Wanita Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Kita semua mengakui, betapa penting arti hidup berkeluarga. Selain untuk anggota keluarga sendiri atau keluarga besar, keluarga memberi kontribusi yang besar pada tatanan hidup yang lebih luas, entah itu gereja, masyarakat maupun bangsa. Bagi kita masing-masing, keluarga menjadi tempat bernaung, tempat berlindung, tempat bertanya, tempat meminta nasihat, tempat membagi suka-duka, tempat berbagi segala kisah, cinta dan cerita yang terjadi dari waktu ke waktu. Sebab, siapakah yang paling kita andalkan dan percayai di tengah segala tantangan hidup? Pertama adalah Tuhan. Dan juga, pada orang-orang yang paling dekat dalam kehidupan kita. Tentu setiap anggota keluarga memiliki cara untuk mengungkapkan kasih sayang, kesabaran, komitmen, ketegasan, nasihat, kerja keras dan segala yang baik, demi kebaikan dan kebahagiaan setiap anggota keluarga.
Hari ini, kita semua menjadi saksi dari apa yang sedang dialami dan dibagikan oleh Wanita Kaum Ibu GMIM, manakala Wanita Kaum Ibu GMIM boleh merayakan Hari Ulang Tahun Ke-88. Di lingkungan keluarga, gereja dan masyarakat W/KI sangat berperan aktif membangun, memelihara dan menjaga keutuhan hidup keluarga. Lebih jauh dari itu, Para W/KI telah mencatatkan namanya dalam berbagai konsep dan pemikiran yang mewarnai perjalanan gereja. Apa yang ia sikapi, tuturkan dan laksanakan menjadi jejak pelayanan yang sangat memberi arti bagi GMIM selaku institusi maupun persekutuan orang percaya. Juga bagi kalangan gereja-gereja oikumenis lainnya, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Sebagian besar hidup W/KI GMIM didarma baktikan dalam lingkungan keluarga, gereja dan masyarakat. Atas semuanya itu, layaklah kita ucapkan: puji syukur kepada Yesus Kristus, Juruselamat dan Kepala Gereja yang menghadirkan isteri, ibu, mama dan mengutusnya di tengah dunia ini, dalam berbagai konteks dan realitas kehidupan.
Wanita Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Saat ini kita kembali merenungkan Firman Tuhan dari Kitab Amsal tentang seorang perempuan yang “tangguh”. Ia tangguh dalam banyak hal. Kita menyaksikan seorang perempuan pemimpin, seorang yang memiliki beragam karakter yang patut diteladani oleh perempuan manapun pada zaman apapun. Ia ideal pada masanya, tapi juga dari penceritaan Amsal, tetap ideal pada masa kita. Ia mengetahui seluk-beluk keadaan rumahnya, ia mengenal setiap orang dalam rumahnya, ia terampil dalam memenej pengelolaan rumah tetapi juga orang-orang yang seatap dengannya (ay 15). Ia orang yang memiliki kemampuan berbicara, sekaligus bertindak. Ia seorang yang berkata, sekaligus berbuat. Tak salah, kalau dikatakan, ia menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang yang di dekatnya.
Apakah hasil dari segala yang ia nyatakan. Pengamsal berbicara tentang keuntungan ekonomis yang diperoleh dari kerajinan (ay 18). Tapi tidak hanya itu, sang ibu, perempuan ini tidak hanya terpaku pada keuntungan seperti itu, ia sesungguhnya sedang membangun hubungan manusiawi dengan sesamanya, tentang bagaimana seharusnya hidup dan membangun orang lain. Pendek kata, ia sedang melakukan proses “pendidikan” tentang karya dan kehidupan, tentang nilai-nilai hidup dan spiritualitas. Bahwa ketika seseorang melakukan apa yang baik sebagai manusia, entah itu perempuan atau lelaki, maka seseorang telah tampil sebagai yang takut akan Tuhan.
Benarlah, ia disebut seorang isteri yang takut akan Tuhan. Ia memiliki hubungan yang baik dengan Sang Sumber hidup. Hubungan itu tentu dipeliharanya sehingga ia tetap konsisten pada segala kebaikan hidup yang dapat dibuatnya, segala sesuatu yang berada dalam jangkauannya. Tidak hanya bagi orang di dalam rumah, ia mengulurkan tangan bagi orang lain di luar rumah yang membutuhkan bantuannya. Dari hal-hal ini, pastilah ia memiliki sikap lembut, rendah hati yang dipadukan dengan ketegasan dan disiplin mengelola hidup.
Betapa sang suami, telah menerima apa yang terbaik dari komitmen berumah tangga sang isteri. Suaminya amat dihormati “di pintu-pintu” gerbang (ay 23). Tepat benar ungkapan ini: untuk kesuksesan suami, peran isteri sangatlah besar. Tentu saja hal ini berlaku sebaliknya: Untuk keberhasilan isteri, peran suami sangat besar.
Wanita Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Kalau ditanya apa ukuran kesuksesan dalam kaca mata Kristiani, maka sukses berarti melakukan hal-hal yang memuliakan Tuhan. Kata kuncinya adalah pelayanan. Artinya kita sukses, karena dapat melayani dan bekerja dengan sebaik-baiknya untuk sesama kita. Di sana, kita menjadi saluran berkat Tuhan bagi sesama ciptaan.
Nah, kalau kita saksikan isteri, Ibu tetap fit, sehat bugar, masih dengan beragam aktifitas yang dijalani dan ditekuni, kita bersyukur karenanya. Kita anak-anak yang ada di sini adalah hasil penggemblengannya sebagai seorang Ibu, mama dan pendidik dalam keluarga. Sejak awal penciptaan, kehidupan Istri, ibu/mama telah mempersembahkan dirinya selaku tiang doa dan melakukan kewajibannya yang mencintai keluarga suami dan anak-anaknya bahkan melakukan profesinya dengan penuh tanggung jawab. Saya kira, tidak sedikit dari kita sebagai suami tapi juga anak-anak yang memiliki kesan sangat baik pada atas peran mulia sang istri dan Ibu, karena cara bertuturnya yang khas, lemah lembut, bertindak penuh kasih, hidupnya telah di persembahkan dalam kehidupan keluarga dan sesama. Hal ini Nampak juga dari suport dan dorongan suami-anak-cucu tercinta.
Wanita Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Hari ini, segenap keluarga besar W/KI GMIM dan jemaat yang berkumpul, khususnya merayakan HUT W/KI Sinode GMIM yang ke-88. kita semua, merasakan sukacita atas berkat umur panjang bagi para isteri, para ibu-ibu, para oma tercinta di lingkup pelayanan GMIM, yang diwarnai oleh pelayanan tiada henti bagi keluarga, gereja dan masyarakat. Dengan menjejakkan kaki di berbagai tempat kerja, studi dan pelayanan di beberapa tempat. Ini menjadi rangkaian persembahan terindah bagi kemuliaan nama Tuhan. Lalu sesudah ini apa? Apa yang akan dilakukan oleh W/KI GMIM di usia yang terus bertambah ini? W/KI GMIM tentu telah memiliki rancangan dan rencana untuk memajukan pelayanan Gereja ini lewat peran-peran mulia yang terwujud dalam keluarga, terhadap suami dan anak-anak, juga peran melayani gerejanya sebagai tiang doa dan peran melayani bangsa dan negara ini. Tapi yang hendak kita topang bahwa kasih Yesus Kristus yang sudah sejak semula dialami, akan terus menyertai kita.
Ibu-ibu yang kuat, tangguh, cakap. Seiring berjalannya waktu yang makin menyita segenap perhatian untuk keluarga, untuk pekerjaan di luar rumah, untuk pelayanan gereja, maka W/KI tentu harus makin “berhikmat” mengatur waktu. Yang kita syukuri, bahwa panggilan pelayanan itu terus saja ada, kehadiran W/KI GMIM masih sangat dibutuhkan oleh Gereja dan sesama. Dan yang terpenting: KELUARGA.
Bagaimana kasih kepada keluarga itu dinyatakan, suami, anak/cucu, paling mengetahuinya. Betapa kasihnya W/KI sangat besar untuk suami dan anak/cucu, bahkan dalam hubungan dengan sesama.
Tuhan Allah dalam Yesus Kristus yang menambahkan usia W/KI GMIM, tentu akan selalu menganugerahkan kemampuan, kekuatan, penyertaan, pemeliharaan dan berkat yang luar biasa.
Selamat bersyukur, selamat Ulang Tahun ke-88. Amin





















