SOBAT obor, betapa sering kita menggunakan logika kita dalam pelayanan. Memang, logika beragama sangat dibutuhkan supaya beriman yang benar dan terhindar dari radikalisme beragama. Namun ada saatnya kita harus meninggalkan setiap pertimbangan rasional kita ketika kita melakukan perintah-Nya. Itulah yang disebut dengan beriman. Percaya dengan siapa yang kita percayai tanpa harus mempertanyakannya. Setelah semalaman mencari ikan dengan pengalaman sebagai nelayan sejati, Simon harus diperhadapkan dengan sebuah perintah dari seorang yang notabene bukan nelayan dan baru ia kenal. “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan”, secara rasional tentu saja perintah ini sangat tak masuk akal. Namun, karena Simon baru saja mendengar Yesus berbicara, tentu saja ada sesuatu yang membuatnya mengikuti perintah orang yang baru ditemuinya. Sekali lagi itulah iman. ”
Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”, itulah bukti seorang murid yang percaya. Yesus menginginkan Simon menjadi murid yang nantinya akan bersama-sama dengan Yesus untuk mengikuti setiap misiNya. Maka, harus dibuktikan dengan ketaatan dari Simon. Dan ternyata Simon betul-betul taat. Dari hal yang sederhana Yesus menguji Simon apakah benarbenar layak untuk menjadi pengikut-Nya. Betapa kita sering diuji mulai dari hal-hal yang kecil dalam hidup ini untuk dipercayakan hal-hal yang jauh lebih besar kemudian. Maka setialah pada hal-hal yang kecil dan berusahalah untuk taat. Kita diperhadapkan dengan realita dunia era sekarang dimana tak ada yang tersembunyi lagi terutama di dunia maya. Bahkan kitab suci dapat diakses dan diselidiki oleh setiap orang. Kita menemukan rasionalisasi beragama termasuk dalam kekristenan yang bersikap kritis. Hal ini sebenarnya baik, tetapi sekali lagi ingat dalam melakukan perintah Yesus ada saatnya yang dibutuhkan dari kita adalah ketaatan seorang murid. Pergi dan lakukanlah! Tanpa harus bertanya, karena sang Guru Agung telah memerintahkannya. Amin. (DLW)























