
Saudaraku yang dikasihi Tuhan, Pernahkah Saudara melihat orang yang terus berjuang memperbaiki diri setelah jatuh dalam dosa? Mereka sangat menjaga hati agar tidak mengecewakan Tuhan dan selalu mengajak kita untuk menolak dosa.
Seperti kisah seorang Raja di dalam toko alkitab yang belajar dari kesalahannya. Yosafat lahir dari garis keturunan kerajaan yang sah dari Suku Yehuda. Nama Yosafat berasal dari bahasa Ibrani יְהוֹשָׁפָט (Yehoshafat) yang berarti “Yahweh (Tuhan) adalah hakim” atau “Tuhan telah menghakimi”. Ia adalah keturunan langsung (cucu buyut) dari Raja Daud, yang menjadi standar emas bagi raja-raja Israel dan Yehuda. Ayahnya Raja Asa, raja ketiga Yehuda yang juga dikenal sebagai raja yang reformis dan saleh pada awal masa pemerintahannya. Ibunya Azuba, putri Silhi yang memiliki pengaruh penting dan reputasi yang baik dalam membesarkan Yosafat.
masa kecil raja Yosafat dibentuk oleh kesaksian hidup ayahnya bagaimana Raja Asa, melakukan pembersihan spiritual besar-besaran terhadap berhala di Yehuda. Ia menyaksikan bagaimana kakek buyutnya (Rehabeam) dan kakeknya (Abia) gagal, tetapi ayahnya berhasil membawa stabilitas. Bahkan menjelang Yosafat dewasa, Raja Asa tidak lagi setia kepada Tuhan. Ia malah meminta bantuan bangsa Aram, menjebloskan Nabi Hanani ke penjara, dan menjadi kejam. Kegagalan tragis ayahnya ini menjadi pelajaran berharga bagi Yosafat untuk selalu setia sampai akhir hayat.” Yosafat adalah raja keempat dari Kerajaan Yehuda (kerajaan selatan Israel) yang memerintah sekitar tahun 873–848 SM. Dalam kepemimpinan di usia 35 tahun menjadi pemimpin, Raja Yosafat mengalami Co-regency/ kondisi ketika suatu wilayah atau kerajaan dipimpin oleh dua penguasa secara bersamaan. Yosafat diyakini sempat memerintah bersama ayahnya yang saat itu sedang sakit parah pada kakinya selama beberapa tahun. Ini menjadi masa “magang” politik bagi Yosafat.
Saudaraku terkasih, Raja Yosafat menaruh perhatian besar pada keadilan. Bahkan menunjuk hakim-hakim di kota-kota benteng dan mendirikan Mahkamah Agung di Yerusalem. Pesannya yang terkenal kepada para hakim adalah: “Ingat, kamu bukan mengadili untuk manusia, tetapi untuk Tuhan.”
Ay 4-7 adalah pembaharuan iman yang membawa perubahan sosial di Yehuda. Yosafat berkeliling dari Bersyeba sampai pegunungan Efraim, membawa rakyat kembali kepada Tuhan. Yosafat mengangkat hakim-hakim di kota berkubu. Ia memberikan mandat yang tegas: profesi dan wewenang yang mereka miliki pada hakikatnya adalah perwakilan dari otoritas Allah. Allah hadir dan mengawasi setiap keputusan mereka. Keadilan sejati muncul dari hati yang takut akan Tuhan, bukan dari sistem duniawi.
Ay 8-11 Reorganisasi kepemimpinan agama dan sosial/pemerintahan. Yosafat membentuk lembaga peradilan pusat di Yerusalem. Ia melibatkan orang Lewi, imam, dan kepala-kepala puak/pemimpin kelompok besar berdasarkan garis keturunan. Yosafat ingin memastikan bahwa setiap perselisihan baik masalah keagamaan maupun hukum sipil diselesaikan dengan adil dan rohani.
Ada seorang pengembara yang sedang berjalan melintasi gurun yang sangat gersang. Ia sangat haus, lelah, dan hampir pingsan. Di tengah keputusasaannya, ia melihat sebuah tenda megah milik seorang bangsawan. Bangsawan itu menyambutnya dan menyuruh pelayannya membawa minuman. Pelayan itu kembali dengan membawa sebuah gelas (cawan) yang terbuat dari emas murni. Gelas itu bertatahkan permata yang indah, berkilau di bawah cahaya lampu, dan di dalamnya berisi air yang tampak sangat segar dan manis.
Pengembara itu sangat kagum. Ia berpikir, “Sungguh beruntung aku, seorang miskin bisa minum dari cawan raja yang begitu indah. Minuman ini pasti akan menyelamatkan hidupku.” Namun, tepat sebelum pengembara itu meminumnya, seorang penjaga tenda berbisik pelan di telinganya: “Jangan minum. Gelas itu memang emas murni, airnya memang manis, tetapi sang bangsawan telah mencampurkan racun mematikan yang tidak berbau ke dalamnya. Siapapun yang meminumnya akan mati dalam beberapa menit.” Mendengar hal itu, gelas emas yang tadinya terlihat sangat indah dan menggiurkan, tiba-tiba berubah menjadi hal yang paling menakutkan bagi sang pengembara. Keindahan luar gelas itu tidak lagi memiliki arti karena apa yang ada di dalamnya membawa maut.
Saudaraku terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus.
Dalam tinjauan Teologis Kristen cerita ini menjabarkan bagaimana iblis dan dunia menawarkan kecurangan atau suap. Seperti Tema dalam Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat “BERTINDAKLAH DENGAN SEKSAMA KARENA BERLAKU CURANG MEMIHAK ATAU MENERIMA SUAP TIDAK ADA PADA TUHAN ALLAH KITA”. Gelas Emas melambangkan Wujud Dosa yang Memikat: Suap, uang hasil curang, atau korupsi tidak pernah datang dalam wujud yang menjijikkan. Dosa selalu dibungkus dengan kemasan “emas” seperti uang sekeranjang, promosi jabatan kilat, kemewahan, atau jalan pintas keluar dari masalah keuangan. Air yang Manis melambangkan Kenikmatan Sesaat. Hasil dari mencurangi orang lain atau menerima suap memberikan kepuasan instan. Kebutuhan fisik langsung terpenuhi, dan seseorang bisa merasa hebat atau beruntung karena mendapatkan keuntungan besar dengan mudah. Racun melambangkan Hancurnya Jiwa dan Hubungan dengan Tuhan: Ini adalah esensi utama. Alkitab berkata, “Upah dosa ialah maut” (Roma 6:23). Uang suap atau kecurangan, sekecil apa pun selalu bertindak seperti racun rohani. Ia perlahan-lahan membunuh hati nurani, merusak kedamaian batin (tidak akan pernah tenang karena ketakutan), menghancurkan reputasi keluarga, dan yang paling fatal, memisahkan manusia dari kasih karunia Allah.
Dalam kitab 2 tawarikh 19 : 4 – 11 mengingatkan kita untuk tidak terkecoh oleh bungkus luar. Berkat Tuhan yang sejati tidak mendatangkan kesusahan, sedangkan keuntungan dari jalan yang fasik (curang) mengundang kebinasaan. Seperti kata Amsal 20:17: “Roti hasil tipuan rasanya manis bagi seseorang, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan batu kerikil.”
Jemaat Tuhan yang diberkati, Hari-hari kita sering mendengar kata “korupsi,” “suap,” atau “main curang.” Rasanya, kejujuran menjadi barang yang sangat langka. Banyak orang berpikir, kalau tidak curang, kita tidak bisa maju. Kalau tidak menyuap, urusan tidak akan lancar.
Tetapi hari ini, firman Tuhan mau mengingatkan kita melalui kisah seorang raja besar bernama Raja Yosafat. Dari hidupnya, kita belajar bahwa kepemimpinan yang jujur, yang tidak curang, dan tidak menerima suap, justru membawa berkat dan perlindungan yang luar biasa dari Tuhan.
Proses pemilihan Pelayan Tuhan akan berlangsung sebentar lagi, mari lahirkan kemurnian yang sejati dari sifat memilih dan dipilih karena kasih Tuhan, bukan karena kecurangan, suap dan perihal yang tidak menjadikan berkat bagi pelayananNya. Berikan kesempatan Tuhan bekerja bagi kita, untuk melayani Dia dengan kepemimpinan sejati yang selalu mengandalkan hidup kepada-Nya. Tuhan Allah Sumber hikmat menolong kita. Amin























