Ditulis oleh : Pdt. Ratnasari Keren Aruperes S.Th – Pendeta Jemaat GMIM Yordan Likupang Kampung Sombong, Wilayah Likupang Satu
Syalom… Damai Dihati!
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, Surat Paulus yang pertama kepada gereja di Korintus memberi kita suatu pandangan realistis dari gereja mula-mula. Seperti gereja-gereja masa kini, umat pada abad pertama ini memiliki masalah dan kekurangannya sendiri. Paulus menghadapi berbagai masalah ini secara langsung dalam upaya untuk membuat gereja menjadi saksi yang lebih efektif bagi Yesus Kristus.
Dalam pasal 1:18-31, Paulus menyatakan bahwa orang yang mengikuti kemauan dan keinginannya sendiri atau dalam bagian Firman ini dikatakan Hikmat manusia, maka akan selalu berakhir dalam pertentangan atau pertengkaran dengan yang lain. Paulus menasehati supaya orang Korintus seharusnya mencari kebijaksanaan dari Allah atau Hikmat Allah untuk membantu mereka mencapai kesatuan dan kedamaian.
Secara umum dalam KBBI hikmat adalah kebijaksanaan, yaitu kepandaian menurut akalbudi yang membuat orang mampu untuk mengambil keputusan dengan tepat. Namun di sini penulis memberikan dua perbandingan tentang pengertian dari hikmat antara hikmat Allah dan hikmat Manusia.
Hikmat Allah atau dalam bahasa ibrani : Hokmah adalah kemampuan Ilahi yang berasal dari Allah, diberikan oleh Allah sendiri untuk menerapkan kebenaran Firman-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan Hikmat ini bersumber dari “Takut akan Tuhan” (Amsal 1:7). Artinya, jika kita hidup takut akan Tuhan, maka Tuhan Allah akan memberkati kita dengan hikmat-Nya supaya kita tidak salah dalam menjalani kehidupan. Sedangkan hikmat manusia, hanya berdasarkan pemahaman mereka sendiri melalui kemampuan berpikir dan bertindak berdasarkan pengalaman pribadi.
Saudara-saudara, dalam Firman Tuhan disaat ini, Paulus memberikan gambaran bagaimana dia memberitakan Injil dan Salib Kristus: Bukan dengan hikmat perkataan (ay.17) dan kata-kata hikmat yang meyakinkan (2:4) atau bukan dengan kefasihan yang berbunga-bunga atau dengan kecermatan bahasa filsafat yang dengan itu orang-orang Yunani membanggakan diri mereka dan yang tampaknya menjadi kebanggaan khas dari beberapa pemimpin kelompok di dalam jemaat yang sangat memusuhi Paulus.
Ia tidak memberitaakan Injil seperti tertulis di atas, supaya salib Kristus jangan sampai menjadi sia-sia dan jangan ada anggapan bahwa keberhasilan Injil berasal dari kehebatan seni bicara manusia dan bukan dari kebenaran. Paulus telah mendidik dirinya sendiri di bawah kepemimpinan Gamaliel dalam pengajaran bangsa Yahudi. Namun dalam pemberitaan Salib Kristus ia mengesampingkan semua pengajarannya itu.
Paulus memberitakan Yesus yang disalibkan dengan bahasa yang jelas, memberitahukan kepada orang-orang bahwa Yesus yang disalibkan di Yerusalem adalah Anak Allah dan Juruselamat manusia, dan bahwa semua orang yang ingin diselamatkan harus bertobat dari dosa-dosa mereka dan percaya kepada-Nya, serta tunduk kepada pemerintahan dan hukum-hukum-Nya.
Saudara-saudara, pemberitaan yang jelas mengenai Yesus yang disalibkan lebih kuat daripada semua kefasihan berbicara dan filsafat dunia kafir ini. Dari pemberitaan Paulus, pengaruh pemberitaan Injil ini berbeda-beda. Bagi mereka yang akan binasa, pemberitaan tentang Salib adalah kebodohoan, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah (ay.18). Bagi orang Yahudi batu sandungan dan untuk orang-orang yang bukan Yahudi suatu kebohongan. Tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah.
Berita tentang Salib tidak hanya mencakup hikmat dan kebenaran, tetapi juga Kuasa Allah yang aktif yang diturunkan untuk menyelamatkan, menyembuhkan, mengusir setan-setan dan membebaskan dari kuasa dosa.
Saudara-saudara, persoalan yang terjadi dalam gereja atau jemaat di Korintus menunjukkan cara mereka merespon kebenaran berita Injil sebagai pencapaian intelektual belaka. Kemudian Paulus mengingatkan bagaimana seharusnya jemaat menerima kebenaran Injil. Pertama-tama ia menegaskan berita Injil sebagai kekuatan Allah (ay.18). Injil tidak berbicara tentang karya dan pencapaian manusia. Karena injil sejati merupakan karya Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus, melalui karya Salib-Nya. Paulus menguraikan inti dari Injil (1:18-25), tentang gereja (1:26-31) dan pelayanan pekabaran Injilnya (2:1-5). Ketiga hal ini berpusat pada Yesus, Mesias yang disalibkan dan Juruselamat.
Saudara-saudara, iman Kristen tidak mengenal kasta. Paulus berkata, “supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri dihadapan Allah” (ay.29). Paulus sangat menekankan hal ini dalam konteks persoalan atau perpecahan yang terjadi di sana. Injil yang diberitakannya bukanlah pameran kata dan hikmat. Bagi Paulus, Injil adalah keyakinan tentang kekuatan Roh. Paulus mengacu kepada keadaan mereka sebelum dan setelah dipanggil Allah. Bisa dikatakan, kondisi mereka sangat biasa. Namun mereka menjadi saksi bahwa Injil berkemampuan untuk mengubah.
Di era digital saat ini kita mungkin sering melihat diberbagai macam sosial media ada banyak orang, entah orang awam yang tidak memiliki basic teologi ataupun yang memiliki latar belakang teologi sering membagi-bagikan unggahan video-video mereka yang memberikan pengajaran-pengajaran tentang kekristenan, kemudian kita begitu mudah terpesona dengan kemampuan ataupun kepandaian mereka. Namun sesungguhnya, kelebihan tersebut adalah hampa jika tidak dipersembahkan untuk kemuliaan Allah.
Untuk itu kita perlu rela untuk merendahkan diri dihadapan Kristus. Jangan mencuri kemuliaan Allah dengan menonjolkan diri kita sehingga mendapat pujian dari manusia, melainkan kita harus meninggikan salib Kristus di atas apapun di dunia ini. Karena hanya Yesus sajalah satu-satunya Allah yang hidup yang layak untuk menerima sembah dan pujian kita umat- Nya. Tuhan Yesus meberkati kita. Amin.
























