
Syalom…Saudara yang diberkati Tuhan
Dalam Perjanjian Lama kitab-kitab terbagi atas tiga bagian: Hukum, Kitab Para Nabi, dan Tulisan-Tulisan. Termasuk dalam bagian ketiga ialah kitab-kitab Syair dan Hikmat seperti Ayub, Mazmur, Amsal, dan Pengkhotbah. Amsal merupakan hikmat para bijak yang terilhamkan. Istilah Ibrani mashal, yang diterjemahkan “amsal”, bisa berarti “ucapan” orang bijak, “perumpamaan”, atau “peribahasa berhikmat”. Hikmat dari kata Ibrani Khokhma diartikan kebijaksanaan, keahlian, pengetahuan. Pengajaran hikmat dalam kitab ini menjadi petunjuk mengembangkan kemampuan untuk hidup dengan baik dan bijaksana di bumi milik Tuhan. Hikmat bermula dari takut akan Tuhan (Amsal 1:7).
Amsal 14:26-35 ini merupakan kumpulan hikmat untuk menguatkan memberikan kita pandangan Ketika kita memiliki hikmat, maka kita mampu mengambil keputusan dengan tepat. Ada bebrapa hal yang bisa kita renungkan dari pembacaan saat ini:
– Ayat 26-27 Takut akan Tuhan Allah fondasi hidup orang percaya, ungkapan Takut akan Tuhan pada ayat ini adalah bukan bentuk kita merasa takut terhadap orang lain karena mungkin perawakannya atau takut ketika kita berada di situasi yang gelap, atau lain sebagainya. Namun kata Takut disini adalah bentuk penghormatan kita kepada Tuhan Sang pemilik hidup. Dengan takut akan Tuhan, maka kita akan mendapatkan ketentraman, rasa damai dan aman, kita mendapatkan perlindungan, dan paling utama kita melekat pada sumber hidup. Ibarani sebuah pohoh, kita bertumbuh dan melekat pada aliran air yang memberikan kesejukan, kita takut ketika kemarau panjang datang, dan kita terus ada dalam pemeliharan kasih-Nya.
– Ayat 28-31 Karakter yang dihasilkan dari Hikmat, ketika kita takut akan Tuhan, maka akan menghasilkan hikmat, hikmat ini jugalah yang akan membentuk kehidupan kita, terutama hati kita. Ayat 30 mengatakan ‘Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang’. Posisi kita ada dimana? Hati yang penuh dengan ketenangan, atau hati yang selalu dikuasai oleh amarah? Mari sejenak kita merenungkan ini, terkadang karena situasi-situasi yang sulit akibat persoalan hidup baik di keluarga, disekitar kita, bahwa dalam pekerja serta pelayanan, kita sering muda marah, ketika kita sekalian memiliki hati yang tenang maka pasti ada jalan keluar disana. Teringat satu ungkapan “jangan pernah mengambil keputusan ketika sedang marah” ini juga bisa menunjukkan sikap kita. Ayat 29 “Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan. Menjadi perhatikan kita sekalian, kita sekalian sering berada diposisi mana
– Ayat 32-35 Setiap keputusan pasti ada konsekuensinya, ungkapan dalam ayat 32 ‘Orang fasik dirobohkan karena kejahatannya, tetapi orang benar mendapat perlindungan karena ketulusannya’ merupakan gambaran sikap hidup, ketika kita memiliki ketulusan hati, maka kita akan mendapatkan berkat. Meski terkadang hidup kita diperhadapkan dengan berbagai tantangan, namun tantangan itulah yang akan menguatkan kita. Jangan jadikan tantangan sebagai batu sandungan, tapi jadikan tantangan itu sebagai batu loncatan agar kita mampu terus melangkah kedepan, dan mampu menjadi kesaksian bagi sesama dalam menjalani kehidupan ini.
Saudara yang diberkati Tuhan, pembacaan kita saat ini mengajak kita untuk Takut akan Tuhan sebagai wujud syukur dan penghormatan kita kepada Tuhan, dari situ kita akan mendapatkan hikmat untuk menjalani hari-hari hidup kita, walau terkadang masalah hidup datang seperti kereta api sambung-menyambung namun kita tetap berpegang teguh kepada Tuhan. Ia akan memberikan kita kebenaran, ketentraman, dan perlindungan.
Bahkan juga bagaimana kita memakai media sosial kita untuk menjadi berkat dan sebagai alat kesaksian bagi orang banyak, meski kita lihat akhir-akhir ini gesekan-gesekan intoleran mulai bermunculan kembali, ditengah kita mempersiapkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-80 tahun, mari kita doakan juga bagi Bangsa kita ini. Wujud dari Takut akan Tuhan adalah juga kita mendoakan Bangsa kita ini ditengah keberagaman suku, ras, budaya dan agama, selalu tercipta kebersamaan dan rasa kekeluargaan yang tinggi, dan terutama kita yang ada di Sulawesi Utara mari terus menjadi pelopor ke-bineka-an untuk menunjukkan kepada Bangsa wujud kita takut akan Tuhan dan juga wujud dari kita beragama adalah untuk membangun kehidupan bersama dalam situasi hidup Rukun dan Damai. Semoga hikmat yang berasal dari pada Tuhan hadir dalam kehidupan kita sekalian. Amin





















