
Saudara – saudara yang dikasihi Tuhan,
Di dunia ini manusia sering menghubungkan pujian dengan keberhasilan. Kalau seseorang sukses, orang lain akan berkata: “wah..hebat, sekali dia!” Kalau ada orang yang cerdas, cantik, ganteng, atau kaya, pasti ada saja yang akan memberi sanjungan. Bahkkan tidak jarang, kita sendiri tanpa sadar haus akan pengakuan. Kita ingin dipuji, kita ingin dihargai. Namun sayangnya, kecenderungan itu bisa membuat kita terjebak dalam hidup yang bepusat pada diri sendiri.
Mazmur 145 memberi arah yang berbeda. Mazmur ini ditulis oleh Daud dan menjadi mazmur terakhir yang menyebut namanya dalam kitab mazmur. Bentuknya istimewa karena merupakan mazmur akrostik, yaitu setiap ayat disusun mengikuti abjad ibrani. Dan dengan pola itu, Daud seakan ingin berkata bahwa seluruh huruf , seluruh kata, seluruh hidupnya dipersembahkan hanya untuk memuji Tuhan. Karena pujian kepada Tuhan bukanlah ssuatu yang bergantung kepada keadaan. Sehingga Daud berjanji untuk melakukannya setiap hari. Entah hidupnya dalam kemenangan atau dalam pergumulan ia tetap berkata “Aku hendak memuji Engkau.”
Isi Mazmur 145 memberi penegasan pada dua hal besar:
- Allah adalah Raja yang agung dan pemerintahan-Nya kekal (ay. 1-13).
- Allah bukan hanya berkuasa, tetapi juga penuh kasih, penopang orang yang jatuh, penguat yang tertunduk, dam dekat dengan semua orang yang berseru kepada-Nya (ay.14-21). Karena itu, ayat terakhir menutup dengan undangan yang universal “Biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus.”
Dari sini kita bisa melihat, bahwa Daud tidak mencari pujian untuk dirinya sendiri, walaupun ia seorang raja besar. Sebaliknya, ia mengarahkan semua pujian hanya kepada Tuhan, Raja di atas segala raja. Dan inilah yang hendak kita renungkan bersama bahwa pujian sejati bukanlah soal situasi atau siapa kita, tetapi soal siapa Allah bagi kita.
Tiga hal yang perlu kita renungkan dari bacaan ini
Pertama, pujian itu adalah pengakuan siapa Tuhan bagi kita.
Ketika kiat memuji, kita sedang mengakui kebesaran Tuhan. Dia Besar, Agung, Penuh kuasa, dan kasih-Nya melampaui batas pikiran manusia. Itulah sebabnya pemazmur berkata bahwa kebesaran Allah tidak dapat diselidiki. Dengan memuji Tuhan, kita sebenarnya sedang menegaskan bahwa kita sungguh- sungguh bergantung pada Dia, buksn pada kekuatan kita sendiri.
Kedua, pujian adalah respons atas kasih setia-Nya.
Pemazmur menyaksikan Allah yang pengasih, penyayang, panjang sabar, dan besar kasih setia-Nya (ay 8). Dialah yang menopang orang yang jatuh, menguatkan yang tertunduk, memberi makan pada waktunya, dan mendengar seruan orang yang berseru kepada-Nya dengan setia. Dengan begitu, bukankah setiap tarikan nafas kita adalah alasan untuk bersyukur? Sehingga pujian tidak perlu menunggu peristiwa luar biasa. Justru dalam hal-hal sederhana seperti bangun pagi, bisa bekerja, bisa berkumpul dengan keluarga sehingga semua itu cukup untuk berkata “Tuhan, Engkau baik”.
Ketiga, pujian bersifat menyeluruh, melibatkkan seluruh ciptaan.
Di ayat terakhir, pemazmur mengajak: “Biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus”. Artinya, bukan hanya umat Tuhan, tetapi seluruh alam semesta diciptakan untuk memuliakan Allah. Burung yang berkicau, air yang mengalir, pohon yang berbuah, semuanya adalah nyanyian pujian bagi Sang Pencipta. Maka kita pun dipanggil untuk ikut serta dalam harmoni itu, hidup berdamai dengan sesama, merawat lingkungan, serta menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat. Dengan begitu, hidup kita bukan mencari pujian, melainkan menjadi pujian bagi Tuhan.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Pujian kepada Tuhan bukanlah suatu beban, melainkan harus jadi gaya hidup kita. Ketika kita memuji-Nya, kita dilatih untuk rendah hati, sebab kita sadar bahwa segala sesuatu yang ada pada kita hanyalah anugerah-Nya untuk disyukuri dan dipelihara. Pujian juga mengingatkan kita bahwa kerajaan Allah tidak terbatas oleh waktu. Pemerintahan-Nya kekal, berbeda dengan segala hal duniawi yang akan berlalu.
Karena itu, mari kita belajar memuji Tuhan bukan hanya hanya dengan nyanyian di ibadah saja, tetapi juga dengan perbuatan sehari-hari. Ketika kita jujur, ketika kita menolong sesama, ketika kita menjaga ciptaan, semuanya itu adalah pujian nyata bagi nama-Nya yang kudus.
Akhirnya, marilah kita bersama-sama meneguhkan komitmen pemazmur yaitu dengan “Mulutku akan mengucapkan puji-pujian pada Tuhan, dan biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus, untuk seterusnya dan selamanya.”
Amin.








































