Penulis : Pdt. Prisca Dewi Walukouw, S.Teol
SOBAT obor, menjadi pengikut Yesus memang tidaklah mudah. Pergumulan, tantangan, godaan bahkan penderitaan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari iman Kristiani. Hal ini sudah teralami sejak awal mula Kekristenan, sebagaimana yang dialami oleh para murid Yesus dan pengikut Yesus yang lain. Mulai dari ejekan, ancaman, dipenjarakan hingga dibunuh itu menjadi konsekuensi para pengikut Yesus di masa gereja mula-mula bahkan hingga di masa sekarang ini masih bisa ditemukan adanya tekanan kepada umat Kristen di daerah-daerah dimana kekristenan adalah kaum minoritas. Namun meskipun iman Kristen dihambat, ia tetap merambat karena sebagaimana ungkapan Tertulianus bahwa darah para martir atau pengikut Yesus yang dianiaya dan dibunuh karena mempertahankan iman, darah mereka telah menjadi benih-benih gereja, sehingga teladan iman para martir yang begitu kokoh bahkan sampai kehilangan nyawa bisa menguatkan orang-orang percaya di segala zaman untuk kuat menghadapi tekanan dan penderitaan karena iman bahkan tidak bisa dipungkiri bahwa semakin hebat hambatan terhadap iman Kristen semakin banyak pula orang menjadi percaya. Demikianlah pengikut Yesus teruji imannya melalui tekanan dan penderitaan. Ibaratnya tekanan dan derita menjadi alat tampi bagi iman Kristen apakah kemudian imannya akan gugur saat ditampi dengan penderitaan ataukah iman akan tetap teguh.
Dalam perjamuan malam ini kita mendapati ada beberapa hal yang terjadi, yaitu :
- Terjadinya pertengkaran di antara para murid yang dipicu oleh keinginan para murid untuk menjadi yang terbesar di antara mereka. Maka Yesuspun menasihati sekaligus memberi teladan kepada mereka bahwa untuk menjadi yang terbesar hendaklah ia melayani sesamanya. Sebagaimana yang diteladankan oleh Yesus di saat itu, sebagai Guru, Pemimpin bahkan Tuhan tetapi Ia bukan saja hanya melayani para murid untuk makan roti dan minum anggur dalam perjamuan tersebut, karena ternyata sebagaimana yang dicatat oleh Yohanes di dalam Yoh 13, bahwa sebelum melakukan perjamuan, Yesus telah terlebih dahulu membasuh kaki murid-muridnya.
- Yesus menjanjikan hak-hak kerajaan bagi para murid yang tetap teguh beriman kepadanya dan tetap menjaga kesetiaannya hingga Tuhan Yesus datang kembali untuk membawa barangsiapa yang percaya untuk menikmati makan dan minum semeja dengan Yesus bahkan mendapat kehormatan menghakimi kedua belas suku Israel.
- Yesus mengingatkan sekaligus mempersiapkan Simon Petrus sebelum ia menyangkal Yesus. Simon Petrus yang dengan yakin menyatakan kesetiaan imannya kepada Yesus, tetapi yang kemudian menyangkal Yesus sebanyak 3 kali. Iblis sangat menuntut untuk menampi iman Petrus seperti menampi gandum. Menampi adalah membersihkan gandum atau beras menggunakan nyiru atau sosiru dalam bahasa Manado dengan cara digerakkan atau disentakan naik dan turun sampai padi yang ringan jatuh dari sosiru. Karena itu, Yesus mempersiapkan Simon Petrus dengan terlebih dahulu mendoakannya agar meskipun ia sempat ditampi atau digoncangkan imannya tetapi imannya tidak sampai gugur. Bahkan petrus diharapkan bisa menguatkan saudara-saudaranya ketika dia telah insaf atau bertobat dari penyangkalan imannya.
- Yesus mempersiapkan para murid menghadapi beratnya tantangan dalam pelayanan mereka kedepan. Saat Yesus pertama kali memanggil para murid untuk mengikutinya dan mengutus mereka sebagaimana yang dicatat di injil Luk 9:1-6 dan paralelnya, perintah Yesus adalah supaya mereka jangan membawa apa-apa sebagai bekal dan benarlah selama melayani bersama Yesus mereka akui tidak pernah berkekurangan, tetapi kali ini Yesus menyuruh para murid untuk membawa pundi, bekal, bahkan pedang. Ini harus dilakukan sebagai persiapan menghadapi beratnya tantangan pelayanan oleh para murid kedepan karena Yesus yang mereka layani dan beritakan akan dilihat sebagai pemberontak sehingga para murid dan semua pengikutnyapun akan banyak menanggung banyak dera dan derita demikianlah yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya (Yes 53:12) dan tergenapi di dalam Yesus.
Sobat obor, di masa penghayatan sengara Tuhan tepatnya di Minggu sengsara ketiga, kita diingatkan melalui renungan di saat ini, untuk mempersiapkan iman kita agar jangan sampai gugur saat di tampi. Mari kita perteguh iman percaya kita kepada Tuhan Yesus dengan setia bersekutu dengan Tuhan lewat persekutuan ibadah, selalu rindu dan rajin merenungkan Firman Tuhan dalam Alkitab dan senantiasa berdoa inilah bekal dan pedang kita saat menghadapi tuntutan iblis dalam kehidupan kita. Hanya bersama dengan Tuhan Yesus iman kita dikuatkan. Jangan sekali-kali merasa diri sudah teguh dalam iman sehingga tidak lagi memperlengkapi dan berjaga-jaga dengan Firman dan doa, belajar dari kesalahan Simon Petrus, baiklah kita selalu membentengi diri dengan hidup mengandalkan Tuhan saja. Selanjutnya, Jadilah murid Yesus yang rendah hati, sekalipun mungkin ada banyak kelebihan, berkat dan talenta yang kita miliki tetapi jangan sampai kita lupa diri apa lagi lupa Tuhan sehingga kita mulai membesar-besarkan diri, apalagi sampai merendahkan sesama. Ingat! Yesus mengajarkan bahwa siapa yang ingin menjadi yang terbesar baiklah ia menjadi pelayan meneladani Yesus Sang Pemimpin terbesar namun mau merendahkan diri-Nya sebagai hamba yang menderita. Karena itu, jadilah pemuda gereja yang memiliki hati sebagai hamba, selalu berprinsip seperti rasul Yohanes bahwa Yesus harus makin besar tetapi aku harus makin kecil.
Sobat obor, meskipun kedepan nanti tantangan dan penderitaan karena iman kepada Yesus akan semakin besar, tekanan dalam pelayanan bisa semakin berat tetapi peganglah janji Tuhan Yesus dalam setiap Firman-Nya, salah satunya tertulis dalam Yohanes 16:33 “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu,
Aku telah mengalahkan dunia” Tuhan Yesus beserta kita senantiasa. Amin. (PDW)























