Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Puji syukur hanya bagi Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus, Juruselamat, Tuhan dunia dan Kepala Gereja, yang telah membawa Gereja Masehi Injili di Minahasa berada di usia 91 tahun Bersinode. Pada tanggal 30 September 1934 GMIM memproklamirkan diri sebagai gereja mandiri di Tanah Minahasa. Tuhan Allah memakai antara lain Ds. Albertus Zakarias Runturambi Wenas yang berperan untuk kemandirian GMIM. Pada perayaan GMIM berdiri sendiri ia menyampaikan pidato/sambutan mewakili suara jemaat dan pelayan dari Minahasa, katanya, “Telah kami dengar warta indah mulia yang baru-baru diberikan oleh Sri Paduka yang dipertuan Besar Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda bahwa: Kepada Gereja Masehi Injili di Minahasa diluaskan mulai pada waktu yang ditentukan oleh pemerintah Gereja yang tertinggi di Batavia Centrum akan berdiri sendiri atas aturan-aturannya sendiri, di dalam lingkungan Gereja Hindia (Indishe Kerk). Masehi Minahasa menyambut serta menerima akan warta yang indah ini dengan kegembiraan dan syukur, dengan takut dan gentar, dengan doa dan sembahyang. Oleh sebab pada hari ini, 30 September 1934, tercapailah maksud yang telah lama dikandung dalam batin Masehi Minahasa, walaupun dengan kuat dihambat oleh Gereja Hindia. Tercapailah maksud yang kami percaya juga pun dikehendaki oleh Tuhan Allah, yakni Gereja Masehi Injili di Minahasa berdiri sendiri. Atas dasar iman kepada Yesus Kristus, doa-doa jemaat dan pelayan dari Minahasa serta berdasar kasih Tuhan Allah sehingga GMIM berdiri sendiri. ”
Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Dalam perayaan hari Ulang Tahun ke 91 GMIM Bersinode, marilah kita merenungkan firman Tuhan dari Yakobus 1:17-25. Surat Yudas secara keseluruhan adalah peringatan terhadap ajaran sesat dan pengaruh orang-orang fasik di dalam Gereja. Yudas (bukan Yudas Iskariot yang menghianati Yesus Kristus, tetapi Yudas, saudara Yesus Kristus dan Yakobus) menasihati orang percaya agar berjaga-jaga terhadap pengaruh dosa, tetap berpegang pada iman yang benar dan menyelamatkan orang yang mulai tersesat.
Perayaan HUT ke-91 GMIM Bersinode, pada satu pihak, ditandai dengan berbagai pencapaian di segala bidang, tetapi pada pihak lain, masih ditemui adanya warga gereja bahkan Pelayan Khusus yang masih “tidur”, “tidak berjaga-jaga” dan “tidak siuman” menghadapi berbagai pergumulan dan tantangan akibat perkembangan ilmu dan teknologi serta roh zaman kuasa jahat yang semakin mendominasi kehidupan umat manusia. GMIM sedang berada di zaman yang penuh tantangan rohani, sebab dunia semakin dipenuhi dengan kompromi terhadap dosa (permisif), kejahatan dan ajaran yang menyesatkan. Firman Tuhan mengajak kita orang percaya untuk tidak lengah, tetapi justru semakin teguh dalam iman, bertumbuh dalam kasih dan berbelas kasih terhadap sesama. Untuk dapat bertahan menghadapi godaan, tantangan dan acaman terhadap iman, maka orang percaya diingatkan untuk jeli dan peka memahami keadaan yang sedang terjadi. “Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan oleh rasul-rasul Tuhan kita Yesus Kristus.” (ay. 17) Yudas mengingatkan bahwa para rasul telah menubuatkan akan datangnya pencemooh dan orang yang hidup menurut hawa nafsunya dan orang percaya harus berpegang pada ajaran para rasul, bukan pada arus zaman. Karena dunia semakin menunjukkan tanda-tanda penolakan terhadap kebenaran. Mereka yang memecah belah adalah orang duniawi dan tidak memiliki Roh Kudus (ay. 19). Untuk menghadapinya, orang percaya perlu menjaga diri dalam Kasih Allah (Ayat 20–21)
Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Kepada orang percaya dinasihati, “Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.”. Ada empat hal pesan penting bagi orang percaya dari ayat ini: (1). Membangun diri dalam iman yang benar. Pertumbuhan rohani harus jadi prioritas. (2).Berdoa dalam Roh Kudus. Doa yang dipimpin oleh Roh Kudus membawa kita dekat kepada kehendak Tuhan Allah.(3). Memelihara diri dalam kasih Tuhan Allah. (4). Menanti kedatangan Yesus Kristus dengan pengharapan. Jalan kehilangan harapan tetapi hiduplah dalam perspektif kekekalan.
Ayat 22-23. Frasa “Bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” Dalam budaya Ibrani pakaian sering melambangkan kehidupan luar seseorang, yaitu perilaku atau keadaan moral seseorang. Dalam Wahyu 3:4–5, orang-orang percaya yang setia digambarkan memakai pakaian putih, melambangkan kekudusan dan kesucian. ”Dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa” menggambarkan bahwa gaya hidup orang berdosa telah rusak oleh hawa nafsu atau keinginan yang tidak kudus, khususnya nafsu seksual/imoralitas dan pemberontakan terhadap Tuhan Allah. Ayat ini mengamanatkan agar kita tidak membenci orangnya, melainkan membenci dosa yang menajiskan hidup mereka. Firman ini mengajarkan model penggembalaan (pastoral) bahwa orang percaya dan gereja membenci dosa, tetapi tidak membenci orangnya, serta mengasihi jiwa yang berdosa dengan tetap waspada agar tetap menjaga kekudusan saat menjangkau mereka yang terhilang.
Kita dipanggil untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga bertumbuh dan bersinar dalam kasih Tuhan Allah. “Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api.…” Firman Tuhan tidak hanya berbicara tentang orang percaya harus menjaga diri, tetapi juga bagaimana menolong mereka yang goyah imannya dengan cara tidak menghakimi, tapi dekati dengan kasih. Karena dengan demikian orang percaya menyelamatkan saudara hampir jatuh ke dalam api. Artinya orang percaya dan gereja wajib melakukan tindakan proaktif dan penuh belas kasihan.
Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Sambil menatap ke depan, marilah kita sebagai gereja (individu dan institusi) agar tetap teguh berpegang kepada kebenaran dalam setiap keputusan dan tidak menjadi permisif terhadap dosa. Sebab menjangkau mereka yang hidup dalam dosa adalah perintah kasih, tetapi harus dilakukan dengan kebijaksanaan dan batasan rohani yang jelas. Terkadang kita pesimis tak bisa mengubah keadaan, tetapi percalah bahwa dengan berdoa, menunjukkan kasih dan menjadi teladan hidup yang kudus, maka kita dapat memberi secercah terang pengharapan di tengah kegelapan.
Firman Tuhan mengajak kita untuk berjalan dengan kasih yang kudus, penuh belas kasihan, namun tetap tegas terhadap kebenaran. Bagi bagi gereja saat ini dibutuhkan keteguhan iman dan ketajaman rohani. Kita dipanggil untuk hidup dalam kasih, bukan ketakutan. Kita harus menjadi penjaga sesama, bukan hanya penjaga diri sendiri.Tantangan rohani memang besar, tetapi kasih dan kuasa Tuhan Allah lebih besar. Jangan hanya bertahan, tetapi bangkitlah, bertumbuhlah dan berdirilah teguh di dalam iman dan kasih-Nya. Amin





















