
Saudaraku yang terkasih dalam Kristus…
Pernahkah saudara merasa seperti hidup ini sedang mengambil sesuatu dari kita sedikit demi sedikit? Mungkin kita tidak sedang jatuh karena satu badai besar, tetapi karena angin kecil yang terus-menerus bertiup, masalah keuangan yang tak kunjung selesai, doa-doa yang seakan tidak dijawab, hubungan yang mulai renggang, kesehatan yang menurun perlahan. Dan kita bertanya dalam hati… “Tuhan, di mana Engkau?” Begitu mudah bagi kita untuk percaya bahwa Tuhan beserta kita saat segala sesuatunya berjalan baik. Tapi bagaimana ketika semuanya terasa gelap? Ketika kita merasa ditinggalkan, tidak diperhitungkan, atau bahkan dihukum?
Itulah yang dirasakan oleh umat Tuhan di masa nabi Zefanya. Mereka hidup di tengah kehancuran moral, sosial, dan spiritual. Mereka dihukum karena kesalahan mereka sendiri. Tapi justru di saat seperti itu, Tuhan datang bukan dengan murka yang berkepanjangan, tapi dengan janji pemulihan yang tak terbayangkan.
Zefanya 3:9-20 ini ingin memberi pembuktian kepada kita semua tentang bagaimana Allah yang Mahakasih itu menyatakan kasihNya lewat pemulihan kepada umat yang mau hidup dalam pertobatan dari dosa-dosa yang telah mereka perbuat.
Nabi Zefanya dipakai oleh Allah untuk bernubuat kepada umat Israel, yang hidup melakukan dosa dan pelanggaran. Bukan hanya umat tapi juga para imam dan para nabi. Nubuatan ini berlangsung pada pemerintahan Raja Yosia bin Amon (1:1), sebelum reformasi keagamaan besar-besaran yang dilakukan oleh Yosia (2 Raja-Raja 22-23). Lebih khususnya nubuatan ini disampaikan Zefanya kepada umat dan para pembesar dan pemuka agama di Yerusalem yang kala itu telah terlibat dalam penyembahan berhala, antara lain: penyembahan kepada baal (1:4), penyembahan kepada Bala tentara langit dan mencampurkan penyembahan kepada Tuhan dengan dewa-dewa asing (sinkretisme) seperti dewa milkom yaitu dewa bangsa Amon (1:5).
Maka, Nubuatan itu adalah nubuatan yang berisikan penghukuman dari Tuhan apabila mereka tidak mau bertobat dan tetap mempertahankan sikap hidup yang melenceng dari ketetapan Tuhan. Namun juga, disisi lain ada nubuatan tentang Janji Keselamatan yang disampaikan Zefanya kepada umat, apabila mereka mau hidup dalam pertobatan.
Khusus pada bacaan ini,Tuhan mengungkapkan KasihNya yang besar bagi umatNya yang tersisa, melalui nabi Zefanya Tuhan ingin menyatakan kehadiranNya bagi umat dengan memberikan harapan akan masa depan yang penuh kedamaian, sukacita, dan pemulihan setelah penghukuman. Namun sebelum Tuhan menyatakan janji keselamatan kepada sisa sisa bangsa ini, Tuhan ingin agar umat mau hidup dalam pertobatan. Tuhan mau agar umat benar-benar bersih dari kekotoran mereka akibat dosa. Tuhan mau agar mereka menjadi umat yang benar-benar baru meninggalkan kehidupan lama mereka yang penuh dosa. Maka, Allah ingin memulihkan totalitas kehidupan mereka dengan kata lain Allah ingin mempersiapkan dan memperlengkapi mereka dengan:
Memberikan bibir yang bersih, supaya mereka dapat memanggil nama Tuhan dengan bibir itu dan beribadah kepadaNya dalam satu kesatuan/bahu membahu (ay 9) artinya Tuhan mau ada pertobatan yang sejati yang harus dilakukan oleh umat. Berhenti dari penyembahan berhala yang semula bibir itu memanggil nama ilah-ilah lain kembali memanggil nama Tuhan Allah. Bibir yang semula dipakai untuk bicara kotor, kasar dan mengeluarkan ujaran kebencian akan Tuhan ubah menjadi bibir yang mengeluarkan kata kata berkat.
Menyatukan dan mengumpulkan kembali bangsa yang terserak untuk disatukan sehingga mereka ingat untuk datang membawa persembahan sebagai tanda pertobatan (ay 10) dan di saat itu Tuhan pun akan menyingkirkan orang-orang yang congkak yakni orang-orang yang hidup dalam kesombongan dan selalu mau meninggikan diri sehingga umat Tuhan tidak akan terpengaruh oleh kesombongan mereka dan tidak akan mendapat malu lagi.
(ay 11) Hidup dengan umat yang rendah hati, lemah serta mencari perlindungan pada Tuhan (ay12). Rendah hati dan lemah menandakan bahwa itulah orang-orang yang tidak bisa hidup tanpa kekuatan Tuhan, sepenuhnya menggantungkan diri pada Tuhan. Orang-orang yang demikianlah yang akan diberkati dengan kemurnian baik dalam perkataan maupun tindakan yakni tidak berbuat kelaliman dan bicara bohong. Dan akan diberkati juga dengan damai sejahtera, bagaikan domba di padang penggembalaan Allah, mereka akan makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya (ay 13).
Sehingga melalui apa yang Allah lakukan ini umat terajak untuk bersorak sorai, bertempik soraklah, bersukacitalah dan beria-rialah dan Jangan takut. Alasannya yaitu karena:
Tuhan telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atas mereka dan Tuhan telah menebas binasa musuh (ay 15) Tuhan hadir. Dia ada diantara mereka sebagai pahlawan yang memberi kemenangan dan Ia bergirang dengan sukacita, Ia membaharui dalam kasihNya, dan Ia bersorak-sorak (ay 17) Ia akan mengangkat malapetaka dari mereka. (Ay 18) Ia akan bertindak terhadap segala penindas, menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar. Membuat mereka yang mendapat malu menjadi kepujian dan kenamaan (ay 19) Ia akan memulihkan keadaan mereka (ay 20).
5 point ini secara keseluruhan menggambarkan pemulihan total yang Tuhan bawa bagi umatNya: Memulihkan mereka dari dosa, penderitaan dan penghakiman. Tuhan pun memulihkan umatNya yang mau bertobat dengan memberi mereka kedamaian, sukacita dan keberanian. Karena Tuhan Allah hadir ditengah-tengah mereka sebagai pahlawan yang memberi kemenangan (El Gibbor). Sebagai pahlawan Tuhan akan berjuang dan bertindak untuk menyelamatkan, melepaskan, menolong, serta membela umatNya dari para musuh dan akan memberi kemenangan bagi umat.
Maka dari pembacaan ini, ada pesan Firman untuk kita semua yaitu:
Nubuatan nabi Zefanya ini membuktikan pada kita bahwa Tuhan memang membenci dosa, tapi Ia tetap mengasihi para pendosa. Tuhan mengasihi kita karena memang Ia adalah Kasih, tapi bukan berarti karena kasihNya maka Ia membenarkan setiap perbuatan dosa yang kita lakukan seperti penyembahan berhala. Bangsa Israel memang menyembah baal seperti patung dan dewa-dewa yang lain. Namun di masa kini.. materialisme dan konsumerisme bisa jadi model penyembahan berhala modern. Manusia mengukur kebahagiaan berdasarkan uang, barang mewah, jabatan, karir yang sukses dan sebagainya sehingga lupa menyandarkan kebahagiaan mereka pada Tuhan. Gadget dan sosial media juga bisa menjadi penyembahan berhala kalau kita tidak lagi mau bekerja, tidak lagi mau berupaya hanya menghabiskan waktu berjam-jam bermain sosial media, tapi beberapa waktu 1-2 jam untuk beribadah kita merasa rugi. Maka hati-hatilah kita agar kita jangan jatuh pada penyembahan berhala seperti demikian, karena penghukuman akan menanti kita. Satu-satunya yang dapat kita sembah adalah Tuhan
Tidak akan ada kemenangan tanpa pertobatan. Dan tidak ada juga pemulihan tanpa pertobatan. Hukuman adalah tanda bahwa Allah itu adil. Mungkin memang kadang kala kita bertanya-tanya kalau Tuhan maha pengasih mengapa Ia harus menghukum? Jawabannya yaitu karena sungguh tidaklah adil apabila ada orang yang berbuat salah namun mereka tidak ditegur atau dihukum, itu akan menyebabkan mereka akan jauh dari kebenaran. Jadi hukuman adalah bentuk kasih Allah yang mau menyelamatkan dan mengangkat kita dari kubangan dosa.
Benar! Tuhan itu Maha Pengasih, namun tidak berarti Tuhan bisa menerima ketidaktaatan kita. Benar! memang Tuhan maha pengampun, tapi bukan berarti tidak ada penghukuman. Karena dalam penghukuman, disitu Allah juga tetap menyatakan kasihNya yakni dengan menyediakan jalan pertobatan kepada kita yang mau dipulihkan. Tuhan menolong kita semua, Amin.























