
Saudaraku yang dikasihi Tuhan, Syalom! Damai dihati…
Penggalan dari sebuah lagu Isteri Yang Teramat Baik, Paras yang cantik hanya sesaat dan sia-sia tetapi isteri yang taat pada Tuhan akan selalu mendapat pujian. Setiap lirik dari lagu ini mengungkapkan tentang bagaimana seharusnya seorang isteri di dalam keluarga. Untuk memahami lebih dalam tentang isteri yang teramat baik, isteri yang cakap, isteri yang takut akan Tuhan maka sebagai warga GMIM kita dituntun dari bacaan Firman dalam kitab Amsal 31:10-31.
Kitab Amsal dipahami sebagai jenis karya sastra hikmat. Kitab ini dikategorikan sebagai kitab syair. Kitab-kitab syair dalam Perjanjian Lama dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu: Kelompok bersifat lirik dan dapat dinyanyikan dengan iringan musik seperti: Mazmur, Kidung Agung dan Ratapan. Kitab syair yang dikelompokkan sebagai syair yang mendidik seperti: Amsal dan Pengkhotbah. Amsal juga berisi tulisan yang bermakna tentang didikan, arahan, nasihat dan juga bagaimana untuk tetap memperoleh hikmat.
Amsal 31:10-31 merupakan puisi akrostik, yakni jenis puisi yang terdiri dari 22 baris dengan menggunakan alpha-bet Ibrani secara berurutan. Puisi ini bersifat mendidik dan merupakan sebuah petunjuk atau nasihat dari seorang ibu kepada putranya. Memperhatikan struktur dari penulisan Amsal 31:10-31 berpola akrostik dimana setiap ayat dimulai dengan huruf-huruf alphabet Ibrani yang berurutan. Puisi ini menggambarkan harapan orang Israel tentang perempuan yang menjadi isteri yang berharga. Amsal 31:10-31 merupakan bagian dari perkataan Lemuel raja Massa. Bagian ini tidak bisa dipisahkan dari Amsal 31:1-9. Puisi akrostik Amsal 31:10-31 tidak dapat dipisahkan dengan keterangan dari ayat-ayat sebelumnya (ayat 1-9). Sembilan ayat pertama merupakan pengantar yang tidak bisa dipisahkan secara terputus dengan ayat 10-31, karena merupakan bagian yang integral dari akrostik.
Selain sebagai puisi hikmat yang menggambarkan sosok perempuan berhikmat, teks Amsal 31:10-31 juga mencerminkan realitas sosial perempuan Israel kuno. Penelitian sejarah sosial menunjukkan bahwa perempuan dalam teks ini bukan sekadar digambarkan secara ideal, tetapi juga berakar pada peran nyata perempuan dalam masyarakat, khususnya pada periode pasca-pembuangan ketika keluarga kembali menjadi pusat kehidupan sosial dan spiritual. Karena itu, gambaran perempuan yang bekerja, mengelola rumah tangga, berdagang, membeli ladang, dan menolong orang miskin bukan hanya metafora rohani, tetapi juga mencerminkan kapasitas dan kontribusi perempuan dalam kehidupan ekonomi, domestik, dan sosial bangsa Israel.
Perempuan dalam teks ini memiliki status sosial yang kuat. Gambaran tentang kekuatan, kemuliaan, dan hari depan yang dipercayakan kepadanya bukan hanya berbicara tentang kualitas batin, tetapi juga menunjukkan bahwa perempuan ini dipandang sebagai pribadi yang memiliki wibawa, kemampuan mengambil keputusan dan peran penting dalam keberlangsungan keluarga. Teks ini juga tidak boleh dipahami sekadar sebagai gambaran ideal tanpa konteks, tetapi sebagai cerminan bagaimana hikmat Allah dinyatakan melalui perempuan yang sungguh bekerja dalam keseharian. Dengan demikian, teks ini mengajarkan bahwa Takut akan Tuhan yang dimiliki perempuan tersebut adalah sumber kebijaksanaan yang memampukan dia menjalankan peran-peran strategis dalam keluarga dan masyarakat.
Ada beberapa bagian yang dapat dijelaskan dari perikop ini. Ayat 10-11 kepercayaan dari suami terhadap isteri yang cakap. Ayat 13-20 menguraikan apa yang dilakukan atau perbuatan dari istri yang cakap. Ayat 21-27 istri yang merawat rumah tangganya. Ayat 28-31 pujian diberikan terhadap istri yang cakap oleh mereka yang menerima manfaat dari pekerjaan dan perhatiannya.
Wanita cakap adalah gambaran kesatuan karakter iman, kerja keras, kasih dan takut akan Tuhan. Orang yang cakap tidak hanya relevan untuk perempuan, tetapi juga menjadi model hidup orang beriman (rajin, peduli, bijak, takut Tuhan). Dalam tradisi Kristen, teks ini sering dilihat sebagai gambaran jemaat atau umat Allah yang setia kepada Tuhan. Nilai seorang wanita bukan diukur dari kecantikan fisik melainkan dari karakter, hikmat dan takut akan Tuhan. Dan istri yang cakap adalah berkat bagi keluarga dan masyarakat. Ayat 30 berkata: kemolekan adalah bohong, kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan TUHAN dipuji-puji. Kemolekan atau pesona adalah daya tarik luar. Sementara kecantikan adalah penampilan fisik. Keduanya fana. Tetapi takut akan Tuhan adalah inti kualitas perempuan sejati.
Untuk memahami peran perempuan sebagai mitra yang kuat, berdaya dan berharga dalam kehidupan umat Allah. Teks ini mengokohkan bahwa perempuan memiliki kapasitas sosial, ekonomi dan spiritual yang penting dalam membangun kehidupan yang selaras dengan kehendak Tuhan. Dengan menempatkan perempuan sebagai figur yang dihormati karena “takut akan Tuhan” teks ini menegaskan bahwa kualitas kerohanian dan kebijaksanaan perempuan adalah fondasi yang memampukan mereka menjalankan fungsi strategis dalam keluarga maupun komunitas. Bagian ini juga mengingatkan bahwa gambaran ideal ini bukan dimaksudkan sebagai beban moral atau standar perfeksionis, tetapi sebagai visi yang menuntun umat Tuhan kepada pemahaman yang benar mengenai karya dan panggilan perempuan dalam terang hikmat Allah. Wanita Kaum Ibu dipanggil untuk melihat dalam diri masing-masing sebagaimana gambaran ideal yang dihadirkan dalam Amsal 31:10-31. Mereka bukan sekadar pelengkap dalam keluarga atau organisasi gereja, tetapi subjek yang diberdayakan oleh Allah untuk mengambil peran aktif dalam menopang keluarga, serta menegakkan nilai-nilai hikmat. Dalam semangat perempuan Amsal 31:10-31 yang mampu mengelola rumah tangga sekaligus menjalankan aktivitas ekonomi, Wanita Kaum Ibu dipanggil untuk memandang usaha, kreativitas dan kerja keras sebagai bagian dari ibadah dan pelayanan.
Ketekunan dalam menjaga hubungan yang harmonis dalam keluarga dan menopang ekonomi rumah tangga adalah wujud nyata dari hikmat Allah yang bekerja melalui tangan mereka. Lebih jauh lagi, sebagaimana perempuan dalam Amsal 31:10-31 memengaruhi reputasi suaminya di pintu gerbang dan dihormati oleh komunitasnya, demikian pula Wanita Kaum Ibu GMIM dipanggil untuk menjadi sumber moralitas, keteladanan dan integritas dalam konteks sosial. Kehadiran WKI di tengah jemaat dan masyarakat untuk menghadirkan perubahan melalui kebijaksanaan dan ketulusan hidup.
Saudaraku.. Di usia ke-88 tahun Wanita Kaum Ibu GMIM, kita dapat melihat kembali perjalanan panjang pelayanan ini dan mensyukurinya sebagai wujud kesetiaan Allah yang terus menuntun. Momentum ini menjadi kesempatan untuk memperteguh identitas sebagai perempuan yang “takut akan Tuhan,” yang menjadi dasar seluruh tindakan dan sikap hidup.
Dengan demikian, kitab Amsal 31:10-31 ini mengarahkan Wanita Kaum Ibu GMIM untuk menegaskan kembali jati diri sebagai perempuan berhikmat yang kuat, kreatif, berpengaruh dan setia kepada Tuhan. Perayaan HUT ke-88 bukan hanya peringatan sejarah, tetapi bagaimana untuk terus menghidupi nilai-nilai hikmat dalam realitas masa kini, sehingga kehidupan keluarga, gereja dan masyarakat semakin mencerminkan kemurahan dan kebijaksanaan Allah yang bekerja melalui tangan-tangan perempuan yang takut akan Tuhan. Motto WKI GMIM: Tulus dan Setia, Kuat dan Cerdas, Berani Bertindak. Motto ini mencerminkan Isteri yang “Takut Akan Tuhan”. Isteri yang mampu menjadi teladan, isteri yang terus menopang suami, memberi perhatian kasih bagi anak-anak dan isteri yang terus menyadari tentang hidup yang harus bergantung kepada Tuhan. Sebagai orang beriman marilah kita terus mewujudnyatakan iman kita dalam setiap tindakan-tindakan yang nyata, membawa berkat dalam kehidupan keluarga dan lingkungan sekitar kita, menjadi orang-orang yang berhikmat untuk terus menjadi terang dan menjadi teladan bagi sesama. Hidup adalah anugerah, maknailah perjalanan hidup kita dengan melakukan kebaikan, jadilah berkat untuk banyak orang, pasti pemeliharaan Tuhan akan menjadi bagian kita hari ini, esok dan selamanya. Tuhan Yesus memberkati, Amin!

























