
Perintah Tuhan kepada Samuel yang mengawali bagian ini, mengisyaratkan bahwa pemilihan adalah dalam rangka melakukan kehendakNya. Ada kalimat “berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel?”. Nampaknya Samuel masih terbawa kekecewaan saat Saul tidak dapat memenuhi harapan dan ditolak oleh Tuhan. Samuel khawatir, cemas, bagaimana nanti kehidupan dan perjalanan umat Israel setelah kejatuhan Saul ini. Tuhan memahami perasaan Samuel, tetapi kecemasan itu bukan diratapi, tetapi harus ditindaklanjuti segera. Sehingga Tuhan melanjutkan FirmanNya “..isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab diantara anak – anaknya telah ku pilih”. Perintah Tuhan sangat jelas, apa yang harus dibawa dan kemana langkah Samuel akan diarahkan. Tabung tanduk berisi minyak akan digunakan untuk mengurapi sang pemimpin. Rumah Isai orang Betlehem adalah tujuan yang Tuhan sampaikan kepada Samuel. Berarti Samuel tinggal melaksanakan tugas. Apa reaksi Samuel mendengar perintah Tuhan ini? Perhatikan kalimatnya : bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku”. Seorang nabi sekelas Samuel ternyata masih ada kekhawatiran dan ketakutan. Samuel mungkin lupa, bahwa yang menyuruhnya, yang menugaskannya adalah Tuhan. Kekhawatiran Samuel membuat dia melupakan bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu, sehingga Tuhan tidak membiarkannya melakukan tugas itu seorang diri. Penyertaan Tuhan itu ya dan amin. Sebagai seorang utusan, sebenarnya Samuel langsung bergegas melaksanakan tugas sesuai perintah. Tetapi naluri kemanusiaan yang sering takut, khawatir, cemas, membuat keyakinannya sedikit berkurang. Kita juga kadangkala demikian, ketika diberi tugas pelayanan, kecemasan mulai muncul, mendominasi pikiran dan membuat kita lupa bahwa ini pekerjaan Tuhan, kuasaNya yang akan bekerja di dalam kita.
Ayat 4 “Samuel berbuat seperti yang diperintahkan Tuhan…”. Memang demikianlah seharusnya, yang diperbuat seorang nabi, melakukan apa yang diperintahkan Tuhan bukan melakukan apa yang dipandangnya baik menurut hikmat manusia. Karena itulah, kedatangannya sebagai utusan Tuhan, mendapatkan respon yang Istimewa. “para tua – tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar”. Mengapa gemetar? Karena kehadiran Samuel juga menandakan kehadiran Tuhan. Dari pertanyaan yang mereka ajukan, menandakan harapan bahwa Samuel akan membawa berita gembira yang menyelamatkan umat. Kiranya kehadiran kita dalam pelayanan sebagai hamba-hamba Tuhan, utusan Tuhan, benar – benar membawa sukacita, damai sejahtera, berita selamat yang membawa ketenteraman bukan malah sebaliknya.
Jawaban Samuel kepada para tua – tua yaitu mereka harus menguduskan diri, menandakan proses pengudusan harus dimulai dari para pemimpin. Mereka harus terlebih dahulu menguduskan diri, supaya layak melakukan tugas ini. Semua yang akan terlibat dalam pemilihan nanti, tanggal 16 Oktober dan tanggal 18 Oktober, apalagi BPMJ dan Panitia Pemilihan harus menguduskan diri, menjaga diri agar tidak terkontaminasi dengan tawaran atau perbuatan yang akan melanggar aturan sehingga tugas mulia ini ternodai dan akhirnya tidak berkenan pada Tuhan. Setelah itu, Samuel menguduskan Keluarga Isai dan anak – anaknya yang laki – laki. Keluarga yang akan dipercayakan untuk mengemban tugas mulia dari Tuhan, harus dikuduskan terlebih dahulu. Itulah sebabnya kriteria menjadi pelayan itu sangat ketat bahkan cenderung sempurna, tidak sembarang orang bisa memenuhi kriteria, karena pekerjaan ini adalah pekerjaan kudus, yang akan menjalankannya harus dikuduskan dan dikhususkan.
Anak – anak Isai, masuk satu persatu. Eliab yang pertama masuk, melihatnya Samuel langsung mengklaim dalam pikirannya “sungguh dihadapan Tuhan sekarang berdiri orang yang diurapiNya”. Di satu sisi ada kesan, Samuel terlalu cepat memberikan penilaian, di sisi lain, tampilan Eliab yang gagah memang sepertinya layak dipilih. Tuhan langsung meluruskan pandangan Samuel dengan kalimat ini “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah, manusia melihat apa yang didepan mata tetapi Tuhan melihat hati”. Banyak kali juga terjadi seperti ini, kita melihat tampilan luar yang meyakinkan, yang gagah, yang “layak”dijadikan panutan, padahal ukuran yang dipakai Tuhan bukanlah demikian. Ungkapan “jangan pandang parasnya atau perawakan yang tinggi” menunjuk pada ukuran dari Tuhan tidak berdasarkan tampilan yang dapat dilihat dengan mata. Tuhan tidak menghendaki kita memilih orang dengan alasan ini : karena dia tampan, cantik, modis, terlihat percaya diri, yang selalu memakai baju bagus atau baju bermerk, fasih berbicara, pintar, berpengaruh apalagi ditambah dengan ada jabatan, ada harta, ada usaha yang lancar, ada harta melimpah dan lain lain. Ukuran yang digunakan Tuhan bukan apa yang tampak, apa yang dimiliki, melainkan ketulusan hatinya dalam melayani Tuhan. Tuhan menghendaki kita memilih orang yang punya hati yang tulus dihadapan sesama dan dihadapan Tuhan, apa dan bagaimanpun penampilannya. Jadi jangan terkecoh dengan penampilan luar yang “wah” tetapi ternyata jauh di dalam hati, ada sesuatu yang keliru, yang menjadikannya tidak layak. Bagaimana kita dapat mengetahui mana yang tulus dan mana yang tidak? Bawalah dalam doa, dengan hikmatNya, Tuhan akan menunjukkan siapa sebenarnya yang sudah dipersiapkanNya menjadi pemimpin.
Anak kedua, Abinadab, dipanggil, apakah dia yang dipilih Tuhan? ternyata tidak, karena Samuel berkata “Orang ini pun tidak dipilih Tuhan”. Hal yang sama juga berlaku bagi anak ketiga Syama, sampai anak ketujuh, semuanya tidak dipilih Tuhan. Kita lihat ketegasan seorang Samuel yang mengatakan hal ini. Mungkin ungkapan “tidak dipilih Tuhan” itu menyakitkan bagi ketujuh anak Isai, tetapi itu harus berani disampaikan seorang Nabi, karena ini kehendak Tuhan. Keberanian Samuel menyuarakan kehendak Tuhan, kiranya juga menjadi keberanian BPMJ dan Panitia Pemilihan, jangan ragu, jangan takut, sampaikan dengan jujur, sampaikan dengan tulus, dengan kalimat yang santun, bila ada yang tidak memenuhi kriteria. Karena apa yang kita sampaikan ini, bukan kemauan kita, melainkan kehendak Tuhan.
Samuel tidak menyerah, ketika mendapati dari tujuh anak Isai, tidak ada yang dipilih Tuhan. Apakah Samuel merasa Tuhan mungkin keliru menyebutkan nama keluarga? Ternyata tidak. Samuel bertanya pada Isai “inikah anakmu semuanya?”. Masih ada yang bungsu, dia sedang menggembalakan kambing domba. Samuel menyuruh memanggil anak bungsu ini, bergabung di meja makan. Mengapa dia tidak dibawa untuk bertemu Samuel? Mungkin Isai ayahnya merasa, dia belum memenuhi kriteria untuk menjadi raja. Dengan pandangan ayahnya yang subjektif, anak bungsu langsung digugurkan. Tetapi hebatnya, anak bungsu juga tidak memaksa, inilah ketulusan hati yang sebenarnya. Anak bungsu ini mematuhi, aturan ayahnya dan kebiasaan waktu itu yang memposisikan anak bungsu belum setara dengan kakak-kakaknya. Jangan membatasi pilihan Tuhan, karena semua yang memenuhi kriteria punya hak yang sama.
Maka datanglah anak bungsu itu, kemerah – merahan, matanya indah, parasnya elok. Apakah dia yang dipilih Tuhan? Tuhan berfirman “bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia”. Tanpa menunggu lama, Tuhan langsung menentukan, inilah pemimpin yang telah dipersiapkan bagi Israel. Siapa dia? Dialah Daud. Daud hanyalah seorang gembala yang sederhana. Pekerjaan ini kelak dimengerti sebagai simbol bagi perannya sebagai gembala atau pemimpin umat pilihan Allah.
Ayat 13 menutup bagian ini dengan manis “Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak mengurapi Daud di tengah saudara – saudaranya”. Maka selesailah tugas Samuel sesuai perintah Tuhan. Telah terpilih seorang Raja Israel pilihan Tuhan. Jika kita melaksanakan tugas sesuai perintah Tuhan maka semua akan dilancarkan. Seandainya pun ada halangan maka selalu ada jalan keluar. Jadi laksanakan tugas sesuai perintah, sesuai tahapan yang telah ditentukan, jangan menyimpang hanya untuk memenangkan kepentingan sekelompok orang.
Setelah menerima pengurapan itu, ada yang berubah dari Daud yaitu “sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh Tuhan atas Daud”. Orang yang diurapi adalah orang yang dikuasai oleh Roh Tuhan. Kiranya kita yang telah menerima urapan dari Tuhan, semua pikiran, perkataan dan perbuatan kita tetap dikuasai oleh Roh yang berasal dari Tuhan.
Pesan Firman
Pemilihan adalah upaya melakukan perintah dan kehendakNya
Jika kita diutus untuk melakukan tugas dari Tuhan, singkirkan segala ketakutan dan kecemasan
Kehadiran hamba Tuhan harus membawa selamat, sukacita dan damai sejahtera
Semua yang akan bertugas dalam pemilihan harus menguduskan diri, menjaga diri dari tawaran yang menodai tugas dan tanggung jawab yang mulia ini
Keluarga dan orang yang akan dipilih Tuhan harus dikuduskan, karena pekerjaan pelayanan itu kudus
Ukuran yang digunakan Tuhan untuk memilih seseorang bukan yang tampak, bukan dari apa yang dimilikinya melainkan ketulusan hati
Keberanian Samuel menyuarakan kehendak Tuhan, sekalipun itu sulit diterima, kiranya menjadi keberanian BPMJ dan Panitia Pemilihan dalam proses pemilihan nanti
Jangan membatasi pilihan Tuhan, karena semua yang memenuhi kriteria, punya hak yang sama
Daud dipersiapkan Tuhan di padang sebagai gembala, karena ternyata dialah yang dipilih Tuhan menjadi gembala bagi umat Israel
Jalankan semua proses pemilihan sesuai dengan tahapan dan mekanisme yang telah ditentukan, supaya berjalan dengan lancar
Orang yang diurapi akan terus dikuasai oleh Roh Tuhan
Mari sama – sama mendoakan agar dalam pemilihan di hari Jumat 16 Oktober dan Minggu 18 Oktober, kehendak dan kuasa Tuhan yang nyata dan terpilihlah mereka yang telah Tuhan persiapkan mengemban tugas mulia melayani Tuhan melalui GerejaNya.
Tuhan Yesus Memberkati, terpujilah nama Tuhan, Amin.























