
Saudara-saudara yang di kasihi dan di berkati Tuhan.
Kita merenungkan bagian surat yang di alamatkan kepada jemaat Filipi yang merupakan tulisan dari rasul paulus ketika ia berada dalam penjara. Sekalipun Paulus menulis surat ini di tempat yang terisolasi, tidak nyaman dan penuh penderitaan tapi dalam suratnya, secara keseluruhan Paulus hendak menyatakan ucapan syukur, sukacita dan hendak berterimakasih kepada orang-orang percaya yang ada di Filipi karena telah menolongnya dengan pemberian dan doa (1:5-4, 10-19). Tetapi juga mau mengingatkan jemaat untuk selalu memelihara kesatuan, hidup dalam damai dan di panggil untuk meneladani kasih Yesus yang telah mengorbankan diriNya.
Berangkat dari tema “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan”.
Salah satu persoalan sikap manusia adalah bersungut sungut dan berbantah-bantahan ketika menghadapi sebuah keadaan dan situasi yang rumit. Bersungut-sungut menurut KBBI adalah menggerutu, mengeluarkan perkataan tidak puas. dan berbantah-bantahan adalah saling bertengkar mulut secara berulang-ulang atau perdebatan yang menimbulkan konflik berkepanjangan. kedua sikap ini menunjukan kurangnya rasa damai, sikap yang tidak bersyukur dan tidak dewasa secara rohani.
Di dalam Alkitab, ada kisah yang populer yaitu ketika Tuhan mengeluarkan bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan, waktu berada di padang gurun mereka berputar-putar selama 40 tahun. kita membaca perjalanan bangsa Israel, akar dari kesulitan mereka untuk masuk di tanah perjanjian adalah sikap yang bersungut-sungut.
Paulus paham benar bahaya ini, maka dari itu paulus menasehati jemaat selain dia menegaskan tentang bagaimana umat Allah untuk selalu mempunyai sikap yang taat dalam mengerjakan keselamatan. Paulus juga menegaskan agar umat tidak memiliki sikap yang bersungut-sungut dan berbantah-bantahan dalam mengerjakan segala sesuatu, maka hal ini juga adalah bentuk konkret dari pengerjaan keselamatan.
Ayat 12-13
Paulus menunjukan kasihnya kepada orang yang percaya dengan mengatakan “saudara-saudara”.
ini adalah sapaan yang memberikan dorongan semangat tetapi juga memuji ketaatan mereka dan supaya mereka tetap menghasilkan ketaatan yang berkelanjutan. hal ini membawa pada sebuah perintah yang harus terus di patuhi, yaitu mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar, sikap takut dan gentar menunjukan sikap yang kagum dan hormat akan Tuhan. lebih lanjut Paulus menegaskan bahwa jemaat harus memiliki sikap taat bukan hanya ketika ia bersama mereka tetapi bahkan ketika ia jauh. Dia mencatat perhatiannya kepada mereka dengan fokus untuk menekankan kasih Kristus kepada pembacanya bahwa keselamatan yang adalah bagian dari anugerah Allah merupakan inisiatif dan kemauan Allah sendiri. Allah adalah inisiator dan orang percaya adalah responden untuk mewujud nyatakan keselamatan itu.
Mengerjakan keselamatan bukan mendesak untuk mendapatkan keselamatan atau bekerja demi mendapatkan keselamatan karena keselamatan sudah di peroleh oleh orang beriman, tetapi bagaimana seluruh jalan dan panggilan hidup dalam ikut Tuhan jangan perna berhenti sampai akhir untuk tetap mengerjakan keselamatan yaitu dengan hidup yang sesuai dengan firmanNya, hidup benar, hidup dalam ketetapan dan ikut apa maunya Tuhan.
Ayat 14-16
Paulus melanjutkan dan menggambarkan beberapa tindakan yang konsisten, yaitu dalam persekutuan bersama jangan ada sikap bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Hal ini sulit untuk di lakukan tetapi bukan berarti tidak dapat melakukan. Pada dasarnya paulus mengingatkan untuk tidak ada perdebatan, bertengkar dan berhenti mengeluh. Karena hal ini dapat merusak keutuhan bersama.
Paulus yang menyebutkan jemaat sebagai anak-anak Allah agar melakukan tugas dan tanggung jawab supaya tidak beraib dan tidak bernoda. sehingga di tengah generasi yang jahat mereka dapat bercahaya.
Di tengah dunia yang penuh konflik, penuh keegoisan, dan kejahatan ini. dunia membutuhkan orang-orang percaya yang hidup mencerminkan akan karakter Kristus. lewat sikap, setiap lisan dan dalam perbuatan.
Jemaat di panggil untuk tetap terus memegang teguh pada kebenaran firman agar ia dapat bermegah dan melihat pelayanannya tidak siasia tetapi membuahkan hasil berupa iman teguh.
Ayat 17-18
Bagian ini Paulus menggunakan gambaran kurban curahan. Paulus melihat seluruh hidupnya dan pelayanannya sebagai persembahan bagi Tuhan. bahkan sampai ia mati justru menemukan sukacita karena hidupnya di pakai untuk Tuhan. Sehingga di akhir kalimat Paulus mengajak umat untuk terus bersukacita bersama-sama dengan dia atas buah dari segala jerih payahnya.
Saudara-saudara, apakah kita sudah mengerjakan keselamatan ?
Bagaiamanakah kita menjalani kehidupan ?
* Sebagai orang-orang yang telah menerima anugerah keselamatan, maka sepatutnya menjalani kehidupan dengan terus membangun di atas dasar kebenaran. Seperti ketika di sakiti, di siasiakan, kita tidak ada kepahitan. Hidup penuh kasih, menolong dengan ketulusan, saling mengampuni, bersaksi, beribadah, dan berdoa. bahkan ketika kita berada ditengah-tengah persoalan dan tantangan yang datang menerpa hidup, kita tetap percaya kepada Tuhan, bersyukur dan terus menggantungkan kehidupan kepada Tuhan, itulah sikap orang percaya yang mengerjakan keselamatan dan kerjakan itu bukan sebagai beban tetapi sebagai relasi cinta dengan Tuhan.
* ketika kita di percayakan Tuhan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab baik dalam pekerjaan bahkan dalam pelayanan untuk tidak ada sikap yang suka bersungut-sungut. Faktanya mengeluh itu tidak pantas bagi orang kristen. jadikan pribadi yang tampil berbeda ketika tugas berat dan situasi sulit datang. ingatlah bahwa respon yang tenang dan bersyukur adalah cara kita memancarkan terang Kristus.
* kita hidup di dunia yang penuh dengan persoalan. termasuk persaingan, kesalahpahaman, perbedaan pendapat dan hal itu sering menimbulkan konflik. hindarilah bertengkar mulut, perdebatan yang sia-sia. hal ini hanya dapat menimbulkan masalah yang berkepanjangan. Sebagai orang percaya harus mampu menurunkan ego, memiliki kerendahan hati, membuka hati dan mempersilahkan firman masuk di dalam diri kita sehingga perkataan yang keluar dari mulut adalah firman yang membangun bukan keluhan dan perdebatan.
Saudara-saudara,
Dalam firman ini menghentar kita untuk mengingat kembali, bagaimana tentang kasih Allah di dalam diri Yesus Kristus yang telah berkorban memberikan nyawaNya untuk kita. Yesus turun dari kemuliaanNya, menyisihkan keilahianNya, menyisihkan kedudukanNya datang dengan kerendahan hati menjadi manusia dengan melewati berbagai penderitaan dan taat sampai mati. inilah bentuk kasih Allah yang murni dan nyata bagi kehidupan kita dan seharusnya mendorong kita untuk mencintai dan melakukan ketetapanNya. melalukan perbuatan baik adalah wujud syukur atas keselamatan yang telah di anugerahkannya. sekali lagi, keselamatan adalah anugerah maka sepatutnya keselamatan itu di tanggapi dengan tindakan iman. Jalanilah kehidupan sesuai dengan jati diri di dalam kristus dan biarkan injil yang kita akui merasuki diri kita. AMIN




















