
DODOKUGMIM. Kalau kita baca dalam 2 Tawarikh 6:12-42, perikopnya adalah “Doa Salomo”. Ini adalah doa yang disampaikan Salomo pada waktu pentahbisan Bait Suci, di mana doa Salomo ini tertulis sebanyak 30 ayat. Dikatakannya, “Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya Tuhan Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu ini! Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kaukatakan akan menjadi kediaman nama-Mu-dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini.” (2 Tawarikh 6:19-20). Hal ini menunjukkan bahwa doa menjadi bagian terpenting dalam Bait Suci Salomo selain persembahan dan puji-pujian. Setelah Salomo selesai berdoa, terjadi lawatan Tuhan secara dahsyat.
Doa yang pernah dinaikkan Raja Salomo dalam peresmian Bait Allah menunjukkan keseimbangan tersebut. Salomo memulainya dengan menyanjung kekudusan dan kesetiaan Allah. Kemudian ia memuji Allah atas keberhasilan pembangunan itu dan mengagungkan kebesaran-Nya, dengan menyatakan, “Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidaklah dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini” (2Taw. 6:18). Setelah mengagungkan Allah, Salomo memohon kepada-Nya agar memberikan perhatian khusus terhadap segala sesuatu yang terjadi di dalam bait itu. Ia memohon Allah untuk menunjukkan belas kasihan kepada bangsa Israel dan mengampuni mereka saat mereka mengakui dosa mereka. Segera setelah Salomo selesai berdoa, “apipun turun dari langit memakan habis korban bakaran dan korban-korban sembelihan itu, dan kemuliaan Tuhan memenuhi rumah itu” (2Taw. 7:1). Tanggapan luar biasa itu mengingatkan kita bahwa Pribadi Agung yang kita puji dan yang kita ajak bicara dalam doa itu adalah Pribadi yang juga mendengarkan dan memperhatikan setiap permohonan kita
Doa yang dipanjatkan di tempat ini. menjadi kebiasaan bagi orang Yahudi yang saleh untuk berkiblat ke Yerusalem ketika berdoa, Doa kita berkiblat ke Yerusalem yang dimaksud di sini bukanlah Yerusalem di dunia ini, tetapi kota Yerusalem sorgawi, suatu kota yang dibangun oleh Tuhan sendiri. Tetapi, yang ditekankan di sini adalah hati yang sungguh-sungguh berserah kepada Allah yang telah menyatakan diri secara khusus itu, yaitu Allah yang telah meresmikan tempat ibadah Yerusalem untuk menggambarkan karya penebusan di dalam Kristus.
Setelah Salomo memuji Allah karena berkat-Nya di masa lalu, ia melanjutkan dengan doa bagi masa depan Israel. Pendahuluan doa dimulai dengan menggambarkan situasi yang sebenarnya (ayat 12-13). Ia berdiri di atas mimbar tembaga, yang kira-kira panjang dan lebarnya 2,3 m, dan tingginya 1,3 meter, lalu berlutut dan menadahkan tangannya. Ini semua dilakukannya di depan seluruh jemaah, di tengah halaman luar bait Allah, kemungkinan bagian halaman untuk kaum awam. Dengan gambaran ini, kita mengerti betapa agung dan hikmatnya peristiwa tersebut. Lalu, Salomo menaikkan doanya. Pertama, doa untuk kerajaan (ayat 14-17). Doanya dimulai dengan pengakuan bahwa Yahweh begitu unik dan berkuasa. Penyelesaian bait Allah merupakan salah satu perwujudan superioritas Allah. Allah setia pada perjanjian kasih-Nya kepada orang-orang yang memberikan segenap hati kepada-Nya. Karena itu, komunitas pasca pembuangan harus hidup demikian pula. Kemudian ia meminta agar Allah memenuhi janji-Nya kepada Daud, sebagaimana ketaatan yang ia tunjukkan terhadap hukum Allah. Kedua, doa untuk bait Allah (ayat 18-39). Bagian ini dimulai dengan pujian kepada Allah yang besar (ayat 18), lalu beranjak meminta hal-hal umum di dalam kerendahan hatinya agar bait Allah sungguh menjadi tempat yang efektif untuk berdoa kepada Allah (ayat 19-21).
Doa syafaat berarti berdoa untuk orang lain atau sesuatu yang bukan kebutuhan kita pribadi, namun mencakup kebutuhan orang lain atau kebutuhan yang lebih luas : Lingkungan, bangsa, gereja, bangsa lain, orang lain dan seterusnya. Dalam bahasa Inggris kata yang dipakai adalah “intercession”. Pendoa syafaat adalah seseorang yang datang mendekat dan berdoa di hadapan Allah untuk menggantikan posisi orang lain. Fungsi imam, salah satunya adalah sebagai pendoa syafaat. ia bertindak atas nama manusia dalam hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Sebagai contoh, ia harus mempersembahkan kurban dan persembahan karena dosa, memohon doa syafaat bagi umat yang diwakilinya, dan memberkati mereka (Ibrani 5:1; Imamat 9:22). Kita mempunyai Imam Besar yang agung, Dia adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus mengajar kita bagaimana berdoa dan melalui sabda-Nya kita mengetahui arti berdoa di dalam nama-Nya. Akhirnya memberi pesan kepada kita, supaya mengenal Yesus Kristus dalam tugasNya sebagai Pembela dan Juru Syafaat. Sebelum Ia sendiri akan mengalami penganiayaan, Ia berdoa untuk murid-muridNya, Yohanes 17:9-17, tidak diragukan doa itu adalah contoh syafaatNya.
Dalam I Yohanes 2:1, adalah salah satu ayat yang menandaskan bahwa, Ia tetap melanjutkan pekerjaan penyelamatanNya di surga, seperti Ia lakukan di bumi, dalam persekutuan yang tak henti-hentinya dengan Bapa, dalam syafaat langsung di hadapan Bapa. Setiap pekerjaan yang bersumber pada anugerah Yesus Kristus, selalu dikawali oleh syafaatNya dan setiap berkat turun bagi kita dari atas yang penuh kesan illahi, datang melalui pembelaan serta syafaat Tuhan kita Yesus Kristus. Tanpa keraguan pembelaan dari Yesus Kristus adalah hasil penebusanNya di kayu salib. Ketika Ia memberi diriNya untuk menebus manusia, Ia mempunyai satu tujuan: Kemuliaan Allah terwujud dalam umatNya. Oleh syafaat dan pembelaanNya tujuan ini terwujud – sebab mula-mula Allah telah dimuliakan dalam penebusan manusia berdosa, agar manusia mempunyai pemulihan hubungan dengan Allah. Sehingga dengan proses pembelaan dan syafaat Yesus Kristus yang diadakan melalui doa, dijaminkan bahwa; pembangunan manusia baru seutuhnya, kelak menjadi manusia sempurna yang kekal.
Allah memanggil semua orang Kristen menjadi pendoa syafaat. Allah menginginkan bahwa setiap orang percaya aktif dalam doa syafaat. Betapa indah dan tingginya hak yang kita miliki untuk bisa datang dengan penuh keberanian ke hadapan tahta Allah yang Mahakuasa dengan doa dan permohonan kita. Allah memanggil umatnya untuk bergabung dalam penggenapan rencana-Nya di dunia dengan doa syafaat. Dia tidak mencari prajurit doa yang sempurna, tetapi Dia hanya melihat hati yang bersedia merasakan keajaiban terjadi di bumi.























