
Shalom. Damai di hati. Salam Sejahtera dalam Tuhan Yesus Kristus bagi saudara sekalian.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, ada satu lagu pop rohani yang sering dinyanyikan dalam ibadah-ibadah jemaat yang syairnya tertulis “bagaikan bejana siap dibentuk, demikian hidupku di tanganMu dengan urapan kuasa Roh-Mu ku dibaharui selalu. Jadikanku alat dalam rumahMu inilah hidupku di tanganMu bentuklah sturut kehendakMu pakailah sesuai rencanaMu”. Pujian ini menggambarkan suatu ekspresi penyerahan diri seseorang kepada Tuhan untuk siap dan bersedia dibentuk, diubah, dibaharui dan dipakai oleh Sang Tukang Periuk atau Sang Penjunan Agung yaitu Tuhan Allah sendiri sesuai maksud kehendak dan rencanaNya. Ini menunjukkan bahwa Allah yang Maha Kuasa memiliki kedaulatan untuk memproses dan membaharui seseorang bahkan umat yang dikasihiNya untuk tujuan dan rencana-Nya yang mulia. Demikian juga pembacaan dan perenungan Firman Tuhan kita di sepanjang minggu sengsara yang kedua, dalam penghayatan setiap warga GMIM terhadap kesengsaran dan penderitaan Yesus maka kita di ajak untuk merenungkan Yeremia 18:1-17 yang mau menjelaskan tentang bagaimana Tuhan memanggil sekaligus memerintah nabi Yeremia untuk pergi ke rumah tukang periuk karena ada hal penting yang akan dinyatakan Tuhan Allah sendiri kepada Nabi Yeremia tentang seruan pertobatan bagi umat Israel.
Secara umum situasi Israel khususnya Yehuda sedang mengalami dekadensi spiritual. Dekadensi Spiritual adalah kemerosotan, penurunan atau melemahnya nilai-nilai spiritualitas, moralitas dan iman dalam kehidupan umat Yehuda. Hal ini digambarkan pada Yeremia pasal 17 berkaitan pergumulan nabi oleh karena bangsa yang berdosa. Umat Yehuda telah melakukan tindakan yang menyakiti hati Tuhan seperti penyembahan berhala, mereka lupa mengandalkan Tuhan dan lebih mengandalkan diri sendiri, mereka melakukan ketidakadilan, umat hidup dalam kemunafikan, licik dan hati mereka sudah membatu. Situasi inilah yang membuat Allah murka atas kehidupan umat Yehuda. Oleh karena itu Nabi Yeremia dipakai Allah untuk menyerukan suara penghukuman sekaligus suara pertobatan. Jika umat mau bertobat, maka Allah tidak akan menghukum mereka. Tetapi jika mereka tetap mengeraskan hati dan berpaling dari kehendak Tuhan maka ada hukuman yang Tuhan sediakan bagi umat yang berdosa dan tidak mau bertobat. Dalam konteks inilah Allah memberikan perintah penting bagi Nabi Yeremia untuk pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk (Yeremia 18:2). Perintah ini mengandung maksud supaya Allah ingin menggunakan pekerjaan tukang periuk dan tanah liat sebagai metafora untuk menjelaskan tentang apa yang hendak dilakukan Allah bagi umat Israel khususnya umat Yehuda. Tanah liat dalam Bahasa ibrani utamanya menggunakan kata Chomer, yang berarti tanah liat, lumpur atau bahan tembikar. Istilah ini sering digunakan dalam Alkitab untuk menggambarkan kerapuhan manusia dan sekaligus ketergantungan mutlak kepada Tuhan sebagai Sang Pencipta atau digambarkan sebagai Tukang Periuk Sejati. Dengan melihat secara langsung pekerjaan tukang periuk, Tuhan Allah mau menyatakan kepada Nabi Yeremia bahwa Allah sendiri seperti seorang tukang periuk dan Israel adalah tanah liat yang hendak dibentuk, diubah, dibaharui dan dipakai oleh Tuhan untuk maksud dan kehendakNya dalam karya penyelamatan dan penebusan-Nya.
Saudara yang dikasihi dan diberkati oleh Tuhan Yesus.
Sesudah Nabi Yeremia mendengarkan perintah itu, pergilah ia dalam ketaatan untuk mendengarkan suara Tuhan. Ketika Nabi Yeremia tiba di rumah tersebut, ia menyaksikan bahwa tukang periuk sedang bekerja dengan pelarikan. Dan ia melihat apabila bejana yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya (Yeremia 18:4). Hal pertama yang ingin disampaikan Allah lewat peristiwa ini ialah tanah liat yang rusak itu seumpama umat Israel yang berdosa dan telah gagal untuk hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Namun umat yang rusak dan berdosa ini tidak selamanya dibiarkan rusak melainkan ada Allah penjunan yang Agung akan memulihkan keadaan Israel yang rusak sesuai kehendakNya. Selanjutnya Firman Tuhan datang kepada Nabi Yeremia bahwa “seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel”. Hal yang kedua yang disampaikan Firman Tuhan bermaksud untuk meneguhkan janji kasih setia Allah kepada umat pilihan-Nya yaitu umat Israel. Kata “Kamu di tangan-Ku” memliki makna bahwa Allah berdaulat dan Allah Empunya kuasa penuh atas umat pilihanNya yaitu umat Israel. Dan ingat, Sesuatu yang ada ditangan Tuhan, pasti tidak akan dibiarkan terlepas. Ini juga wujud dari penyataan kasih Allah yang besar untuk membentuk, membaharui dan memulihkan kehidupan umat Israel dari keterpurukan spiritual oleh karena kehidupan dosa yang mereka lakukan melakukan kehendak dan perintah Tuhan. Allah menghendaki supaya umat Israel sungguh-sungguh bergantung kepada Tuhan. Kebergantungan umat kepada Tuhan akan menghasilkan kehidupan yang senantiasa dipelihara oleh Tuhan.
Kemudian poin ketiga yang penting ialah ada pada bagian selanjutnya dari ayat 7 sampai 11 tentang seruan dan perintah supaya umat Israel bertobat dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Allah memberikan jaminan bahwa jikalau umat bertobat dari kejahatan mereka maka malapetaka dan hukuman tidak akan terjadi atas kehidupan umat. Namun apabila umat tidak bertobat, mereka melakukan apa yang jahat di mata Tuhan dan tidak mendengarkan suara Tuhan, maka keberuntungan yang Allah janjikan kepada mereka, tidak akan terjadi dalam kehidupan umat. Inilah konsekuensi dari umat yang bebal hatinya, tegar tengkuk dan menutup telinga terhadap suara Tuhan.
Selanjutnya poin keempat ialah respon umat terhadap perintah Tuhan seperti yang disaksikan pada ayat 12 yang berbunyi “tetapi mereka berkata : tidak ada gunanya! Sebab kami hendak berkelakuan mengikuti rencana kami sendiri dan masing-masing hendak bertindak mengikuti kedegilan hatinya yang jahat”. Respon umat ini adalah respon yang negatif, tidak sesuai perintah dan kehendak Tuhan. Pilihan hidup umat yang mau hidup mengikuti kata hati mereka dan bukan mengikuti apa kata Tuhan adalah pilihan yang menjijikan dan menyakiti hati Tuhan. Umat seharusnya dipanggil untuk hidup menurut apa kata Tuhan dan bukan apa kata hati sendiri yang cenderung pada tindakan jahat dan penuh dosa. Pilihan hidup seperti itu membuat Tuhan murka atas kehidupan umat pilihan-Nya.
Poin yang kelima adalah penegasan tentang tindakan Allah yang begitu murka atas kejahatan umat Israel. Ayat 15a tertulis “tetapi umat-Ku telah melupakan Aku”. Umat pilihan Tuhan telah melupakan Tuhan yang mengasihi mereka. Mereka telah meninggalkan Allah yang menyertai dan memelihara mereka. Mereka lebih memilih menyembah berhala-berhala buatan tangan mereka sendiri dari pada menyembah Allah yang benar dan memberikan jaminan keselamatan bagi umat. Umat Israel telah rusak, gagal dan penuh dosa. Akibatnya ayat 17 dengan jelas mencatat “Seperti angin timur Aku akan menyerakkan mereka di depan musuhnya. belakangKu akan Kuperlihatkan kepada mereka dan bukan muka-Ku pada hari bencana mereka”. Keputusan Tuhan begitu jelas bahwa hukuman akan diberikan bagi umat yang jahat. Umat yang berdosa harus dhukum. Dan ketika tiba hari bencana, Allah akan membiarkan umat untuk sementara waktu mengalami kengerian dan kesengsaraan akibat dosa supaya mereka belajar untuk mengingat akan kebaikan Tuhan dan supaya mereka kembali bertobat, berbalik kepada Tuhan.
Jemaat yang dikasihi Tuhan. Lima poin pesan khotbah lewat perenungan disaat ini mau mengingatkan dan menyadarkan siapa kita dihadapan Tuhan. Kita semua adalah bejana tanah liat yang mudah rusak, rapuh bahkan hal itu bisa diartikan bahwa kita ini adalah sesuatu yang fana, tidak berarti jika tidak dibentuk, tidak berguna dan tidak berharga jika tidak dipakai. Maka benarlah kata rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, 2 Korintus 4:7-11 “tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, kita harus bersyukur karena dalam kerapuhan, Allah mengasihi dan merangkul kita. Dalam kelemahan, Allah menguatkan. Dalam kesakitan, Allah menyembuhkan dan memulihkan. Dalam pergumulan, Allah tidak meninggalkan kita tetapi Dia menyertai dan menolong kita. Ingatlah bahwa ketika kita hidup bersandar kepada rencana dan kehendak Allah Sang Penjunan Yang Agung maka ada berkat yang Tuhan sediakan. Belajarlah dari Firman Tuhan hari ini, Seperti seruan dan perintah Tuhan kepada umat Israel yang berdosa lewat Nabi Yeremia, Allah meminta supaya hidup kita yang berdosa ini harus mengalami pertobatan yang sungguh-sungguh, harus taat serta setia mendengarkan suara Tuhan. Selalu percaya bahwa Tuhan tidak pernah gagal dalam setiap rencana dan karya-Nya bagi umat yang dikasihi-Nya. Anugerah Allah begitu besar untuk memberikan pengampunan bagi setiap orang yang berbalik dan bertobat. Berseralah kepada Tuhan, berilah diri kita dipakai sesuka hati Tuhan supaya hidup kita ini dapat menyenangkan hati Tuhan dan menjadi alat kesaksian untuk memberitakan Injil Yesus Kristus bagi banyak orang. Selamat menghayati minggu sengsara yang kedua. Sadarilah selalu bahwa hidup yang kita hidupi saat ini hanya anugerah dan kasih Allah yang besar di dalam Yesus Kristus yang rela sengsara, menderita dan mati di atas kayu Salib. Yesus Kristus itulah Tukang Periuk Sejati yang membentuk, mengubah, membaharui, menyelamatkan dan membuat kita berharga di mata Allah. Amin




















