DODOKUGMIM.COM, MANADO – Berada di kawasan militer, Gedung GMIM Petra Kiban Yonif Raider 712 Paniki Bawah Wilayah Mapanget 1, berdiri kokoh di dataran tinggi dengan tiga kubah di atasnya. Gereja ini terletak di Kelurahan Paniki Bawah, sekitar Asrama Kompi Bantuan Yonif 712/WT dan Intel Korem.
Sebagian warga gereja merupakan anggota TNI AD yang mendapatkan penugasan di wilayah tersebut. Ini juga menjadi alasan dipilihnya nama “Petra”. Seakan menggambarkan identitas anggota gereja yang mayoritas tentara, identik dengan kekuatan dan semangat pantang menyerah.
Menarik. Gedung gereja ini berdekatan dengan Masjid. Ini tak hanya membawa anggota jemaat pada kemajemukan suku dan ras tapi juga bersentuhan dengan urusan agama. Mereka rukun dan solid dalam aktivitas sosial sehari-hari.

“Toleransi umat beragama dijunjung tinggi, hal ini terlihat ketika melaksakan ibadah saya memimpin di asrama tentara, umat muslim yang ada disekitar menghormati kami yang melaksanakan ibadah disitu,” ungkap Ketua BPMJ GMIM “Petra” Kiban Yonif Raider 712 Intel Korem Paniki Bawah Pdt. Nova Diane Jacob, S.Th, saat dijumpai beberapa waktu lalu.
Jacob mengaku bangga dengan toleransi yang terus dijaga. “Natal tahun 2019, hadir saudara-saudara tentara muslim. Mereka membantu menjaga keamanan saat ibadah. Kami juga akan membantu dan menghormati mereka saat memasuki bulan puasa,,” ujarnya.
Semua ini tidak terjadi dalam sekejab. Jemaat Petra ini merupakan hasil pemekaran dari jemaat GMIM Rondor Paniki Bawah, di kala Pdt. Djeffry Saisab, S.Th menjabat Ketua BPMJ.
Pada tahun 1985, di kolom 14 sampai 16, jumlah jemaatnya terus bertambah. Apalagi setelah dibangunnya asrama untuk TNI AD anggota Kiban 712/WT dan Ton Intel Rem 131, waktu itu. Semakin banyaknya anggota jemaat dan jarak tempuh ke gereja cukup jauh, menjadi alasan dibangunnya Kanisah yang dinamai Petra.
Pnt. Erna Rambing S.Pd, yang pernah menjadi anggota BPMJ, menuturkan kisah mereka yang harus berpindah-pindah tempat ibadah. “Dikarenakan jarak yang cukup jauh dari Rondor, lokasi kami beribadah dulu berpindah-pindah mulai dari barak tentara, kemudian setelah itu pindah ke gedung aula Kiban Yonif 712. Pergumulan jemaat waktu itu adalah memiliki gedung gereja yang tetap,” ujar dia.
Berbagai upaya dilakukan hingga pada tahun 1995, jemaat yang ada di asrama Kiban Yonif 712/WT Ton Intel Rem 131, mendapatkan lahan untuk membangun sarana Ibadah. Pembangunan gereja kemudian dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Kolonel Sutrisno sebagai Komandan Resort Militer 131 Santiago.
Seiring dengan berjalannya waktu, Kanisah Petra dimekarkan menjadi jemaat persiapan Petra Paniki Bawah dengan jumlah 4 kolom, dengan Komposisi BPMJ : Ketua Jemaat Pnt. W. Tamumtuan, Sekretaris Pnt. Brurie Iroth dan Bendahara Sym Ny. E. Sigarlaki-W, Sym. Ny. Erna O. Mentaruk Rambing dan Pdt Matilda Waturandang S.Th sebagai pendeta jemaat.
Ditahbiskanlah Jemaat Petra, pada 19 oktober 1997, oleh Ketua BPS GMIM Pdt A.F. Parengkuan serta diresmikan gedung gereja oleh Walikota Madya Manado Ir. L.H. Korah.
Hingga kini kehidupan berjemaat para anggota TNI di gereja Petra tidak menetap. Dikarenakan penempatan tugas yang berpindah-pindah membuat para anggota TNI disebut sebagai jemaat fungsional. Tapi tak hanya para tentara yang menjadi anggota jemaat, ada juga masyarakat Paniki Bawah yang tersensus sebagai warga gereja di GMIM Petra Kiban Yonif Raider 712 Paniki Bawah.(dodokugmim/rogermentaruk)
























