ALASAN PEMILIHAN TEMA:
Manusia tidak mungkin lepas dari Allah sebagai pencipta dan tidak mungkin lepas juga dari ciptaan lainnya. Manusia yang hidup sebagai makhluk sosial sangat bergantung pada hubungan dengan ciptaan lainnya. Apabila satu dari keutuhan ini lepas, maka tidak dapat lagi disebut sebagai keutuhan ciptaan Allah. Hal lain yang meruntuhkan keutuhan ciptaan Allah adalah hilangnya kesadaran akan pentingnya peran manusia dalam menjaga lingkungan sekitar.
Sementara itu, kita hidup di era Society 5.0 di mana teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri yang membuat manusia lebih mementingkan industri dan teknologi yang mengabaikan dampaknya terhadap lingkungan alam sekitar. Realitas ini membuat manusia mengabaikan tanggung jawabnya untuk mengusahakan dan memelihara ciptaan lainnya. Peran dan tanggung jawab tersebut merupakan mandat dari Tuhan Allah kepada manusia ciptaan-Nya. Dengan kata lain, manusia mempunyai tanggung jawab yang signifikan dalam rangka mengusahakan dan memelihara alam ciptaan tempat dimana manusia itu hadir. Oleh karena itu di minggu ini kita akan merenungkan Firman Tuhan dalam Kejadian 2:8-17 di bawah tema “Manusia Mengusahakan dan Memelihara Taman Eden”
PEMBAHASAN TEMATIS: Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)
Kejadian 2:8-17 ini menceritakan tentang Allah membuat taman di Eden setelah Allah menciptakan manusia. Eden berarti “kenikmatan”, ‘kesenangan hati’ atau ‘kegembiraan.’ Eden juga diartikan sebagai ‘dataran’ atau ‘padang rumput’. Kata ‘membuat’ (Ibr. way-yiṭ–ṭa‘ dari kata nata’ yaitu menanam, artinya Dan dia akan menanam), menunjukkan tanaman-tanaman serta pohon-pohon ‘ditanam’ oleh Allah di Eden. Ini menjelaskan mengapa Allah membuat taman di Eden yaitu untuk manusia usahakan dan pelihara, sesuai dengan pasal 2:5 yang pada dasarnya belum ada semak atau tumbuh-tumbuhan dan belum ada orang untuk mengusahakan taman itu. Taman berasal dari kata Ibrani gan artinya taman atau tempat tertutup (enclosure: tempat tertutup, kandang, pagar, lampiran, tanah berpagar). Gan menunjukkan satu taman dengan batasan yang dikhususkan bagi manusia untuk diusahakan dan dipelihara.
Dalam ayat 9 menunjukkan Allah yang menumbuhkan tanaman yang di taman tersebut. Allah menumbuhkan berbagai pohon yang menarik, baik dan buahnya dapat dimakan. Kata ‘menumbuhkan’ berasal dari kata Ibrani way-yaṣ-maḥ dari kata tsāmach yang berarti untuk menumbuhkan atau bertumbuh, artinya Tuhan Allahlah yang menumbuhkan pohon-pohon itu. Kata menarik (Ibr. neḥmāḏ dari kata chāmad) yang berarti diinginkan atau dinikmati. Kemudian kata (Ibr.mar’eh yang berarti penglihatan atau penampilan) yang artinya menarik bagi mata. Kedua, pohon kehidupan (Ibr. ets hakhayim) yang berada di tengah taman tersebut, memiliki beberapa makna simbolik yaitu yang menunjukkan sumber atau asal kehidupan umat Israel juga dilambangkan sebagai taurat yang menjadi titik sentral kehidupan umat Tuhan. Ketiga, pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat (Ibr. ets hadaat tov vara). Pengetahuan (Ibr. daath berarti pengetahuan, ketrampilan, kebenaran), sedangkan baik dari kata tov artinya baik, menyenangkan, diterima dan jahat dari kata ra’ artinya jahat, buruk. Jadi yang baik menunjuk pada segala yang berkenan kepada Allah, sedangkan yang jahat menunjuk pada segala yang tidak berkenan pada Allah.
Ayat 10-14, Penciptaan Tuhan Allah tidak berhenti di situ. Ia juga membuat air mengalir dari Eden untuk manusia dan seluruh ciptaan. Ayat 10 diawali kata wə-nā-hār dari kata Ibrani nā-hār berarti sebuah aliran atau sungai. Selanjutnya kata yō–ṣê berasal dari kata yatsa yang berarti untuk pergi atau keluar dari, menunjukkan air yang keluar dari taman di Eden. Sungai itu membasahi (Ibr. lehashqot yang berarti untuk mengairi) taman itu. Mata air yang keluar dari taman di Eden menjadi 4 aliran sungai yaitu sungai Pison, Gihon, Tigris dan Efrat. Nama Pison berarti ‘untuk melompat atau melewati,’ Sungai Pison yang mengalir ke Hawila (Artinya lingkaran atau daerah), menunjukkan bahwa tempat itu melimpah dengan hasil bumi yang berupa emas, damar bedolah dan batu krisopras. Ini semua menggambarkan kelimpahan dan kemakmuran yang disiapkan Tuhan Allah bagi manusia. Sungai Gihon berarti ‘air yang menggelegak atau memancar keluar. Dari arti dan dimana air ini mengalir menggambarkan kelimpahan dan kuasa penciptaan Tuhan. Sungai ketiga adalah Tigris dari bahasa Ibrani khid-deh’-kel berarti hiddekel atau nama kuno sebuah sungai di Mesopotamia. Tigris dikaitkan dengan kekuatan dan kemuliaan karena mengalir ke arah tanah yang dikenal sebagai pusat dari kekaisaran besar yaitu Asyur dan Babel. Sungai ini menggambarkan aliran hikmat dan pengetahuan yang berasal dari Tuhan, mengalir ke bangsa-bangsa dan memperluas pemahaman akan kuasa Tuhan di seluruh dunia. Yang keempat, yaitu Efrat dari bahasa Ibrani per-awth’ yang berarti sebuah sungai di Asia Barat dan arti lain menerobos dan bergegas. Sungai ini menggambarkan peradaban dan pertumbuhan karena di tepi sungai inilah beberapa peradaban pertama yang besar berkembang di dunia. Sungai ini juga melambangkan keabadian dan kelanjutan kehidupan, karena sungai ini memberikan kehidupan untuk pertanian dan menopang kehidupan banyak bangsa. Penekanan pada tempat menunjukkan air yang mengalir ke empat arah mata angin (bnd. Yes. 11:12, Yeh. 37:9, 1 Taw. 9:24). Sungai Efrat mengalir ke utara (Yer. 46:6, 10), Tigris ke Timur (Kej. 2:10), Pison ke Selatan, yaitu ke Hawila daerah padang pasir Arab (Kej. 10:7, 29; 25:18; 1 Sam. 15:7) dan terakhir Gihon yang mengarah ke Barat, Mesir atau Etiopia. Dari hal ini menggambarkan Allah yang menciptakan dan memelihara, memberikan air yang mengalir bukan hanya di Eden, atau untuk orang Israel namun untuk seluruh bangsa dan ciptaan lainnya untuk memberi kehidupan dalam satu keutuhan ciptaan.
Ayat 15, Tuhan Allah kemudian mengambil dan menempatkan manusia di taman itu untuk ‘mengerjakan’ dan ‘memeliharanya.’ Manusia (Ibr, adam) yang berarti manusia atau umat manusia. Itu berarti tugas mengerjakan dan memelihara adalah tugas bersama seluruh umat manusia. Kata mengusahakan dari kata Ibrani leavedah dari avodah yang berarti mengolah, mengerjakan atau melayani. Hal ini merupakan tujuan dari mengapa Allah menyediakan segala sesuatu kemudian menempatkan manusia di tempat itu. Yaitu untuk mengolah, melayani atau mengerjakan serta memelihara taman itu. Selanjutnya kata ‘memelihara’ (Ibr. ū-lə-šā-mə-rāh. dari kata shāmar berarti untuk menjaga, memelihara, mengawasi atau melestarikannya). Hal ini menunjukkan bahwa bekerja yang didalamnya mengolah dan memelihara adalah tanggung jawab manusia sejak ia diciptakan. Kerja dan mengusahakan serta memelihara alam bukanlah nanti diberikan ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Panggilan untuk bekerja ini merupakan hakekat dari manusia itu sendiri.
Dalam ayat 16-17, Tuhan Allah memberi perintah bahwa manusia dapat memakan buah dari semua pohon yang ada di taman itu. Semua buah dipastikan boleh di makan. Tetapi manusia juga dilarang untuk memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Sebab bila hal itu dilakukan maka pastilah mereka akan mati. Sekarang yang dibutuhkan adalah ketaatan kepada perintah Allah. Ketidaktaatan akan membawa manusia pada kepastian kematian dan ketaatan akan membawa manusia pada kepastian kehidupan.
MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN
- Tuhan Allah yang sejak awal menciptakan, juga adalah Dia yang menumbuhkan dan menganugerahkan segala sesuatu bukan hanya untuk manusia sendiri namun untuk seluruh ciptaan, artinya yang menjadi pusat dari segala sesuatu bukan tentang kehidupan manusia atau alam, namun berpusat pada Tuhan Allah yang adalah pencipta dan pemelihara.
- Manusia diciptakan terlebih dahulu dan kemudian taman di Eden dibuat. Segala sesuatu yang diciptakan dari awal adalah untuk manusia kerjakan dan pelihara, namun kasih Allah pada manusia nyata ketika taman yang terdapat segala sesuatu dibuat. Taman yang juga dikiaskan sebagai kandang atau tempat yang dibatasi oleh pagar ini merupakan bagian yang dikhususkan Tuhan Allah untuk manusia. Dengan kata lain, Tuhan Allah mempersiapkan tempat untuk manusia dan hidupnya sehingga manusiapun dapat membangun hidupnya di tempat dimana ia dihadirkan.
- Tanggung jawab manusia yang pertama adalah mengerjakan dan memelihara ciptaan lainnya, dan ini adalah bentuk ketaatan.Inilah mandat yang yang juga merupakan panggilan dari Tuhan Allah bagi manusia ciptaan-Nya. Manusia bukan hanya tinggal menikmatinya saja tetapi dipanggil untuk dapat mengolah dan mengerjakan taman yang dapat menopang hidupnya. Panggilan untuk bekerja ini merupakan hakekat manusia ciptaan Tuhan Allah. Bekerja dan mengolah alam bukankah sebuah kutukan yang membuat kita harus berkeluh kesah melainkan panggilan luhur yang harus dikerjakan sebagai bentuk pelayanan kepada Tuhan Allah.
- Ketaatan akan membuat kita tetap ‘hidup’ dan ketidaktaan akan membuat kita tetap ‘mati.’ Ketaatan bukan hanya pada tugas mengerjakan tetapi juga tugas memelihara. Baiklah kita mengerjakan apa yang seharusnya kita kerjakan yaitu alam tempat kita tinggal dan memeliharanya agar kita tetap hidup bersama seluruh ciptaan lainnya.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:
- Apa yang saudara pahami “Manusia Mengusahakan dan Memelihara Taman Eden menurut Kejadian 2:8-17?
- Mengapa manusia diberi tanggungjawab untuk mengusahakan dan memelihara alam dan ciptaan lainnya?
- Bagaimana peran gereja untuk mengusahakan dan memelihara alam dan ciptaan lainnya?
NAS PEMBIMBING: Kolose 1:16
POKOK-POKOK DOA:
- Memohon agar warga GMIM dapat melakukan tugasnya sebagai manusia untuk mengerjakan dan memelihara tanah, lingkungan dan ciptaan lainnya.
- Memohon agar warga GMIM dapat berjalan bersama Kristus dengan tidak mengandalkan diri sendiri hingga memancarkan terang yang juga memberi kehidupan bagi semua ciptaan.
- Memohon agar warga GMIM tetap taat dan setia melakukan perintah Tuhan.
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK III
NYANYIAN YANG DIUSULKAN:
Nyanyian Masuk: NKB No. 7 Nyanyikanlah Nyanyian Baru
Nas Pembimbing: KJ No. 60 Hai Makhluk Alam Semesta
Pengakuan Dosa: KJ No. 29 Di Muka Tuhan Yesus
Berita Anugerah Allah: KJ No. 394 Betapa Indah Harinya
Ses Pengakuan Iman: KJ No.46 Besarkan Nama Tuhan
Persembahan: KJ. No.289 Tuhan, Pencipta Semesta
Penutup: DSL No.176 Musim Penuaian
ATRIBUT Warna Dasar Hijau dengan Simbol Salib dan Perahu di atas Gelombang.

























