
Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia oleh karena itu kebutuhan ini harus dipenuhi untuk kelangsuangan hidup. Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang adalah kisah yang sarat akan banyak makna. Cerita yang diawali dengan kisah kembalinya murid-murid Yesus yang oleh Markus menggunakan kata “rasul rasul” dan hanya dalam kitab Markus yang menggunakan gelar “Jabatan” yang berkaitan dengan tugas resmi yang telah diberikan kepada mereka ketika “rasul-rasul” telah diutus untuk memberitakan Injil dan mengusir roh jahat (6:7-13). Setelah menunaikan tugas tentu para Rasul memberitahukan kepada Yesus semua yang telah mereka kerjakan dan ajarkan. Sekembalinya mereka yakni rasul-rasul maka sang Guru memberi perhatian kepada mereka dengan memanggil “marilah dalam bahasa Yunani δεῦτε ὑμεῖς” marilah kamu untuk membedakan rasul-rasul dari orang banyak. Ajakan Yesus sang Guru kepada rasul-rasul untuk beristirahat oleh karena menurut kesaksian penginjil Markus oleh karena begitu banyak orang yang datang dan pergi untuk makan pun mereka tidak sempat.
Keberangkatan Yesus bersama dengan murid-muridNya ke suatu tempat dengan menggunakan perahu ternyata diketahui oleh orang banyak, menurut Lukas pasal 9:10 mereka menyingkir ke daerah Betsaida, sehingga orang banyak boleh menyusul mereka dengan mengikuti jalan darat, karena melihat Yesus dan murid-murid bertolak “banyak orang” mengetahui tujuan perjalanan tersebut. Agaknya dalam hubungan ini banyak orang suadh begitu akrab dengan Yesus sehingga mereka dapat menerka tempat tujuan-Nya, yaitu tempat istirahatNya yang lazim. Karena pada ayat 34 ketika Yesus mendarat tergeraklah hatinya melihat kerumunan orang banyak karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Kita dapat membayangkan tekad orang banyak dengan menempuh perjalanan yang panjang untuk mendengarkan pengajaran sehingga ketika Yesus melihat orang yang menunggu itu, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan.
Yesus memberi domba-domba itu apa yang mereka perlukan, yakni penggembalaan lewat pengajaran. Berhubung hari mulai malam, kegelisahan muncul dari kalangan murid-murid, di saat mereka tidak dapat beristirahat, lagi-lagi mereka tidak berkesempatan untuk makan para murid memperingatkan Yesus untuk menyerankan mereka yakni orang banyak untuk pulang dan menari makan di daerah sekitar yakni di desa-desa dan kampung-kampung. Tetapi suatu hal yang mengejutkan adalah jawaban Yesus pada ayat 37 “kamu harus memberi mereka makan.” Artinya kedua belas murid itu di suruh untuk menyediakan makanan bagi banyak orang, dengan membeli makanan di daerah sekitarnya dengan harga dua ratus dinar. Kalaupun uang para murid itu cukup tentu mereka sangat keropatan untuk membeli makanan.
Tetapi Yesus memberi pengarahan dengan memeriksa perbekalan yang dibawa oleh orang banyak, menurut Yohanes 6:9 ternyata seorang anak membawa lima roti dan dua ikan. Dengan berbekal lima roti dan dua ikan TUHAN Yesus pun menyuruh orang banyak itu untuk duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau sebagaimana kesaksian penginjli Markus ada yang duduk dengan jumlah serratus orang dalam satu kelompok, ada yang berjumlah 50 orang dalam satu kelompok. Dan sesudah itu Yesus mengambil roti dan mengucap berkat ke atas roti dan ikan itu dan dibagi-bagikan kepada orang banyak. Semua orang telah makan sampai kenyang, makanan di padang yang berlimpah-limpah dan buktinya masih banyak makanan yang tersisah yang kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti terdapat dua belas bakul selain daripada sisa-sisa ikan. Padahal yang hadir di istu ada lima ribu orang laki-laki belum dihitung kaum Wanita dan anak-anak yang turut serta dalam rombongan tersebut.
Dalam melayani umat Tuhan sama dengan kita melayani sang Gembala Agung yang adalah Kepala Gereja dan Tuhan dunia. Gereja yang adalah ibu menurut Johanes Calvin pelayanan Gereja sebenarna adalah membina dan memelihara anak-anaknya dalam iman sehingga pelayanan Gereja adalah pelayanan yang mencakup pelayanan secara jasmani dan Rohani. Sehingga pelayanan yang dilakukan benar-benar menyentuh dan menjawab kebutuhan hidup anggota jemaat. Lewat perenungan di saat ini mengajak orang percaya agar memiliki hati yang selalu tergerak oleh belas kasih kepada orang lain. Hati yang tergerak oleh belas kasihan menuntut penyangkalan diri dan rela berkorban. Warga Gereja membutuhkan pemimpin/pelayan yang hatinya senantiasa tergerak oleh belas kasih, yang selalu memberi diri untuk melayani, mengajar, menuntun dan mengasihi mereka. Pelayanan yang dibutuhkan oleh anggota jemaat adalah pelayanan yang didasarkan pada rasa belas kasih. Dalam perenungan ini, kita diingatkan bahwa Jika bekerja dan melayani dengan hati yang penuh belas kasihan, juga dengan iman yang sungguh-sungguh kepada Tuhan Allah, maka tidak ada yang mustahil. Selalu akan ada berkat berlimpah yang dapat dinikmati oleh banyak orang. Amin.























