
Saudara-saudara yang diberkati Tuhan…
Setiap orang di dunia ini mengejar satu hal yang sama: kebahagiaan, dan usaha untuk mendapatkannya selalu mewarnai hidup manusia. Akan tetapi, pernahkah kita bertanya, apa arti hidup bahagia yang sesungguhnya? Apakah itu berkaitan dengan umur panjang, kesehatan fisik dan mental, kekayaan, kedudukan dan kehormatan, atau sekedar bisa menjalani hidup hari ini? Tidak bisa dipungkiri, setiap manusia memiliki pandangan yang berbeda terhadap kebahagiaan. Namun, pertanyaan terpentingnya adalah: bagaimana pandangan Alkitab tentang kebahagiaan? Karena itu, marilah kita bersama-sama melihatnya dalam kitab Mazmur 144:1-15 yang mana sedang memperlihatkan sebuah keadaan berbahagia sehingga Pemazmur hendak bersyukur yang tertuang dalam pujian kepada Allah.
Perhatikan ayat 15 yang berkaitan dengan tema kita. Di situ, kata “berbahagia” digunakan sebanyak dua kali. Kata ini dalam teks Ibrani, yaitu “as-re/ashre/ashrei” yang berarti: bahagia, diberkati, atau beruntung. Kata “ashre” bermakna sebuah keadaan diri atau bangsa/negara yang menikmati segala berkat oleh karena hidup benar sesuai kehendak Allah (bnd. Mzm. 1:1; Ul. 28). Menurut bacaan kita, berkat Tuhan, antara lain: perlindungan (ayat 1-2); kelangsungan hidup (ayat 3-4); keselamatan (ayat 5-8, 11); kemenangan dan kejayaan (ayat 10); populasi penduduk yang didominasi oleh warga yang produktif (ayat 12); serta melimpahnya sektor pertanian dan peternakan (ayat 13). Kalau kita memperhatikan dengan baik, hal-hal di atas merupakan bagian inti dari kebahagiaan yang selama ini dicari oleh manusia, yaitu keadaan hidup yang tidak perlu takut karena telah dijamin sehingga tidak perlu overthinking akan apa yang terjadi pada hari ini atau hari besok karena Allah sudah menyediakan segalanya bagi orang/bangsa yang mau menjadikan Allah sebagai Tuhan atas hidupnya (ayat 15). Seorang Filsuf Yunani bernama Aristoteles menulis dalam buku “Politics” (buku VII) bahwa suatu negara yang bahagia (ideal) adalah yang memiliki populasi yang seimbang, pangan yang dikelola sendiri, dan memiliki kekuatan militer, di mana jauh sebelum ia merumuskannya, Daud telah berhasil mewujudkan hal tersebut pada masa pemerintahannya atas bangsa Israel dengan cara tunduk dan taat pada otoritas Allah serta selalu mengandalkan-Nya (bnd. Mzm. 145). Hal ini membuktikan bahwa baik di masa lalu dan masa kini Allah mampu membuat suatu bangsa yang ideal selama bangsa itu mau mengandalkan Allah sebagai Tuhannya dan mau melakukan kehendak-Nya. Warga negara yang berada dalam keadaan yang demikian maka dipastikan mereka dapat menikmati kebahagiaan yang selama ini didambakan.
Saudara-saudara yang diberkati Tuhan…
Berdasarkan bacaan kita saat ini, jelaslah bahwa, kebahagiaan sejati tidak bersumber dari emosi manusia melainkan keseluruhan hidup di dalam Tuhan. Kitab Pengkhotbah 2:11 tertulis demikian: “Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.” Ini sebuah refleksi diri dari Raja Salomo yang telah menikmati segala kebahagiaan duniawi yang semua manusia hari ini kejar bahkan sampai rela mengorbankan kesehatan, kesucian diri, waktu bersama keluarga atau sahabat, lebih-lebih melupakan Tuhan yang adalah sumber dari segala apa yang dikejar manusia. Bagi Salomo, semua itu hanyalah kesia-siaan jika dibandingkan dengan hidup di dalam Tuhan. Kita yang hidup di masa kini, di mana dunia tidak pernah “tidur” memaksa kita untuk terus aktif mengejar kebahagiaan duniawi dengan tawarannya yang begitu menggoda. Saat membuka media sosial, kita melihat orang lain bisa membeli gawai edisi terbaru, kendaraan terbaru, bahkan memamerkan pasangan dan keluarga mereka sehingga kita menjadi ingin memiliki kebahagiaan yang sama dengan orang lain padahal sebenarnya kita tidak benar-benar menginginkannya atau kita belum cukup siap untuk hal itu dan akhirnya bukannya bahagia, malahan perasaan kosong dan hampalah yang kita alami. Kebahagiaan adalah ketika kita mengingini apa yang kita miliki dan bukan mengingini apa yang tidak kita miliki. Tidak mengapa jika kita ingin hidup berkelimpahan tapi awaslah jangan sampai kita menjadi serakah. Belajarlah hidup selalu mencukupkan diri dengan apa yang ada (Flp. 4:11-12). Yesus Kristus adalah milik kita yang paling berharga dan itu sudah lebih dari cukup. Apakah saudara ingat khotbah Yesus di bukit tentang ucapan bahagia dalam Matius 5? Semua perkataan Yesus bertentangan dengan kebahagiaan yang selama ini kita kejar di dalam dunia, karena selama kita masih ada di dalam dunia ini, kita tidak akan pernah merasa puas untuk bahagia, karena kebahagiaan sejati hanya bisa terpenuhi kelak di sorga nanti. Jadi, apakah sesungguhnya kebahagiaan itu?
Tuhan Allah Tritunggal, memberkati saudara. Amin.








































