Jemaat Tuhan,
Kita hidup dalam dunia yang sedang berubah-ubah sangat cepat oleh karena inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada satu pihak, sangat menolong memudahkan kerja fisik kita memenuhi kebutuhan hidup dari cara kerja tradisional yang lambat menjadi modern yang cepat dan efisien. Pada pihak lain, cara kerja dan nilai-nilai kebajikan tradisional yang baik turut berubah dan menjadi usang. Jika di masa lalu komunikasi dilakukan dengan tatap muka atau surat dan hubungan sosial masyarakat komunal yang kebersamaannya tinggi, saling membantu, gotong royong kuat dan ikatan kekeluargaan lebih erat. Sekarang, hubungan sosial dominan lewat hand phone, internet dan media sosial. Masyarakat cenderung individualistis (mandiri, tapi lebih tertutup), hubungan sosial lebih longgar. Sehingga kita melihat dan merasakan munculnya fenomena kebenaran dikaburkan oleh kebohongan dan kebohongan sering dianggap kebenaran; kejahatan dan dosa dibungkus dengan budaya kontemporer dan dianggap sebagai hiburan; kasih dan belas kasihan digantikan oleh egoisme dan kebencian. Dari perspektif iman, kita melihat dunia ini sedang berada dalam pengaruh kuasa kegelapan.
Jemaat Tuhan,
Alkitab menjelaskan, kegelapan bukan sekadar keadaan tanpa cahaya, tapi metafora rohani tentang hidup tanpa Tuhan Allah atau keadaan manusia terpisah dari hadirat-Nya. Di tengah dunia yang penuh kegelapan: kekerasan, kebohongan, korupsi, kebencian, bahkan kegelapan batin di mana orang merasa hidupnya kosong tanpa makna, kehilangan arah dan pengharapan. Ia berjalan tanpa arah seperti orang buta di malam hari. Nabi Yesaya mengatakan penyebabnya adalah, Yesaya 59: 2, “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu,… ialah segala dosamu. 3 Sebab tanganmu cemar oleh darah dan jarimu oleh kejahatan; mulutmu mengucapkan dusta, lidahmu menyebut-nyebut kecurangan. “Segala kesalahanmulah yang memisahkan kamu dari Allahmu...” Yohanes 3:19 “… Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.”
Firman Tuhan mengatakan, Yesus Kristus ‘adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,…’ Frasa “cahaya Kemuliaan Allah” berasal dari kata Yunani:“apaugasma tēs doxēs” (ἀπαύγασμα τῆς δόξης). apaugasma artinya pancaran, sinar, atau cahaya yang keluar dari sumber terang. doxa artinya kemuliaan, kebesaran, kehadiran Allah yang menyatakan diri-Nya. Jadi secara harfiah dapat berarti: “Yesus adalah pancaran dari kemuliaan Allah.” Seperti cahaya matahari adalah pancaran dari matahari itu sendiri, tidak terpisah darinya, demikian pula Yesus Kristus adalah pancaran dari kemuliaan Allah, bukan ciptaan, tetapi berasal dari hakikat yang sama dengan Allah Bapa. Ia bukan sekadar utusan, tetapi penyataan diri Allah sendiri (inkarnasi). Ia memancarkan kehadiran, keagungan dan kesempurnaan Allah dalam rupa manusia. Melalui Dia, kita melihat, mengenal dan mengalami kemuliaan Allah yang sejati. Yesus Kristus adalah sinar ilahi yang menembus kegelapan dunia dan membawa kita masuk ke dalam terang kemuliaan Bapa.
Jemaat Tuhan,
Dalam Perjanjian Lama, kemuliaan Allah (Ibrani: kavod YHWH) tampak dalam awan, api dan terang (Kel. 40:34–35). Kemuliaan Allah adalah kehadiran, keagungan dan kesucian. Sekarang, kemuliaan itu tidak lagi hanya berupa simbol, tetapi berwujud dalam pribadi Yesus Kristus. Yohanes 1:14 “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yesus Kristus bukan hanya memantulkan kemuliaan Allah, tetapi Ia sendiri adalah sumber pancaran-Nya. Seperti sinar yang keluar dari matahari adalah bagian dari matahari itu sendiri, demikian juga Yesus Kristus berasal dari hakikat Allah. Ia consustantial (sehakikat) dengan Bapa (Yoh. 10:30 Aku dan Bapa adalah satu.). Melalui Yesus Kristus, kita mengenal karakter Allah yang penuh kasih, kudus dan benar. Ia adalah wajah Allah yang kelihatan bagi dunia yang gelap.
Karena Yesus Kristus adalah cahaya kemuliaan Allah, maka Ia datang untuk menerangi kegelapan dosa dan membawa kehidupan sorgawi kepada manusia. Ia memulihkan kemuliaan yang hilang melalui karya penebusan-Nya (Roma. 3:23-24) agar manusia dapat kembali memantulkan kemuliaan Allah. Rasul Paulus mengatakan bahwa semua orang percaya mencerminkan kemuliaaan Tuhan. 2 Kor. 3:18. ‘Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan … karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.’ Efesus 5:8–9 ‘Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran.’
Jemaat Tuhan,
Hari ini kita kita merayakan Natal hari kedua. Yesus Kristus memanggil kita untuk menjadi reflektor terang-Nya di dunia ini. Matius 5:16. ‘Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.’ Di tengah situasi dunia yang semakin gelap oleh dosa, kebohongan, ketidakadilan Yesus Kristus memanggil menjadi pembawa terang Kristus,: “Kamu adalah terang dunia.” Terang sejati bukan berasal dari dunia. Bukan dari pendidikan, uang, atau teknologi. Terang sejati hanya berasal dari Yesus Kristus, Sang Terang dunia. Ia datang ke dunia yang gelap menyingkapkan kegelapan dan membawa kehidupan baru bagi manusia.
Tanpa Yesus Kristus, manusia berjalan dalam kegelapan. Kita dipanggil mengenal kebenaran Allah dan hidup dalam kesucian 1 Yohanes 1: 7 ‘Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.’
Jemaat Tuhan,
Tuhan Allah memanggil kita untuk membawa terang itu ke setiap sudut kehidupan keluarga, gereja, pekerjaan dan masyarakat. “Sebab itu bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati, dan Kristus akan bercahaya atas kamu.”Efesus 5:14
- Jadilah terang di tempat kerja dengan kejujuran, disiplin dan tidak ikut arus dunia.
- Jadilah terang di rumah dengan kesabaran dan kasih.
- Jadilah terang di gereja dengan kasih tanpa pamrih, tulus melayani, bukan mencari pujian.
- Di masyarakat: jadi saksi Yesus Kristus lewat perbuatan kasih.
Janganlah membiarkan terang kita redup oleh dosa atau kepahitan. Sebab dunia membutuhkan orang percaya yang berani hidup berbeda; jujur di tengah korupsi, suci di tengah godaan, setia di tengah kesulitan. Karena oleh satu orang percaya hidup dipenuhi terang dapat membawa banyak orang keluar dari kegelapan. Amin





































