
Saudara-saudara yang diberkati Tuhan, menjadi berkat saat hidup melimpah dan hati tenang adalah hal yang luar biasa. Namun, menjadi berkat bagi orang lain saat kehidupan sendiri sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja rasanya adalah hal yang sangat istimewa. Sebab memang kehidupan orang percaya hendaklah menjadi berkat bukan saja dalam keadaan hidup senang dan tenang, tapi justru juga saat hidup sedang dalam keadaan yang sulit. Inilah keadaan yang menjadi gambaran hidup bangsa Yehuda ketika Yesaya menyampaikan nubuatan Firman Tuhan bagi Yehuda khususnya pasal 60.
Nama Yesaya berarti Tuhan adalah keselamatan. Kitab Yesaya terdiri dari 3 bagian yaitu: Proto Yesaya (Pasal 1-39, yaitu masa sebelum Yehuda ada dalam pembuangan yang memberitakan seruan agar umat hidup dalam pertobatan), Deutro Yesaya (Pasal 40-55 yaitu masa dalam pembuangan yang memberitakan pengharapan Yehuda), dan terakhir Trito Yesaya (pasal 56-66 yaitu masa sesudah pembuangan yang memberitakan pemulihan bangsa).
Pasal 60 masuk dalam Trito Yesaya sebagai seruan pemulihan bagi bangsa Israel. Dalam masa pembuangan, umat Yehuda mengalami kehancuran dalam segala bidang, baik perekonomian yang sulit, Bait Allah di Yerusalem yang diimani sebagai rumah Tuhan hancur membuat iman mereka menjadi lemah seakan hidup tanpa pengharapan. Bahkan ketika mereka Kembali dari masa pembuangan, mereka harus berhadapan dengan bagaimana membangun Kembali tempat tinggal dan perekonomian mereka. Maka dalam masa itulah Yesaya memberitakan Firman kepada umat Yehuda dengan seruan ajakan “Bangkitlah, menjadi teranglah”. Makna kata bangkit dari istilah Ibrani “qum” dalam hal ini mau mengajak umat Yehuda untuk bangun dan memiliki semangat yang baru, kokoh sekalipun keadaan yang mereka alami adalah keadaan yang tidak mudah. Sedangkan kata menjadi teranglah dari kata “ówr” bermakna cahaya yang mengusir kegelapan. Rasanya hal ini sulit untuk dilakukan oleh bangsa Yehuda melihat situasi yang baru saja mereka alami, namun dalam bagian selanjutnya Yesaya menybut “sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu”. Dalam ungkapan tersebut tersirat makna bahwa sebab umat Yehuda terlebih dahulu akan memperoleh terang dan kemuliaan yang dinyatakan oleh Tuhan. Inilah yang menjadi dasar mengapa Yehuda harus bangkit dan menjadi terang.
Ayat 2 semakin mempertegas bagaimana keadaan yang dialami di masa itu, mengenai kegelapan dan kekelaman. Kegelapan atau ḥōshek serta kekelaman atau “áraphel” bermakna tanpa cahaya, yang mengandung arti bahwa kehidupan di bumi oleh bangsa-bangsa telah dipenuhi oleh dosa. Tetapi bagi umat Yehuda diulangi lagi bahwa terang Tuhan serta kemuliaan-Nya terbit atas Yehuda.
Ayat 3 dan 4 Yesaya menyebut bahwa bangsa-bangsa dan raja-raja akan tertarik kepada terang atau cahaya yang ada dalam Yehuda yang menunjuk kepada Cahaya Ilahi. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa-bangsa akan ikut serta dalam penyembahan kepada Tuhan. “anak-anakmu laki-laki datang dari jauh dan anak-anakmu perempuan digendong ” menggambarkan tentang sisa-sisa orang Israel akan Kembali pulang serta menampilkan pemulihan hubungan keluarga yang sempat terpisah.
Ayat 5-7 menunjukkan bahwa pemulihan yang Tuhan adakan bagi Yehuda tidak hanya bicara tentang keadaan keluarga yang dipulihkan, namun juga jaminan Allah akan kesejahteraan yang dianugerahkan. Midian dan Efa adalah bangsa-bangsa dari luar Israel tepatnya dari wilayah Arab. Disebutkan bahwa bangsa-bangsa ini dengan sejumlah besar unta akan membawa emas dan kemenyan, yang berarti sekalipun mereka dari tempat jauh namun dengan tekad mereka datang membawa emas dan kemenyan serta memberitakan perbuatan Tuhan. Kedar dan Nebayot juga merupakan bangsa dari keturunan Ismael, yang semuanya akan terhimpun untuk mempersembahkan kambing domba sebagai persembahan yang berkenan kepada Tuhan. Bagian Firman ini menunjukkan bahwa pemulihan yang Allah sediakan bagi Yehuda merupakan pemulihan yang holistic atau menyeluruh. Tindakan ini menunjukkan bahwa Allah memilih Yehuda menjadi sarana Terang bagi seluruh bangsa.
Kehidupan yang sulit oleh bangsa Yehuda tidak akan selamanya menghiasi kehidupan Yehuda, sebab Allah sendiri yang akan menjadi Terang dan memulihkan kehidupan mereka.
Yohanes 1:9-10 menuliskan bahwa “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya”. Kehadiran Yesus sebagai “Terang” membawa keselamatan bukan saja bagi bangsa Yehuda tetapi juga secara universal kepada semua bangsa. Emas dan kemenyan mengingatkan tentang orang-orang majus yang mempersembahkan emas dan kemenyan ketika mereka menjumpai Yesus sang bayi ketika mendapat petunjuk bintang Timur. Yesus menyebut bahwa “Akulah Terang dunia” (Yohanes 8:12 dan Yohanes 9:5). “Terang Yesus” membawa pemulihan umat dari setiap dosa yang menutupi bumi ini, menyatukan kehidupan semua bangsa, sebab keselamatan yang dianugerahkan Tuhan adalah bagi dunia ini.
Ketika umat telah dianugerahkan Terang yaitu keselamatan di dalam Yesus, maka tugas umat percaya ialah bagaimana orang percaya juga dapat menjadi terang bagi sesama bahkan bagi dunia ini. Terang Yesus membawa kebenaran, hidup dan keselamatan serta menuntun umat untuk mempraktekkan Tindakan kasih. Terang Yesus menjadi tanda kehadiran Allah yang mengusir kegelapan dosa, memberi harapan dan membimbing umat manusia menuju kehidupan yang penuh makna.
Dalam rangka memaknai Natal Yesus Kristus yang sudah datang dan mempersiapkan diri bagi kedatangan-Nya kembali, maka seperti seruan Yesaya “Bangkitlah, menjadi Teranglah” kiranya menjadi motivasi iman bagi semua orang percaya untuk hidup dengan penuh rasa takut akan Tuhan, agar semua orang dapat melihat kemuliaan Allah di dalam diri Allah sehingga mereka pun memuji Tuhan Allah.
Kembali pada pertanyaan awal, terkadang untuk bangkit dan menjadi terang memang rasanya sulit untuk dilakukan ketika keadaan terasa begitu sulit, banyak masalah yang menekan bahkan beban berat yang dialami. Tetapi Firman Tuhan melalui Yesaya mengingatkan kita bahwa orang percaya menjadi terang, bukan karena kita adalah terang, tetapi karena terang Tuhan yang telah menyinari kita. Oleh karena itu, ketika kita mau hidup menjadi berkat bagi orang lain, jangan andalkan dirimu sendiri, tapi andalkan terang kasih Allah yang akan memampukan kita semua.
Ingatlah ungkapan Yesus dalam Matius 5:16 “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”.
Tuhan Yesus dimuliakan dalam setiap hal yang kita lakukan, amin.







































