Syalom! Damai di hati! Jemaat Tuhan,
Ada seorang siswa yang tiba-tiba viral karena penemuannya yang luar biasa. Ketika didaulat berpidato ia berkat, “Wah, sesungguhnya ini bukan karena saya, tetapi ini karena ide guru saya. Dialah yang menugaskan saya untuk proyek ini!” Mentalitas “kerendahan” seperti ini mungkin jarang kita temukan. Karena di era digital ini orang cenderung ingin mencari perhatian dan popularitasnya sendiri. Ingin dapat “jempol” yang banyak, ingin siaran langsungnya ditonton orang, followernya bertambah, akun meningkat, bahkan kalau bisa capai fyp atau viral di media sosial. Berbeda dengan Yohanes pembaptis, banyak follower dan viral pada masanya. Ia sendiri menegaskan posisinya hanya sebagai pembuka jalan. Ia hanyalah pembawa berita dari Tuhan Allah. Sikap Yohanes pembaptis menegaskan bahwa pemberita janganlah lebih besar dari isi berita. Ia hanyalah penginjil dan bukan Injil itu sendiri.
Jemaat Tuhan,
Memang sangat menarik kalau kita menyimak teks hari ini. Sekilas seperti ada persaingan ritual dan popularitas antara Yesus Kristus dan Yohanes pembaptis. Secara naratif, perbedaan itu diungkapkan dalam kontras dengan adanya dua tokoh: Yesus Kristus dan Yohanes pembaptis; dua tempat: Yudea dan Ainon; dua kelompok murid: murid Yesus Kristus dan murid Yohanes pembaptis. Kisah ini berawal dari pertanyaan seorang Yahudi yang memicu rasa kecemburuan murid-murid Yohanes pembaptis. “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.”
Maka muncullah semacam ketakutan bahwa guru mereka yang duluan membaptis di Yordan akan kehilangan reputasi. Karena kini orang-orang beralih atau pindah dan pergi kepada Yesus Kristus. Coba kalau pengalaman ini terjadi juga dalam kehidupan jemaat kita. Mungkin reaksi kita jauh lebih parah dari para murid Yohanes pembaptis. Karena ketika ada kelompok lain semakin banyak didatangi orang dan kelompok kita semakin kurang orang, maka ada saja perasaan tersaingi atau cemburu.
Jemaat Tuhan,
Dalam konflik inilah makna penting firman Tuhan hari ini mau ditekankan, bahwa justru dalam hal inilah Yohanes pembaptis menunjukkan siapa dirinya dan siapa Yesus Kristus. Popularitas yang sementara dia nikmati dengan banyak murid dan pengikut tidak kemudian membuat ia lupa pada apa tugas yang dipercayakan Tuhan Allah kepadanya. Dalam ayat 28, sangat jelas Yohanes pembaptis mengingatkan para muridnya bahwa dia bukan Mesias. Jawaban yang sama telah ia berikan kepada imam dan orang Lewi, “Aku bukan Mesias” (1:20). Jadi sejak awal pemunculannya, katakanlah sejak ketika ia belum ada pengikut, bahkan sampai ketika ia sudah banyak pengikut; komitmen penginjilannya tidak berubah: “Aku ini cuma utusan.” Yohanes pembaptis begitu mantap dan lugas berbicara tentang misinya supaya orang jangan sampai salah paham dan gagal fokus. Dia ada agar orang kemudian dapat mempersiapkan diri untuk tertuju kepada Yesus Kristus dan menerima-Nya.
Jemaat Tuhan,
Harus diakui secara manusiawi, godaan terhadap pengaruh, popularitas, kuasa, dan lain sebagainya sangat menarik. Orang dapat saja mengenyampingkan misi awalnya ketika akhirnya apa yang dibangunnya mulai berhasil. Dulu, waktu gereja masih kecil, fasilitas masih sangat terbatas, anggota masih sedikit, maka demi pelayananan pengorbanan para pelayan begitu amat hebat. Tetapi ketika gereja sudah besar, jemaat sudah banyak, fasilitas berlimpah; maka semangat pengorbanan semakin menipis, malah ada yang minta balas jasa, minta insentif, minta penghargaan dan lain sebagainya.
Jemaat Tuhan,
Marilah kita belajar dari Yohanes yang dengan kerendahan hati tetap berkomitmen mengabdi pada panggilan awalnya. Dia tidak tergoda, dia tidak merasa cemburu atau iri hati ketika banyak orang kemudian pergi kepada Yesus Kristus. Bisa jadi awalnya orang-orang ini yang berbondong-bondong mengikutinya, tetapi sekarang mereka meninggalkan dan pergi kepada Yesus Kristus. Sikap dan perkataan Yohanes pembaptis sesungguhnya sudah jelas, bahwa dalam pelayanan dan penginjilan, tidak ada ruang untuk kecemburuan, tidak ada ruang untuk berkompetisi atau bertanding! Karena apa? Tujuannya cuma satu, yaitu untuk kemuliaan Yesus Kristus. Jangan karena kita berhasil membuat seseorang bertobat, dua orang jadi percaya, tiga orang jadi anggota jemaat; maka kemudian kita merasa unggul dan kemudian mengganggap remeh pelayan lainnya. Kita merasa selalu paling hebat, paling pintar, paling jago. Hati-hati! Jangan sampai kita digolongkan pada orang yang mengalami superiority complex atau orang yang merasa diri lebih unggul dan tak segan merendahkan orang di sekitarnya. Orang-orang seperti ini sudah pasti narsis dan berpusat pada dirinya.
Jemaat Tuhan,
Alkitab menyaksikan ada tokoh-tokoh yang mengalami hal ini, misalnya Nebukadnezar yang hebat tetapi karena merasa paling berkuasa akhirnya mengalami akhir hidup yang tragis (Dan. 4). Atau kepada raja Uzia yang kuat dan berhasil tetapi kemudian melanggar kekudusan Bait Suci (2 Tawarikh 26:16-19). Atau Haman yang karena merasa pejabat tinggi tidak bisa mengakui pelayan rendah seperti Mordekhai (Ester 3:5-6).
Orang-orang yang tidak bisa mengakui kehebatan atau keberhasilan orang lain sesungguhnya adalah toxic (racun) dalam pelayanan dan penginjilan. Mereka tanpa sadar telah dibutakan oleh iblis yang memang selalu menjadi aktor dari kegagalan anak-anak Tuhan. Oleh karena itu, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bagaimana seharusnya kita merendahkan diri dan mengakui kemakuasaan Tuhan Allah dalam pelayanan dan penginjilan. Kita harus waspada pada bahaya “kemuliaan” dalam pelayanan. Yohanes pembaptis sadar akan hal itu, karena itu cepat-cepat dia menegaskan: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Jangan terbalik! Karena ketika pelayanan kita bagus, orang memuji, kita lupa diri. Ketika penginjilan kita berdampak, ada orang jadi percaya, kita merasa jago sendiri. Kalau saudara merasa pemberian diri saudara untuk Tuhan Allah dan diberkati-Nya, maka jangan jadi pencuri kemuliaan Tuhan Allah.
Jemaat Tuhan,
Kita harus meyakini bahwa perayaan HUT PI/PK hari ini membuktikan lagi tentang kemuliaan Yesus Kristus yang telah dialami dan disaksikan oleh orang-orang percaya yang hidup di tanah Minahasa. Hari ini kita tidak sedang merayakan kehebatan Riedel dan Schwarz yang mengubah wajah Minahasa. Atau penginjil lainnya, termasuk pada pendiri jemaat, guru jemaat dan pelayan-pelayan yang hebat di masa lampau. Mereka tentu saja tidak lebih penting dari Yesus Kristus. Karena, walaupun mereka sangat berjasa, mereka sudah lama tiada, namun Yesus Kristus terus hidup di hati dan prilaku orang percaya dari dulu, sekarang dan nanti. Hari ini, kita bersyukur boleh merayakan anugerah dan kasih Yesus Kristus kepada orang-orang di tanah Minahasa, maka segala kemuliaan, kuasa dan hormat hanya bagi Dia, Juruselamat dunia. Amin.



































