Yohanes 13:23-24
(23) Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya.
(24) Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: ”Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!”
Berani Mengoreksi Diri Sendiri
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Salah satu reaksi terhadap pernyataan Yesus Kristus dalam ayat 21 adalah perasaan kaget atau terkejut. Kekagetan dan keterkejutan itu adalah wajar karena mereka tidak menyangka bahwa Yesus Kristus menyebut seseorang yang akan menyerahkan Dia. Tapi tidak mengatakan siapa orang itu, sehingga menimbulkan reaksi spontan dari Petrus, lalu menyuruh murid yang dikasihi (Yohanes) untuk menanyakan siapa yang dimaksudkan Yesus Kristus.
Sebagai manusia, murid-murid wajar untuk menanyakan maksud dari ungkapan Yesus Kristus itu. Sebab mereka mengetahui bahwa selama menjalani hidup bersama Yesus Kristus, kehidupan mereka sangatlah harmonis dan tidak ada tanda-tanda kericuhan apalagi pengkhianatan. Petrus sebagai seorang yang sangat reaktif dalam setiap peristiwa, sebenarnya ingin secepatnya mendapatkan jawaban agar tidak menimbulkan kebimbangan dalam kehidupan para murid. Bahkan kecurigaan Petrus ini barangkali terlahir dari pemikirannya sendiri bahwa tidak mungkin ada di antara mereka yang akan mengkhianati Yesus Kristus. Karena mereka betul-betul mengasihi-Nya sebagai Guru. Reaksi seperti ini juga yang pernah diperlihatkan Petrus ketika dia mengakui Yesus Kristus sebagai Mesias Anak Allah yang hidup yang karena itu Yesus memberi kepercayaan dan tanggungjawab kepadanya untuk melaksanakan misi Kerajaan Allah di bumi (Matius 16:16-19).
Bagi kita sebagai orang Kristen, sikap dan reaksi Petrus ini dapat dijadikan teladan dalam mempraktikkan dan menjalani hidup berdasarkan iman pada Yesus Kristus. Sebab percaya pada Yesus Kristus bukanlah iman yang statis (status quo), tapi aktif dan dinamis yang mendorong kita untuk selalu bereaksi secara spontan, positif, jeli dan ada rasa peduli terhadap sesuatu yang terjadi di sekitar kita, baik dalam persekutuan bergereja maupun bermasyarakat.
























