
Kita semua membutuhkan seseorang yang dapat menuntun hidup kita. Ketika masih kecil, kita membutuhkan orang tua. Ketika belajar, kita membutuhkan guru. Dalam pekerjaan, kita membutuhkan pemimpin. Dalam perjalanan hidup dan iman, kita membutuhkan Tuhan sebagai penuntun.
Persoalannya adalah: siapa yang kita dengarkan dan siapa yang kita ikuti?
Dunia menawarkan banyak suara: suara kesuksesan, kekayaan, popularitas, kekuasaan, media sosial, bahkan suara orang-orang yang kelihatannya baik tetapi sebenarnya dapat menyesatkan.
Dalam Yohanes 10:1–21, Yesus menggunakan gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat pada waktu itu, yaitu gembala dan domba. Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik dan juga sebagai Pintu bagi domba-domba. Melalui gambaran ini Yesus mau menunjukkan bahwa manusia membutuhkan pemimpin yang benar, dan bahwa keselamatan hanya ditemukan di dalam Dia.
Pasal 10 ini berkaitan erat dengan pasal 9, yaitu kisah Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Setelah orang tersebut disembuhkan, ia justru mengalami penolakan dan diusir oleh orang-orang Farisi karena mengakui Yesus. Para pemimpin agama yang seharusnya membimbing dan menggembalakan umat justru memperlakukan orang tersebut dengan keras. Dalam konteks inilah Yesus berbicara tentang gembala, domba, pintu kandang domba, dan pencuri.
Jadi, perkataan Yesus dalam Yohanes 10 sekaligus merupakan kritik terhadap pemimpin agama yang tidak menjalankan tugas penggembalaan dengan benar.
Pada zaman itu, domba merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat Israel. Gembala mempunyai tanggung jawab besar untuk menjaga kawanan domba. Seorang gembala yang baik: mengenal domba-dombanya; menjaga dan melindungi mereka; menuntun mereka mencari makanan dan air; mencari domba yang tersesat; melindungi mereka dari binatang buas dan bahaya; bahkan bersedia mempertaruhkan hidupnya. Karena itu, gambaran gembala dan domba sangat mudah dipahami oleh masyarakat pada zaman Yesus.
Dalam tradisi beternak orang Yahudi, terdapat dua jenis kandang. Pertama, kandang umum di mana semua orang dalam satu kampung memasukkan hewan-hewan mereka ke tempat yang sama. Kedua, di dalam kandang umum itu terdapat kandang khusus yang dilindungi pintu, dan hanya penjaga pemegang kunci pintu tersebut yang bisa masuk. Artinya, hanya kawanan domba dari pemilik kunci tersebut yang diperbolehkan berada di dalam kandang khusus itu.
Tuhan Yesus dalam bacaan ini memberi penjelasan bahwa seorang gembala yang baik mengenal domba-dombanya. Karena seorang gembala yang baik akan masuk dalam kandang domba melalui pintu, sedangkan orang asing tidak akan masuk melalui pintu melainkan memanjat tembok. Seorang yang memanjat tembok dan tidak melalui pintu adalah seorang pencuri. Tetapi siapa yang masuk melalui pintu bukanlah seorang pencuri, melainkan gembala domba. Penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya keluar. Jika semua dombanya telah dibawanya keluar ia berjalan di depan mereka dan domba- domba itu mengikuti dia, karena mereka meengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.
Tuhan Yesus memberi perumpamaan ini supaya orang-orang yang mendengar dapat mengerti, namun justru mereka tidak memahami-Nya. Yesus sekali lagi mengungkapkan ini pada mereka : Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku adalah pencuri dan perampok dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu: barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.
Dalam Yohanes 10:11 Yesus berkata: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Ini merupakan salah satu pernyataan “Akulah” (ego eimi) yang khas dalam Injil Yohanes. Yesus bukan sekadar mengatakan bahwa Ia adalah pemimpin. Ia menyatakan bahwa Ia adalah Gembala yang baik, yang berbeda dari gembala upahan atau pemimpin yang tidak peduli. Gembala yang baik tidak meninggalkan domba ketika bahaya datang. Bahkan Yesus mengatakan bahwa Ia memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Ini menunjuk kepada pengorbanan Yesus di kayu salib.
Gembala yang baik akan menuntun domba-dombanya ke jalan yang benar serta menjaga mereka dari bahaya. Sebaliknya, ada pula gembala yang tidak baik, yang akan membiarkan domba-dombanya saat bahaya mengancam. Gambaran ini menunjukkan bagaimana Yesus memberikan diri-Nya demi keselamatan manusia. Perkataan Yesus sering kali menimbulkan pertentangan karena banyak orang tidak percaya dan tidak memahami apa yang dikatakan-Nya. Mereka juga tidak mengerti mukjizat-mukjizat yang telah dilakukan-Nya.
Dalam Perjanjian Lama, istilah “gembala” sering digunakan untuk menggambarkan pemimpin umat dan juga Tuhan sendiri. Misalnya, Mazmur 23 menggambarkan Tuhan sebagai Gembala yang memelihara umat-Nya. Sebaliknya, Yehezkiel 34 mengecam para pemimpin Israel yang disebut sebagai gembala tetapi justru mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dan tidak memperhatikan domba-domba. Yesus menunjukkan perbedaan antara gembala yang baik dan pemimpin yang hanya memanfaatkan domba.
Saudara…… Yesus mengenal umat-Nya secara mendalam. Ia mengetahui keadaan, kelemahan, penderitaan, kebutuhan dan pergumulan. Sebaliknya, domba-domba mengenal suara gembalanya. Artinya, orang percaya dipanggil untuk mendengar suara Kristus, percaya kepada-Nya dan mengikuti kehendak-Nya.
Apakah kita masih bisa bedakan suara Tuhan dengan suara ketakutan, suara medsos, suara tekanan hidup? Domba kenal suara karena sering dengar. Kita dengar suara Tuhan lewat doa dan Firman tiap hari.
Karena itu pertanyaannya adalah: kita domba yang mana?
- Domba yang masih di luar kandang, belum masuk lewat Pintu (Yesus)?
- Domba yang sudah di dalam, tapi tidak mau dengar suara Gembala?
- Domba yang mau ikut ke mana Gembala menuntun, karena percaya Gembala tahu padang rumput terbaik.
Sebagai orang percaya kita dipanggil untuk belajar mendengarkan suara Tuhan melalui Firman-Nya. Mendengarkan Tuhan bukan hanya berarti membaca Alkitab, tetapi juga melakukan apa yang Tuhan ajarkan.
Kalau seseorang mau masuk ke sebuah rumah, ia membutuhkan pintu. Demikian juga Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai pintu bagi domba-domba. Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah jalan menuju keselamatan dan kehidupan yang benar. Dunia menawarkan banyak jalan. Ada yang mengatakan bahwa kebahagiaan diperoleh dari uang. Ada yang mengatakan bahwa hidup berhasil kalau mempunyai jabatan. Ada yang mengejar popularitas dan penghargaan manusia. Tetapi Yesus mengingatkan bahwa semua itu bukan tujuan utama kehidupan. Yang paling penting adalah memiliki hubungan dengan Tuhan. Karena itu, jangan sampai kita mempunyai banyak hal dalam hidup tetapi kehilangan Tuhan.
Karena itu sebagaimana yang Yesus katakan Ia datang supaya kita mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Hidup berkelimpahan berarti kita mempunyai hidup yang memiliki pengharapan, damai sejahtera, sukacita dan arah yang jelas karena Tuhan menyertai kita.
Orang yang hidup bersama Tuhan dapat tetap mempunyai pengharapan sekalipun menghadapi kesulitan. Sebab kebahagiaan seorang percaya tidak hanya bergantung pada keadaan, tetapi pada siapa yang menyertai kehidupannya.
Yesus mengasihi kita bukan karena kita sempurna. Ia mengasihi kita karena kita adalah milik-Nya. Ketika kita jatuh, Tuhan mengangkat kita. Ketika kita tersesat, Tuhan memanggil kita kembali. Ketika kita takut, Tuhan menguatkan kita. Ketika kita merasa sendirian, Tuhan tetap menyertai kita.
Ia mengenal kehidupan kita. Ia tahu pergumulan kita. Ia tahu air mata kita. Ia tahu kekhawatiran kita. Ia tahu keluarga kita. Ia tahu pergumulan dalam pekerjaan dan pelayanan kita. Kadang manusia tidak mengerti keadaan kita. Bahkan orang yang paling dekat dengan kita mungkin tidak mengetahui seluruh pergumulan kita. Tetapi Tuhan mengetahui semuanya. Karena itu, jangan merasa bahwa kita sendirian. Ada Tuhan yang mengenal kita dan tidak pernah meninggalkan kita.
Kalau Yesus adalah Gembala yang baik, maka kita adalah domba-domba-Nya. Domba yang baik bukan hanya mengenal suara gembalanya, tetapi mengikuti gembalanya. Jangan hanya mengatakan, “Saya percaya kepada Tuhan,” tetapi kehidupan kita tidak mengikuti kehendak Tuhan.
Mengikuti Yesus berarti: belajar mengampuni, berkata jujur, mengasihi keluarga, menghormati orang lain, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, setia dalam pelayanan, peduli kepada orang yang membutuhkan, menjauhi dosa, dan tetap percaya kepada Tuhan ketika menghadapi masalah.
Semakin dekat kita dengan Tuhan, semakin kita belajar mengenali kehendak-Nya. Domba yang dekat dengan gembala akan lebih mudah mengenali suara gembalanya. Demikian juga kita. Kalau kita jauh dari Tuhan, kita akan mudah mengikuti suara yang lain.
Belajarlah mendengar suara Tuhan. Jangan hanya mendengar suara media sosial, manusia dan dunia. Sisihkan waktu untuk membaca Alkitab dan berdoa.
Percayakan hidup kepada Yesus. Ketika menghadapi masalah, jangan hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Mari katakan: “Tuhan, Engkau Gembalaku. Tuntunlah aku.”
Jangan menjadi domba yang mudah mengikuti suara sembarangan. Domba harus mengikuti suara gembalanya. Demikian juga orang percaya harus berhati-hati terhadap ajaran, perkataan dan pengaruh yang menjauhkan kita dari Tuhan.
Bangun relasi yang saling mengenal dan peduli. Kalau Yesus mengenal kita, maka kita juga harus belajar mengenal sesama.
Jadilah teladan gembala yang baik. Di keluarga, jadilah orang tua yang membimbing. Di gereja, jadilah pelayan yang melayani. Di masyarakat, jadilah orang yang membawa damai.
Yohanes 10:1–21 mengingatkan kita bahwa hidup ini memiliki banyak suara dan banyak orang yang ingin memimpin kita. Tetapi hanya ada satu Gembala yang sungguh-sungguh memberikan hidup-Nya bagi kita.
Yesus adalah Pintu. Yesus adalah Gembala. Yesus mengenal kita. Yesus mengasihi kita. Yesus memberikan hidup-Nya bagi kita. Karena itu jangan berjalan sendiri. Jangan mengikuti suara dunia tanpa membandingkannya dengan Firman Tuhan.
“Dunia mungkin menawarkan banyak jalan, tetapi Kristus adalah Pintu keselamatan; dunia mungkin memiliki banyak suara, tetapi suara Gembala yang Baik membawa kita kepada kehidupan.”
Dan ketika kita tidak tahu harus ke mana, ingatlah:
“Selama kita mengikuti suara Sang Gembala, kita tidak pernah berjalan sendirian.”
Amin.




















