Sahabat P/KB GMIM yang dikasihi Yesus Kristus.
Apa yang kita cari sehari-hari? Uang, sandang (pakaian), pangan (makanan), pasangan hidup, pengetahuan, hidup sehat dan sebagainya. Jangan lupa, kita juga membutuhkan kebijaksanaan. Kalau kurang bijak, khusus dengan istri atau siapa pun, kita cekcok. Bijaksana! Siapa yang tidak tahu perkataan ini. Semua ingin bersikap bijak. Semua orang ingin diperlakukan secara bijak. Tetapi, semua orang pun tahu sikap bijak itu tidak gampang. Bijaksana atau hikmat memiliki banyak arti. Praktisnya, bijaksana berarti arif, membuat pertimbangan yang baik, membuat pilihan atau keputusan yang tepat, tahu diri, mengendalikan diri, tahu berterima kasih, menghargai orang lain dan sebagainya. Secara teoritis bijaksana berarti berpengetahuan luas dan dalam, mampu mengolah perenungan dan refleksi atas hidup, mampu menyusun pemikiran dan mengujinya dalam perjalanan hidup.
Sahabat P/KB GMIM yang dikasihi Yesus Kristus.
Firman Tuhan saat ini, berbicara tentang bagaimana seorang suami dipanggil untuk hidup bijaksana (Yun. gnosis: pengertian, pengenalan, kepandaian, pengetahuan) dengan istrinya. Artinya suami harus berusaha memahami perasaan, kebutuhandan situasi isteri. Suami tidak boleh bersikap egois dan mengabaikan perasaan isteri. Ajakan hiduplah bijaksana dengan istrimu, bukan istri orang lain.
Selain itu juga mengingatkan para suami agar menjaga hubungan yang baik dengan isterinya. Mengapa? karena “ada suami bijaksana dengan istri orang lain”, tapi “bijaksini” (artinya tidak bijak) dengan istrinya. Suami juga diingatkan untuk menghormati (Yun.time, baca: tee-may: memuliakan, mahal, guna) isteri, bukan karena ia lebih berkuasa tetapi karena berharga bagi suaminya. Ada dua alasan yang rasul Petrus kemukakan: pertama, isteri adalah kaum yang lemah dan kedua, karena isteri adalah teman pewaris kasih karunia. Para suami “hiduplah bijaksana”, mereka harus menghindari perlakuan yang tidak adil dan tidak senonoh terhadap isterinya. Sebab suami yang tidak hidup bijak terhadap isterinya, menentukan tanggapan Tuhan Allah terhadap doa suami, “supaya doamu jangan terhalang”. Cara suami memperlakukan isteri, memiliki dampak langsung pada kehidupan spiritualnya.
Sahabat P/KB GMIM yang dikasihi Yesus Kristus.
Para isteri di sepanjang abad cenderung merawat tubuh dan mempercantik penampilan dengan berbagai cara dan asesoris. Bila hanya memperhatikan penampilan, isteri akan kehilangan yang utama dalam hidupnya, yaitu manusia batiniah yang menghormati Tuhan Allah. Keberadaan isteri yang cakap, bijak, terampil dan memiliki integritas moral lebih berharga di mata Tuhan Allah dan di hadapan suami. Ia memenangkan suaminya yang belum mengenal Tuhan Allah.
Jika seorang suami tidak memperlakukan isterinya dengan hormat dan pengertian, hubungan mereka dengan Tuhan Allah juga dapat terganggu. Jadi, supaya doa para suami didengar Tuhan Allah, maka jagalah hubungan yang baik dengan isteri dan menghormatinya. Itulah cara hidup bijaksana.
Sahabat P/KB GMIM yang dikasihi Yesus Kristus.
Suami yang menghormati isteri dan keluarga, menjadikan dirinya memuliakan Tuhan Allah dalam setiap aspek kehidupannya. Hal ini mengajak para suami agar mawas diri. Kita harus hidup bijak. Kenapa? “Karena bijak akan menjaga engkau…” (bdk. Amsal 2:11a). Menjaga apa? Jaga lidah: pikir dulu baru bicara. Jaga telinga: tidak usah dengar gosip. Jaga perut: jangan makan sembarangan. Jaga mata: jangan ini mau, itu mau. Jaga hati: tenggang rasa pada perasaan orang lain. Jaga langkah: arif saat bikin keputusan. Bahkan yang utama suami jaga hubungan dengan isteri sebagai tanda kebijaksanaan dan ketaatan pada Tuhan Allah.
Sahabat P/KB GMIM yang dikasihi Yesus Kristus.
Hiduplah bijaksana bukan berarti sok bijaksana, sok suci. Di mana-mana kita perlu orang yang bijaksana. Di rumah kita perlu bapak yang bijak, yang tiap hari bekerja. Kalau bapak tidak bekerja kita mau makan apa? Pentingnya menghormati isteri sebagai teman pewaris kasih karunia kehidupan. Ini berarti kita harus memperlakukan isteri dengan hormat, menyadari bahwa mereka juga adalah anak-anak Tuhan yang berharga.
Hidup bijaksana adalah memahami dan merespon kebutuhan istri secara emosional, spiritual, dan fisik. Untuk hidup bijaksana dengan istrimu, kita perlu belajar bijak hai para suami. Belajar bijak pilih pacar supaya nanti setelah menikah jadi teman yang saling tolong dan topang, bukan jadi musuh yang saling benci. Kacau, jika tinggal serumah dengan musuh, apalagi tidur seranjang dengan musuh.
Tapi yang sudah menikah, belajar bijak. Suami perlu bijak, istrinya juga. Pokoknya setiap orang perlu mempunyai sifat bijak atau hikmat. Sifat bijak merupakan kekuatan dalam menghadapi situasi terjepit atau bila kita harus mengambil keputusan yang sulit. Apa yang harus kuperbuat? Apa yang harus kupilih? Begini salah, begitu salah. Kita jadi bingung. Pada saat seperti itu kita merasakan perlunya bersikap bijak. Tetapi seringkali kenyataannya tidak demikian. Sering kali kita kurang bijak dalam perkataan, pikiran dan perbuatan: salah membuat pertimbangan, kurang perhitungan, kurang hati-hati, salah pilih dan ambil keputusan. Kemudian hari barulah kita menyesal, “ketika itu saya kurang bijak.”
Sahabat P/KB GMIM yang dikasihi Yesus Kristus.
Dalam perjalanan hidup bersama Yesus Kristus, Sang Sumber Kebijaksanaan, hari ini P/KB GMIM merayakan Hari Ulang Tahun ke-63. Ulang tahun adalah sebuah tonggak antara masa lampau, masa kini dan masa datang. Dalam buku Selamat Panjang Umur, karya Pdt. Andar Ismail, ada lukisan berkepala tiga oleh Titian dari abad ke-16 di Venesia. Kepala yang pertama adalah wajah pemuda yang menatap jauh ke depan. Kepala kedua wajah orang dewasa memperhatikan masa kini. Kepala yang ketiga adalah wajah orang lanjut usia menengok ke masa lampau. Digambar itu ada tulisan: dari pengalaman masa lalu, orang menjalani masa kini dengan bijaksana supaya tidak merusak masa depan.
Dalam perayaan HUT ke- 63 P/KB GMIM diajak menjalani hidup dengan bijaksana untuk mempersiapkan masa depan dalam melaksanakan tugas gereja: bersekutu, bersaksi dan melayani. Sebagai suami, ayah bahkan opa kita mengakui sering menghadapi persoalan yang sulit dan rumit. Ada istri yang membosankan dan anak yang menjengkelkan. Mana mungkin kita bisa bersikap dan bertindak bijak pada saat itu kalau kita emosi, terburu nafsu, marah dan mata gelap. Namun, pada saat-saat seperti itulah Yesus Kristus menginginkan keharmonisan terjadi dalam hubungan kita dengan orang terdekat, karena itu kita memerlukan keputusan yang bijak. Di Alkitab ada tokoh yang bijaksana, namanya raja Salomo. Pernah di kelas, seorang perempuan bertanya dengan suara memelas, “Pak, kalau Salomo bijaksana, kenapa dia punya isteri sampai 700 orang? Apakah …..” belum lagi pertanyaan itu selesai, teman lelaki di belakangnya menukas, “Justru karena itulah dia jadi bijak!” Mungkin di masa lalu kita, para suami pernah bertindak kurang bijak. Yang sudah lewat, ya sudahlah. Namun untuk selanjutnya kita patut bertindak bijak. Tertulis, “… supaya engkau menjadi bijak di masa depan” (Amsal 19:20b). Supaya ke depan suami menjadi lebih bijak hidup bersama istri. Di Hari Ulang Tahun Pria Kaum Bapa GMIM, marilah kita memperbarui komitmen untuk hidup bijaksana. Semoga Tuhan Allah terus menuntun kita dalam setiap langkah yang di ambil, sehingga hidup kita menjadi berkat bagi keluarga, gereja dan masyarakat. Selamat Ulang Tahun, Pria Kaum Bapa GMIM. Tuhan Allah dalam Yesus Kristus memberkati. Amin.

























