Jiwa Terselamatkan dalam Pernikahan
1 Korintus 7:12-16
Kita tidak boleh main-main dalam hal mencari pasangan hidup dan kita harus tahu kelakuan pasangan masing-masing, baik kekurangan maupun kelebihannya. Jangan sekali-kali tergoda untuk mencari pasangan hidup yang tidak seiman karena akan merugikan kehidupan kita.
Firman Tuhan saat ini berbicara tentang orang yang memiliki pasangan hidup yang tidak seiman. Paulus sendiri mengatakan agar kita jangan mencari pasangan hidup yang tidak seimbang (2 Kor. 6:14). Oleh karena itu, ayat 12-14 harus dilihat dalam konteks jemaat Korintus pada waktu itu, yaitu ketika Paulus menyampaikan Firman Tuhan, ada orang-orang yang dulunya sudah menikah (mereka sama-sama belum mengenal Tuhan Yesus), dan salah satu dari mereka (entah suami atau isterinya) menjadi percaya kepada Tuhan. Dalam ayat 14 dikatakan bahwa anak yang menjadi korban perceraian dikuduskan oleh suami atau isteri yang beriman. Paulus menolak pandangan bahwa ada kenajisan bagi keturunan mereka yang bercerai. Oleh karena itu, ayat 12-13, mengatakan bahwa tidak ada perceraian bagi orang Kristen yang menikah dengan non-Kristen. Kalaupun terjadi perceraian, maka orang yang bercerai itu tidak boleh kawin lagi dengan orang lain melainkan dibolehkan untuk rujuk dengan suami atau istri yang diceraikan.
Keluarga Kristen, Paulus memberikan suatu pengajaran berdasarkan pada kasih Kristus bahwa suami atau isteri yang beriman seharusnya mempertahankan pernikahan agar tetap hidup dalam damai sejahtera. Keduanya harus melibatkan Tuhan dalam setiap pergumulan keluarga bahkan mereka yang beriman harus terus berdoa dan memberitakan Injil kepada pasangannya. Amin.
Doa: Ya Tuhan Yesus, bersama–Mu ada damai sejahtera yang bisa kami dapatkan dan rasakan dalam suatu pernikahan dan biarlah kami dimampukan untuk memenangkan jiwa bagi kemuliaan nama–Mu. Amin.
























