
Bapak/Ibu/Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan,
Pada hari yang penuh makna ini kita tidak sekadar mengikuti sebuah perayaan tahunan, tetapi kita sedang berdiri di hadapan sebuah kebenaran yang mengubah arah kehidupan manusia selamanya, yaitu bahwa kubur itu kosong, bahwa Ia tidak ada di sana, dan bahwa Yesus telah bangkit, sebuah kabar yang mungkin terdengar sederhana, namun sesungguhnya mengguncang seluruh dasar ketakutan, keputusasaan, dan kematian itu sendiri.
Bayangkanlah pagi itu, ketika beberapa perempuan berjalan menuju kubur dengan langkah yang berat dan hati yang hancur, membawa rempah-rempah bukan karena mereka berharap sesuatu yang ajaib akan terjadi, tetapi justru karena mereka menerima kenyataan bahwa semuanya telah berakhir, bahwa Yesus yang mereka kasihi telah mati, dan bahwa harapan mereka telah dikuburkan bersama tubuh-Nya, namun ketika mereka tiba di sana, realitas yang mereka temui justru bertolak belakang dengan apa yang mereka yakini, karena kubur itu terbuka dan tubuh Yesus tidak ada di dalamnya, dan alih-alih langsung bersukacita, mereka justru diliputi oleh rasa takut, karena seringkali ketika Tuhan bekerja dengan cara yang tidak kita mengerti, reaksi pertama kita bukanlah iman, melainkan kebingungan dan ketakutan.
Itulah sebabnya Yesus berkata kepada mereka, “Jangan takut,” sebuah kalimat yang tidak hanya ditujukan kepada perempuan-perempuan itu pada waktu itu, tetapi juga berbicara kepada kita hari ini, kepada setiap hati yang mungkin sedang berdiri di depan “kubur kosong” dalam hidup, ketika kita merasa ada harapan yang mati, doa yang belum terjawab, masa depan yang terasa gelap, dan kita mulai bertanya dalam diam, “Tuhan, Engkau di mana?”, tanpa kita sadari bahwa justru di tengah kekosongan itulah Tuhan sedang bekerja dengan cara yang baru, cara yang belum kita pahami, tetapi penuh dengan kehidupan.
Seringkali kita mengira bahwa kubur kosong adalah tanda kehilangan, padahal sebenarnya kubur kosong adalah tanda bahwa Tuhan telah bertindak, bahwa Ia telah melakukan sesuatu yang melampaui logika kita, dan bahwa apa yang kita anggap sebagai akhir ternyata hanyalah permulaan dari karya-Nya yang baru, sama seperti seseorang yang telah lama hidup di dalam penjara, yang suatu hari mendapati bahwa pintu selnya telah terbuka, bahwa ia sebenarnya sudah bebas, namun ia tetap duduk di dalamnya karena hatinya masih terikat oleh ketakutan, oleh kebiasaan lama, oleh keraguan untuk melangkah keluar.
Bapak/Ibu/Saudara-saudari yang terkasih,
Mari kita simak Bersama sebuah ilustrasi sederhana namun sangat kuat, yaitu dari seorang pelukis bernama David Garibaldi, yang dikenal dengan gaya melukisnya yang cepat, penuh energi, dan sering kali diiringi musik yang kuat sehingga setiap sapuan kuasnya terasa seperti sebuah pertunjukan, bukan sekadar proses melukis biasa.
Dalam salah satu penampilannya, ia mulai melukis di atas kanvas kosong, dan sejak awal sampai hampir akhir, tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti apa yang sedang ia buat, karena yang terlihat hanyalah garis-garis acak, warna-warna yang tampak tidak teratur, bahkan terkadang seperti tidak memiliki makna sama sekali, sehingga orang yang melihat mungkin mulai bertanya-tanya, “Apa sebenarnya yang sedang dilukis?” Dalam satu video pelukis bernama David Garibaldi ini, hanya dengan garis-garis acak dan warna yang tidak teratur, membuat orang-orang yang melihat cara melukisnya bingung, apa yang dilukisnya ? Tapi ketika kanvas lukisannya dibalikkan yang di atas menjadi di bawah, lukisannya baru terpampang jelas yaitu wajah Tuhan Yesus.
Mungkin pada awalnya kita sama seperti orang-orang yang menyaksikan lukisan itu, karena semakin lama gambar tersebut tetap belum jelas dan justru terlihat seperti kekacauan, sampai pada satu titik di akhir ketika kanvas itu diputar, dan dalam sekejap semuanya menjadi jelas, karena yang sebelumnya tampak tidak berarti ternyata membentuk wajah Yesus yang begitu nyata.
Bapak/Ibu/Saudara-saudari yang terkasih,
Bukankah seringkali hidup kita juga terasa seperti lukisan itu, di mana kita hanya melihat potongan-potongan yang tidak kita mengerti, pengalaman yang terasa acak, doa yang seolah tidak dijawab, harapan yang tampak berantakan, dan kita mulai merasa bahwa semuanya tidak memiliki arah dan tujuan, seolah-olah Tuhan tidak sedang melakukan apa-apa dalam hidup kita, padahal sebenarnya Ia sedang berkarya.
Paskah mengajarkan kepada kita bahwa apa yang kita lihat sekarang bukanlah gambaran utuh, bahwa akan ada saatnya Tuhan “membalikkan” semuanya, dan kita akhirnya melihat bahwa di balik setiap garis yang tidak kita pahami, di balik setiap warna yang tampak kacau, sebenarnya Tuhan sedang membentuk sesuatu yang indah, sesuatu yang penuh makna, sesuatu yang membawa kita semakin dekat kepada-Nya, dan kubur yang kosong itu adalah seperti momen ketika kanvas itu dibalik, ketika apa yang sebelumnya kita anggap sebagai akhir dan kekacauan ternyata adalah bagian dari rencana Tuhan yang lebih besar, rencana yang menghadirkan kehidupan, harapan, dan kemenangan.
Karena itu, ketika hari ini kita berdiri di hadapan kubur kosong dan mendengar bahwa Ia tidak ada di sana, bahwa Ia telah bangkit, kita diingatkan bahwa hidup kita pun ada di tangan Tuhan yang sama, Tuhan yang mampu mengubah kekacauan menjadi keindahan, kematian menjadi kehidupan, dan keputusasaan menjadi pengharapan.
Namun saudara-saudari, meskipun kemenangan itu sudah dinyatakan, seringkali kita masih hidup seperti orang yang belum bebas, masih terkurung dalam rasa takut, rasa bersalah, dan keraguan, seolah-olah Yesus masih berada di dalam kubur, padahal kubur itu sudah kosong, dan kubur kosong itu terus berseru kepada kita bahwa kematian bukanlah akhir, bahwa kegelapan tidak pernah menang, dan bahwa harapan tidak pernah benar-benar mati.
Maka, melihat saja tidak cukup, karena iman tidak berhenti pada apa yang kita lihat, melainkan dimulai ketika kita memilih untuk percaya, ketika kita berani melangkah melampaui logika dan berkata bahwa jika Yesus sungguh telah bangkit, maka hidup kita pun tidak bisa tetap sama, dan dari situlah panggilan itu datang, ketika Yesus berkata, “Pergilah dan katakanlah,” sebuah undangan sekaligus perintah yang menunjukkan bahwa kebangkitan bukan hanya untuk dirayakan secara pribadi, tetapi untuk dibagikan kepada dunia.
Perempuan-perempuan itu tidak tinggal diam di kubur, mereka tidak menjadikan pengalaman itu sebagai sesuatu yang disimpan sendiri, melainkan mereka pergi dan menjadi saksi, karena orang yang sungguh-sungguh mengalami kebangkitan tidak akan mampu untuk tetap diam, ia akan membawa harapan ke tengah keputusasaan, ia akan menguatkan yang lemah, ia akan menjadi terang di tengah kegelapan, dan ia akan menghidupi imannya dalam setiap langkah kehidupannya.
Dengan demikian kita mulai melihat bahwa setelah kubur kosong itu dinyatakan, “Ia tidak ada si sini” ada sebuah pertanyaan besar yang muncul di dalam hidup kita, yaitu: apa yang kita lakukan setelah melihat kubur kosong itu, apakah kita tetap tinggal dalam ketakutan, atau kita berani melangkah dalam iman.
Kubur kosong itu mengajak kita untuk berpindah dari ketakutan menuju iman, dari keraguan menuju kepercayaan, sebab seperti perempuan-perempuan itu, kita pun seringkali pertama-tama merasa takut, namun Yesus tetap berkata kepada kita, “Jangan takut,” mengingatkan bahwa apa yang kita anggap sebagai kehilangan sebenarnya adalah tanda bahwa Tuhan sedang bekerja dengan cara yang baru.
Kubur kosong itu juga menjadi panggilan untuk percaya, karena ia menyatakan bahwa kematian bukanlah akhir, bahwa kegelapan tidak menang, dan bahwa harapan tidak pernah mati, sehingga iman bukan hanya soal mengetahui, tetapi soal memilih untuk percaya di tengah ketidakpastian.
Lebih dari itu, kubur kosong itu menjadi panggilan untuk bergerak, karena Yesus berkata, “Pergilah dan katakanlah,” yang berarti bahwa kita dipanggil untuk membawa harapan, menguatkan yang lemah, dan menjadi terang, sebab orang yang mengalami kebangkitan tidak bisa hidup dalam diam.
Dan akhirnya, kubur kosong itu adalah undangan untuk bertemu dengan Yesus yang hidup. Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup bukan Tuhan yang mati. karena Ia berkata bahwa mereka akan melihat Dia, yang berarti bahwa inti dari Paskah bukan hanya tentang sebuah peristiwa, tetapi tentang perjumpaan yang hidup, hubungan yang nyata, di mana kita tidak hanya mengetahui tentang Dia, tetapi mengalami kehadiran-Nya setiap hari.
Saudara-saudari yang terkasih, pada hari ini kita juga diingatkan akan Perayaan Hari Anak GMIM, dan mungkin justru melalui anak-anaklah kita kembali diajar tentang bagaimana seharusnya kita merespons kabar kebangkitan ini. Dalam sebuah perayaan paskah sekolah minggu, anak-anak ditanya apa yang mereka pahami tentang Paskah? Beberapa anak menjawab: Telur, ada juga yang menjawab: cokelat, namun seorang anak dengan sederhana berkata bahwa Paskah berarti Yesus bangkit dan karena itu kita tidak perlu takut lagi, maka di situlah kita melihat iman yang murni, iman yang tidak rumit, iman yang percaya tanpa syarat, iman yang seringkali hilang ketika kita menjadi dewasa dan mulai dipenuhi oleh logika, ketakutan, dan keraguan.
Hari ini Tuhan mengundang kita bukan hanya untuk memahami kebangkitan dengan pikiran kita, tetapi untuk menerimanya dengan hati yang sederhana, hati yang percaya seperti anak-anak, hati yang berani berharap lagi, hati yang mau melangkah keluar dari “kubur-kubur” dalam hidup kita sendiri, dan hidup sebagai orang-orang yang telah mengalami kuasa kebangkitan itu.
Dan sekarang, mari kita membawa semuanya ke dalam refleksi yang jujur di hadapan Tuhan: apakah kita masih hidup dalam ketakutan, padahal Yesus sudah bangkit; apakah kita benar-benar percaya, atau hanya sekadar tahu; apakah kita berani melangkah dan menjadi saksi kebangkitan; apakah kita sungguh hidup bersama Yesus setiap hari; dan apakah kita masih memiliki hati seperti anak-anak yang tulus dan percaya?
Bapak/ibu/Saudara-saudari yang saya kasihi dalam Tuhan,
Pada akhirnya kita semua diundang untuk mengambil keputusan, meninggalkan ketakutan, memilih untuk percaya, berani melangkah, dan hidup sebagai saksi kebangkitan, karena kabar itu tidak pernah berubah, tidak tergantung keadaan, tidak tergantung perasaan kita: Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit, dan karena itu hidup kita tidak akan pernah sama lagi, dan seperti lukisan yang tadi kita renungkan, mungkin hari ini hidup kita masih terlihat seperti garis-garis yang belum jelas, seperti warna-warna yang terasa kacau dan belum membentuk apa-apa, namun kita percaya bahwa di tangan Tuhan, seperti dalam karya David Garibaldi, akan tiba saatnya semua itu “dibalikkan”, dan kita akhirnya melihat bahwa tidak ada satu pun bagian hidup kita yang sia-sia, karena semuanya sedang Tuhan pakai untuk membentuk sesuatu yang indah, sesuatu yang penuh makna, dan sesuatu yang menyatakan bahwa Dia hidup, Dia bekerja, dan Dia tidak pernah meninggalkan kita.
Selamat Paskah, Tuhan yang hidup menyertai kita. AMIN.




















