
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Kita sedang berada dalam suasana menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Kemerdekaan adalah anugerah yang patut kita syukuri. Bangsa Indonesia pernah mengalami masa penjajahan, penderitaan dan kehilangan kebebasan. Tetapi melalui perjuangan dan pertolongan Tuhan, bangsa kita mengalami kemerdekaan.
Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup sebagai orang yang sudah dibebaskan Tuhan.
Dalam Keluaran 6:1-12, bangsa Israel sedang berada dalam keadaan yang sangat berat. Mereka tertindas di Mesir. Mereka bekerja keras, menderita dan merasa seolah-olah Tuhan tidak mendengar jeritan mereka. Tetapi Tuhan berkata kepada Musa:
“Akulah TUHAN. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa… Aku juga telah mendengar erangan orang Israel yang diperbudak oleh orang Mesir…”.
Ada satu hal penting: Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
- Tuhan hadir ketika umat-Nya berada dalam pergumulan
Bangsa Israel mungkin bertanya: “Di mana Tuhan ketika kami menderita?” Bukankah pertanyaan seperti ini juga sering muncul dalam kehidupan kita?
Ketika ekonomi keluarga sulit, ketika usaha belum berhasil, ketika hubungan keluarga mengalami masalah, ketika anak-anak menghadapi pergumulan, ketika kita menghadapi sakit hati atau kekecewaan, kita bisa bertanya: “Tuhan, apakah Engkau masih mendengar doa kami?” Firman Tuhan hari ini menjawab: Ya! Tuhan mendengar. Tuhan melihat. Tuhan bertindak.
Tuhan berkata kepada Musa bahwa Ia telah mendengar erangan umat Israel dan mengingat perjanjian-Nya. Artinya, keterlambatan pertolongan Tuhan bukan berarti Tuhan melupakan kita. Ada waktu Tuhan untuk bertindak.
Karena itu, jangan cepat menyerah. Jangan berhenti berdoa. Jangan kehilangan iman hanya karena keadaan belum berubah.
- Tuhan adalah Allah yang membebaskan
Dalam bacaan ini Tuhan berulang kali menggunakan kata “Aku”:
“Aku adalah TUHAN.” “Aku akan membebaskan kamu.” “Aku akan mengangkat kamu.” “Aku akan menjadi Allahmu.”
Ini menunjukkan bahwa sumber keselamatan Israel bukan kekuatan Musa, bukan kekuatan bangsa Israel, tetapi Tuhan sendiri. Kemerdekaan Israel dimulai dari tindakan Allah.
Demikian juga dengan kemerdekaan Indonesia. Kita bersyukur atas perjuangan para pahlawan, tetapi sebagai orang percaya kita juga mengakui bahwa di balik sejarah bangsa ini ada penyertaan Tuhan.
Sebentar lagi kita memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-81. Mari kita tidak hanya merayakannya dengan perlombaan, upacara dan berbagai kegiatan, tetapi menjadikannya kesempatan untuk bertanya:
“Apa yang sudah saya lakukan sebagai orang yang telah menerima kemerdekaan?” Orang merdeka bukan orang yang hidup sesuka hati. Orang merdeka adalah orang yang mampu menggunakan kebebasannya untuk melakukan yang benar, membangun sesama dan memuliakan Tuhan.
- Kemerdekaan harus menghasilkan kehidupan yang baru
Israel dibebaskan bukan supaya mereka kembali hidup seperti dahulu. Tuhan membebaskan mereka untuk menjadi umat-Nya. Demikian juga kita. Kristus membebaskan kita dari dosa supaya kita hidup dalam kasih, kebenaran dan kekudusan. Karena itu, jangan sampai kita berkata:
“Saya sudah merdeka,” tetapi masih diperbudak oleh kebencian. Merdeka dari penjajahan tetapi diperbudak oleh iri hati. Merdeka sebagai bangsa tetapi diperbudak oleh korupsi, keserakahan, fitnah, kekerasan dan perpecahan. Merdeka secara jasmani tetapi hati masih terikat oleh dosa. Firman Tuhan mengajak kita mengalami kemerdekaan yang sejati, yaitu kemerdekaan yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan.
- Tahap pemilihan Pelsus: memilih bukan karena kepentingan, tetapi karena panggilan Tuhan
Jemaat yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan bergereja, kita juga sedang berada dalam tahap pemilihan Pelayan Khusus (Pelsus) GMIM. Ini adalah momentum yang sangat penting. Pemilihan Pelsus jangan dipandang sekadar sebagai memilih nama atau memilih orang yang kita sukai. Kita harus melihatnya sebagai bagian dari panggilan Tuhan untuk melayani gereja-Nya. Dalam Keluaran 6, Tuhan memanggil Musa untuk mengambil bagian dalam pekerjaan pembebasan Israel. Musa sendiri merasa tidak mampu. Ia berkata bahwa dirinya tidak pandai berbicara. Tetapi Tuhan tidak mencari manusia yang merasa dirinya paling hebat. Tuhan mencari orang yang bersedia dipakai-Nya. Karena itu dalam memilih Pelsus, mari kita bertanya: Siapa yang memiliki hati seorang hamba? Siapa yang mau melayani, bukan mencari kehormatan? Siapa yang dapat menjadi teladan? Siapa yang mampu menjaga persatuan jemaat? Siapa yang bersedia mengunjungi, mendengar, mendoakan dan mendampingi warga jemaat? Siapa yang dapat dipercaya? Dan yang terutama: Siapa yang sungguh-sungguh mau dipakai Tuhan? Jangan memilih karena hubungan keluarga. Jangan memilih karena persahabatan. Jangan memilih karena kepentingan pribadi. Jangan memilih karena tekanan. Tetapi berdoalah dan mintalah tuntunan Roh Kudus. Sebab Pelsus bukan sekadar jabatan. Pelsus adalah panggilan pelayanan.
- Tuhan dapat memakai orang yang merasa lemah
Musa berkata: «“Sesungguhnya orang Israel sendiri tidak mendengarkan aku…”» Musa merasa dirinya tidak mampu. Tetapi Tuhan tetap memakai Musa. Ini menjadi penghiburan bagi kita semua. Mungkin ada di antara kita yang berkata:
“Siapa saya?” “Saya tidak pandai.” “Saya banyak kekurangan.” “Saya tidak layak.” Tetapi Tuhan berkata:
“Aku menyertai engkau.” Tuhan tidak selalu memilih orang yang sempurna. Tuhan memanggil orang biasa dan memperlengkapinya untuk melakukan pekerjaan luar biasa. Karena itu, kalau Tuhan memanggil kita untuk melayani, jangan hanya melihat kelemahan diri. Lihatlah kebesaran Tuhan yang memanggil.
- Dalam kehidupan sehari-hari, jadilah pembawa pembebasan
Jemaat yang dikasihi Tuhan, Tema ini tidak hanya berbicara tentang Israel atau sejarah bangsa. Tema ini juga berbicara tentang kehidupan kita sehari-hari.
Di rumah, jadilah orang yang membawa damai. Di tempat kerja, jadilah orang yang jujur. Di lingkungan masyarakat, jadilah orang yang suka menolong.
Di tengah jemaat, jadilah orang yang membangun persatuan. Di media sosial, jangan menjadi penyebar fitnah dan kebencian. Ketika ada orang yang sedang jatuh, jangan menghakimi—ulurkan tangan. Ketika ada orang yang sedang berduka, hiburlah. Ketika ada orang yang kesepian, kunjungilah. Ketika ada yang membutuhkan pertolongan, bantulah sesuai kemampuan. Dengan demikian, kita menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan “pembebasan” bagi orang lain.
- Jangan kembali kepada kehidupan lama
Israel harus meninggalkan Mesir. Kita juga dipanggil meninggalkan “Mesir” dalam kehidupan kita. Apa “Mesir” kita? Bisa berupa kebencian. Bisa berupa dendam. Bisa berupa iri hati. Bisa berupa kebiasaan buruk. Bisa berupa keserakahan. Bisa berupa egoisme. Bisa juga berupa dosa yang terus kita pelihara.
Tuhan berkata:
“Aku telah membebaskan kamu.” Maka jangan kembali menjadi hamba dari hal-hal yang Tuhan sudah lepaskan dari kehidupan kita. Kemerdekaan yang Tuhan berikan harus dijaga dengan kehidupan yang benar.
Penutup
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-81, marilah kita bersyukur karena Tuhan telah menyertai perjalanan bangsa Indonesia. Dalam tahap pemilihan Pelsus GMIM, marilah kita memilih dengan doa, iman dan tanggung jawab, bukan berdasarkan kepentingan pribadi. Dan dalam kehidupan sehari-hari, marilah kita menghidupi kemerdekaan yang Tuhan berikan dengan menjadi manusia yang penuh kasih, jujur, rendah hati, suka menolong dan membawa damai.
Pesan firman Tuhan hari ini sederhana tetapi kuat:
Tuhan mendengar ketika kita berseru. Tuhan hadir dalam pergumulan. Tuhan membebaskan umat-Nya. Dan orang yang telah dibebaskan Tuhan dipanggil untuk hidup dan melayani Tuhan.
Kiranya kita boleh berkata:
“Tuhan, terima kasih karena Engkau telah membebaskan kami. Pakailah hidup kami untuk menjadi berkat bagi keluarga, gereja, masyarakat dan bangsa Indonesia.”
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka dalam Kristus, merdeka untuk melayani, dan merdeka untuk menjadi berkat!
Amin.




















