-

Pdt.Henry Edward Oley, M.Th – Pendeta Jemaat GMIM Solafide Girian Indah Wilayah Bitung VIII
Salam dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus, Shalom!
Delapan bulan dalam kalender tahun ini hampir terlalui. Menjadi pertanyaan besar bagi kita sebagai orang Kristen, apa saja resolusi tahun ini yang sudah kita laksanakan? Apakah resolusi itu membawa dampak perubahan diri kearah lebih baik dan benar atau hanya sekedar catatan daftar tanpa realisasi. Ketika kita memahami bahwa perlu ada perbaikan atau perubahan diri secara bersamaan kita juga menyadari bahwa ada bagian yang keliru dan perlu dibenahi.
Kitab Efesus merupakan surat Rasul Paulus yang ditulis saat Paulus berada dalam penjara karena Kristus (Efesus 3:1; 4:1), surat ini mengungkapkan doanya bagi jemaat untuk hidup bertumbuh dalam iman, kasih, hikmat dan penyataan Allah yang sempurna. Paulus sungguh menginginkan agar jemaat Efesus hidup layak di hadapan Tuhan Yesus Kristus. Teks Efesus 4:1732 merupakan bagian penting dari rangkaian kitab Efesus ini. Bagian ini menjelaskan bagaimana kehidupan orang yang telah menerima Kristus harus berbeda dari kehidupan yang tidak dalam Kristus atau teks menyebutnya dengan manusia lama. Ditengah tantangan sebagai orang Kristen baru agar sungguh-sungguh lepas dari budaya lama mereka. Perubahan berbicara bukan hanya sekedar transformasi identitas, tapi juga pola pikir, tutur kata, serta relasi antar sesama anggota tubuh Kristus.
Masalah pertama yang Paulus soroti adalah pola pikir. Manusia yang tidak mengenal Allah tidak memusatkan hati dan pikirannya pada kehendak Allah. Mereka punya pengertian yang gelap atau bodoh dan menjauhkan diri dari kebenaran Allah yang mutlak. Hal ini kemudian merujuk pada kehidupan yang rusak, ayat 19 menyebutnya hidup dalam hawa nafsu dan melakukan perbuatan cemar. Hati dan pikiran yang terus-menerus terbiasa dengan dosa dapat kehilangan kepekaan terhadap kebenaran akan kehendak Allah.
Ayat 20-24 merupakan pembanding dengan mereka yang telah belajar mengenal dan hidup dalam Kristus. Proses ini bukan hanya belajar mengenal informasi tentang Yesus dan apa yang Yesus ajarkan. Tetapi lebih kepada melatih dan membiasakan diri untuk berkomitmen hidup bersama dan dalam Kristus. Menanggalkan kehidupan manusia lama yang tidak hidup dalam Kristus, artinya melepaskan pola kehidupan lama yang bertentangan dengan kehendak Allah. Paulus menegaskan transformasi holistik, utuh dan sempurna, yakni pembaruan hati dan pikiran. Hidup dalam integirtas, kebenaran, kekudusan, kasih, serta relasi yang hangat dan ramah antar sesama tubuh Kristus.
Ayat 25-32 Paulus menguraikan secara lugas, jelas dan tegas mengenai contoh konkret kehidupan manusia baru. Ayat 25 Paulus menegaskan kebenaran atas kehidupan sebagai tubuh Kristus. Dusta dan tipu dapat merusak kehidupan bersama, Gereja tidak dapat menjadi tubuh Kristus jika dibangun di atas kebohongan, manipulasi, dan kepura-puraan. Ayat 26-27 merupakan bagaimana menyikapi kemarahan yang muncul tapi jangan sampai menguasai kehidupan orang Kristen. ‘Janganlah matahari terbenam, sebelum padam kemarahanmu’ artinya tidak hidup dalam kegusaran, kepahitan, kekesalan bahkan kebencian. Bagian ini dapat memancing dan memberi kesempatan iblis menguasi diri. Kemarahan yang tidak terselesaikan dan dosa yang dipelihara menjadi pintu masuk bagi iblis untuk menghancurkan tubuh Kristus. Pada ayat 28 Paulus membahas kepemilikan dan etos kerja, ayat ini bukan hanya membahas moralitas tetapi transformasi karakter untuk jujur dan sungguh dalam bekerja, perilaku manusia lama yang suka mencuri dan mengambil hak milik orang lain harus digantikan dengan perilaku baru yakni bekerja untuk memberi dan menolong orang lain, jadi pekerjaan dalam perspektif Kristen bukan hanya sarana mendapatkan penghasilan, tetapi juga menjadi sarana untuk jadi berkat bagi sesama. Dalam ayat 29 Paulus mengulas aspek komunikasi, perkataan seseorang dapat berdampak bagi kehidupan orang lain. Perkataan yang kotor, busuk, tidak elok didengar, tidak sopan jangan lagi ada dalam hidup dan Persekutuan orang percaya. Tetapi pakailah kata-kata yang membangun, menopang satu sama lain dalam hal pengetahuan, spiritual, moral dan karakter sehingga hal-hal inilah yang akan menjadi berkat.
Ayat 30 “Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah”, kata mendukakan berarti juga menyakiti, membuat sedih, atau memberontak. Ayat ini merupakan salah satu pernyataan pneumatologis penting dalam surat Efesus yang berkaitan dengan perintah-perintah konkret dalam ayat-ayat sebelumnya mengenai kejujuran, pengendalian amarah, etos kerja dan komunikasi. Perbuatan-perbuatan dosa yang diuraikan Paulus bukan hanya bermuara pada pelanggaran aturan tetapi lebih dalam melakukan dosa juga mendukakan Pribadi yang tinggal dalam kehidupan orang percaya.
Ayat 31-32, Paulus kemudian menyebut berbagai bentuk kerusakan relasi dan hal ini tidak berkenan kepada Allah. Paulus meminta untuk menanggalkan dan membuang semuanya itu. Dalam ayat terakhir Paulus menutup dengan perintah positif tentang bagaimana komunitas orang percaya harus berinteraksi. Ramah dan kasih mesra terhadap sesama merupakan sikap hidup yang berdasar pada pengampunan Allah bagi manusia.
Firman ini mau menegaskan orang yang telah menerima keselamatan harus mengalami perubahan holistik atau pembaruan kehidupan yang bukan hanya sekedar identitas tetapi pada moral, karakter, spiritual dan pengetahuan akan Tuhan Yesus Kristus. Pembaruan bukan hanya tentang mengenal Kristus dan karya-karya-Nya, tetapi transformasi radikal yang hidup sebagai orang percaya dalam Kristus Yesus. Dengan demikian kita taat dan setia untuk hidup dibarui dalam roh dan pikiran. Senantiasa melakukan apa yang kudus dan berkenan pada Allah. Tidak melabelkan diri “masih manusia, mudah khilaf” tetapi berusaha keras melaksanakan apa yang baik dan benar dalam pandangan Allah. Kita hidup dalam persekutuan baik keluarga, jemaat atau masyarakat dan tiap komunitas punya dinamikanya sendiri, tapi marilah pertahankan identitas sebagai manusia baru, manusia yang hidup dalam Kristus dan Kristus dalam kita. Nyatakanlah kasih, pengampunan, kejujuran, kepedulian dan relasi yang ramah antar sesama. Sebagai Gereja kita dipanggil untuk memperlihatkan bahwa Injil benar-benar mengubahkan manusia, dari kepalsuan kepada kebenaran, dari kepahitan melahirkan pengampunan, dari mengambil menjadi memberi, dari perkataan yang mengoyakkan hati menjadi perkataan yang membangun, dan dari kehidupan lama kepada kehidupan baru di dalam Tuhan Yesus Kristus. Amin.




















