
Menjawab tantangan era digitalisasi tentu tidak dapat dijawab dengan cara atau metode modern, mengapa karena banyak perbedaan pendekatan dari zaman modern dan digitalisasi. contohnya soal komunikasi, zaman modern masih mengandalkan telepon, pamflet iklan (seperti kertas ilkan promosi indo/alfa mart, dll), dan masih terbatas ruang dan waktu. Beda dengan digitalisasi, semua contoh yang di atas dapat di akses langsung dalam
satu genggaman. Jadinya orang menjadi ketergantungan pada media sosial dan standar hidup terarah pada individualistis, materialis, hedonis dan tak terkecuali mamonisme, yang banyak ditawarkan diberbagai konten-konten sekarang ini. mungkin kelihatan sama antara materialis dan mamonisme, tapi perbedaannya mencolok pada motivasi bahwa mamonisme mengarah pada penyembahan harta benda secara religius, tapi materialis merupakan pandangan hidup.
Pertanyaannya, apakah kita sementara terjebak disitu? atau apakah keluarga kita telah
menunjukan ciri-ciri yang mengarah kepengaruh yang demikian? kalau ternyata iya, maka kita harus kembali pada perintah Tuhan.
Sama seperti Musa memperingati Bangsa Israel untuk memelihara Hukum Allah, kita pun harus demikian. Karena dengan memelihara Hukum dalam kehidupan keluarga kita punya landasan untuk menjawab tantangan perkembangan zaman di era digitalisasi. mengapa harus demikian?
Musa dengan serius memperingati bangsa itu, bukan tanpa pengalaman, tetapi karena sudah ada pengalaman pahit yang pernah dihadapi mereka maka Musa mengingatkan kembali. Juga para audiens yang mendengar pidato terakhir Musa ini adalah orang-orang Israel generasi kedua dan ketiga. Dengan demikian Musa memberitahukan kembali kewajiban-kewajiban Israel terhadap Allah, yang lewat Ulangan 4:1-14 akan kita lihat.
Ayat 1 dibuka dengan kata, “maka sekarang” (We’atta), sering dipakai setelah menceritakan suatu cerita dari masa lampau, yang mau menunjukan langkah atau hal apa yang harus diambil masa kini. misalkan “karena Allah telah mengeluarkan engkau dari tanah mesir, maka sekarang ….” dan prakata yang sering muncul dari kitab taurat juga adalah “hai orang Israel dengarlah…” mengantar pada suatu ajakan atau anjuran. supaya secara perhatian penuh dapat menekankan betapa pentingnya hukum Tuhan yang akan diuraikan di sini. “ketetapan” dalam bahasa Ibrani hoq berhubungan erat dengan kata-kerja “haqaq, yang berarti memahat, menulis di batu, memutuskan, atau mengabadikan keputusan dengan memahatnya di batu. Menunjukan bahwa yang dimaksudkan Musa adalah bukan hanya bahwa mereka harus mendengarkannya sekarang, melainkan juga bahwa setiap kitab Taurat dibacakan oleh mereka atau dibaca oleh mereka, harus menyimaknya dengan baik-baik. yang dalam konteks ini bahwa supaya ketetapan dan perintah ini menjaga kamu, jiwamu sendiri serta menduduki negeri, tanah perjanjian.
Ayat 2 “jangan menambahi atau mengurangi” ialah untuk mendesak supaya Israel sungguh-sungguh menghargai firman Tuhan yang disampaikan, jangan ada bagian-bagian yang terabaikan, atau yang ditonjolkan secara berat-sebelah menurut selera manusia saja, melainkan sebaliknya, supaya selera manusia menjadi terbentuk sesuai dengan apa yang tercantum dalam Firman itu.
Ayat 3 – 5, Peristiwa Baal-Peor (Bil. 25:1-18) tentu sangat terkenal bagi bangsa Israel, sehingga Musa mengingatkan masa itu kepada mereka. cukup dengan mengingatkan saja peristiwa itu sebagai contoh bahaya yang pasti menimpa bila mereka kurang menghargai ketetapan yang berbunyi “jangan ada allah lain dihadapan-Ku”. Sehingga kembali Musa kembali lagi menekankan dengan kata “ingatlah, aku telah mengajarkan …” menggambarkan kembali apa yang telah Musa sampai-sampaikan kepada mereka.
Ayat 6 – 8 Seluruh bangsa lain akan sadar bahwa bangsa Israel mempunyai suatu kelebihan. akan tetapi kelebihan itu adalah tidak berdasarkan suatu ciri-ciri fisik atau yang lain bersifat lahiriah, atau suatu ciri nasional, yang menjadikan mereka lebih cerdas, bijaksana dan lebih berakal budi. keistimewaan mereka terdapat pada Anugerah, yaitu bahwa Tuhan telah memilih memberikan petunjuk-petunjuk yang akan mengatur hidup mereka. kita kembali sedikit di ayat 7 “bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya” ini menunjukan kehadiran pribadi Allah (yaitu imanensi; Imanensi menunjuk pada sifat Allah yang dekat, hadir, dan terlibat langsung di dalam dunia dan kehidupan manusia.) yang bersama dengan Israel dalam bentuk “awan” atau “shekinah”
Ayat 9 “waspadalah dan berhati-hatilah…” pengistilahan yang demikian menekankan betapa pentingnya petunjuk-petunjuk Tuhan, demi keselamatan umat. “beritahukanlah kepada keturunanmu …” apa yang telah menjadi pengalaman dapat menjadi pengajaran kedepan supaya beroleh keselamatan, dan tiap Firman Tuhan selalu dibarengi oleh pernyataan daripada Tuhan, maka itu pun harus diajarkan kepada keturunan mereka.
Ayat 10 “yakni hari itu ketika engkau berdiri di hadapan Tuhan, Allahmu, di Horeb. Para pendengarnya adalah anak-anak dari generasi exodus. ini secara khusus merujuk pada Kel. 19:20. mengingat tindakan agung pembebasan Allah (exodus). Sama seperti masa sekarang kekristenan sering dihentar pada penghayatan ketika ada di meja perjamuan, membayangkan juga perjamuan yang terjadi pada peristiwa malam terakhir Yesus Kristus (1Kor. 11:23-26) demikian orang Israel pun dalam penghayatan serupa ketika peristiwa pembebasan.
Ayat 11-12 “gunung itu menyala” api adalah suatu tanda atau simbol kehadiran Allah. ini mungkin melambangkan kesucian. “tetapi suatu rupa tidak kamu lihat” (12) Allah tidak memiliki bentuk fisik, Ia membiarkan musa melihat sedikit cahayanya. Allah tidak menginginkan adanya representasi fisik karena kecenderungan manusia yang jatuh terhadap penyembahan berhala.
Ayat 13 “Ia memberitahukan kepadamu perjanjian,” bentuk Imperfect, patut diperhatikan bahwa soal ketaatan mendapat penekanan kuat disini, bahwa “kesepuluh firman diberikan untuk dilakukan” sungguh atau tidak-nya hubungan umat dengan Tuhan nampak dalam hal ketaatannya.
Ayat 14 “supaya kamu melakukannya,” tidaklah cukup untuk hanya sekedar mengenali kehendak Tuhan, tetapi harus juga melakukan kehendakNya.
Saudara-saudara
Firman Tuhan harus diberitakan dengan benar, dengan metode yang relevan, dengan pendekatan yang tepat, banyak kegiatan dalam persekutuan bukan berarti orang dapat mengikuti perintah dan ketetapan secara instan dan signifikan. Tetapi dengan pendekatan yang tepat pasti pemberitaan lebih efisien. Pemberitaan harus dengan hati yang murni, dengan tulus. tantangan dan godaan dunia sekarang telah merambah kepada semua golongan masyarakat, sehingga kadang firman Tuhan hanya dipakai untuk membenarkan satu kelompok dan mempersekusi orang atau kelompok lainnya. Kita harus sadar bahwa berkat yang kita miliki saat ini adalah juga anugerah Allah, yang dapat mengingatkan kita terus akan kebaikkan dan kasihNya. sehingga menjauhi hal-hal yang tidak Allah inginkan.
Tantangan di era digitalisasi kiranya tidak menghambat gereja untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berfokus pada pengajaran-pengajaran bagi kaula muda, tentu berlandaskan perintah dan ketetapan Tuhan. dengan kegiatan menarik sambil mengembangkan minat bakat, tentu akan semakin mudah mengabarkan Injil. sehingga pun orang-orang muda gereja dapat dengan penuh hikmat dan akal budi menjalankan kehidupan berpegang pada Firman Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Semoga Tuhan memampukan kita. Amin























