
Pernahkah kita sebagai orang beriman berpikir, ke mana sesungguhnya pusat iman kita tertuju? Apakah hanya pada kegiatan beribadah, berdoa, bernyanyi, dan berbuat baik? Ataukah lebih dalam dari itu? Banyak orang mungkin menganggap bahwa hidup berdoa, rajin ke gereja, dan berbuat baik sudah cukup untuk disebut orang beriman.
Namun, dalam Efesus 1:15–23. Rasul Paulus menegaskan hal yang lebih dalam. Ia mendengar kabar tentang iman dan kasih jemaat di Efesus, dan bukan hanya memuji mereka, tetapi juga berdoa agar mereka semakin mengenal Yesus Kristus secara penuh. Paulus bersyukur atas iman dan kasih yang nyata di antara mereka, tetapi ia juga berdoa agar pengenalan mereka akan Kristus semakin bertumbuh dan diperdalam.
Paulus tidak berdoa supaya mereka mengenal Kristus untuk pertama kali — sebab mereka sudah percaya — melainkan supaya mereka makin dewasa dalam iman. Ia tahu bahwa iman yang sejati bukanlah titik akhir, melainkan perjalanan yang terus bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus. Jemaat Efesus sudah percaya, namun mereka masih membutuhkan penerangan rohani agar dapat memahami panggilan Allah, melihat kemuliaan-Nya, dan hidup dalam kuasa kebangkitan Kristus yang menempatkan Yesus di atas segalanya.
Paulus menyadari bahwa iman sejati tidak lahir hanya dari pengalaman manusia, melainkan dari pekerjaan dan penerangan Roh Kudus (ay. 17–18). Di tengah dunia yang terus berubah, Allah memanggil umat-Nya untuk terus mencari pengertian melalui persekutuan yang hidup dengan Kristus. Sebab Kristus adalah Kepala atas segala yang ada — tidak ada kuasa, pemerintahan, atau keadaan hidup yang lebih tinggi dari-Nya. Karena itu, gereja dipanggil untuk menundukkan seluruh hidup, pelayanan, dan arah masa depannya di bawah pimpinan Kristus (ay. 19–23).
Saudara-saudara yang dikasihi dalam Kristus, melalui surat Paulus ini kita diingatkan bahwa iman dan kasih harus terus bertumbuh. Iman tidak boleh berhenti hanya pada kegiatan rohani, tetapi harus berakar dalam pengenalan yang benar akan Kristus. Paulus berdoa agar jemaat menerima Roh hikmat dan wahyu supaya mengenal Tuhan Yesus dengan benar.
Inilah kebutuhan terbesar gereja sepanjang masa — bukan banyaknya kegiatan, bukan kemegahan gedung, atau banyaknya anggota, melainkan pengenalan yang sejati akan Kristus.
Paulus mengingatkan bahwa kuasa Allah bekerja nyata dalam hidup orang percaya; kuasa yang sama yang telah membangkitkan Kristus dari kematian dan meninggikan-Nya di tempat yang mulia. Kuasa ini bukan hanya kuasa surgawi yang jauh, melainkan kuasa yang hidup dan bekerja di dalam gereja-Nya — memampukan kita untuk bertahan dalam penderitaan, mengasihi di tengah dinginnya dunia, dan tetap setia di tengah godaan zaman.
Karena itu, kita sebagai tubuh Kristus harus menempatkan Kristus sebagai Kepala. Sebagaimana tubuh yang sehat taat kepada kepala, demikian pula gereja yang sehat tunduk kepada pimpinan Kristus. Gereja tidak dipanggil untuk mengejar popularitas atau kepentingan duniawi, melainkan hidup dalam ketaatan kepada kehendak-Nya. Ketika Kristus bukan lagi pusatnya, gereja kehilangan arah — seperti tubuh tanpa kepala: kacau, kehilangan tujuan, dan pelayanannya menjadi hampa.
Marilah kita merendahkan diri di bawah otoritas Kristus. Jadikan Dia pusat iman dan kehidupan kita — dalam setiap ibadah, keputusan, pelayanan, dan langkah hidup. Sebab Yesus
Kristus, yang telah mati, bangkit, dan dimuliakan, adalah Kepala atas segala yang ada. Amin.
























