
Bangsa Israel adalah budak yang baru saja diselamatkan, berkemah, dan baru saja menyelesaikan pembangunan tempat ibadah mereka. Mereka sekarang diberitahu bahwa mereka akan segera berbaris menuju tanah yang telah dijanjikan kepada mereka lebih dari empat ratus tahun sebelumnya. Tanah itu akan menjadi milik mereka. Tetapi di situlah letak masalahnya: Mereka tidak bersenjata dan tidak terlatih untuk melakukan lebih dari sekadar membuat batu bata! Bagaimana mungkin mereka dapat menaklukkan bangsa lain dan merebut tanah mereka?
Kitab Bilangan sering dianggap sebagai “buku data” karena banyaknya angka. Lebih daripada “Bilangan” kata Ibrani untuk kitab ini adalah Bemidbar, yang berarti “di padang gurun”. Padang gurun yang dimaksud bukan hanya tempat perpindahan geografis, tetapi tempat pembentukan karakter. Di sini, Allah mengorganisir umat-Nya sebelum melangkah ke Tanah Perjanjian. Tuhan Allah mempersiapkan umat-Nya kepada keteraturan dan ketaatan, serta setia pada hukum, belajar tata cara keimanan dan bagaimana umat harus hidup sehingga umat yang dahulunya tertindas menjadi kudus milik Tuhan.
Kitab Bilangan dibuka dengan satu kalimat penting: “Tuhan berfirman”, dimana Tuhan memerintahkan Musa menghitung orang Israel berdasarkan kaum dan suku. Ini menunjukkan bahwa Tuhan mengenal umat-Nya secara pribadi (nama demi nama) dan menginginkan kehidupan yang terorganisir. Kasih sayang Allah kepada bangsa Israel tampak dalam firman-Nya kepada Musa di padang gurun Sinai untuk menghitung semua laki-laki yang berumur 20 tahun ke atas dan yang sanggup berperang serta menunjuk pendamping Musa dan Harun, yaitu para kepala suku Israel. Sensus bukanlah tugas yang mudah, sehingga Tuhan menyediakan orang lain untuk membantu Musa. Seorang pilihan (ayat 16) dari setiap suku, yang merupakan “kepala keluarga leluhurnya” dan yang merupakan “pemimpin suku leluhurnya” dan salah satu “kepala klan Israel”.
Setiap orang dihitung, setiap nama berarti, setiap suku dicatat. Mengapa? Karena Tuhan sedang membentuk suatu komunitas yang teratur, siap untuk perjalanan, dan siap untuk tugas perjanjian-Nya. Ini bukan sekadar hitungan administratif, tetapi sebuah panggilan ilahi untuk menyadari tanggung jawab umat Israel sebagai bagian dari umat Tuhan yang terhitung. Dimata Tuhan, setiap umat Israel memiliki nilai dan peran yang spesial, bukan sekadar angka statistik.
Musa kemudian mengumpulkan semua kepala suku dan seluruh umat Israel berkumpul kemudian mulai Menyusun silsilah keluarga. Lalu dihitunglah jumlah umat yang masuk dalam kategori untuk menjadi “Laskar Israel” dan hasilnya adalah sebanyak 603.550 orang. Pencatatan ini bukan hanya menunjukan dari mana dia berasal tapi juga menunjuk pada kesiapan secara fisik dan mental, serta spiritualitas untuk berperang dan melanjutkan perjalanan menuju tanah Perjanjian.
Kita melihat satu hal yang unik, merujuk pada pengecualian sensus bagi Suku Lewi. Tuhan mengecualikan suku Lewi dari sensus karena Dia memiliki tugas lain untuk mereka. Tugas itu tidak kalah berat dan, bahkan, dalam beberapa hal, terbukti lebih sulit. Orang-orang Lewi diberi tanggung jawab untuk membawa, merawat, berkemah di sekitar, membongkar, dan mendirikan kembali tabernakel yang baru dibangun (ayat 50-53). Jika ada yang melanggar dengan menodai tabernakel, mereka harus dihukum mati (ayat 51). Hal ini menunjukan bahwa setiap orang memiliki peran yang spesifik dan penting di hadapan Allah, Suku Lewi tidak ikut berperang, tetapi mereka memiliki tugas krusial. Ini bukan berarti mereka lebih rendah atau lebih tinggi, melainkan memiliki peran yang berbeda. (Jumlah Suku Lewi dalam hitungan Bilangan 1:1-54 adalah 625.550 orang)
Pasal ini ditutup dengan kalimat: “Orang Israel berbuat demikian; tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah diperbuat mereka. Saudara-saudara, Kunci Keberhasilan adalah Ketaatan yang tepat. Keberhasilan bangsa Israel melewati padang gurun bergantung sepenuhnya pada presisi mereka mengikuti perintah Tuhan. Bangsa Israel menunjukkan ketaatan penuh tanpa kompromi, melakukan segala yang diperintahkan Tuhan kepada Musa.
Saudara-saudara,Tuhan menyebutkan satu per satu suku Israel, lengkap dengan jumlahnya. Ini menunjukkan bahwa Tuhan adalah Allah yang teliti dan setia.Tuhan bukan hanya melihat jumlah orang, tetapi memperhatikan setiap pribadi dan setiap peran.
Bangsa Israel ada dalam Ketaatan, mereka mengizinkan dirinya untuk dihitung, bahkan mereka tidak banyak bertanya apa maksud dari tindakan pendataan tersebut dan apa yang akan mereka hadapi di masa depan, tetapi mereka bertindak dengan setia pada saat itu. Bagaimana mereka memulai perjalanan, begitulah seharusnya kita sebagai warga Gereja melanjutkanya.
Perjalanan umat Israel bukan dimulai dari keinginan manusia, tetapi dari inisiatif Allah sendiri. Allah ingin menata kehidupan kita, demi kebaikan. Allah mau agar semua hidup terdata dan teratur, agar supaya pelayanan tepat pada sasaran. Identitas sangat dibutuhkan agar supaya baik umat Israrel maupun kita sebagai warga Gereja, turut merasakan status sebagai Umat Pilihan Allah, dan tidak lagi menjadi budak.
Sebagai Gereja, kita memiliki janji Allah tentang “Tanah” masa depan. Kita memiliki janji bahwa kerajaan-Nya akan datang dalam kepenuhannya suatu hari nanti, dan kita pun yang percaya pada Yesus Kristus sudah dihitung dan dicatat dalam kitab kehidupan untuk masuk dalam Kerajaan-Nya. Tugas kita adalah Bersiap dan Berjuang di dunia ini. Kita perlu berjuang keluar dari kegagalan kita sendiri yaitu perbuatan Dosa, melawan segala bentuk kejahatan dan berusaha taat kepada Tuhan.
Kita harus berbaris dan terus berjuang dalam perjuangan iman. Tuhan sudah menentukan panggilan untuk kita masing-masing menurut kapasitas kita dan kehendak-Nya. Setiap panggilan yang dianugerahkan-Nya bagi kita itu unik dan mulia. Ia mengenal nama kita, Ia mengetahui kemampuan kita, dan Ia menempatkan kita dalam “suku” yaitu keluarga dan gereja bahkan dunia untuk suatu tujuan. Tanggung jawab kita dalam keluarga bukanlah kebetulan, melainkan panggilan yang Tuhan percayakan.
Amin




















