamakan ketaatan kepada Allah.

Selanjutnya, Paulus juga mengingatkan anak-anak untuk menghormati ayah dan ibu, sebab inilah perintah pertama yang disertai janji, yaitu ‘supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi’ (Ef. 6:2-3). Menghormati orang tua tidak hanya dilakukan pada masa kanak-kanak, tetapi sepanjang hidup, melalui sikap hormat, kasih, perhatian, kepedulian, dan kesediaan untuk memelihara serta menghargai mereka. “Sebab di balik ketaatan dan penghormatan kepada orang tua, terdapat janji Tuhan yang nyata. Tuhan menjanjikan kehidupan yang berbahagia dan panjang umur di bumi bagi mereka yang menghormati ayah dan ibunya. Ini menunjukkan bahwa Tuhan berkenan dan memberkati anak-anak yang hidup dalam ketaatan dan penghormatan kepada orang tua.”

Kedua, ayat 4 berisi nasihat kepada bapak-bapak atau para orang tua. Pada zaman Efesus, seorang ayah memiliki kekuasaan yang sangat besar dalam keluarga. Dalam budaya Romawi saat itu dikenal konsep patria potestas, yaitu kuasa mutlak seorang ayah atas seluruh anggota keluarganya. Seorang ayah dapat menentukan hampir seluruh aspek kehidupan anaknya, bahkan memiliki hak untuk memberikan hukuman yang sangat keras.

Di tengah budaya seperti itulah Rasul Paulus menyampaikan sebuah pengajaran yang sangat berbeda dan revolusioner. Paulus mengingatkan bahwa bukan hanya anak-anak yang memiliki kewajiban untuk menghormati dan menaati orang tua, tetapi para orang tua, khususnya para bapak, juga memiliki tanggung jawab yang besar terhadap anak-anak mereka. Paulus berkata: ‘Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Artinya, orang tua tidak boleh menggunakan otoritas secara sewenang-wenang, otoriter, atau berdasarkan ambisi dan kehendak pribadi semata. Sebaliknya, otoritas yang Tuhan percayakan harus dijalankan dengan kasih, kesabaran, dan hikmat. Orang tua dipanggil bukan untuk menindas atau melukai hati anak, melainkan membimbing, mendidik, dan mengarahkan mereka kepada Tuhan. Pendidikan yang diberikan kepada anak harus berlandaskan pada ajaran dan nasihat Tuhan, sehingga anak-anak bertumbuh bukan hanya dalam pengetahuan dan keberhasilan duniawi, tetapi juga dalam iman, karakter, dan takut akan Tuhan.

Ketiga, ayat 5-9 berisi nasihat kepada para hamba dan tuan. Pada zaman Perjanjian Baru, yang dimaksud dengan hamba adalah budak, yaitu seseorang yang berada di bawah kekuasaan atau kepemilikan orang lain. Para budak melakukan berbagai macam pekerjaan, mulai dari pekerjaan rumah tangga, pekerjaan di ladang, hingga tugas-tugas administratif. Dalam budaya Romawi pada waktu itu, seorang tuan memiliki kekuasaan yang sangat besar atas para budaknya, bahkan dapat memperlakukan mereka dengan keras atau menjual mereka kepada orang lain. Di tengah situasi seperti inilah Rasul Paulus memberikan nasihat kepada para hamba agar mereka melaksanakan pekerjaan mereka dengan penuh tanggung jawab. Paulus berkata, ‘Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus’ (Ef. 6:5). Artinya, para hamba dipanggil untuk bekerja dengan segenap hati, penuh ketulusan, dan kesetiaan. Mereka tidak boleh bekerja hanya ketika diawasi atau sekadar untuk menyenangkan hati manusia. Sebaliknya, mereka harus bekerja dengan kesadaran bahwa segala pekerjaan yang dilakukan sesungguhnya dipersembahkan kepada Tuhan. Ketulusan dalam bekerja bukan didasarkan pada keinginan untuk memperoleh pujian dari manusia, melainkan karena mereka menyadari bahwa mereka sedang melayani Kristus sendiri.

Rasul Paulus menegaskan bahwa orang percaya tidak boleh menjadi ‘pelayan mata’, yaitu orang yang rajin hanya ketika dilihat oleh atasan, tetapi menjadi hamba Kristus yang melakukan kehendak Allah dengan sepenuh hati. Sebab hasil akhir dan upah yang sejati tidak semata-mata bergantung pada penilaian manusia, melainkan berasal dari Tuhan yang melihat setiap jerih lelah dan kesetiaan umat-Nya. Tuhan memperhatikan setiap pekerjaan yang dilakukan dengan tulus dan akan membalas setiap usaha yang dikerjakan dengan setia.

Namun, Paulus tidak hanya menasihati para hamba. Ia juga menegur para tuan agar memperlakukan hamba-hamba mereka dengan baik dan tidak menggunakan kekuasaan secara sewenang-wenang. Paulus mengingatkan bahwa baik hamba maupun tuan sama-sama memiliki Tuhan di sorga, dan di hadapan-Nya tidak ada pilih kasih. Dengan demikian, setiap relasi dalam kehidupan, baik di dalam keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat, harus dibangun atas dasar kasih, penghormatan, keadilan, dan kesadaran bahwa kita semua adalah hamba-hamba Kristus.”

Saudara-saudara yang kekasih di dalam Tuhan, oleh karena itu melalui bacaan Alkitab ini ada beberapa hal yang menjadi pesan firman bagi kita:

Pertama, ketaatan dan penghormatan kepada orang tua merupakan suatu keharusan bagi setiap anak. Dewasa ini, ketaatan dan penghormatan kepada orang tua seolah-olah menjadi sesuatu yang semakin mahal. Perkembangan zaman yang begitu pesat, termasuk kemajuan teknologi dan media sosial, sedikit banyak telah memengaruhi cara berpikir dan perilaku anak-anak. Tidak jarang, nilai-nilai yang diajarkan oleh dunia membuat anak lebih mendengarkan suara media sosial daripada nasihat orang tua. Akibatnya, sikap hormat kepada orang tua semakin memudar. Ada anak yang merasa lebih tahu daripada orang tuanya, enggan mendengar nasihat, bahkan berani membantah dan melawan orang tua. Padahal, Firman Tuhan dengan jelas mengingatkan bahwa menghormati ayah dan ibu adalah perintah Tuhan yang harus terus dilakukan sepanjang hidup. Setinggi apa pun pendidikan yang kita raih, sebanyak apa pun gelar, jabatan, dan keberhasilan yang kita miliki, semuanya tidak boleh membuat kita melupakan penghormatan kepada orang tua. Sebaliknya, keberhasilan yang kita miliki seharusnya semakin mendorong kita untuk mengasihi, menghormati, dan membahagiakan mereka. Ketaatan dan penghormatan kepada orang tua bukan semata-mata kewajiban moral, melainkan juga merupakan wujud ketaatan kita kepada Tuhan. Ketika kita menghormati orang tua, sesungguhnya kita sedang menghormati Tuhan yang telah menghadirkan mereka sebagai alat-Nya dalam kehidupan kita. Sebab Firman Tuhan menjanjikan bahwa di balik ketaatan dan penghormatan kepada orang tua terdapat berkat Tuhan, yaitu kehidupan yang berbahagia dan panjang umur di bumi. Oleh karena itu, marilah kita terus memelihara sikap hormat dan taat kepada orang tua sebagai ungkapan syukur atas karunia Tuhan dalam hidup kita.”

Kedua, pendidikan dalam keluarga harus disertai dengan keteladanan dari orang tua. Disadari atau tidak, anak-anak pada zaman sekarang lebih mudah belajar melalui apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Mereka lebih menerima pendidikan melalui keteladanan hidup orang tua daripada melalui banyak nasihat tanpa disertai contoh yang baik. Sebab itu, orang tua bukan hanya dipanggil untuk mengajar, tetapi juga untuk menjadi teladan bagi anak-anaknya. Sering kali orang tua menginginkan anak-anak mereka bertumbuh menjadi pribadi yang baik, rajin berdoa, setia beribadah, dan hidup takut akan Tuhan. Namun, semua itu akan sulit terwujud apabila anak tidak melihat teladan yang sama dalam kehidupan orang tuanya. Anak-anak akan lebih mudah meniru apa yang dilakukan orang tua daripada sekadar mendengar apa yang dikatakan. Selain itu, memaksakan kehendak dan ambisi pribadi kepada anak tidak selalu membawa dampak yang baik bagi pertumbuhan mental maupun spiritual mereka. Pendidikan yang terlalu menekan justru dapat melukai hati anak, menimbulkan pemberontakan, bahkan menjauhkan mereka dari orang tua maupun dari Tuhan. Karena itu, Firman Tuhan melalui Efesus 6:4 mengingatkan para orang tua agar tidak membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak, melainkan mendidik mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila orang tua sendiri hidup dekat dengan Tuhan. Oleh sebab itu, setiap orang tua perlu senantiasa memohon hikmat dari Tuhan, rajin berdoa, tekun membaca firman Tuhan, dan setia beribadah. Dengan demikian, orang tua akan dimampukan untuk mendidik anak-anak dengan penuh kasih, kesabaran, dan kebijaksanaan, sehingga mereka bertumbuh menjadi pribadi yang takut akan Tuhan dan berkarakter Kristus. Pada akhirnya, keluarga Kristen dipanggil untuk menjadi tempat pertama dan utama di mana iman kepada Kristus diajarkan, dihidupi, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ketiga, sebagai orang percaya yang telah menerima hidup baru di dalam Kristus, kita dipanggil untuk melaksanakan setiap pekerjaan dan tanggung jawab dengan taat dan setia, apa pun profesi dan kedudukan kita. Rasul Paulus mengingatkan bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan harus dilakukan seperti untuk Tuhan dan bukan semata-mata untuk manusia. Dengan demikian, motivasi utama dalam bekerja bukanlah untuk mencari pujian, penghargaan, atau pengakuan dari manusia, melainkan untuk memuliakan Tuhan.

Karena itu, baik sebagai pemimpin, atasan, majikan, maupun sebagai pekerja, bawahan, atau pelayan, setiap orang percaya dipanggil untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan penuh integritas, ketulusan, dan kasih. Kita tidak boleh melaksanakan tugas dengan sikap semena-mena, disertai ancaman, ketidakadilan, atau tindakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya, setiap relasi dalam pekerjaan harus dibangun atas dasar saling menghormati, menghargai, dan mengasihi. Firman Tuhan mengingatkan bahwa di hadapan Allah tidak ada perbedaan status atau kedudukan. Tuhan tidak memandang seseorang berdasarkan jabatan, kekayaan, atau posisi sosialnya, sebab di mata-Nya semua orang memiliki nilai yang sama. Oleh karena itu, baik atasan maupun bawahan sama-sama bertanggung jawab untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

Untuk itu, di mana pun Tuhan menempatkan kita—di dalam keluarga, tempat kerja, gereja, maupun masyarakat—marilah kita menjadi kesaksian yang hidup di tengah masyarakat yang belum mengenal Kristus agar melalui sikap, perkataan, dan perbuatan kita Tuhan senantiasa dipermuliakan. Amin

Baca Juga Info Lainnya

RHK Senin, 2 September 2019
RENUNGAN

RHK Jumat, 23 Oktober 2026 – 2 Petrus 1:12–13 – Pentingnya Saling Mengingatkan

22 October 2026
MTPJ 1 – 7 September 2019
MTPJ

MTPJ 25 – 31 Okt 2026 – 2 Timotius 1:3-18 – “Peliharalah Harta Yang Indah Yang Telah Dipercayakan-Nya Kepada Kita”

22 October 2026
Audio Bacaan Alkitab Setahun Selasa, 7 Oktober 2026 – Matius 13dan 14
AUDIO BACAAN ALKITAB SETAHUN

Audio Bacaan Alkitab Setahun Jumat, 23 Oktober 2026 – Lukas 1

22 October 2026
  • Privacy Policy
  • Contact

© 2026 dodokugmim.com

No Result
View All Result
  • DODOKU
  • KABAR GMIM
    • SINODE
    • WILAYAH / JEMAAT
    • KESEHATAN
    • PENDIDIKAN
    • WARTA
  • RENUNGAN
    • MTPJ
    • RHK
    • MANNA
  • ARTIKEL
  • KIDUNG
  • KABAR SULUT

© 2026 dodokugmim.com

ADVERTISEMENT