
Pemimpin lahir dari banyak tempat, bahkan banyak yang tidak menyadarinya. Seorang ibu adalah pemimpin dihadapan anak-anaknya. Seorang kakak adalah pemimpin bagi adik-adiknya (juga di sekolah).
Paulus mempersiapkan jemaat Tesalonika untuk menjadi “Jemaat yang sehat” Dengan mengibaratkan jemaat sementara “digandeng” Oleh para pemimpin untuk menyambut kedatangan Tuhan.
Sebab itu sebagai jemaat penting menghormati para pemimpin, karena mereka berjerih lelah (berkorban, buang malu, rela sakit) bagi jemaat.
Begitupun sebaliknya, sebagai pemimpin harus memperhatikan jemaat terutama kebutuhan jemaat. Layaknya kawanan domba, ada yang sakit, ada yang binal, ada yang uzur, ada yang muda. Semua harus disesuaikan karena kebutuhan dan jangan disamakan. Tetapi sebagai gembala harus melakukan dengan satu kesamaan: Sabar.
Ketika seseorang hendak mencapai titik kebugaran tubuh, maka dia harus menghindari kontaminan jahat (lemak, alkohol, psikotropika) dan melakukan kardio serta latihan otot. Melakukan kebaikan. demikian pula Kekristenan bukan diam begitu saja, melainkan aktif melakukan kebaikan.
Karena itu hidup orang percaya harus berpusat pada Allah, bukan berpusat pada situasi atau tergantung keadaan. Jadi doa, rasa syukur, dan sikacita tanda kita terhubung pada Tuhan seperti orbit Bumi-Matahari (terpusat).
Maka saat jemaat Tesalonika begitu menantikan Paulus datang kembali di tengah mereka, Paulus justru mempersiapkan jemaat untuk kedatangan hari Tuhan yang jauh lebih penting daripada kedatangan Paulus.
Saat ini kita sementara dilatih dan mempersiapkan diri melalui berbagai macam godaan, tawaran, singgungan, ancaman, dan kekhawatiran (semuanya produk si jahat) maka mari kita lihat apakah saya berada di jalur Tuhan sebagai poros hidup.
Dalam kepemimpinan yang melayani seperti Yesus, dan hidup yang dipimpin oleh Roh maka hidup kita terpelihara.
Amin.




































