
Syalom, Saudara-saudara yang diberkati Tuhan,
Syukur kepada Tuhan, Sang Perengkuh hidup, yang terus menyertai kita, sekalipun tak bisa dipungkiri, hidup akhir-akhir ini sedang berat-beratnya. Banyak yang harus bergumul menahan beratnya beban kehidupan. Ada yang menahan pilu ketika suaminya hilang di lautan lepas sewaktu bekerja. Kemudian, saya juga sempat menyaksikan bagaimana salah satu keluarga yang tetap tersenyum sekalipun tempat fufu kelapa mereka, tempat mereka mencari sesuap nasi, hangus terbakar dan mengakibatkan kerugian yang tidak main-main. Dan beberapa pergumulan lainnya yang terjadi di sini, yang tentu saja tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Bapak ibu yang diberkati Tuhan,
Saya menyampaikan ini, sebab hal-hal ini menyadarkan kita bahwa ternyata setiap hari kita bergumul. Artinya, pergumulan menjadi konteks hidup orang percaya yang tidak bisa dihindari! Ada yang diselingkuhi misalnya. Atau dikhianati. Mungkin saja pernah dibohongi. Difitnah. Dibenci. Dikucilkan. Ada yang bergulat dengan kemiskinan. Cari hari ini, abis hari ini. Kadang makan, kadang menahan lapar. Ada yang sedang putus asa, dan pergumulan lain yang menguji mental dan iman.
Nah, bapak, ibu, para pembaca yang dikasihi Tuhan, dalam segala keterpurukan itu, sekalipun kita yakin kalau Tuhan tidak membiarkan kita, namun pasti ada sebersit tanya yang terlintas di hati kita: Bagaimana mungkin Tuhan yang begitu mengasihi kita, membiarkan segala pergumulan ini harus kita rasakan? Tuhan macam apa yang melakukan hal seperti ini? Sama seperti lagu, katanya sayang, mengapa menyakiti… (Eaaa haha)…
Saya pikir, inilah juga yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh bangsa Israel saat itu. Melihat Yerusalem hancur, menjadi budak di Babel, hidup merana, tentu menampar dan membuat mereka sangat terpukul, berputus asa, hilang harapan, muka menjadi suram, dan bertanya-tanya, apakah Tuhan masih mengasihi mereka. Kalau Tuhan masih mengasihi, lantas mengapa harus ada Babel?
Nah, dalam konteks pergumulan itulah, Allah berinisiatif menjawab kerinduan Israel dengan memulihkan keadaan mereka secara holistis (utuh), sekalipun mereka dibuang karena dorang pe salah sandiri. Makanya, penghukuman Allah janganlah dipandang hanya sebagai kemarahan, tetapi pun kesedihan Allah. Allah tidak senang melihat anak/umat yang dikasihi-Nya terus ada dalam pembuangan. Allah merindukan pemulihan yang utuh bagi umat-Nya. Inilah yang melatarbelakangi pokok bacaan kita saat ini, yaitu kerinduan Allah agar Israel (Yehuda dan Samaria) pulih seutuhnya melalui janji keselamatan!
Jemaat yang diberkati Tuhan,
Kasih Allah ini nyata melalui nubuatan nabi Yeremia yang berkata “mereka tidak akan kembali lagi merana”. Yeremia menggambarkan keadaan itu pada keadaan tidak adanya gandum, anggur, minyak, anak-anak kambing, domba, lembu sapi. Keadaan di mana muka mereka selalu muram, tidak berseri-seri. Itu berarti, keadaan merana adalah gambaran terluka yang teramat dalam.
Namun Allah melalui Yeremia, justru menghibur bangsa itu bahwa keadaan merana yang tengah mereka alami akan diubahkan oleh Allah. Allah mengatakan bahwa “hidup mereka akan seperti taman yang diairi baik-baik, dan mereka tidak akan kembali lagi merana”. Inilah janji Allah yang sungguh luar biasa bagi kehidupan orang Israel pada saat itu.
Makanya, sebelum mereka menerima pemulihan yang sempurna, mau tidak mau, mereka harus ikut dulu proses pendisiplinan yang diberikan Allah. Hidup sebagai budak. Terkatung-katung di padang gurun. Sampai pada proses purifikasi yang berlangsung selama kurang lebih 70 tahun sebagai orang buangan di Babel. Artinya, Allah memang penuh kasih, tapi Ia menuntut kehidupan yang eksklusif/kudus. Itulah mengapa, janji pemulihan yang Allah sampaikan kepada umat-Nya melalui nabi Yeremia ini, menuntut sebuah komitmen yang sungguh dari Israel, yaitu transformasi hidup ke arah yang baik.
Maka ini pun menjadi perhatian bersama. Kita semua pasti sama-sama merindukan pemulihan. Rindu menikmati janji Allah yang manis. Dalam pergumulan sakit, kita rindu sembuh. Dalam perasaan bersalah, kita rindu diampuni. Dalam kesulitan ekonomi yang menjerat, kita rindu untuk diberkati. Dalam proses mencari kerja, kita rindu doa dijawab. Dalam keputusasaan, kekecewaan, pengkhianatan, sakit hati, kita rindu keadaan itu cepat berlalu. Tapi adakah pemulihan itu membawa kita pada transformasi nilai hidup yang bermutu?
Ini yang harus juga menjadi refleksi bagi kita semua sebagai warga Gereja Masehi Injili di Minahasa. Apalagi tanggal 5 mendatang, kita sebagai warga GMIM akan memperingati hari kesehatan GMIM. Telah diupayakan semaksimal mungkin sarana dan prasarana, Rumah Sakit, Klinik, dll, dalam menopang misi GMIM sebagai The Healing Church (Gereja yang menyembuhkan). Itu berarti GMIM sebagai healing church harus hadir dan berkarya sebagai gereja yang menjawab kerinduan jemaat untuk tidak hanya memulihkan secara medis, tetapi juga holistis.
Karena realitas yang terjadi ialah justru oposisi. Banyak dari kita yang kemudian hidup dalam ketamakan, keserakahan, kemunafikan, tipu muslihat, iri hati. Berbagai penyelewengan mewarnai kehidupan bergereja. Bukan hanya anggota jemaat, tapi juga para pelayan. Stola pelayanan justru kita pakai untuk sebuah hegemoni. Kita merampas hak/milik orang lain. Kita menindas orang dengan perkataan manipulatif. Suara ketidakadilan justru bergema nyaring dari altar. Pelayanan akhirnya tidak dijalankan dengan baik. Memang tidak semua, hanya sebagian kecil. Tapi saya pikir, cukup untuk menjadi atensi kita bersama dalam berbenah dan berkaca, ADAKAH ITU TERJADI PADA KITA?
Maka kiranya, dalam mengaktualisasikan misi gereja sebagai The Healing Church, pesan profetis dari Yeremia, harus dibahasakan secara tepat, bahwa pemulihan tidak hanya menyangkut pergumulan sakit penyakit, tapi lebih-lebih menyangkut keadaan hidup yang menyeluruh (holistis). Pulih dari ketamakan. Pulih dari kesombongan. Pulih dari iri hati. Pulih dari kemunafikan. Pulih dari keangkuhan. Pulih dari pertengkaran. Dan itu semua dimulai dari kita sebagai gereja untuk kemuliaan nama Tuhan di tengah dunia. Amin.























