• Privacy Policy
  • Contact
  • DODOKU
  • KABAR GMIM
    • SINODE
    • WILAYAH / JEMAAT
    • KESEHATAN
    • PENDIDIKAN
    • WARTA
  • RENUNGAN
    • MTPJ
    • RHK
    • MANNA
  • ARTIKEL
    Tantangan Gereja di Masa Kini: Degradasi Nilai Persekutuan Kristen

    Tantangan Gereja di Masa Kini: Degradasi Nilai Persekutuan Kristen

    Gereja di Era Digital

    Gereja di Era Digital

    Pertukaran Pemuda GMIM-EKHN: Peliharah Kerjasama dan Alam

    Pertukaran Pemuda GMIM-EKHN: Peliharah Kerjasama dan Alam

    Habakuk Sang Nabi Profesional

    Habakuk Sang Nabi Profesional

    Beberapa Peristiwa Sejarah GMIM yang Penting Sejak Tahun 1934

    Beberapa Peristiwa Sejarah GMIM yang Penting Sejak Tahun 1934

    Garis Waktu Berdirinya GMIM

    Garis Waktu Berdirinya GMIM

    Mengenal Yerusalem, Kota Kunci Peristiwa Sejarah di Dalam Alkitab

    Mengenal Yerusalem, Kota Kunci Peristiwa Sejarah di Dalam Alkitab

    Mengenal Kota Korintus, Si Jembatan Yunani yang Pernah Melewati Masa Kelam

    Mengenal Kota Korintus, Si Jembatan Yunani yang Pernah Melewati Masa Kelam

    MENGENAL SURAT IBRANI

    MENGENAL SURAT IBRANI

  • KIDUNG
  • KABAR SULUT
    Gubernur Sulut Tekankan Pentingnya Peran Pelsus GMIM Dalam Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila

    Gubernur Sulut Tekankan Pentingnya Peran Pelsus GMIM Dalam Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila

    Peduli Korban Banjir di Likupang, GMIM Imanuel Maumbi Salurkan Sejumlah Bantuan

    Peduli Korban Banjir di Likupang, GMIM Imanuel Maumbi Salurkan Sejumlah Bantuan

    GMIM Bangun Kerjasama Dengan UNIMA

    GMIM Bangun Kerjasama Dengan UNIMA

    GMIM dan BNI Kolaborasi Tanam Pohon

    GMIM dan BNI Kolaborasi Tanam Pohon

    Kapolres Tomohon Sambangi Kantor Sinode GMIM

    Kapolres Tomohon Sambangi Kantor Sinode GMIM

    North Sulawesi GMIM Male Choir Ukir Sejarah di Prancis

    North Sulawesi GMIM Male Choir Ukir Sejarah di Prancis

    Gelar Festival dan Expo, PPA Cluster Manado 1 Suarakan Pentingnya Perlindungan Perempuan dan Anak

    Gelar Festival dan Expo, PPA Cluster Manado 1 Suarakan Pentingnya Perlindungan Perempuan dan Anak

    Peringati Kenaikan Tuhan Yesus, Ketua MPH SAG Sulutteng Ingatkan Tugas Kesaksian Gereja

    Peringati Kenaikan Tuhan Yesus, Ketua MPH SAG Sulutteng Ingatkan Tugas Kesaksian Gereja

    Sambut Karnaval, Panitia MPF 2022 Matangkan Persiapan

    Sambut Karnaval, Panitia MPF 2022 Matangkan Persiapan

No Result
View All Result
  • DODOKU
  • KABAR GMIM
    • SINODE
    • WILAYAH / JEMAAT
    • KESEHATAN
    • PENDIDIKAN
    • WARTA
  • RENUNGAN
    • MTPJ
    • RHK
    • MANNA
  • ARTIKEL
    Tantangan Gereja di Masa Kini: Degradasi Nilai Persekutuan Kristen

    Tantangan Gereja di Masa Kini: Degradasi Nilai Persekutuan Kristen

    Gereja di Era Digital

    Gereja di Era Digital

    Pertukaran Pemuda GMIM-EKHN: Peliharah Kerjasama dan Alam

    Pertukaran Pemuda GMIM-EKHN: Peliharah Kerjasama dan Alam

    Habakuk Sang Nabi Profesional

    Habakuk Sang Nabi Profesional

    Beberapa Peristiwa Sejarah GMIM yang Penting Sejak Tahun 1934

    Beberapa Peristiwa Sejarah GMIM yang Penting Sejak Tahun 1934

    Garis Waktu Berdirinya GMIM

    Garis Waktu Berdirinya GMIM

    Mengenal Yerusalem, Kota Kunci Peristiwa Sejarah di Dalam Alkitab

    Mengenal Yerusalem, Kota Kunci Peristiwa Sejarah di Dalam Alkitab

    Mengenal Kota Korintus, Si Jembatan Yunani yang Pernah Melewati Masa Kelam

    Mengenal Kota Korintus, Si Jembatan Yunani yang Pernah Melewati Masa Kelam

    MENGENAL SURAT IBRANI

    MENGENAL SURAT IBRANI

  • KIDUNG
  • KABAR SULUT
    Gubernur Sulut Tekankan Pentingnya Peran Pelsus GMIM Dalam Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila

    Gubernur Sulut Tekankan Pentingnya Peran Pelsus GMIM Dalam Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila

    Peduli Korban Banjir di Likupang, GMIM Imanuel Maumbi Salurkan Sejumlah Bantuan

    Peduli Korban Banjir di Likupang, GMIM Imanuel Maumbi Salurkan Sejumlah Bantuan

    GMIM Bangun Kerjasama Dengan UNIMA

    GMIM Bangun Kerjasama Dengan UNIMA

    GMIM dan BNI Kolaborasi Tanam Pohon

    GMIM dan BNI Kolaborasi Tanam Pohon

    Kapolres Tomohon Sambangi Kantor Sinode GMIM

    Kapolres Tomohon Sambangi Kantor Sinode GMIM

    North Sulawesi GMIM Male Choir Ukir Sejarah di Prancis

    North Sulawesi GMIM Male Choir Ukir Sejarah di Prancis

    Gelar Festival dan Expo, PPA Cluster Manado 1 Suarakan Pentingnya Perlindungan Perempuan dan Anak

    Gelar Festival dan Expo, PPA Cluster Manado 1 Suarakan Pentingnya Perlindungan Perempuan dan Anak

    Peringati Kenaikan Tuhan Yesus, Ketua MPH SAG Sulutteng Ingatkan Tugas Kesaksian Gereja

    Peringati Kenaikan Tuhan Yesus, Ketua MPH SAG Sulutteng Ingatkan Tugas Kesaksian Gereja

    Sambut Karnaval, Panitia MPF 2022 Matangkan Persiapan

    Sambut Karnaval, Panitia MPF 2022 Matangkan Persiapan

No Result
View All Result
Our Story, Your Habit
No Result
View All Result
Home RENUNGAN MANNA

“Aku Akan Menggemballakan Mereka Sebagaimana Seharusnya” Yehezkiel 34:1-16

7 November 2026
Reading Time: 7 mins read
“Aku Akan Menggemballakan Mereka Sebagaimana Seharusnya” Yehezkiel 34:1-16
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on WhatsAppShare on Telegram
ADVERTISEMENT
Pdt. Markelino Albert D. Tingon, S.Th – Pendeta Jemaat GMIM “Eklesia” Makawidey Wilayah Bitung II

Gereja pada hakikatnya dipanggil bukan hanya untuk hadir bagi dirinya sendiri, melainkan untuk mengambil bagian dalam karya Allah yang menghadirkan kehidupan dan pengharapan bagi seluruh ciptaan. Karena itu, keterpanggilan gereja harus diwujudkan secara inklusif, terbuka bagi semua orang, tanpa membatasi perhatian hanya kepada mereka yang berada di dalam lingkungan persekutuan jemaat. Gereja dipanggil untuk menjadi berkat, menyuarakan keadilan, merawat kehidupan, serta hadir di tengah berbagai persoalan yang dihadapi jemaat dan masyarakat. Tidak semua orang mengalami keadaan yang baik; ada yang lemah, sakit, terluka, tersisih, kehilangan arah, bahkan tidak lagi memiliki harapan menghadapi masa depan. Di tengah situasi seperti inilah gereja seharusnya mengambil peran sebagai pembawa pengharapan, bukan sekadar melalui pemberitaan firman, tetapi juga melalui tindakan nyata yang memelihara, melindungi, menguatkan, dan memulihkan kehidupan.

Gereja dituntut harus berani bersuara ketika berhadapan dengan ketidakadilan, penindasan, penyalahgunaan kekuasaan, kemiskinan, kekerasan, dan berbagai keadaan yang merendahkan martabat manusia. Di sinilah suara kenabian Yehezkiel 34:1–16 menjadi penting bagi gereja masa kini.  Sebagaimana Yehezkiel dengan tegas mengecam para gembala Israel yang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri dan mengabaikan penderitaan orang-orang yang lemah, demikian pula gereja tidak boleh memilih diam ketika jemaat dan masyarakat mengalami ketidakadilan. Gereja harus berani menyuarakan kebenaran, membela mereka yang tidak memiliki suara, mengkritisi kepemimpinan yang menyimpang, serta menghadirkan pelayanan yang berpihak pada kehidupan dan pemulihan. Gereja bukan hanya menjadi tempat orang mencari penghiburan, tetapi juga menjadi suara kenabian yang mengingatkan, mengoreksi, dan menggerakkan masyarakat menuju kehidupan yang lebih adil, manusiawi, dan penuh pengharapan.

Pada zaman Israel kuno, pekerjaan menggembalakan ternak merupakan bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat. Domba dan kambing menghasilkan berbagai kebutuhan hidup, seperti daging, susu, kulit, bulu untuk pakaian, serta produk lain yang dapat dimanfaatkan atau diperdagangkan.

Gembala memiliki tanggung jawab praktis yang cukup besar. Ia harus mengenal kondisi kawanan, mengetahui lokasi padang rumput, menemukan sumber air, menjaga ternak dari ancaman binatang buas, dan memastikan tidak ada domba yang tertinggal atau hilang.

Pengembala mengalami tantangan kondisi geografis Palestina kuno yang sebagian besar terdiri atas perbukitan, lembah, padang berbatu, dan wilayah semi-kering, pekerjaan ini tidak mudah. Gembala harus memiliki pengetahuan mengenai musim, kondisi tanah, ketersediaan air, dan jalur perpindahan ternak. Pekerjaan gembala menuntut ketekunan, perhatian, keberanian, dan tanggung jawab yang terus-menerus.

Para gembala yang dimaksud terutama menunjuk kepada kelompok pemimpin yang memiliki kekuasaan atas kehidupan bangsa, termasuk raja, pejabat kerajaan, dan mereka yang menjalankan otoritas pemerintahan. Mereka seharusnya menjalankan kekuasaan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap umat, bukan sebagai sarana memperkaya diri.

Kegagalan menjalankan tanggung jawab tersebut menjadi pokok kritik Yehezkiel. Pemimpin yang seharusnya menjadi pelindung justru berubah menjadi pihak yang mengeksploitasi masyarakat. Gambaran gembala yang buruk merupakan kritik terhadap penyimpangan fungsi kekuasaan dalam kehidupan sosial dan politik Israel. Maka Yeheskiel menyuarakan suara kenabiannya lewat pasal 34: 1-16:

Ayat 1–2 diawali dengan firman Tuhan yang memerintahkan Yehezkiel menyampaikan nubuat terhadap para gembala Israel. Ungkapan רֹעֵי יִשְׂרָאֵל (ro‘ei Yisra’el) aritinya “gembala-gembala Israel” menjadi simbol bagi para pemimpin yang mempunyai tanggung jawab atas kehidupan bangsa. Kritik yang disampaikan melalui pertanyaan, apakah para gembala tidak seharusnya menggembalakan domba-domba, memperlihatkan adanya ketidaksesuaian antara kedudukan pemimpin dan tindakan yang mereka lakukan. Tugas gembala yang seharunya ”memelihara” kawanan domba רֹעִים אֶת־עַצְמָם (ro‘im et-‘atsmam), tapi yang tejadi mereka menjadi gembala yang hanya mengurus diri sendiri.

Ayat 3 memperlihatkan bentuk penyimpangan kepemimpinan tersebut. Para gembala digambarkan:

Memakan domba-domba (Teks Ibrani menggunakan kata ḥelev (lemak), bukan kata ḥalav (susu). Jadi, terjemahan yang lebih tepat adalah “memakan lemaknya”, bukan “menikmati susunya”,

mengenakan bulunya (Kata צֶמֶר (ṣemer) berarti bulu atau wol domba, sedangkan תִּלְבָּשׁוּ (tilbashu) berarti kamu mengenakan pakaian. Bulu domba merupakan komoditas penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat kuno karena dapat diolah menjadi bahan pakaian dan berbagai kebutuhan lainnya),

dan menyembelih binatang yang gemuk (Kata בְּרִיאָה (beri’ah) menunjuk pada domba yang gemuk atau sehat, sedangkan תִזְבָּחוּ (tizbaḥu) berasal dari akar זבח (zavaḥ), yang berarti menyembelih atau mengurbankan hewan, Domba yang gemuk menunjukkan kondisi ternak yang baik dan bernilai. Pada kacamata ekonomi peternakan, ternak yang sehat dan gemuk merupakan aset yang berharga) tetapi tidak menggembalakan kawanan itu. Gambaran ini merupakan kritik terhadap praktik penguasaan sumber daya masyarakat oleh kelompok yang memiliki kekuasaan. Para pemimpin menikmati hasil dan keuntungan dari masyarakat, tetapi tidak memberikan perlindungan maupun pelayanan yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka. Gambaran tersebut dapat dikaitkan dengan ketimpangan hubungan antara kelompok penguasa dan masyarakat biasa. Kekuasaan yang seharusnya digunakan untuk menjaga kehidupan bersama berubah menjadi instrumen eksploitasi. Masyarakat menjadi pihak yang menanggung beban, sedangkan kelompok pemimpin menikmati keuntungan dari sumber daya yang mereka kuasai.

Ayat 4 memperlihatkan bentuk pengabaian yang lebih konkret. Terdapat lima kondisi domba yang seharusnya mendapatkan perhatian: tidak menguatkan yang lemah. Kata נַחְלָשׁוֹת ”naḥlashot” menunjuk pada domba-domba yang lemah atau kehilangan kekuatan.) Seharusnya, Gembala memberikan perhatian kepada domba yang lemah agar mereka kembali memiliki kekuatan untuk bertahan hidup dan mengikuti kawanan. Pemimpin harus memperhatikan masyarakat yang tidak memiliki kekuatan ekonomi, sosial, maupun politik.

tidak mengobati yang sakit. Kata חוֹלָה ”ḥolah” berarti sakit, sedangkan רִפֵּאתֶם (rippe’tem) berasal dari akar רפא (rafa), yang berarti menyembuhkan atau mengobati. Gembala harusnya memperhatikan domba yang sakit dan melakukan tindakan agar kondisinya pulih. Ia tidak boleh membiarkan penyakit membuat domba semakin lemah atau mati.

tidak membalut yang terluka. Kata נִשְׁבֶּרֶת ”nishberet” berasal dari akar שבר (shavar), yang berarti mematahkan atau menghancurkan. Kata ini secara kacamata pastoral dapat menunjuk pada domba yang mengalami luka atau patah. Sementara itu, חָבַשׁ ”ḥavash” berarti membalut atau membebat luka. Gembala harusnya merawat domba yang terluka dan membalut bagian yang mengalami cedera agar dapat pulih. Tetapi pada zaman Yehezkiel, para pemimpin membiarkan orang-orang yang mengalami penderitaan dan kerusakan kehidupan tanpa pertolongan. Mereka tidak menjalankan tanggung jawab untuk memulihkan mereka yang terluka.

tidak membawa kembali yang tersesat. Kata נִדַּחַת ”niddaḥat” berasal dari akar נדח ”nadah”, yang memiliki arti dihalau, disingkirkan, atau tercerai-berai. Kata ini menggambarkan domba yang terpisah dari kawanan dan membutuhkan tindakan ”untuk dikembalikan atau disatukan kembali”. Kata הֲשֵׁבֹתֶם ”hashevotem” berasal dari akar שוב (shuv), yang berarti kembali atau membawa kembali. Gembala seharusnya hadir mendampingi orang-orang yang menjadi korban kekerasan, konflik, ketidakadilan, atau keretakan sosial.

dan tidak mencari yang hilang. Kata אֹבֶדֶת (’ovedet) berasal dari akar אבד (’avad), yang berarti hilang atau binasa. Sementara itu, בִקַּשְׁתֶּם (biqqashtem) berasal dari akar בקש (baqash), yang berarti mencari atau mengusahakan untuk menemukan. Seharusnya, gembala secara aktif mencari domba yang hilang. Ia tidak cukup hanya menjaga domba yang masih berada di dekatnya, tetapi juga harus memperhatikan mereka yang tidak lagi terlihat dalam kawanan.

”Sebaliknya, mereka memerintah dengan kekerasan dan kekejaman.” Bagian ini berbeda dari lima ungkapan sebelumnya. Jika lima ungkapan pertama memperlihatkan apa yang tidak dilakukan para gembala, bagian terakhir justru memperlihatkan apa yang mereka lakukan terhadap kawanan. Kata רְדִיתֶם ”reditem” berasal dari akar רדה ”radah”, yang berarti memerintah, menguasai, atau mengendalikan. Kata חָזְקָה ”ḥozqah” berarti kekuatan atau kekerasan, sedangkan פֶרֶךְ ”farekh” mengandung arti kekejaman atau penindasan. Seharusnya gembala memimpin dengan tanggung jawab, perlindungan, dan kepedulian terhadap kawanan. Tetapi yang dipertontonkan mereka malahan kebalikannya, mereka menggunakan kekuasaan secara keras dan kejam. Mereka tidak memelihara kawanan dengan kasih dan tanggung jawab, melainkan mengendalikan masyarakat melalui penindasan.

Akibatnya, sebagaimana digambarkan dalam ayat 5–6, domba-domba tercerai-berai dan menjadi mangsa binatang buas. Kawanan itu tersebar ke berbagai tempat dan tidak lagi berada dalam perlindungan gembala. Dalam konteks sosial masyarakat Yehuda, gambaran tersebut dapat dibaca sebagai representasi masyarakat yang mengalami kehilangan perlindungan politik, ketidakstabilan, dan ketercerai-beraian akibat krisis kepemimpinan. Pengalaman pembuangan Babel, termasuk deportasi pada 597 SM dan kehancuran Yerusalem pada 586 SM, menjadi latar historis penting untuk memahami kedalaman krisis yang dialami masyarakat Yehuda.

Ayat 7–8 diawali dengan seruan agar para gembala mendengarkan firman Tuhan. Allah menegaskan bahwa kawanan domba-Nya telah menjadi mangsa karena tidak ada gembala yang menjalankan tugasnya. Bahkan, para gembala justru menggembalakan diri sendiri dan tidak memelihara kawanan. Bagian ini memperlihatkan bahwa kegagalan kepemimpinan bukan persoalan yang dapat dianggap sebagai kesalahan pribadi semata. Ketika pemimpin mengabaikan tanggung jawabnya, akibatnya menjangkau kehidupan seluruh masyarakat. Ketidakpedulian penguasa menyebabkan kelompok yang lemah kehilangan perlindungan, masyarakat menjadi tercerai-berai, dan kehidupan sosial berada dalam keadaan tidak aman.

Puncak kritik terdapat dalam ayat 10 ketika Allah menyatakan, “Aku sendiri akan menjadi lawan para gembala itu.” וְדָרַשְׁתִּי אֶת־צֹאנִי מִיָּדָם (vedarashti et-tsoni miyadam) artinya “Aku akan menuntut domba-domba-Ku dari tangan mereka.” Pernyataan ini memiliki makna teologis sekaligus sosial-politis. Secara teologis, kawanan domba adalah milik Allah, bukan milik para pemimpin. Kekuasaan yang dimiliki para gembala hanyalah tanggung jawab yang dipercayakan kepada mereka. Karena itu, ketika kekuasaan digunakan untuk mengeksploitasi dan menindas masyarakat, mereka sedang melanggar mandat yang berasal dari Allah.

Secara sosial-politis, pernyataan Allah tersebut menegaskan bahwa kekuasaan manusia memiliki batas moral. Jabatan, kedudukan, dan otoritas tidak memberikan pembenaran untuk memperlakukan rakyat secara sewenang-wenang. Allah menuntut pertanggungjawaban dari pemimpin karena kehidupan masyarakat tidak boleh dikorbankan demi kepentingan elite. Allah juga menyatakan akan melepaskan kawanan dari mulut para gembala sehingga mereka tidak lagi menjadi mangsa. Ada tiga hal yang dapat diperhatikan:

Pertama, kekuasaan bukanlah kepemilikan pribadi. Para pemimpin Israel bertindak seolah-olah umat merupakan milik mereka. Padahal, ayat 10 menegaskan bahwa domba-domba itu adalah milik Allah. Pemimpin hanya menerima mandat untuk memelihara, bukan hak untuk mengeksploitasi.

Kedua, jabatan tidak membebaskan seseorang dari pertanggungjawaban. Semakin besar kekuasaan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk melindungi masyarakat. Ketika kekuasaan digunakan untuk kepentingan pribadi dan merugikan orang lain, jabatan tersebut dapat dicabut.

Ketiga, Allah berpihak kepada mereka yang menjadi korban penyalahgunaan kekuasaan. Dalam ayat-ayat sebelumnya, kelompok lemah, sakit, terluka, tersingkir, dan hilang tidak memperoleh perhatian dari para pemimpin. Karena itu, Allah mengambil tindakan untuk membela mereka.

Setelah menyatakan penghakiman terhadap para gembala, Allah menyatakan bahwa Ia sendiri akan mencari dan mengurus domba-domba-Nya (ayat 11). Pengulangan kata kerja mencari dan mengurus memperlihatkan kontras antara tindakan Allah dan kegagalan para pemimpin sebelumnya. Para gembala tidak mencari domba yang hilang, tetapi Allah justru mengambil inisiatif untuk menemukan mereka.

Dalam ayat 12–13, Allah menggambarkan tindakan-Nya seperti seorang gembala yang mencari kawanan ketika domba-domba itu tercerai-berai. Ia akan mengumpulkan mereka dari berbagai tempat dan membawa mereka kembali ke tanah Israel. Gambaran ini berkaitan erat dengan pengalaman pembuangan. Masyarakat Yehuda mengalami keterpisahan dari tanah air, kehilangan stabilitas kehidupan, dan tercerai-berai akibat kekalahan politik. Karena itu, janji pengumpulan kembali bukan hanya berbicara tentang pemulihan hubungan spiritual dengan Allah, tetapi juga mengandung harapan pemulihan kehidupan bersama sebagai suatu komunitas.

Ayat 14–15 melanjutkan gambaran pemulihan melalui penyediaan padang rumput yang baik dan tempat penggembalaan yang aman. Allah menjanjikan bahwa kawanan-Nya akan memperoleh makanan dan beristirahat dengan tenang. Gambaran ini mengandung kritik terhadap ketidakadilan ekonomi dan ketidakamanan yang sebelumnya dialami masyarakat. Kehidupan yang dipulihkan adalah kehidupan ketika kebutuhan dasar terpenuhi, masyarakat mendapatkan perlindungan, dan mereka tidak lagi berada di bawah ancaman eksploitasi.

Selanjutnya, ayat 16 menyajikan tindakan Allah yang secara langsung berlawanan dengan kegagalan para gembala dalam ayat 4. Allah mencari yang hilang, membawa kembali yang tersesat, membalut yang terluka, dan menguatkan yang sakit. Akan tetapi, ayat ini juga menyebutkan bahwa Allah akan membinasakan yang gemuk dan kuat serta menggembalakan kawanan dengan keadilan. Hal ini memperlihatkan bahwa pemulihan tidak dapat dipisahkan dari penegakan keadilan. Allah tidak hanya memperhatikan mereka yang menderita, tetapi juga menentang pihak-pihak yang menggunakan kekuatan dan kelebihannya untuk merugikan orang lain.

Berbagai persoalan hari ini juga tak lepas dari konteks pembacaan dan perenungan kita ini; kebakaran hutan, korupsi, ketimpangan peradilan, kondisi ekonomi yang merosot, meningkatnya angka pengangguran oleh karna beberapa pabrik ditutup, rupiah yang melemah, IHSG yang memerah, serta kasus-kasus keracunan. Kadang ditutupi oleh begitu banyaknya drama elit politik yang saling sikut-menyikut seperti ijazah palsu, pemaksulan wapres, dan terbaru penyadapan. Drama-drama ini seharusnya tidak dipertontonkan karena tidak menjawab persoalan ditengah masyarakat. Namun harus dengan jeli dan peka terhadap apa yang dialami oleh masyarakat.  Gereja harus bersuara dengan bahasa pastoral tentunya, memberikan kekuatan dan penghibuaran juga dengan menunjukan keberpihakan gereja bagi masyarakat banyak yang mengalami ketertindasan dan ketidakadilan.

GMIM pun demikian yang sekarang memasuki masa-masa persiapan, untuk pergantian periode pelayanan baru. Kadang ditemui pelayan khusus (penatua dan diaken) yang tidak terpilih sudah tidak melakasanakan tugas dengan baik, pelayanan para pendeta dan guru agama yang masih pilih-pilih, tidak peka dengan kebutuhan spiritualitas jemaat, serta kadang penyusunan berbagai program pelayanan yang nantinya disusun hanya lebih memperlihatkan hal-hal yang tidak lagi menjadi pokok dalam tugas gereja. Program yang disusun hanya bersifat seremonial tanpa makna, dan tidak ada output yang signifikan bagi jemaat, padahal itu memakan anggaran yang besar yang dibebankan pada jemaat. Kita perlu terus merefleksikan panggilan bergereja agar semakin memahami tujuan dan hakikat kehadiran gereja di tengah kehidupan. Gereja memiliki tanggung jawab untuk memperlengkapi jemaat, khususnya dengan menghadirkan kepedulian nyata bagi mereka yang lemah, menderita, dan membutuhkan pertolongan. Seluruh arah dan tindakan pelayanan hendaknya senantiasa berlandaskan serta selaras dengan kehendak Firman Tuhan. Kiranya Tuhan menolong dan memampukan kita untuk setia menjalankan panggilan tersebut. Amin

Baca Juga Info Lainnya

RHK Senin, 2 September 2019
RENUNGAN

RHK Minggu, 08 November 2026 – Yehezkiel 34:1–2 – Nubuat Melawan Gembala-Gembala Israel

7 November 2026
Audio Bacaan Alkitab Setahun Selasa, 7 Oktober 2026 – Matius 13dan 14
AUDIO BACAAN ALKITAB SETAHUN

Audio Bacaan Alkitab Setahun MInggu, 8 November 2026 – Yohanes 9 & 10

7 November 2026
Audio Bacaan Alkitab Setahun Selasa, 7 Oktober 2026 – Matius 13dan 14
AUDIO BACAAN ALKITAB SETAHUN

Audio Bacaan Alkitab Setahun Sabtu, 7 November 2026 – Yohanes 7 & 8

6 November 2026
  • Privacy Policy
  • Contact

© 2026 dodokugmim.com

No Result
View All Result
  • DODOKU
  • KABAR GMIM
    • SINODE
    • WILAYAH / JEMAAT
    • KESEHATAN
    • PENDIDIKAN
    • WARTA
  • RENUNGAN
    • MTPJ
    • RHK
    • MANNA
  • ARTIKEL
  • KIDUNG
  • KABAR SULUT

© 2026 dodokugmim.com

ADVERTISEMENT