
Shalom. Damai di hati.
Sebuah pertanyaan mengawali khotbah ini. Pernahkah kita mengungkapkan secara pribadi dari dalam kehidupan beriman kita tanpa perintah dari orang lain sebuah kalimat singkat yang berkata “Puji Tuhan”?. Bersykurlah jikalau kita pernah atau bahkan sering mengungkapkan kata “Puji Tuhan”. Mengapa kita perlu mengungkapkannya? Karena sesungguhnya ungkapan ini menyatakan bahwa hidup kita hanyalah anugerah dari pada Tuhan dan bukan karena hasil usaha kita sendiri. Sebab banyak orang yang membanggakan diri mereka sendiri, bahkan memuji-muji kehebatan mereka atau juga orang lain, tetapi lupa akan kasih dan penyertaan Tuhan. Oleh karena itu, di minggu ini kita merenungkan bacaan Alkitab dalam Ulangan 10:12-22 dengan tema “Allah adalah Pokok Puji-Pujian”.
Jemaat yang dikasihi Tuhan.
Kitab Ulangan berisi Pidato Musa yang menceritakan kembali perjalanan Israel menuju Kanaan, sekaligus penegasan tentang hukum dan ketetapan Tuhan Allah. Musa menyampaikan ini kepada generasi baru bangsa Israel yang siap menduduki Tanah Kanaan, meskipun ia sendiri tidak diijinkan masuk ke tanah Kanaan.
Khusus dalam Ulangan 10:12-22, pokok yang disampaikan yaitu Tuhan adalah Allah yang menjadi pokok penyembahan, puji-pujian dan ucapan syukur. Di ayat 12 orang Israel diingatkan tentang apa yang diinginkan Tuhan dari mereka, yaitu supaya mereka hidup takut akan Tuhan Allah, mengikuti jalan-Nya serta mengasihi Dia. Yohanes Calvin menggambarkan takut akan TUHAN sebagai “kekang untuk mengendalikan kejahatan kita”.
Jemaat kekasih dalam Tuhan.
Takut akan Tuhan dan mengasihi Dia merupakan dua hal yang saling melengkapi, dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan tanggapan tulus dari hati terhadap keagungan dan kemurahan Allah, dan secara berturut-turut serta bersamaan, keduanya menghasilkan pengabdian dengan segenap hati dalam ketaatan bagi seluruh perkenan Allah.
Selanjutnya umat diajak untuk beribadah kepada Tuhan dengan segenap hati dan segenap jiwa. Bukan setengah, bukan separuh, tidak mendua atau dengan sikap yang tidak bersungguh-sungguh. Tuhan Allah tidak mau kasih kita kepada-Nya terbagi. Hal ini menandakan bentuk totalitas penghormatan yang sungguh kepada Tuhan berkaitan dengan penyembahan mereka. Bila umat menuruti perintah dan ketetapan Tuhan dengan hati yang menghormati Allah maka keadaan mereka akan menjadi lebih baik atau diberkati (ayat 13).
Dalam ayat 14 dan 15 Musa juga mengingatkan bahwa Tuhan adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi serta segala isinya, termasuk manusia. Namun, diantara banyaknya ciptaan hanya bangsa Israel yang menjadi umat pilihan-Nya, sehingga bangsa pilihan itu haruslah dengar-dengaran dan menuruti perintah Tuhan (tidak tegar tengkuk) yang ditandai dengan “sunat hati”. Sunat hati memberi makna bahwa mereka harus menyadari anugerah Allah yang mengasihi, memilih mereka, sehingga mereka berbalik dari keberdosaan dan hidup dalam pertobatan (Ayat 16). Ketika mereka mengambil bagian dalam sunat hati, maka menghasilkan kesadaran baru terhadap panggilan sebagai umat yang dikasihi Allah untuk peduli kepada semua orang, terutama mereka yang lemah, yaitu anak yatim, janda, orang asing (ayat 17-19).
Jemaat yang diberkati Tuhan
Di ayat ke 20 untuk kedua kalinya Umat Israel diperintahkan untuk takut akan Tuhan Allah serta beribadah kepada-Nya dan menjadikan Tuhan sebagai pokok puji-pujian (ayat 21). Mereka juga diingatkan bahwa Tuhanlah Allah yang memberkati mereka menjadi bangsa yang besar, bahkan membuat mereka banyak seperti bintang-bintang di langit (ayat 22).
Melalui bacaan Alkitab dalam Ulangan 10:12-22 maka sebagai orang percaya terpanggil untuk merespon kasih setia Tuhan atas kita. Dengan cara apa? Yaitu dengan cara kita hidup taat dan setia kepada Tuhan. Orang percaya juga diajak untuk hidup takut akan Tuhan dan mengasihi Dia serta memuliakan-Nya dalam segala hal. Dengan mengutamakan Tuhan dan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya, sehingga baik keadaanmu, sebagaimana penyertaan-Nya kepada bangsa Israel.
Kita juga dihentar untuk senantiasa memuji-muji Tuhan atas kasih-Nya, bahkan menjadikan Dia sebagai pokok puji-pujian kita. Jangan kita hanya fokus mencari cara untuk memuji orang lain tetapi kita lupa bagaimana cara kita untuk memuji Tuhan. Tentu Tuhan tidak haus akan puji-pujian kita, tetapi sesungguhnya Dia rindu agar kita senantiasa mengutamakan Dia, termasuk lewat puji-pujian kita. Selama masih hidup, masih bisa bernyanyi, maka bernyanyilah bagi Tuhan. Jangan terjadi seperti istilah “selama hidop malas menyanyi, akhirnya kurang orang menyanyi akang sampe pagi”.
Jemaat yang diberkati Tuhan.
Bacaan kita saat ini juga adalah bentuk keterpanggilan kita untuk mengucap syukur. Mengucap syukur adalah sebuah gaya hidup sehari-hari orang Percaya dan bukan hanya dilakukan pada saat-saat tertentu atau musiman.
Memang ada banyak cara untuk kita mengucap syukur, baik melalui ibadah syukur, membawa persembahan, bisa juga melalui kesaksian hidup atas penyertaan dan pertolongan Tuhan, bahkan ucapan syukur bisa dilakukan lewat puji-pujian. Tetapi sadarkah kita, pada saat kita mengucap syukur, apakah kita benar-benar melakukannya untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan? atau hanya sebatas rutinitas, bahkan lebih buruk lagi, ada banyak contoh terjadi yaitu ada ucapan syukur diawali dengan persekutuan namun diakhiri dengan pesta pora, mabuk-mabukan berujung malapetaka.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa hidup takut akan Tuhan, membangun hubungan relasi yang baik dengan Tuhan, serta menjadikan Dia sebagai pokok puji-pujian dan ucapan syukur kita. Kalau kita mengasihi Dia, maka kita juga akan dimampukan oleh Tuhan untuk mengasihi sesama kita, terlebih mengasihi mereka yang lemah dan termarginalkan. Tuhan Yesus senantiasa menolong dan memberkati kita dalam ketaatatan dan kesetiaan kita. Amin.
























