
“Iman Makin Bertambah dan Kasih Terhadap Orang Lain Makin Kuat”
Tidak ada yang menginginkan penderitaan. Tetapi sering kali kita justru ada dalam situasi sulit yang tidak terhindarkan. Namun ternyata dalam situasi inilah iman kita diuji untuk dimurnikan. Inilah yang terjadi pada jemaat Tesalonika. Mereka sedang mengalami penganiayaan yang berat (ay. 6-7). Jemaat Tesalonika ini adalah sekelompok orang percaya (umat Kristen mula-mula) yang dibentuk oleh Rasul Paulus, bersama Silas dan Timotius, saat mereka melakukan perjalanan misi ke wilayah Makedonia, Mereka hidup dalam kota besar dan kosmopolitan bernama Tesalonika yang merupakan ibu kota provinsi Makedonia, dengan banyak pengaruh budaya Yunani dan Romawi, serta pusat penyembahan berhala. Situasi inilah yang menjadikan jemaat Tesalonika mengalami penderitaan penganiayaan karena mereka memilih untuk menjadi orang-orang yang beriman kepada Yesus. Waktu penulisan surat 2 Tesalonika ini tidak lama setelah surat pertama, tetapi tampaknya penganiayaan menjadi lebih intens dan terus berlangsung. Jemaat mulai mengalami kelelahan dan kebingungan, terutama karena muncul ajaran palsu bahwa “hari Tuhan sudah tiba”. Dalam tulisan 2 Tesalonika 1:3-12 ini terlihat bahwa Paulus tidak membukanya dengan keluhan melainkan ucapan syukur (ay. 3). Mengapa? Karena walaupun dalam penderitaan namun iman jemaat Tesalonika ini makin bertambah, dan kasih mereka semakin kuat. Ini sebuah gambaran hidup jemaat yang bukan hanya memiliki iman yang pasif, bukan kasih yang hanya ada di kata-kata. tetapi ini adalah iman yang aktif dan kasih yang hidup, yang terus bertumbuh walaupun di tengah tekanan.
Jemaat yang di Kasihi Tuhan,
Lewat jemaat Tesalonika ini kita melihat ternyata Pertumbuhan iman bukanlah hasil dari kenyamanan, melainkan kesetiaan dan ketaatan dalam kesulitan. Iman yang bertambah bukan sekadar tahu lebih banyak tentang ajaran Firman Tuhan, tapi ketika kita sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Kata bertambah (ay.3) (huperauxanei) mengandung arti “bertumbuh sangat pesat” atau “melampaui batas dalam pertumbuhan” ini terjadi karena Paulus menilai iman jemaat Tesalonika yang terus bertumbuh meskipun tidak datang dari kenyamanan, tetapi dari kesetiaan dalam penderitaan penganiayaan yang mereka alami. Firman Tuhan ingin menyampaikan kepada kita Ternyata justru Ketika kita terus memilih untuk percaya kepada Tuhan meskipun tidak melihat jawaban pasti, tidak dapat melihat jalan Tuhan, dan tidak mendapat gambaran atas sebuah jalan keluar di situlah iman kita bertambah. Selanjutnya adalah Kasih yang tetap tumbuh dalam kehidupan jemaat. Seharusnya ketika dalam penderitaan dianiaya reaksi manusiawi adalah mencari keselamatan diri sendiri, atau bahkan cenderung menyalahkan orang lain. Tapi kasih jemaat Tesalonika justru makin kuat satu sama lain. Mereka tidak menjauh satu sama lain, tapi saling mendekat.
Tidak bersaing, tapi saling menopang.
Tidak hanya bertahan, tapi memperkuat satu sama lain. Menunjukan walaupun Di tengah penderitaan kasih terus menjadi nyata. Penggunaan kata ‘Kasihmu’ (ay.3) (hē agapē) menggambarkan kasih yang ditunjukan oleh jemaat tesalonika adalah kasih yang tanpa pamrih, rela berkorban, dan ilahi bukan kasih sentimental, tetapi kasih aktif yang membangun dan melayani. Di masa sulit, kasih seringkali diuji, kita dituntut bukan hanya menghitung Seberapa banyak kita dikasihi ketika ada dalam penderitaan, tetapi Apakah saya tetap menunjukan kasih kepada orang lain ketika kita sedang dalam penderitaan.
Jemaat yang di Kasihi Tuhan,
Firman Tuhan juga ingin mengingatkan bahwa Allah melihat dan akan membalas (ay.5-10). Tesalonika adalah kota besar dalam kekuasaan Romawi, dengan kultus penyembahan kaisar, yang mewajibkan warga memberi hormat sebagai bentuk loyalitas. Menolak menyembah kaisar bisa dianggap pemberontakan politik. orang Kristen mula-mula dikenal sebagai “sekte Yahudi”, tetapi berbeda karena menyembah Yesus sebagai Tuhan. Ini menyebabkan kebencian dari orang Yahudi dan kecurigaan dari otoritas Romawi. Fokus Paulus tidak hanya pada penghiburan, tetapi juga memberi pengharapan akan keadilan Tuhan dan penghakiman bagi para penganiaya.
Kita pun Sering menderita karena iman kita kepada Kristus, Namun Firman Tuhan saat ini memberikan kekuatan karena terbyata Yang menderita karena iman akan menerima kelegaan dan kemuliaan. Yang menganiaya akan menerima penghukuman dari Tuhan, Dia Akan Membalas Orang yang Menganiaya kita. Ada Dua Realitas yang Akan Terjadi:
Pertama, Bagi yang Menderita karena Iman: Ada Kelegaan dan Kemuliaan. Tuhan menjanjikan bahwa mereka yang tetap setia dalam penderitaan akan menerima: Kelegaan, penghiburan sejati yang melepaskan dari segala tekanan, dan Kemuliaan, serta hidup kekal bersama Kristus saat Ia datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Kedua, Bagi yang Menganiaya dan Menolak Injil: Ada Penghukuman Kekal. Mereka yang menolak Allah dan menganiaya umat-Nya akan Menerima hukuman dari Tuhan dan Dihukum dengan kebinasaan kekal, jauh dari hadirat Allah.
Jemaat yang di Kasihi Tuhan,
Dalam surat ini Paulus tidak hanya memuji mereka, tapi juga mendoakan mereka agar hidup mereka mencerminkan nilai dari panggilan ilahi, Hidup sebagai umat yang telah ditebus, menjadi saksi Kristus dalam dunia yang menolak-Nya dan Tetap setia dan tidak mundur dari jalan iman. Paulus berdoa agar iman mereka menjadi aktif, bukan hanuya bertahan, tapi menghasilkan buah yang mengubahkan sekitar mereka, terus berbuat baik bagi sesama. Dan juga Agar hidup mereka mencerminkan kemuliaan Kristus, bahkan saat mereka menderita.
Jemaat Tuhan oleh karena itu marilah kita untuk tidak berhenti menumbuhkan Iman kepada Tuhan, Meski Keadaan memang Tidak Mudah. Ingat!! Iman sejati tidak diuji dalam masa nyaman, melainkan dalam tekanan dan penderitaan. Pertumbuhan iman adalah proses, dan sering kali pupuknya adalah air mata dan tekanan hidup. Tapi percayalah, dalam setiap perjuangan, Tuhan sedang membentuk kedewasaan rohani kita. Jangan Biarkan Kesulitan dan penderitaan hidup Mengikis Kasih, Justru Perkuatlah Hubungan dan Kepedulian terhadap Sesama. Kasih yang sejati akan terbukti bukan saat semuanya baik-baik saja, tetapi ketika keadaan sulit dan kita tetap memilih untuk hadir, membantu, dan mendoakan sesama. Dan yakinlah bahwa Tuhan itu adil, Dia terus Memperhatikan kita, Jangan iri kepada yang hidupnya tampak mudah tetapi jauh dari Tuhan. Dia tidak akan membiarkan kejahatan menang selamanya, kita yang menderita karena iman akan mendapatkan kelegaan dan kemuliaan. Jadi Tetaplah Hidup untuk Memuliakan Kristus Bukan Hanya sekedar Bertahan dalam Iman, Tapi Juga Menghasilkan Buah yang Nyata bagi sesama.
AMIN























