
DODOKUGMIM
Jemaat Tuhan Yesus Kristus.
Setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan, bahkan kebahagiaan abadi (eternal happines), yang tak lain ialah hidup kekal (eternal life). Sebab di dalam kehidupan kekal, maut tidak akan ada lagi, tidak ada lagi perkabungan, atau ratap tangis dan dukacita (band. Why. 21:4). Tuhan kita Yesus Kristus yang bangkit dari kematian dan naik ke sorga adalah fakta historis dan bukti iman bahwa hidup kekal itu benar-benar ada dan nyata. Namun, Yesus yang mengalami hidup kekal bukan secara otomatis terjadi karena Ia adalah Anak Allah, melainkan karena ketaatan dan kesetiaan-Nya melakukan kehendak Allah. Yesus berjuang untuk mengalahkan godaan dan tabah mengalami penderitaan sebagai manusia sampai kematian-Nya.
Firman Tuhan saat ini merupakan ajaran dan petunjuk dari Tuhan Yesus bagi semua pengikut-Nya dan tentu saja ditawarkan bagi semua orang. Apa yang dikatakan Yesus ini adalah apa yang dilakukan-Nya, bukan sekadar teori tanpa praktik.
Sama seperti Yesus, Anak Allah harus berjuang, demikian juga kita yang telah menerima kasih karunia iman kepada Kristus, tidak secara otomatis hidup kekal tanpa perjuangan. Inilah yang hendak ditekankan Yesus di ayat 24. Keselamatan bukan terletak pada kuantitas atau jumlah orang yang merujuk pada pemahaman bahwa hanya orang Yahudi/Israel (Keturunan Abraham, Ishak dan Yakub secara lahiriah) yang akan diselamatkan, sedangkan orang-orang di luar Israel, tidak akan selamat. Namun keselamatan terletak pada kualitas hidup, yaitu iman dan perbuatan (band. Yak. 2:22, 24).
Pemahaman umat Yahudi (Israel) yang mengklaim dan sangat memegahkan diri sebagai “umat pilihan” yang akan mendiami Kerajaan Allah, sedangkan bangsa-bangsa lain tidak, telah memunculkan anggapan umum bahwa keselamatan itu hanya berlaku bagi orang-orang Yahudi, kecuali yang tidak menjalankan hukum Taurat atau telah berbuat dosa yang berat.
Pengaruh pemahaman yang demikian tersirat dalam ayat 23 : “…Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?”. Sebab itu Yesus tidak menjawabnya secara gamblang, tapi justru meminta kepada orang-orang di situ: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! … Sebab banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat…” (ay. 24). Kata “berjuanglah” diterjemahkan dari kata Yunani: Agonizesthe, yang juga berarti “berupayalah dengan sungguh-sungguh”. Intinya adalah niat hati, tekad batin atau kemauan diri yang secara sadar oleh iman berjuang untuk masuk dalam Kerajaan Allah atau diselamatkan Allah. Jadi pesan konkret di sini adalah sekalipun seseorang telah menganggap diri sebagai “umat pilihan” (entah Yahudi di zaman dahulu atau orang Kristen masa kini), ia harus tetap berupaya dengan sungguh-sungguh untuk hidup sebagai umat pilihan yang diselamatkan. Dalam Injil Matius, hal ini disajikan dalam konteks kalimat yang berbeda: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Mat. 7:13-14). Kiasan pintu yang sesak atau sempit itu (the narrow door) menggambarkan satu-satunya jalan (syarat/cara) yang harus dilalui, walau memang berat dan susah. Inilah konsekuensi iman setiap orang yang mau hidup mengikut Yesus (Baca Luk. 9:23-24, 57-62).
Saudara-saudara yang kekasih di dalam Tuhan.
Memang banyak orang berusaha untuk hidup kekal, tapi kenyataannya tidak mau berjuang, hanya ingin senang-senang saja dan tidak mau bersusah payah; hanya mau yang gampang-gampang saja, tak mau menderita atau berkorban; hanya mau melakukan keinginannya sendiri tapi tidak mau melakukan keinginan Tuhan; Ada juga istilah Kristen “KTP” atau Kristen Tanpa Pertobatan. Artinya belum hidup dalam terang, tapi masih mau hidup dalam gelap (kejahatan/dosa).
Bagaimana saya dan saudara-saudara bisa masuk melalui pintu yang sesak itu? Caranya adalah sebagaimana kata Yesus di ayat 24 (“make every effort to enter…”) maka kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk masuk, yaitu benar-benar melepaskan/membuang semua yang menghalangi kita untuk masuk, yaitu kesombongan, ketamakan/keserakahan, pementingan diri sendiri, roh pemecah belah, kebencian, dendam, iri hati, hawa nafsu, atau berbagai-bagai keinginan dan perbuatan daging.
Ingatlah selalu, Tuhan sudah memberikan kita kesempatan untuk hidup dalam anugerah-Nya, karena itu mari kita merawatnya dengan selalu tekun beribadah, giat berbuat baik, tabah dalam pergumulan, rela berkorban untuk persekutuan, kesaksian dan pelayanan gereja, termasuk di masa-masa pandemi Covid-19 sekarang ini. Dengan demikian Tuhan akan selama-lamanya mengenal siapa kita sebagai anak-anak-Nya karena kita tidak hanya menjadi pendengar-pendengar tetapi pelaku-pelaku firman yang setia (Mat. 7:21). Kita tidak akan dicampakkan atau dibuang ke dalam api kekal (kebinasaan) yang di sana terdapat ratap tangis dan kertak gigi (Luk. 13:27-28; Mat. 7:23), sebaliknya kita akan disambut dan dijamu oleh Kristus duduk makan di dalam Kerajaan Allah bersama-sama dengan seluruh orang percaya yang juga telah berjuang mengalami proses panjang dan bersusah payah (Luk. 13:29; Mat. 8:11) untuk menikmati hidup dan kebahagiaan yang kekal. Amin. (kaka)





































