• Privacy Policy
  • Contact
  • DODOKU
  • KABAR GMIM
    • SINODE
    • WILAYAH / JEMAAT
    • KESEHATAN
    • PENDIDIKAN
    • WARTA
  • RENUNGAN
    • MTPJ
    • RHK
    • MANNA
  • ARTIKEL
    Tantangan Gereja di Masa Kini: Degradasi Nilai Persekutuan Kristen

    Tantangan Gereja di Masa Kini: Degradasi Nilai Persekutuan Kristen

    Gereja di Era Digital

    Gereja di Era Digital

    Pertukaran Pemuda GMIM-EKHN: Peliharah Kerjasama dan Alam

    Pertukaran Pemuda GMIM-EKHN: Peliharah Kerjasama dan Alam

    Habakuk Sang Nabi Profesional

    Habakuk Sang Nabi Profesional

    Beberapa Peristiwa Sejarah GMIM yang Penting Sejak Tahun 1934

    Beberapa Peristiwa Sejarah GMIM yang Penting Sejak Tahun 1934

    Garis Waktu Berdirinya GMIM

    Garis Waktu Berdirinya GMIM

    Mengenal Yerusalem, Kota Kunci Peristiwa Sejarah di Dalam Alkitab

    Mengenal Yerusalem, Kota Kunci Peristiwa Sejarah di Dalam Alkitab

    Mengenal Kota Korintus, Si Jembatan Yunani yang Pernah Melewati Masa Kelam

    Mengenal Kota Korintus, Si Jembatan Yunani yang Pernah Melewati Masa Kelam

    MENGENAL SURAT IBRANI

    MENGENAL SURAT IBRANI

  • KIDUNG
  • KABAR SULUT
    Gubernur Sulut Tekankan Pentingnya Peran Pelsus GMIM Dalam Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila

    Gubernur Sulut Tekankan Pentingnya Peran Pelsus GMIM Dalam Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila

    Peduli Korban Banjir di Likupang, GMIM Imanuel Maumbi Salurkan Sejumlah Bantuan

    Peduli Korban Banjir di Likupang, GMIM Imanuel Maumbi Salurkan Sejumlah Bantuan

    GMIM Bangun Kerjasama Dengan UNIMA

    GMIM Bangun Kerjasama Dengan UNIMA

    GMIM dan BNI Kolaborasi Tanam Pohon

    GMIM dan BNI Kolaborasi Tanam Pohon

    Kapolres Tomohon Sambangi Kantor Sinode GMIM

    Kapolres Tomohon Sambangi Kantor Sinode GMIM

    North Sulawesi GMIM Male Choir Ukir Sejarah di Prancis

    North Sulawesi GMIM Male Choir Ukir Sejarah di Prancis

    Gelar Festival dan Expo, PPA Cluster Manado 1 Suarakan Pentingnya Perlindungan Perempuan dan Anak

    Gelar Festival dan Expo, PPA Cluster Manado 1 Suarakan Pentingnya Perlindungan Perempuan dan Anak

    Peringati Kenaikan Tuhan Yesus, Ketua MPH SAG Sulutteng Ingatkan Tugas Kesaksian Gereja

    Peringati Kenaikan Tuhan Yesus, Ketua MPH SAG Sulutteng Ingatkan Tugas Kesaksian Gereja

    Sambut Karnaval, Panitia MPF 2022 Matangkan Persiapan

    Sambut Karnaval, Panitia MPF 2022 Matangkan Persiapan

No Result
View All Result
  • DODOKU
  • KABAR GMIM
    • SINODE
    • WILAYAH / JEMAAT
    • KESEHATAN
    • PENDIDIKAN
    • WARTA
  • RENUNGAN
    • MTPJ
    • RHK
    • MANNA
  • ARTIKEL
    Tantangan Gereja di Masa Kini: Degradasi Nilai Persekutuan Kristen

    Tantangan Gereja di Masa Kini: Degradasi Nilai Persekutuan Kristen

    Gereja di Era Digital

    Gereja di Era Digital

    Pertukaran Pemuda GMIM-EKHN: Peliharah Kerjasama dan Alam

    Pertukaran Pemuda GMIM-EKHN: Peliharah Kerjasama dan Alam

    Habakuk Sang Nabi Profesional

    Habakuk Sang Nabi Profesional

    Beberapa Peristiwa Sejarah GMIM yang Penting Sejak Tahun 1934

    Beberapa Peristiwa Sejarah GMIM yang Penting Sejak Tahun 1934

    Garis Waktu Berdirinya GMIM

    Garis Waktu Berdirinya GMIM

    Mengenal Yerusalem, Kota Kunci Peristiwa Sejarah di Dalam Alkitab

    Mengenal Yerusalem, Kota Kunci Peristiwa Sejarah di Dalam Alkitab

    Mengenal Kota Korintus, Si Jembatan Yunani yang Pernah Melewati Masa Kelam

    Mengenal Kota Korintus, Si Jembatan Yunani yang Pernah Melewati Masa Kelam

    MENGENAL SURAT IBRANI

    MENGENAL SURAT IBRANI

  • KIDUNG
  • KABAR SULUT
    Gubernur Sulut Tekankan Pentingnya Peran Pelsus GMIM Dalam Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila

    Gubernur Sulut Tekankan Pentingnya Peran Pelsus GMIM Dalam Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila

    Peduli Korban Banjir di Likupang, GMIM Imanuel Maumbi Salurkan Sejumlah Bantuan

    Peduli Korban Banjir di Likupang, GMIM Imanuel Maumbi Salurkan Sejumlah Bantuan

    GMIM Bangun Kerjasama Dengan UNIMA

    GMIM Bangun Kerjasama Dengan UNIMA

    GMIM dan BNI Kolaborasi Tanam Pohon

    GMIM dan BNI Kolaborasi Tanam Pohon

    Kapolres Tomohon Sambangi Kantor Sinode GMIM

    Kapolres Tomohon Sambangi Kantor Sinode GMIM

    North Sulawesi GMIM Male Choir Ukir Sejarah di Prancis

    North Sulawesi GMIM Male Choir Ukir Sejarah di Prancis

    Gelar Festival dan Expo, PPA Cluster Manado 1 Suarakan Pentingnya Perlindungan Perempuan dan Anak

    Gelar Festival dan Expo, PPA Cluster Manado 1 Suarakan Pentingnya Perlindungan Perempuan dan Anak

    Peringati Kenaikan Tuhan Yesus, Ketua MPH SAG Sulutteng Ingatkan Tugas Kesaksian Gereja

    Peringati Kenaikan Tuhan Yesus, Ketua MPH SAG Sulutteng Ingatkan Tugas Kesaksian Gereja

    Sambut Karnaval, Panitia MPF 2022 Matangkan Persiapan

    Sambut Karnaval, Panitia MPF 2022 Matangkan Persiapan

No Result
View All Result
Our Story, Your Habit
No Result
View All Result
Home RENUNGAN MTPJ

30 Agust – 5 Sept 2026 – Efesus 4:17-32 – Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru

27 August 2026
Reading Time: 8 mins read
MTPJ 1 – 7 September 2019
0
SHARES
13.8k
VIEWS
Share on FacebookShare on WhatsAppShare on Telegram
ADVERTISEMENT

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Saat ini, banyak orang Kristen (terutama generasi muda) mengalami krisis identitas akibat mengambil keputusan berdasarkan apa yang dilakukan orang lain, bukan karena apa yang benar-benar dibutuhkan (fear of missing out), standar sukses duniawi dan kebutuhan akan validasi (likes, followers, komparasi sosial). Kita hidup di era information overload (banjir informasi). Setiap hari pikiran kita dibombardir oleh berita negatif, konten kecemasan, pornografi, hingga narasi-narasi sekuler yang menjauhkan diri dari Tuhan Allah. Akibatnya, banyak orang Kristen mengalami kelelahan mental, kecemasan dan kekosongan rohani.

Banyak orang Kristen saat ini mengalami dikotomi hidup (dualitas). Di hari Minggu tampak rohani di gereja, tetapi dari Senin sampai Sabtu di tempat kerja atau sekolah, cara hidup mereka tidak ada bedanya dengan orang yang tidak mengenal Tuhan Allah, bisa ikut menyebarkan hoaks, tidak jujur dalam berbisnis atau menyimpan dendam. Juga, sering terseret oleh arus dunia digital dan sekularisme. Budaya konsumerisme (keserakahan), pornografi, menghalalkan segala cara demi kekayaan/status dan kenikmatan (hedonisme) dipandang sebagai hal yang normal. Di era media sosial, amarah begitu mudah tersulut atau berdebat di kolom komentar. Ada ungkapan lama, ‘karena mlut badan binasa’ sekarang relevansinya “jari di gadget dapat menghancurkan”. Hoaks, gosip, komentar jahat dan sarkasme yang menjatuhkan sering kali keluar dari ketikan orang Kristen. Berefleksi dari konteks di atas, maka tema perenungan sepanjang minggu ini adalah ‘DIBAHARUI DALAM ROH DAN PIKIRANMU SERTA MENGENAKAN MANUSIA BARU’.

 

PEMBAHASAN TEMATIS

  • Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)

Permasalahan utama yang melatarbelakangi Efesus 4:17-32 adalah tantangan bagi orang Kristen baru untuk benar-benar lepas dari budaya lama mereka. Ada beberapa poin hal penting yang terjadi saat itu: Pertama, Krisis identitas dan gaya hidup. Sebelum menjadi Kristen, jemaat Efesus hidup dalam cara pandang kafir yang digambarkan Paulus sebagai ‘sia-sia’, ‘gelap pikirannya’, dan ‘jauh dari hidup persekutuan dengan Allah’ (ayat 17-18). Mereka terbiasa dengan kebebasan seksual, keserakahan dan kontrol emosi yang buruk. Kedua, Ancaman Sinkretisme. Setelah menerima Yesus Kristus, ada kecenderungan kuat bagi mereka untuk berkompromi, mencampuradukkan iman Kristen dengan kebiasaan lama agar tetap diterima secara sosial di kota Efesus. Ketiga, Ketegangan di dalam Jemaat. Jemaat Efesus terdiri dari latar belakang yang berbeda (Yahudi dan non-Yahudi). Ketika orang-orang membawa tabiat lama mereka (seperti berbohong, menyimpan dendam atau berkata kotor), hal ini merusak kesatuan jemaat yang sedang dibangun.

Oleh karena itu, Paulus menegaskan konsep bagaimana ‘menanggalkan manusia lama’ dan ‘mengenakan manusia baru’ (Kristen bukan cuma status religius, tapi perubahan total orientasi hidup.

  • Efesus 4:17-32. Rasul Paulus membuat garis pemisah yang sangat tegas antara gaya hidup lama (sebelum mengenal Kristus) dan gaya hidup baru (setelah menerima Kristus). Paulus mengingatkan bahwa transformasi hidup orang Kristen tidak dimulai dari perubahan penampilan luar, melainkan dari sebuah keputusan radikal di dalam pikiran dan hati.
  • Ayat 17-19. Penulis memulai argumennya dengan melakukan analisis sosiologis dan psikologis terhadap masyarakat non-Kristen (pagan) di sekitar jemaat Efesus. Ia melarang jemaat hidup dalam kekosongan, kesia-siaan, ketidakberartian kognitif (mataiotes). Istilah ini merujuk pada ketidakmampuan akal budi untuk menangkap kebenaran hakiki. Akibatnya, terjadi pengerasan pada hati mereka (porosis). Secara medis, porosis merujuk pada pembentukan kalus atau pengerasan tulang/jaringan (kapalan). Pengerasan hati ini berujung pada kondisi hilangnya kemampuan untuk merasa, mati rasa secara moral/spiritual (apalgeko,). Kejatuhan manusia bermula dari kerusakan cara berpikir. Ketika manusia menolak Tuhan Allah, dosa mengeras dalam bentuk kehilangan kepekaan moral, sehingga perilaku eksploitatif dan hedonistik dianggap sebagai norma sosial yang wajar.

Ia menggambarkan hidup tanpa Yesus Kristus akibat jauh dari Tuhan Allah, manusia mengalami dua hal: kedegilan hati (Porosis): Hati yang mengeras seperti kapalan dan mati rasa secara moral (Apalgeko): Ketika hoax, fitnah, pornografi dan ujaran kebencian tidak lagi membuat merasa bersalah, melainkan dianggap sebagai kewajaran atau sekadar hiburan. Paulus memperingatkan jemaat agar tidak lagi hidup seperti orang yang tidak mengenal Tuhan Allah dengan pikiran yang sia-sia (Yunani: mataiotes: hampa, tanpa tujuan sejati), penggelapan pengertian dan kedegilan hati (Yunani: porosis = pengerasan/membatu seperti kapalan). Akibatnya, perasaan mereka telah tumpul (Yunani: apalgeko mati rasa secara moral) sehingga menyerahkan diri pada hawa nafsu. Perilaku hidup selalu dimulai dari pikiran. Jika pikiran diberi makan oleh standar dunia, moral akan ikut membusuk. Ketika seseorang jauh dari Tuhan Allah, moralnya rusak. Dosa membuat hati manusia membatu dan mati rasa, sehingga hal-hal yang najis dan serakah dianggap sebagai kewajaran.

  • Ayat 20-24. Paulus menggunakan istilah “belajar mengenal Kristus” (Yunani: emathete ton Christon). Ini bukan sekadar belajar teori atau dogma, melainkan sebuah proses pemuridan yang radikal di dalam kebenaran Yesus Kristus. Kontras dengan pola kafir, jemaat diingatkan bahwa mereka telah belajar mengenal Kristus. Yesus Kristus bukan sekadar objek pembelajaran, melainkan subjek. Ini adalah proses pemuridan yang mengadopsi seluruh eksistensi, karakter dan keteladan hidup Yesus Kristus sebagai kehidupan yang baru.

Bagaimana belajar mengenal Kristus? Paulus memberikan metafora seperti berpakaian melalui tiga langkah aktif setiap hari: Pertama, Menanggalkan (Apothesthai): Membuang manusia lama seperti membuang pakaian kotor yang bau (ego, kepalsuan, trauma masa lalu). Kedua, Dibaharui (Ananeousthai): Menggunakan bentuk present passive continuous. Artinya, pikiran kita harus mau terbuka dan mengisi firman Tuhan setiap hari, bukan cuma sekali saat bertobat. Ktiga, Mengenakan (Endysasthai): Memakai karakter baru yang diciptakan dalam kebenaran (dikaiosyne) dan kekudusan (hosiotes) yang sejati.

  • Ayat 25-26. Manusia baru dipanggil untuk menanggalkan dusta dan berkata benar. Mengapa? Karena jemaat adalah sesama anggota tubuh Kristus. Dusta akan merusak persekutuan jemaat. Paulus tidak melarang marah (karena marah atas ketidakadilan adalah emosi manusiawi), ia memperingatkan: “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa.” Karena jika disimpan dan tidak diselesaikan sebelum matahari terbenam, ia akan membusuk menjadi dendam.
  • Ayat 27-32. Teologi Paulus pada ranah etika praktis, yang berfokus pada tiga poros utama: pengelolaan emosi, transformasi sosio-ekonomi dan etika linguistik. Paulus fokus pada area yang paling sering merusak komunitas orang percaya: perkataan, emosi dan relasi.
  • Ayat 27. Kata kesempatan (Yunani: topos pijakan/wilayah/pintu masuk). Maksud penulis adalah bahwa emosi negatif yang tidak terkendali (seperti amarah kronis, dendam dan kepahitan membuka jalan bagi Iblis (diabolos) Iblis untuk mengacak-acak kehidupan dan menghancurkan persekutuan jemaat.
  • Ayat 28. Manusia baru dituntut perubahan radikal dari mentalitas mengambil hak orang lain (eksploitatif) menjadi mentalitas bekerja keras agar memiliki modal untuk berkontribusi menolong sesama (altruistik). Esensi manusia baru adalah bergeser dari mentalitas keserakahan menjadi kemurahan hati. Manusia baru mengubah mentalitas mengambil menjadi memberi.
  • Ayat 29-30. Jangan ada perkataan kotor. Larangan terhadap perkataan kotor (logos sapros). Kata sapros (σαπρός) dalam bahasa Yunani kuno memiliki arti busuk, rusak atau lapuk. Seperti fitnah, caci maki dan hinaan kasar, kata-kata yang meruntuhkan semangat, sarkasme yang kejam dan olokan (bullying), kebohongan dan tipu muslihat. Sebaliknya, komunikasi harus bersifat edifying (membangun) dan berfungsi sebagai charis (kasih karunia/berkat) sesama. Yaitu, perkataan yang baik (logos agathos). perkataan yang membangun, memberi berkat dan tepat pada waktunya. “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Roh Kudus adalah Pribadi yang dapat mengalami kepedihan mendalam (lupeo) akibat disharmoni, konfrontasi dan kebusukan hubungan di dalam komunitas jemaat yang dimaterikan-Nya.
  • Ayat 31-32: Jemaat Efesus yang sangat majemuk, penuh dengan gesekan budaya antara Yahudi dan non-Yahudi. Jika manusia lama dibawa masuk ke dalam persekutuan, maka jemaat akan hancur dari dalam. Tujuan tertinggi dari kehidupan persekutuan adalah “Saling mengampunilah sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”(ayat 32) Orang Kristen tidak mengampuni orang lain karena orang itu layak atau telah meminta maaf, tetapi mengampuni karena sadar bahwa telah diampuni secara luar biasa oleh Tuhan Allah.

Penulis membuat daftar emosi merusak yang harus dieliminasi yaitu, kepahitan yang terpendam (pikria), ledakan amarah sesaat (thymos), kemarahan mendalam yang menetap (orge), teriakan pertengkaran (krauge), dan fitnah/hinaan (blasphemia). Sebagai penggantinya, jemaat wajib mengadopsi keramahan (chrestoi), belas kasihan (eusplangchnoi) dan saling mengampuni secara timbal balik (charizomenoi heautois) sebagaimana Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus telah mengampuni.

Tujuan Paulus menasihati dan memperingatkan jemaat Efesus adalah adalah untuk menciptakan komunitas yang aman, sehat dan solid melalui pengampunan serta perkataan yang membangun. Pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib adalah dasar dan acuan hidup bagaimana manusia baru berelasi dengan sesamanya.

  • MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN
  1. Firman ini menegaskan bahwa menjadi bagian dari tubuh Yesus Kristus (menjadi warga gereja) bukan sekadar perubahan status administratif di kartu anggota jemaat , melainkan sebuah transformasi eksistensial yang radikal. Bagi warga GMIM, teks ini mengingatkan bahwa bahaya terbesar iman bukan hanya penganiayaan dari luar, melainkan pembusukan dari dalam melalui pengerasan hati (porosis) dan mati rasa moral (apalgeko). Ketika dosa, gosip (baku-bicara jahat), atau gaya hidup hedonistik dianggap sebagai kewajaran, saat itulah jemaat sedang berjalan dalam kesia-siaan (mataiotes). Sebaliknya, warga GMIM diajak untuk terus belajar mengenal Kristus (emathete ton Christon) sebagai Subjek yang mengubah cara berpikir.
  2. Proses dibaharui terus-menerus (Ananeousthai) menegaskan bahwa ibadah-ibadah rutin di GMIM (Ibadah Kolom, BIPRA, Lansia) bukan sekadar formalitas mingguan atau kegiatan sosial, melainkan wadah harian di mana pikiran warga gereja dibuka untuk dibentuk oleh firman Tuhan, bukan oleh standar dunia.
  3. Paulus menekankan bahwa relasi antar-anggota jemaat berdampak langsung pada Roh Kudus. Ketika jemaat hidup dalam kepalsuan, dosa kita tidak lagi bersifat pribadi, melainkan mendukakan Roh Kudus (lupeo) karena merusak kesatuan tubuh Yesus Kristus yang majemuk.
  4. Minahasa dikenal dengan semboyan teologis-budaya yang dipopulerkan oleh Dr. Sam Ratulangi: “Si Tou Timou Tumou Tou” Efesus 4:17-32 memberikan dasar Kristologis yang kokoh bagi semboyan ini dan mengarahkannya pada tindakan-tindakan konkret berikut. Di era digital, media sosial sering kali menjadi panggung bagi logos sapros (fitnah, ujaran kebencian, baku-sedu yang kejam, hoaks). Warga GMIM dipanggil untuk menyaring perkataan sebelum berbicara atau mengetik di media sosial. Setiap kata yang keluar dari mulut atau jemari orang percaya harus bersifat logos agathos—perkataan yang membangun, memberi berkat (charis), dan meneduhkan, bukan perkataan yang merusak reputasi sesama warga jemaat. Sebab karakteristik masyarakat yang tinggal di tanah Minahasa yang ekspresif dan berani kadang kala rentan terhadap ledakan amarah sesaat (thymos) atau sakit hati yang dipendam (pikria).
  5. Firman ini mengingatkan warga GMIM untuk tidak memberikan topos (pijakan/pintu masuk) bagi Iblis melalui amarah yang tidak diselesaikan sebelum matahari terbenam. Saling mengampuni secara radikal (charizomenoi heautois) harus menjadi gaya hidup, bukan karena orang lain layak diampuni, melainkan karena warga GMIM menyadari mereka telah menerima pengampunan yang tak terhingga dari Kristus.
  6. Di tengah tantangan ekonomi global, godaan untuk mencari keuntungan dengan cara yang tidak jujur (seperti judi online, pinjaman online ilegal, korupsi atau mengeksploitasi sesama) sangat nyata. Manusia baru dalam GMIM dituntut memiliki etos kerja yang tinggi. Bekerja keras bukan untuk menumpuk kekayaan demi keserakahan pribadi (hedonisme), melainkan agar memiliki kapasitas untuk menolong mereka yang berkekurangan. Esensinya adalah pergeseran dari budaya ‘mengambil’ menjadi budaya ‘memberi/berbagi’ (mapalus yang didasari kasih Kristus).
  7. GMIM menghadapi tantangan sinkretisme, baik tradisional (kepercayaan lama yang terselubung) maupun modern (kompromi moral demi status sosial dan gaya hidup sekuler). Pelayan Khusus dan jemaat harus berani mengambil keputusan radikal untuk ‘menanggalkan manusia lama’ (apothesthai). Identitas sebagai orang Kristen harus mewarnai seluruh aspek hidup politik, bisnis, keluarga, bukan hanya saat mengenakan pakaian rapi menuju gedung gereja di hari Minggu.
  1. Manusia baru di tanah Minahasa adalah mereka yang menanggalkan pakaian kotor masa lalu (marah, dendam, dusta, kata-kata busuk, keserakahan) dan mengenakan pakaian baru yang dirajut dari karakter Yesus Kristus (ramah, penuh belas kasihan, jujur, rajin dan suka mengampuni). Hanya dengan cara demikian, GMIM dapat menjadi komunitas yang aman, sehat, solid dan menjadi berkat sejati bagi dunia.

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Apa yang saudara pahami dengan tema ‘DIBAHARUI DALAM ROH DAN PIKIRANMU SERTA MENGENAKAN MANUSIA BARU’ menurut Efesus 4:17 -32?
  2. Mengapa terjadi perpecahan di jemat Efesus?
  3. Bagaimana agar jemaat GMIM terhindar dari konflik dan perpecahan belajar dan nasihat Paulus kepada jemaat Efesus?

POKOK-POKOK DOA

  1. Agar jemaat senantiasa hidup dalam pengenalan kehendak-Nya dan hidup kudus.
  2. Agar jemaat mengalami pertobatan dan pembaruan hidup dalam pikiran dan perbuatan dengan meneladani Yesus Kristus Jururuselamat.
  3. Agar jemaat diberi kemauan dan kemampuan oleh kuasa Roh Kudus menghadapi ancaman sekularisme, hedonisme dan sinkritisme

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN HARI MINGGU BENTUK IV

NYANYIAN YANG DIUSULKAN

Menghadap Hadirat-Nya: KJ No.15 ”Berhimpun Semua”

Bersekutu dalam nama-Nya: NKB No 21 “’Ku Diberikan Kidung Baru”

Ungkapan Sembah : PKJ No 14 “Angkatlah hatimu Pada Tuhan”

Persekutuan Yang Mengaku Dosa: KJ No. 467 “Tuhanku, Bila Hati Kawanku”

Jaminan yang Menguatkan: NNBT No 29 “Apakah Yang T’lah Engkau Lakukan”

Berilah Yang Baik: KJ No.m299 “Bersyukur Kepada Tuhan” (Kanon)

Tembang Tekad: KJ No. 436 “Lawanlah Godaan”

ATRIBUT  Warna Dasar Hijau dengan simbol Salib dan Perahu di atas Gelombang.

Baca Juga Info Lainnya

RHK Senin, 2 September 2019
RENUNGAN

RHK Kamis, 22 Oktober 2026 – 2 Petrus 1:10–11 – Panggilan Dan Pilihan Makin Teguh

21 October 2026
Audio Bacaan Alkitab Setahun Selasa, 7 Oktober 2026 – Matius 13dan 14
AUDIO BACAAN ALKITAB SETAHUN

Audio Bacaan Alkitab Setahun Kamis, 22 Oktober 2026 – Markus 15 – 16

21 October 2026
RHK Senin, 2 September 2019
RENUNGAN

RHK Rabu, 21 Oktober 2026 – 2 Petrus 1:8–9 – Berhasil dalam pengenalan Yesus kristus tuhan kita

20 October 2026
  • Privacy Policy
  • Contact

© 2026 dodokugmim.com

No Result
View All Result
  • DODOKU
  • KABAR GMIM
    • SINODE
    • WILAYAH / JEMAAT
    • KESEHATAN
    • PENDIDIKAN
    • WARTA
  • RENUNGAN
    • MTPJ
    • RHK
    • MANNA
  • ARTIKEL
  • KIDUNG
  • KABAR SULUT

© 2026 dodokugmim.com

ADVERTISEMENT