
Syalom,
Saudara-saudara yang diberkati Tuhan,
Jemaat mula-mula adalah sekumpulan orang Yahudi yang sebelumnya tidak percaya kepada Yesus Kristus namun menjadi percaya ketika mereka mendengar khotbah Petrus diatas bukit. Hati mereka terbuka menerima firman Tuhan bahkan mereka memberi diri untuk dibaptis. Alkitab mencatat ada kira-kira tiga ribu jiwa yang dibaptis pada saat itu,
dan semuanya adalah hasil pekerjaan Roh Kudus.
Tak hanya berhenti disitu, Roh kudus terus bekerja dengan sungguh luarbiasa dalam kehidupan jemaat mula-mula. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan, tiap-tiap hari mereka berkumpul dalam bait Allah untuk belajar firman, mereka memecahkan roti dan berdoa, bahkan mereka rela menjual harta milik untuk dibagikan kepada sesama yang membutuhkan. Hasilnya, kehidupan keberimanan mereka tersorot oleh banyak orang, mereka disukai dan makin banyak yang menjadi percaya kepada Yesus Kristus.
Firman hari ini menunjukkan empat fondasi penting dalam kehidupan beriman yang harus ditekuni yaitu: pengajaran rasul-
rasul, persekutuan, memecahkan roti bersama dan doa. Keempat elemen ini bukan pilihan, melainkan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi secara seimbang. Pengajaran rasul-rasul memberikan fondasi doktrin/ajaran yang benar, persekutuan membangun hubungan yang saling menguatkan, memecahkan roti mengingatkan kita pada pengorbanan Yesus Kristus dan doa menjadi jembatan
komunikasi dengan Tuhan Allah. Kata “bertekun” menunjukkan bahwa mereka melakukan ini secara konsisten, rajin, bersungguh-sungguh dan tidak mudah menyerah. Mereka memahami bahwa pertumbuhan rohani memerlukan komitmen sampai akhir hayat dikandung badan.
Saudara-saudara yang diberkati Tuhan,
memang di zaman sekarang ini kita sulit untuk menjumpai jemaat yang cara hidupnya masih sama seperti jemaat mula-mula. Sudah banyak terjadi pergeseran mengenai cara hidup jemaat. Sudah banyak yang berubah dan diubah. Ini konsekuensi dari perkembangan zaman, di era digital saat ini teknologi semakin canggih, kesibukan pekerjaan dengan berbagai profesi yang menyita banyak waktu, tapi juga ada faktor-faktor lainnya, baik dari diri sendiri atau juga dari luar. Akhirnya, membuat jemaat semakin hidup individualistis. Ada yang sudah jarang hadir dalam persekutuan beribadah dan lebih memilih menonton khotbah atau streaming ibadah-ibadah lewat youtube, rajin belajar firman namun lemah dalam persekutuan. Ada yang memang sama sekali sudah tidak aktif dalam persekutuan dengan berbagai alasan.
Ada yang aktif dalam persekutuan namun lemah dalam doa dan belajar firman secara pribadi, bahkan lemah dalam hal kepedulian terhadap sesama.
Menjadi tantangan bagi kita hari ini adalah memeriksa kembali ketekunan kita sebagai orang beriman. Apakah kita masih memberi waktu untuk belajar Firman Tuhan? Apakah kita masih terlibat aktif dalam persekutuan baik di gereja, di kolom, di BIPRA dan di ibadah-ibadah lainnya?
Apakah kita masih menjadikan doa sebagai sarana utama membangun hubungan yang intim dengan Tuhan Yesus?
dan apakah kita masih memiliki kepedulian untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan?
Saudara-saudara yang diberkati Tuhan,
kehidupan jemaat mula-mula menginspirasi kita semua tentang bagaimana sesungguhnya kehidupan keberimanan yang harus ditunjukkan. Kita diajarkan untuk “bertekun” dalam pengajaran firman, belajar firman setiap hari. Sebab firman Tuhan memiliki kekuatan untuk mengubah hidup.
Kita diajarkan untuk “bertekun” dalam persekutuan, beribadah bersama baik di gereja, di kolom, di BIPRA dan di ibadah-ibadah lainnya. Sebab kehidupan kristen yang otentik itu bersifat komunal, bukan individual. Kita tidak bisa menjadi Kristen yang matang sendirian. Kita memerlukan komunitas yang mendukung pertumbuhan rohani kita. Kita harus membangun persekutuan dan kesatuan bersama dengan orang percaya lainnya.
Kitapun diajarkan untuk “bertekun” di dalam doa. Sebab doa menjaga relasi kita dengan Tuhan, membuat kita terus bertumbuh secara rohani, dan dapat memperoleh kekuatan dalam menghadapi pergumulan hidup.
Selanjutnya hasil dari ketekunan itu harus nampak dalam tindakan sehari-sehari kita dengan adanya kasih kepada sesama, ada rasa peduli dan mau berbagi pada siapa yang membutuhkan. Sehati sepikir, sebeban sepenanggungan. Dilakukan dengan gembira dan tulus hati. Itu adalah iman yang sejati.
Kehidupan orang beriman layaknya sekelompok burung yang terbang dalam formasi yang indah, yang tidak terbang sendiri-sendiri melainkan tetap bersatu dalam satu tujuan yang sama. Ketika satu burung kelelahan, yang lain akan mengambil posisi di depan untuk memecah angin. Ketika ada yang tertinggal, seluruh kelompok akan memperlambat tempo hingga semua dapat mengikuti. Semua bergerak dalam harmoni yang sempurna, berbagi beban perjalanan yang panjang.
Begitu juga kehidupan orang beriman layaknya sekelompok semut yang bekerja sama memindahkan makanan. Meskipun makanan itu jauh lebih besar dari tubuh mereka, namun dengan bekerja bersama-sama, mereka berhasil membawanya ke sarang. Tidak ada yang berebut atau mementingkan diri sendiri. Semua bekerja untuk kepentingan bersama.
Arti dari semuanya ini adalah adanya kesatuan hati yang lahir dari iman yang sejati dan terwujud dalam persekutuan yang memuliakan Allah, dan yang mencintai firman-Nya. Teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Persekutuan yang sejati bukan sekedar konsep rohani atau ideal yang muluk, tetapi adalah panggilan untuk bertindak, untuk hidup dengan cara yang mencerminkan kasih Yesus Kristus dalam hubungan nyata sehari-hari. Persekutuan yang sejati lahir dari keinginan untuk saling berbagi, saling mendukung dan saling menguatkan dalam perjalanan iman.
Saudara-saudara yang diberkati Tuhan,
oleh karena itu marilah sebagai orang beriman kita bukan hanya kristen KTP tapi benar-benar kristen yang sesungguhnya.
Mari terus bersekutu bersama dengan orang percaya lainnya, membangun kesatuan dan persatuan di dalam Tuhan. Milikilah hati yang senantiasa mau mendengar dan menerima firman Tuhan. Hati yang terbuka pada pengajaran firman-Nya. Jangan mengeraskan hati hanya karena faktor diri sendiri atau orang lain. Nampakkanlah kasih dalam kehidupan sehari-hari lewat kepedulian terhadap orang lain, dan tetaplah berdoa dalam situasi dan kondisi apapun. Mintalah agar Roh Kudus terus bekerja dalam hati kita, memimpin menuntun dan memampukan kita melakukan semua yang baik dan benar sesuai dengan kehendak-Nya.
Buatlah kehidupan keberimanan kita jadi khotbah yang nyata bagi semua orang. Bersaksi melalui cara hidup yang sesuai dengan firman-Nya. Satu tindakan nyata, lebih bermakna daripada seribu kata yang tidak diaktualisasikan. Jadilah teladan bagi semua orang lewat kasih, sukacita dan ketulusan yang kita tunjukkan, bukan sekedar hanya untuk disukai orang saja tapi agar supaya makin banyak orang yang mengenal Yesus Kristus dan menjadi percaya kepada-Nya. Buatlah diri kita sendiri jadi sarana penginjilan ditengah-tengah dunia ini. Jadilah berkat maka kitapun akan diberkati, dan akan terus dipakai Allah sebagai alat-Nya untuk menarik jiwa-jiwa kepada-Nya. Kiranya Tuhan Yesus menolong kita semua, Amin.




















