Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Pada Hari Kepenuhan Roh Kudus kita mengingat peristiwa Kisah Para Rasul 2:4, ketika para murid dipenuhi Roh Kudus dan mulai berkata-kata dalam bahasa yang berbeda-beda. Akan tetapi, sebelum peristiwa di hari Pentakosta itu, Yesus Kristus sudah lebih dahulu menyatakan hakikat penyembahan yang sejati dalam Injil Yohanes 4:24: “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Kepenuhan Roh Kudus bukan hanya soal manifestasi kuasa, tetapi pembaruan cara kita menyembah Tuhan Allah. Hari ini, ketika merayakan Hari Kepenuhan Roh Kudus, kita membaca Yohanes 4 :24-26 berisi pengajaran tentang kebenaran Ketuhanan dan Kemesiasan Yesus Kristus. Tiga ayat ini merupakan bagian dari dialog Yesus Kristus dengan seorang perempuan Samaria. Dialog tersebut awalnya mempercakapkan tema keseharian, yakni bahwa Yesus Kristus haus dan meminta minum pada perempuan Samaria yang baru tiba di sumur. Tema percakapan berkembang menjadi dialog yang dalam, ketika mempercakapkan tentang air hidup. Yesus Kristus berdialog tentang air yang membangun hidup (zon hydor). Yesus Kristus menjelaskan tentang air hidup adalah hidup yang tidak sekedar hidup tetapi menghidupkan.
Yohanes 4: 24-26, percakapan Yesus Kristus dengan perempuan Samaria kemudian berpindah topik, yakni pertama, pada penyembahan terhadap Tuhan Allah dalam Roh dan Kebenaran; kedua, tentang penegasan Yesus Kristus bahwa Dia adalah Mesias. Dialog semakin berkembang, karena Yesus Kristus ingin mengubah pandangan hidupnya dan kekritisan tajam perempuan Samaria menanggapi penjelasan-Nya. Perkataan perempuan Samaria tidak sekadar menanggapi penjelasan Yesus Kristus, tetapi juga menyampaikan pengetahuan tentang keyakinannya. “Jawab perempuan itu kepada-Nya: “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.”
Ayat 24, “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Yesus Kristus menjelaskan bahwa Allah itu Roh, karena itu penyembahan pada-Nya harus dilakukan dalam Roh dan Kebenaran. Kata penyembahan yang digunakan dalam ayat ini, yakni proskynein yang berarti memberi penghormatan dengan semangat penundukan diri pada kehendak Tuhan Allah sebagai bentuk kerendahan hati. Dengan demikian, Yesus Kristus menegaskan bahwa penyembahan pada Allah yang adalah Roh harus dilakukan dengan penghormatan yang sungguh-sungguh, dengan ketertundukan yang khusuk. “Allah itu Roh” artinya Allah tidak dibatasi oleh ruang dan tempat, tidak terikat pada gunung Gerizim atau Yerusalem (konteks percakapan dengan perempuan Samaria). Allah hadir dan bekerja melampaui batas budaya dan tradisi. Penyembahan bukan lagi soal lokasi, tetapi soal relasi. Pada Hari Kepenuhan Roh Kudus, kita diingatkan bahwa dengan Roh Kudus, Tuhan Allah yang transenden (ilahi/supra natural/ h Mahakudus, Mahabesar dan tidak dapat disamakan dengan ciptaan, tidak terbatas oleh dunia ini) dan menjadi yang imanen (manusiawi/natural/tidak jauh, Ia dekat, menyertai dan terlibat) hadir di dalam hati orang percaya.
“Menyembah dalam roh” adalah penyembahan yang digerakkan oleh Roh Kudus, bukan sekadar emosi. Muncul dari hati yang telah lahir baru. Relasi yang hidup dengan Tuhan Allah. Tanpa Roh Kudus, ibadah bisa menjadi rutinitas dan kering. Dengan Roh Kudus, ibadah menjadi perjumpaan jemaat dengan Tuhan Allah. Peristiwa di Kisah Para Rasul 2 menunjukkan bahwa ketika Roh Kudus memenuhi murid-murid: 1.Mereka menjadi berani.2.Mereka dipenuhi sukacita.3.Mereka memuliakan Allah dengan bahasa yang baru. Kepenuhan Roh Kudus bukan hanya pengalaman pribadi, tetapi menghasilkan penyembahan yang hidup dan berdampak. Yesus Kristus berkata, “Akulah Dia” (Mesias) artinya Kebenaran bukan konsep abstrak tetapi kebenaran adalah pribadi Yesus Kristus. Karena itu, Ia mengatakan “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6) Penyembahan dalam kebenaran berarti; 1.Berpusat pada Yesus Kristus. 2.Sesuai dengan Firman Tuhan. 3.Tidak menyimpang dari Injil. Jadi, Roh Kudus tidak pernah bekerja terpisah dari kebenaran Firman. Menyembah dalam Roh tanpa kebenaran menjadi liar. Kebenaran tanpa Roh menjadi kering. Hari Kepenuhan Roh Kudus mengingatkan kita bahwa Roh Kudus dan Firman berjalan bersama. Oleh karena itu, Gereja yang dipenuhi Roh Kudus adalah gereja yang; 1.Mengasihi. 2.Mengampuni. 3.Memberitakan Injil dengan kuasa-Nya.
Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Penegasan Yesus Kristus mengingatkan perempuan Samaria, juga kepada kita, yang tanggap dan intuitif (berpikir mendalam) bahwa penyembahan pada Tuhan Allah yang adalah Roh tidak hanya sekadar tahu dan paham, tetapi harus terwujud dalam sikap tunduk, hormat dan khusyuk. Yesus Kristus mengingatkan kita tentang keharusan diri tetap berada dalam Kebenaran dan Roh. Agar penyembahan pada Tuhan Allah benar-benar menjadi penyembahan yang utuh.
Hari Kepenuhan Roh Kudus bukan hanya perayaan peristiwa sejarah, tetapi panggilan pembaruan. Perbarui hati kita, perbarui cara kita menyembah dan perbarui komitmen kita pada kebenaran Yesus Kristus. Karena, Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam Roh dan Kebenaran. Kiranya Roh Kudus memenuhi kita bukan hanya untuk mengalami kuasa, tetapi untuk hidup dalam pembaruan dan penyembahan yang sejati. Apapun tantangan yang kita hadapi, maka kreativitas megelola hidup kita haruslah mencerminkan hidup yang dijalani dalam penyembahan/ ketertundukan/ penyerahan/kerendahan hati di hadapan Tuhan Alah yang adalah Roh dan Kebenaran. Roh Tuhan ada dalam diri kita melalui peristiwa Kepenuhan Roh Kudus, maka jalanilah hidup yang mencerminkan penyembahan pada Tuhan Allah yang adalah Roh dan Kebenaran. Amin























