
Saudara saudara yang dikasihi Tuhan Yesus!
Hubungan sosial manusia antara satu dengan yang lainnya sering pada tahap, berjalan bersama sama, namun juga sering pada tahap tak sejalan lagi, hal itu di akibatkan perpecahan yang terjadi. Perpecahan merupakan sesuatu yang sering disebabkan oleh berbagai perbedaan cara berpikir, bertindak, berkata, atau perbedaan lainnya. Dalam persekutuan jemaat, jika terjadi perpecahan dan hal itu dibiarkan maka akan mengganggu persekutuan, sebab bukan lagi nama Tuhan yang dipermuliakan.
Saudara saudara yang dikasihi Tuhan Yesus!
Bacaan kita bermula saat rekan rekan pelayanan Rasul Paulus mengunjungi Paulus dipenjara dan memberi tahu , tentang perpecahan yang terjadi di jemaat Filipi. Dari informasi itu Paulus menasehatkan jemaat Filipi melalui tulisannya. Sebelum melihat apa nasehat Rasul Paulus kepada Jemaat Filipi, maka perlu kita tahu Jemaat Filipi adalah suatu jemaat Kristen di Eropa, tepatnya di Yunani, yang terdiri dari orang Kristen non Yahudi, dan sebagian kecil Kristen Yahudi, jemaat yang murah hati dalam pemberian dana menopang kerja pelayanan Paulus. Surat Paulus kepada jemaat di Filipi adalah surat yang ditulis Rasul Paulus dari dalam Penjara, Timotius membantu mengantar surat ini, dan tertuju kepada seluruh orang percaya, penilik jemaat dan diaken. Memuat segala ucapan syukur, doa, nasihat, teguran dan penguatan iman bagi jemaat yang terus bertahan dalam iman kepada Kristus, walaupun jemaat yang adalah hasil pelayanan Paulus ini terancam berbagai problematika, yaitu ancaman perpecahan dalam lingkup jemaat, ancaman perpecahan yang terjadi lingkup jemaat, dalam hal ini para pelayan jemaat yaitu Eoudia dan Sintikhe yang adalah diakon (pelayan meja), dan masuknya Guru-guru palsu, Paulus menyebut mereka anjing-anjing (Fil 3:2) yang hendak mengeruhkan dan memecah belah jemaat dengan ajaran” palsu. Itulah situasi yang terjadi dijemaat Filipi. Sekarang mari kita melihat nasehat Rasul Paulus kepada jemaat.
Saudara saudara yang dikasihi Tuhan Yesus!
Dalam menasehati jemaat Filipi maka bacaan kita dibagi dalam tiga bagian. Pertama, ayat 1-4, yaitu melihat pribadi Kristus. Dalam Kristus ada nasihat, penghiburan kasih, persekutuan Roh, Kasih Mesra dan Belas Kasihan. Artinya dalam diri Kristus ada Kasih yang mempersatukan.
Kasih Kristus yang mempersatukan, agar jemaat Filipi tetap memandang Kristus dalam membangun hidup berjemaat. Paulus tentu bersukacita melihat jemaat yang terus teguh bertahan dalam berbagai penderitaan, maka menjadi lengkap sukacita Paulus jika jemaat hidup sehati sepikir, satu hati, satu jiwa, satu tujuan. Tentu maksud Paulus bukan menjadikan jemaat seragam atau sama, tetapi lebih bertitik tolak bahwa dalam segala perbedaan, hendaknya ada satu kesatuan. Selain itu jemaat diharapkan untuk tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia. Ego dan merasa diri hebat, sering membuat orang percaya tidak peduli terhadap yang lainnya akibatnya terjadi kompetensi yang tidak sehat bukan lagi, empati untuk kepentingan orang lain. Sebab itu jemaat hendaknya juga rendah hati, agar dapat berempati atau peduli terhadap kepentingan orang lain.
Selanjutnya bagian kedua, ayat 5- 7, menaruh pikiran dan perasaan Kristus. Pikiran dan perasaan Kristus dapat dilihat dalam karyanya ketika Kristus turun dari Sorga. Hal ini menandakan babak yang baru, bahwa sebagai yang ilahi, yang berkuasa, Kristus merendahkan diri menjadi manusia. Kristus tidak mempertahankan kesetaraan dengan Allah namun mengosongkan dirinya. Dalam filosofi Yunani, mengosongkan diri adalah perjuangan melawan tubuh jasmani. Tubuh dianggap sebagai penjara hidup, sehingga jiwa harus berusaha membebaskan diri agar terlepas dari tubuh. Dalam usaha lepas dari tubuh, jiwa harus menyangkal tubuh. Yesus Kristus sejenak menyangkal kesetaraan dengan Allah, untuk menjadi manusia. Penegasan ini hendak memberi tahu bahwa Kristus saja bisa merendahkan diri, kenapa manusia suka meninggikan diri? Yesus Kristus bisa melepaskan kemuliaan Sorga untuk sejenak menjadi manusia, kenapa justru jemaat mempertahankan ego masing masing.
Bagian ketiga, ayat 8-11, Jalan menuju kemuliaan adalah salib. Ketaatan Yesus Kristus pada Bapa, bukan sebuah kelemahan melainkan inti dari kemuliaan dan penebusan. Ketika Yesus taat kepada Bapa dalam keadaaan sebagai manusia , ini menjadi satu inti di mana pada akhirnya semua yang ada di langit, di bumi, dan dibawah bumi(menunjuk pada semua yang di alam semesta) akan menyembah Yesus dan mengakui keilahiannya bahwa Yesus adalah Tuhan. Sisi lain dari penjelasan Paulus ini hendak bermaksud memberi tahu bahwa ketaatan kepada Bapa hendaknya ada dalam kerendahan hati, yang walaupun sulit dilakukan tapi pada akhirnya kerendahan hati, saling melayani satu dengan yang lain, saling memperhatikan kepentingan semua orang akan mendatangkan kemuliaa Allah Bapa. Lewat cara hidup seperti itu jemaat juga akan memperoleh kemuliaan baik kemenangan dalam pelayanan maupun kemenangan memperoleh mahkota kehidupan.
Saudara saudara yang dikasihi Tuhan Yesus!
Belajar Firman,
Kehidupan ini rentan, dengan berbagai konflik perpecahan apalagi di momen momen pemilihan pelayan khusus. Maka mari melihat pribadi Kristus, didalam Kristus ada Kasih yang mempersatukan. Sehingga sebagai orang percaya kita tetap Sehati, sepikir, dalam satu jiwa dan satu tujuan. Kita menyadari bahwa perbedaan akan ada namun kita akan saling menghargai demi pelayanan yang lebih baik.
Jauhkan dari persekutuan budaya Flexing(mencari pujian sia sia) yang pada ujungnya hanya untuk Validasi Palsu atau sekedar mencari perhatian(Pansos). Jauhkan ego, kesombongan (Tuhan Allah membenci orang orang congkak Yak4:6) juga jauhkanlah sikap mementingkan diri sendiri yang berujung pada kompetensi yang tidak sehat, dengan saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya. Orang percaya hendaknya punya sikap peka terhadap orang lain, sehingga orang percaya peduli terhadap kepentingan orang lain.
Saudara saudara yang dikasihi Tuhan Yesus!Orang percaya juga dituntut untuk berusaha merendahkan diri, belajar dari ketaatan Kristus. Sikap merendahkan diri akan mencegah konflik lebih besar. Melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh, karena tidak ada mahkota kemuliaan tanpa mahkota duri. Ingatlah Tuhan Allah merendahkan orang orang yang meninggikan diri, dan meninggikan orang orang yang merendahkan diri(Lukas 14:11). Akhirnya segala sesuatu untuk kemuliaan Kristus kepala Gereja dan Tuhan atas alam semesta, serta bagi Allah Bapa yang menciptakan kehidupan. Amin























